Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Yang Tidak Diakui
Kembali ke kota.
Seminggu setelah tender dimenangkan, suasana kantor Wiryamanta Group sedikit lebih hidup dari biasanya.
Aurora baru saja keluar dari ruang rapat ketika seorang pria muda berjas abu-abu menghampirinya.
Tingginya hampir setara Arka. Wajahnya ramah. Senyumnya lebar.
“Aurora Salsabila?”
Aurora menoleh. “Iya?”
“Saya Dimas. Dari perusahaan partner kita. Saya yang akan handle proyek lanjutan.”
Aurora tersenyum sopan. “Oh! Baik, Pak Dimas.”
“Panggil Dimas saja. Jangan pakai Pak. Saya belum setua itu.”
Aurora terkekeh. “Baik, Pak…..eh, Dimas.”
Mereka tertawa kecil.
Dari balik dinding kaca ruang direktur.
Arka melihat semuanya.
Diam.
Tanpa ekspresi.
Tapi tangannya berhenti mengetik.
Beberapa menit kemudian, Aurora dan Dimas terlihat berdiri cukup dekat sambil melihat tablet bersama.
Dimas sedikit membungkuk agar lebih dekat ke layar.
Aurora ikut mencondongkan badan.
Arka menutup laptopnya.
Dengan suara yang sedikit terlalu keras.
Doni yang kebetulan masuk langsung meliriknya.
“Bre… keyboardnya salah apa?”
“Tidak.”
“Tapi sepertinya jadi korban.”
Arka berdiri. “Ruang rapat tiga kosong?”
Doni mengerutkan kening. “Kosong sih. Kenapa?”
“Panggil Aurora. Sekarang.”
Aurora masuk ke ruangan Arka dengan wajah ceria.
“Bapak memanggil saya?”
Arka tidak langsung menjawab.
Ia berdiri di dekat jendela, membelakanginya.
“Pria tadi siapa?”
Aurora berpikir sebentar. “Oh, Dimas?”
“Kenapa kamu tertawa?”
Aurora mengernyit. “Karena dia lucu?”
Arka berbalik pelan.
“Lucu?”
“Iya. Orangnya ramah.”
Arka menyilangkan tangan.
“Kamu terlalu mudah merasa nyaman dengan orang asing.”
Aurora menatapnya heran.
“Dia partner bisnis, bukan penjahat.”
“Kamu tidak tahu itu?”
Aurora mulai menahan senyum.
“Pak Arka… ini cemburu ya?”
Ruangan mendadak hening.
Arka menatapnya tajam.
“Saya tidak cemburu.”
“Oh.”Aurora mengangguk-angguk. “Baiklah.”
Ia berbalik hendak keluar.
Arka spontan memanggil, “Tunggu.”
Aurora menoleh.
Arka berjalan mendekat.
Terlalu dekat.
“Kamu harus jaga jarak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bagian dari perusahaan ini.”
Aurora menatapnya polos.
“Bagian dari perusahaan… atau bagian dari Kamu?”
Arka membeku.
Aurora menutup mulutnya sendiri. “Eh, maksud saya….”
Arka mendekat setengah langkah lagi.
“Apa kamu berharap, jawabannya yang mana?”
Aurora mendadak salah tingkah.
“Sa-saya cuma bercanda…”
Arka menghela napas pelan.
“Kurangi bercanda dengan pria lain.”
Aurora akhirnya tidak tahan lagi dan tertawa kecil.
“Berarti memang cemburu.”
Arka mendekatkan wajahnya sedikit.
“Saya hanya tidak suka orang lain terlalu dekat dengan sesuatu yang… menarik perhatian saya.”
Aurora terdiam.
Pipinya perlahan memerah.
Jam makan Siang berdenting.
Aurora sengaja duduk di kantin kantor bersama Dimas.
Bukan karena apa-apa.
Ia hanya ingin menguji sesuatu.
Dan benar saja.
Dua menit kemudian.
Arka masuk.
Langkahnya tenang.
Wajahnya datar.
Ia duduk tepat di kursi sebelah Aurora.
Bukan di depan.
Bukan di ujung meja.
Di sebelahnya.
Dekat.
Sangat dekat.
Aurora pura-pura tidak sadar.
“Pak Arka, ini Pak Dimas….eh, Dimas.”
Arka mengangguk singkat. “Sudah tahu.”
Dimas tersenyum ramah. “Senang bekerja sama dengan tim Anda, Pak.”
Arka menatapnya lurus.
“Dia bukan tim. Dia partner saya.”
Nada itu halus.
Tapi ada penekanan.
Aurora hampir tersedak minumannya.
Dimas tertawa canggung. “Oh, begitu.”
Arka menoleh ke Aurora.
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Arka menarik piringnya sendiri, memindahkan sebagian lauk ke piring Aurora.
“Habiskan.”
Aurora melotot.
“Pak Arka! Itu bekas…..”
“Saya tidak sakit.”
Dimas menatap mereka berdua dengan ekspresi… memahami.
“Oh… saya rasa saya harus kembali ke kantor.”
Dan ia benar-benar pergi.
Aurora menatap Arka tidak percaya.
“Kamu sengaja, ya?”
“Apa?”
“Mengusir dia.”
“Saya tidak mengusir.”
“Kamu duduk mepet sekali.”
Arka menoleh pelan.
Kalau aku tidak duduk dekat, kamu akan sadar saya tidak suka?”
Aurora terdiam.
Arka mencondongkan sedikit wajahnya.
“Aku tidak suka !!!”
Hati Aurora menghangat dia bahagia, dunianya yang sepi, kini seperti ramai menyenangkan karena selama ini hanya ada dia dan Ayah Surya dan kini bertambah ada satu nama yang perlahan masuk ke dalam hatinya, “Arka”
Sore hari.
Aurora berjalan di koridor ketika Arka menyusulnya.
“Besok kamu tidak perlu ikut meeting dengan Dimas.”
“Kenapa?”
“Aku yang tangani.”
Aurora menyipitkan mata. “Supaya aku tidak tertawa lagi?”
Arka berhenti.
Menatapnya dalam.
“Aku tidak keberatan kamu tertawa.”
Aurora mengangkat alis.
“Asal?”
“Asal bukan karena pria lain.”
Aurora benar-benar terdiam kali ini.
Lalu perlahan… tersenyum lembut.
“Kalau karena kamu?”
Arka mendekat satu langkah.
“Kalau karena aku… Aku akan pastikan kamu tidak berhenti tertawa.”
Jantung Aurora berdegup cepat.
Dan untuk pertama kalinya….
Cemburu itu tidak terasa menyebalkan……Tapi… manis.
😭😭😭