NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 28

"Kudengar kamu terlibat keributan dengan Bram Atmaja di rumah sakit keluarga kita semalam--apa yang sebenarnya terjadi?"

Rendy mengangkat wajah dari laporan keuangan harian yang tengah dibacanya, dan menatap lurus sosok lelaki tua kurus, berambut kelabu tipis, dan berwajah tirus pucat yang duduk di kursi roda elektrik, tak jauh darinya.

"Ada yang melapor pada Paman Pandu, ya?" selidik Rendy dengan alis terangkat.

"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tuntut lelaki tua yang dipanggil Paman Pandu itu, suaranya sedikit lebih keras.

Rendy mendengus dan kembali meneliti laporan di tabletnya. "Bukan urusan Paman!"

Paman Pandu menghela napas panjang, ekspresinya tak senang.

"Kamu masih saja ingin bermain api, Rendy. Apa yang sebetulnya kamu rencanakan? Sedalam itukah kamu mencintai perempuan itu, sampai rela mengambil resiko yang bisa menghancurkanmu dan keluarga kita?"

"Aku tak menghancurkan apapun," balas Rendy sinis. "Justru kalau Paman cerdik, harusnya Paman tahu, aku sedang mengambil langkah besar yang kelak akan menguntungkan keluarga kita. Bahkan ayahku akan bersujud dan berterima kasih padaku nanti."

Paman Pandu menatap tajam Rendy. "Paman sudah mengenalmu sejak kamu masih janin--Paman tahu sifat dan jalan pikiranmu. Tapi apa kamu sadar yang kamu rencanakan itu... gila dan berbahaya? Sebaiknya kamu hentikan--"

"Aku tak mau!" tolak Rendy mentah-mentah. "Berhenti mengaturku, Paman! Jangan memancing amarahku, atau Paman akan menyesal sudah dilahirkan ke dunia! Paman tahu aku bisa berbuat apa saja, kan? Jadi jangan coba-coba menghalangiku dan diam saja!"

Paman Pandu membuang napas panjang dan dengan masam memandang luar jendela di sisi kirinya.

"Sisi burukmu yang satu ini persis kakak kembarku, Raja," gumamnya. "Baiklah. Terserah kamu. Tapi aku sudah memperingatkanmu. Permainan api ini bisa jadi neraka yang akan melahapmu hidup-hidup. Jika sudah terbakar parah, aku tak akan bisa menolongmu. Kamu akan menanggung kerusakan itu seumur hidupmu. Berhati-hatilah."

Rendy tak menanggapi. Sepenuhnya hening dan dingin.

Tak berselang lama, ponselnya berdering. Ia melihat identitas sang penelepon, dan menerima panggilannya tanpa ragu.

"Ya?"

Rendy diam dan mendengarkan dengan serius. Beberapa detik kemudian, seringainya melebar.

"Mereka sudah bergerak? Permainan sudah dimulai? Bagus!"

Pembicaraan masih terus berlangsung. Rendy sesekali mengangguk, mata hitamnya berkilat-kilat mengerikan.

"...ya. Ya. Tak apa. Kita sudah membahasnya--kalian tahu apa yang harus dilakukan, kan? Kita bisa dengan mudah mengatasinya. Aku mengandalkan kalian."

Rendy menutup telepon, tampak bersemangat sekaligus puas.

"Pengacaramu, ya?" Paman Pandu menggulir dan menatap lekat tablet yang tersangga di lengan kiri kursi rodanya, ia juga mengenakan bluetooth earphone di telinganya.

Rendy mengerutkan alis. "Bagaimana Paman tahu? Paman masih menyadap ponselku, ya? Lancang!"

"Itu bagian dari perjanjian kita, Rendy. Aku harus tahu segalanya jika kamu mau aku membantumu meraih apa yang kamu inginkan," kata Paman Pandu mengingatkan.

"Tapi tadi Paman menentangku, alih-alih mendukung rencanaku," gerutu Rendy jengkel. "Sebaiknya batalkan saja perjanjian itu dan akan kucabut akses Paman ke semua perangkat komunikasiku--"

"Yang kulakukan juga demi melindungimu. Terserah kalau kamu tak menganggapnya sebagai bantuan dariku. Tapi kalau kamu mau memutus aksesku, pastikan kamu juga tak akan menyesalinya--tanpa aku sebagai mata, telinga, dan perisaimu, bagaimana kamu akan bertahan menghadapi gempuran orang-orang yang ingin menghancurkanmu, termasuk dari keluargamu sendiri? Tanpa dukunganku, kamu sudah hancur dan mati bertahun-tahun lalu, Nak. Ingat itu!"

Rendy tak menimpali sepatah kata. Ekspresinya kian kelam dan keras.

"Tak lama lagi, aku akan meraih kekuasaan tertinggi," katanya dingin dan perlahan. "Setelah itu, tak ada lagi yang bisa menghancurkanku. Giliranku menghancurkan mereka yang berani menentangku. Aku bersumpah."

Paman Pandu diam saja sambil terus menekan-nekan layar tabletnya.

"Ada tamu," cetusnya pelan, setelah melihat beberapa tayangan CCTV di tabletnya.

"Siapa? Aku sudah bilang pada sekretarisku untuk tak menerima tamu sampai satu jam ke depan--"

"Dia bukan tamu biasa. Sekretarismu bahkan tak akan bisa menolaknya," kata Paman Pandu pelan.

"Siapa?"

"Istrimu, Aurel."

Rendy mendengus dan memutar bola mata.

"Mau apa lagi dia?"

Paman Pandu kini menatap Rendy tajam.

"Masalah barumu bukan cuma tuduhan dan tuntutan yang baru saja diajukan keluarga Atmaja terkait insiden maut yang menimpa Zenna. Mereka juga baru saja melancarkan serangan lain yang cukup merepotkan--sudah kuingatkan kamu jangan bermain api, Rendy--"

"AKU TAK PEDULI! AKU MAU MASUK DAN BERTEMU SUAMIKU--SEKARANG!"

Suara melengking Aurel terdengar penuh emosi dari balik pintu kantor Rendy.

"Lihat? Istrimu yang pertama terbakar," kata Paman Pandu.

Rendy memandang tajam Paman Pandu sekarang. "Katakan, Paman, serangan lain apa yang Paman maksud...?"

"MINGGIR, JALANG! AKU MAU MASUK!"

BRAKK!

Pintu besar yang terbuat dari kayu ek di seberang meja Rendy menjeblak terbuka. Aurel menderap masuk dengan warna wajah semerah api, sementara sekretaris Rendy tampak pucat dan ketakutan mengikuti.

"Maaf, Tuan Rendy, saya sudah berusaha mencegah istri Anda masuk, tapi--"

"KELUAR! KELUAR KALIAN SEMUA! AKU MAU BICARA DENGAN SUAMIKU, SEKARANG!"

Paman Pandu melirik Rendy yang raut mukanya membatu, dan berkata pelan, "Kalau begitu, Paman pergi dulu."

Sang Paman dan sekretaris undur diri dan menutup pintu. Aurel maju dan menyorongkan ponselnya yang menyala di bawah hidung Rendy.

"LIHAT INI!"

Rendy menonton tayangan berita terbaru yang mewartakan laporan keluarga Atmaja ke pihak berwajib tentang dugaan tindakan kriminal Rendy yang berupaya meracuni Zenna di pesta pernikahannya, dan wawancara perwakilan keluarga Atmaja dengan pers di depan kantor polisi.

"...menurut Bapak, apa motif atau alasan Rendy Wangsa melakukan percobaan pembunuhan terhadap Zenna yang merupakan pewaris keluarga Atmaja? Bukankah keluarga Wangsa dan keluarga Atmaja dikenal sangat dekat dan telah menjalin kerjasama bisnis selama bertahun-tahun?"

"Motifnya sederhana. Yaitu asmara," jawab laki-laki pengacara yang menjadi wali hukum keluarga Atmaja siang itu.

Wartawan seketika heboh.

"Maksud Bapak?"

"Rendy Wangsa pernah menjalin hubungan dengan Zenna Atmaja. Saat itu, tak ada yang tahu bahwa Zenna adalah putri kandung mendiang Zahir Atmaja, dan ia belum berstatus sebagai pewaris Atmaja--sehingga keduanya tak mendapat restu keluarga Wangsa. Hubungan itu akhirnya kandas. Tetapi, sepertinya Rendy masih mencintai Zenna dan tak terima pujaan hatinya menikahi lelaki lain. Karena tak bisa memiliki Zenna, maka ia gelap mata dan memilih cara keji untuk melampiaskan dendamnya..."

"Anda yakin dengan pernyataan ini? Apa ada bukti?" tuntut salah satu wartawan.

"Tentu ada. Semua bukti sudah kami serahkan pada polisi. Biarkan semua berjalan sesuai proses hukum. Nanti kalian juga akan melihat kebenaran itu terbuka di ruang sidang. Kita kawal terus kasus ini sampai keadilan benar-benar ditegakkan."

Aurel melempar ponselnya hingga membentur dada Rendy dan jatuh ke lantai.

"JADI KAMU PERNAH PUNYA HUBUNGAN ASMARA DENGAN ISTRI BRAM? DAN SAMPAI SEKARANG KAMU MASIH MENCINTAINYA? LALU KAMU MERAHASIAKAN SEMUA ITU DARIKU? KAMU BENAR-BENAR BRENGSEK, RENDY!"

***

1
sryharty
gasss Bram zenna ngadon biar dapat bayi yg lucu2
sryharty
duuuh bener2
Shamira Zee
Aduh mau apa lagi si aki-aki ini? Bram lekaslah sembuh... apa Rendy yang berusaha mencelakainya lagi? Jahat banget sih!
sryharty
kapan ini orang jahatnya pada mati,,
sryharty: jika tidak Minggu ini mungkin bulan depan
total 2 replies
sryharty
mending menepi dulu biar zenna tenang dan tetap waras
bram pantai aja dari jauh
La Rumi: Mantau sambil ngopi biar gak ngamok /Coffee/
total 1 replies
Nyonya Billy
Sifat arogannya Bram keluar...
La Rumi: Emosian anaknya ya kak
total 1 replies
Nyonya Billy
Tegang seperti di film...
Nyonya Billy
Wah tegang...
Shamira Zee
Kasihan Zenna jadi trauma. Tapi ya jangan minta pisah juga dong... sama aja musuh dan Rendy yang menang kalau gitu.

Semangat nulisnya thor... makin ke sini makin seru ceritanya, narasinya juga bagus, layak dimarathon dan ditunggu updatenya /Good/
La Rumi: thank you kak ❤️
total 1 replies
Shamira Zee
Rendy kayaknya masih bakal jadi ancaman berikutnya ya... semoga Bram dan Zenna lekas pulih. Dokter Kenan ini kayaknya disuruh jahat sama Paman Darwin... tapi dia nyelametin Zenna... apa itu artinya, aslinya dia baik?
Shamira Zee
Tegang banget kayak film action. Bram bener-bener jadi pahlawan. /Sob/ Dan akhirnyaa Rendy dan Aurel ditangkap. /Grin/
Shamira Zee
Ayo Bram cepat selamatkan Zenna /Sob/
Shamira Zee
Wah Zenna dalam bahaya ini... apa Bram bisa menolong tepat waktu? /Scare/
sryharty
orang jahatnya banyak banget
La Rumi: biar polisi ada kerjaan dan penjaranya penuh sampai meleduk kak
total 1 replies
Lord Aaron
Orang kaya ditangkap ngaruh gak sih? Gak kayaknya. Paling ntar juga bebas.
La Rumi: tergantung duit ya kak
total 1 replies
Nyonya Billy
Waduh...
Nyonya Billy
Racun lagi...?
Nyonya Billy
Gimana ini konsepnya... tukar ranjang apa gimana? 😅
La Rumi: tukar duit kak /Facepalm/
total 2 replies
Shamira Zee
Jadi pewaris dan orang kaya ternyata gak enak ya... duh konfliknya makin pelik ini. Dan Paman Pandu kenapa... apa diracun? Makin ke sini makin dar der dor ceritamu, thor 👍
Shamira Zee
Wee dar der dor sekali ini... mamanya Zenna baik dan manis, tapi sayang hidupnya tragis. Pandu juga. Dan apa-apaan itu Rudra nyuruh anaknya main tebar benih aja... Rendy ini sintingnya nurun mbahnya ya? /Shame/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!