Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari yang Terbit
Suara deru mesin bus terdengar memecah keheningan jalan setapak. Jantung Luna berdegup kencang, tangannya meremas jemari Isaac. "Mereka datang, Isaac," bisiknya hampir tak terdengar.
Bus berwarna perak itu perlahan berhenti tepat di depan gerbang. Pintu bus terbuka dengan desisan udara, dan untuk sesaat, tidak ada yang keluar. Ada keraguan yang menggantung di udara—ketakutan akan tempat baru yang asing.
Hingga akhirnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan tas punggung yang tampak terlalu besar untuk tubuh kecilnya melangkah turun. Ia berhenti di anak tangga terakhir, menatap bangunan megah di hadapannya dengan mata yang bulat dan penuh rasa ingin tahu. Di belakangnya, menyusul belasan anak lainnya, dari yang balita hingga usia sekolah dasar.
Luna melangkah maju, perlahan merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi anak laki-laki pertama itu. Ia tidak ingin tampak mengintimidasi.
"Halo," sapa Luna dengan suara paling lembut yang pernah ia miliki. "Selamat datang di rumah."
Anak laki-laki itu, namanya Bumi, menatap Luna dengan ragu. "Apakah... apakah di sini kami boleh berlari?"
Luna tersenyum, air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tentu saja. Di sini kau boleh berlari, boleh membaca, dan boleh menanam pohonmu sendiri. Siapa namamu?"
"Bumi, Nyonya," jawabnya lirih.
"Panggil aku Kak Luna saja, Bumi," sahut Luna sembari mengulurkan tangannya.
Bumi ragu sejenak, lalu perlahan menyambut tangan Luna. Kulit telapak tangannya yang kecil dan dingin bersentuhan dengan tangan Luna yang hangat. Di saat itulah, Luna merasa seolah-olah seluruh beban masa lalunya—tentang ayahnya yang pergi, ibunya yang menghilang, dan kekejaman Tuan Waren—seketika menguap. Inilah alasan mengapa ia harus bertahan hidup.
Isaac mendekat, ia berlutut di samping Luna dan memberikan senyum persahabatan kepada anak-anak lain yang mulai turun dari bus. "Dan perkenalkan, ini Ibu Sari. Beliau sudah memasak sup ayam yang sangat enak di dalam. Apakah kalian lapar?"
Mendengar kata "sup ayam", kecemasan di wajah anak-anak itu mulai luruh. Beberapa anak yang lebih kecil mulai berbisik-bisik, dan satu per satu mereka mulai melangkah melewati gerbang.
Kakek Arka menyambut mereka dengan tawa renyahnya. "Ayo, ayo! Siapa yang mau lihat pohon persik yang buahnya bisa dimakan?"
Pemandangan itu sangat emosional. Anak-anak yang tadinya tampak murung dan layu, kini mulai berjalan masuk menyusuri koridor kayu yang hangat. Mereka menyentuh dinding, mengagumi langit-langit yang tinggi, dan menghirup aroma masakan Ibu Sari yang memenuhi udara.
Luna berdiri kembali, memperhatikan anak-anak itu mengisi rumah yang tadinya sunyi. Suara langkah kaki kecil di atas lantai kayu parket yang ia pilih dengan saksama terdengar seperti musik terindah di telinganya.
"Kau lihat, Isaac?" Luna menyandarkan kepalanya di bahu suaminya saat anak terakhir masuk ke dalam aula. "Matahari Ayah benar-benar sudah terbit."
Isaac merangkul bahu Luna erat. "Dan mereka tidak akan pernah kegelapan lagi, Luna. Kita sudah memulainya."
Di bawah naungan langit biru perbukitan, The Dendra Foundation resmi bernapas. Mimpi seorang ayah yang sempat terkubur di bawah tanah kini telah menjelma menjadi tempat perlindungan bagi jiwa-jiwa kecil yang sempat kehilangan arah.
Aroma kaldu ayam yang gurih dan wangi pandan dari kue bolu kukus memenuhi seluruh aula utama, menciptakan suasana yang seketika melunturkan sisa-sisa kecemasan di wajah anak-anak itu. Meja makan kayu panjang yang telah ditata Luna dan Isaac kini tidak lagi kosong; ia dipenuhi oleh tawa malu-malu dan denting sendok yang beradu dengan piring keramik.
Ibu Sari bergerak dengan gesit namun lembut di antara meja-meja, menuangkan sup hangat ke mangkuk setiap anak. "Ayo, dihabiskan ya, Sayang. Biar badannya kuat untuk main di kebun nanti," ujarnya sembari mengusap kepala seorang anak perempuan kecil yang sedang meniup kuahnya.
Luna dan Isaac tidak duduk di meja terpisah. Mereka memilih membaur, duduk di bangku panjang bersama anak-anak. Luna duduk di antara Bumi dan seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun yang tampak sangat pendiam, namanya Aira.
"Aira, apakah supnya terlalu panas?" tanya Luna lembut sembari membantu menggeser gelas air minum lebih dekat ke tangan kecil gadis itu.
Aira menggeleng pelan, lalu menatap Luna dengan mata bulatnya. "Enak, Kak. Di sini... apa kami boleh makan sampai kenyang?"
Pertanyaan sederhana itu seperti belati yang menghujam jantung Luna. Ia tersenyum tegar, meski matanya berkaca-kaca. "Tentu saja, Aira. Kau boleh makan sampai kenyang, dan kalau kurang, Ibu Sari punya banyak stok di dapur. Di sini, tidak akan ada yang kelaparan lagi."
Di sisi lain meja, Isaac sedang dikerumuni oleh tiga anak laki-laki yang lebih besar. Mereka tampak sangat tertarik dengan jam tangan Isaac dan sketsa bangunan yang sempat tergeletak di ujung meja.
"Pak Isaac, apakah Bapak yang membangun rumah besar ini?" tanya salah satu anak bernama Rian.
Isaac tertawa kecil, ia meletakkan sendoknya dan menatap anak-anak itu dengan serius namun hangat. "Iya, Rian. Aku dan Kak Luna yang merancangnya. Tapi yang paling penting, rumah ini dibangun khusus untuk kalian. Jadi, kalau ada bagian yang rusak atau kalian ingin menambah sesuatu di kamar kalian, kalian harus lapor padaku, ya?"
"Boleh kami minta lapangan bola?" tanya anak lainnya dengan penuh harap.
"Kita akan buatkan di halaman samping bulan depan," janji Isaac yang langsung disambut sorak sorai kecil dari para lelaki muda itu.
Suasana makan siang itu benar-benar menjadi momen perkenalan yang jujur. Luna mengenal Sinta, yang hobi menggambar; Bimo, yang sangat pendiam namun sangat rapi saat makan; dan Maya, yang ternyata sangat gemar membantu Ibu Sari di dapur bahkan sebelum makan siang selesai.
Kakek Arka yang duduk di ujung meja hanya memperhatikan dengan senyum lebar, sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. Ia melihat bagaimana Luna tidak canggung saat harus menyeka sisa makanan di pipi Aira, dan bagaimana Isaac dengan sabar menjelaskan cara kerja pengunci jendela kepada anak-anak yang penasaran.
"Dulu, tempat ini adalah tanah yang sunyi," gumam Kakek Arka pelan. "Sekarang, ia adalah sebuah simfoni."
Setelah perut mereka kenyang, suasana menjadi lebih cair. Rasa asing itu perlahan terkikis oleh kehangatan sup dan perhatian yang tulus. Bagi anak-anak ini, Luna dan Isaac bukan lagi sosok asing yang jauh, melainkan kakak dan pelindung yang nyata.
"Kak Luna," panggil Bumi saat mereka bersiap merapikan meja. "Terima kasih sudah menjemput kami."
Luna terdiam sejenak, ia menggenggam tangan kecil Bumi. "Terima kasih juga sudah mau datang dan meramaikan rumah ini, Bumi. Kita akan mulai petualangan baru di sini, bersama-sama."
Siang itu, di bawah atap The Dendra Foundation, sebuah keluarga baru telah lahir. Bukan keluarga karena ikatan darah, melainkan keluarga yang diikat oleh harapan dan janji untuk saling menjaga di bawah cahaya matahari yang sama.
Setelah makan siang yang hangat, keriuhan kecil mulai berpindah dari meja makan menuju lorong-lorong bangunan. Sesuai kesepakatan, Luna dan Isaac memutuskan untuk membagi tugas agar proses pengenalan rumah baru ini terasa lebih personal bagi setiap anak.