"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Janji di Balik Cermin
[POV: Vaya]
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden, menyentuh kulitku yang terasa hangat. Aku terbangun lebih dulu dengan perasaan ringan yang sudah lama tidak kurasakan. Kejadian semalam—hujan, tangisan, dan penyatuan kami yang penuh gairah—terasa seperti mimpi, namun rasa pegal di tubuhku menegaskan bahwa itu nyata.
Aku beranjak dari tempat tidur dengan perlahan, berusaha tidak mengusik tidur lelap Narev. Aku melangkah ke arah meja rias, memilih sebuah dress kerja berwarna biru langit. Namun, saat mencoba mengancingkan bagian belakang dress tersebut, tanganku kesulitan menjangkaunya.
Tiba-tiba, suara deru napas yang memburu terdengar dari arah tempat tidur.
"Vaya?!"
Aku melihat dari cermin, Narev tersentak bangun dengan mata terbelalak. Tangannya meraba sisi tempat tidur yang kosong dengan gerakan panik. Wajahnya seketika pucat pasi, peluh dingin membasahi dahinya.
"Aku di sini, Raksasa," ucapku lembut.
Narev langsung melompat dari tempat tidur. Dia bahkan tidak peduli hanya mengenakan celana panjang tidurnya. Dia menerjang ke arahku dan langsung memelukku dari belakang dengan sangat erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia berkedip. Bahunya gemetar hebat di pundakku.
"Jangan lakukan itu lagi," bisiknya parau, suaranya pecah karena ketakutan yang mendalam. "Jangan bangun tanpa memberitahuku. Saat tanganku tidak menemukanmu di sampingku, rasanya duniamu runtuh lagi. Aku merasa mati, Vaya. Aku benar-benar merasa mati saat kamu tidak ada."
Aku berbalik di dalam dekapannya, menangkup wajahnya yang kuyu namun tampan itu. "Aku hanya sedang bersiap-siap, Narev. Aku tidak akan ke mana-mana."
Narev tidak menjawab. Dia justru menunduk dan mencium bibirku dengan sangat intens, sebuah ciuman yang menuntut kepastian bahwa aku masih miliknya. Tangannya mencengkeram pinggangku seolah sedang mengunci takdir kami.
"Tolong... jangan biarkan aku pergi lagi," gumamnya di sela ciuman kami. "Monster dalam diriku mungkin sudah aku jinakkan, tapi ketakutanku kehilanganmu tidak akan pernah hilang. Aku tidak bisa jauh darimu, Vaya."
Aku merangkul lehernya, membenamkan jemariku di rambut hitamnya yang berantakan. "Aku juga tidak mau kamu pergi, Narev. Kamu dan Mici adalah duniaku sekarang. Aku sudah membuang surat cerai itu. Kita akan memperbaiki semuanya, oke?"
Narev mengangguk, menyandarkan keningnya di keningku. Napasnya mulai teratur kembali.
"Tapi, Narev..." aku menjeda kalimatku, menatap matanya dalam-dalam. "Aku punya satu permintaan. Aku ingin izin darimu."
Rahang Narev sedikit mengeras. "Izin untuk apa?"
"Aku ingin menemui Rian. Untuk terakhir kalinya."
Seketika, aura posesif Narev seolah ingin bangkit kembali, namun dia berusaha keras menekannya. Tangannya yang di pinggangku mengencang.
"Vaya, dia licik. Dia akan menghasutmu lagi tentang masa lalu, tentang ayahmu, tentang—"
"Aku tahu," potongku tegas. "Itulah alasannya aku harus menemuinya. Aku ingin menyelesaikan urusanku dengannya agar dia tidak punya celah lagi untuk mengganggu hubungan kita. Aku ingin menegaskan padanya bahwa aku tidak peduli lagi seburuk apa pun kamu di masa lalu. Aku memilihmu, Narev. Bukan karena terpaksa, tapi karena aku memang menginginkannya."
Narev menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kamu... lebih percaya padaku daripada buktinya?"
"Aku lebih percaya pada apa yang aku rasakan saat ini daripada kata-kata pria yang hanya ingin menghancurkan kita," aku tersenyum dan mengecup hidungnya. "Aku janji tidak akan terpengaruh. Aku hanya ingin melihat sampai mana dia akan berusaha menghasutku, lalu aku akan mengakhirinya selamanya. Izinkan aku, Narev. Percayalah padaku kali ini."
Narev terdiam cukup lama, sebelum akhirnya dia mengembuskan napas panjang. Dia mengecup keningku lama sekali. "Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi aku akan menunggumu di dalam mobil di depan tempat kalian bertemu. Jika dalam tiga puluh menit kau tidak keluar, aku akan masuk dan menyeretnya ke neraka."
Aku tertawa kecil. "Kesepakatan yang adil, Raksasa."
Tiba-tiba, suara hati Mici yang baru bangun di kamar sebelah terdengar ceria di kepalaku.
“Hati Papa dan Mama warnanya kuning terang seperti matahari! Mama mau lawan Om Jahat ya? Semangat Mama! Papa jangan nangis lagi ya!”
Aku tersenyum. Hari ini, aku akan memutus rantai terakhir yang mengikat masa laluku, demi masa depan bersama pria yang—meski penuh cacat—adalah rumah sejatiku.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa