Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Rabu, 22 Mei Pukul 04.50 WIB
Area Camp, Kilometer Tujuh
Yazid nggak jelasin apa-apa.
Dia masuk ke tenda, nyalain headlamp ke level paling redup, dan ngomong satu kalimat dengan nada yang belum pernah dia pake selama perjalanan ini nada yang nggak punya ruang buat pertanyaan atau negosiasi:
"Kita turun sekarang."
Dan cara dia ngomongnya udah jadi penjelasan yang lebih lengkap dari apapun yang bisa dia susun pake kata-kata.
Nggak ada yang nanya kenapa. Nggak ada yang minta waktu buat bangun lebih pelan, minum air dulu, atau ngecek apakah ada yang ketinggalan di sleeping bag. Carrier dipasang dalam waktu yang nggak pernah mereka capai sebelumnya tanpa ada yang ngomong, semua orang gerak ke arah yang sama secara bersamaan.
Tenda dilipet seadanya. Pasak dicabut, tiang dilipet, semuanya dimasukin ke stuff sack tanpa peduli rapi atau nggak. Runa yang kemarin ngelap tiap pasak sebelum dimasukin ke tempatnya, pagi ini langsung masukin aja.
Dua menit empat puluh detik.
Rekor yang nggak akan pernah mereka banggain.
Yazid ambil posisi paling depan. Rehan di belakangnya. Runa di tengah. Salsabilla setelah Runa. Dan Zidan Yazid minta dia secara spesifik lewat satu gerakan kepala tepat di belakang Rehan. Dikelilingin dari depan dan belakang.
Zidan nggak protes.
Itu sendiri udah jadi sesuatu yang nggak perlu diartiin lebih jauh.
Headlamp nyala lima titik cahaya yang bergerak dalam gelap subuh yang masih abu-abu, nerangin jalur turun di depan mereka. Kabut yang semalam nelan segalanya udah turun ke ketinggian yang lebih rendah, ninggalin jarak pandang yang jauh lebih baik dari tengah malem tadi.
Cukup buat liat jalur.
Belum cukup buat liat apa yang mungkin ada di luar jalur.
Langkah pertama turun selalu menipu.
Karena turun terasa lebih ringan dari naik nggak ada napas yang tersengal, nggak ada otot paha yang panas karena beban carrier yang didorong ke atas. Gravitasi jadi teman, bukan lawan.
Tapi di jalur yang licin setelah kabut dan hujan, di kemiringan yang cukup buat bikin langkah yang terlalu percaya diri berakhir di lutut yang nyentuh akar turun punya caranya sendiri buat ngingetin bahwa ini bukan sesuatu yang bisa dilakuin sembarangan.
Yazid pelanin langkahnya di tiap tikungan. Bukan karena takut, tapi karena dua kali pengalaman mendaki sebelumnya udah ngajarin bahwa buru-buru di jalur turun yang licin adalah cara paling cepet buat bikin situasi buruk jadi jauh lebih buruk.
Di belakangnya, empat orang ngikutin ritme itu.
Nggak ada yang ngomong.
Bukan karena nggak ada yang pengen ngomong tapi karena hutan di sekitar mereka pagi ini udah beda dari kemarin. Dan bedanya itu terasa kayak sesuatu yang minta dibiarin dulu sebelum bisa dimengerti.
Salsabilla yang pertama nyadarin.
Di kilometer enam setengah tepat di titik di mana kabut kemarin pertama kali turun dia mengerutkan keningnya, ngepelanin langkah sebentar, dan noleh ke kiri kanan dengan cara yang bukan lagi nyari shot buat kamera.
"Burungnya kemana?"
Pertanyaan itu keluar pelan, hampir ke dirinya sendiri. Tapi dalam keheningan yang udah ada di antara mereka, semua orang denger.
Nggak ada yang jawab.
Karena semua orang baru aja nyadarin hal yang sama bahwa hutan yang kemarin rame dengan kicauan yang nggak bisa diidentifikasi namanya, yang bikin suara langkah mereka terasa kayak bagian dari sesuatu yang lebih gede, pagi ini sunyi dengan cara yang beda dari sunyi malem hari.
Sunyi malem hari punya suaranya sendiri jangkrik, serangga, sesekali suara gerak binatang di semak. Sunyi yang ada sekarang beda. Kayak ketiadaan yang aktif kayak sesuatu yang sengaja dipilih, bukan sesuatu yang terjadi secara alami.
Runa nyimpen ini dalam otaknya. Naroin di sebelah variabel-variabel lain yang udah dikumpulin sejak kemarin sore footage kamera Salsabilla, suara ranting berpola, jejak kaki yang Yazid ceritain tadi pagi.
Satu variabel lagi di daftar yang makin panjang.
Yazid nggak ngepelanin langkah. Tapi telinganya kerja lebih keras dari matanya sekarang.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪