NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu Statistik

Sinar matahari pagi yang terik menyengat aspal area parkir khusus dosen di Fakultas Ekonomi. Suasana yang biasanya tenang dengan deretan mobil mewah yang terparkir rapi, mendadak berubah tegang saat sebuah mobil sedan sport tua dengan knalpot bising menderu masuk dan berhenti tepat melintang di belakang SUV hitam milik Morgan Bruggman.

Liana yang duduk di kursi penumpang di samping Morgan, seketika membeku. Ia mengenali mobil itu. Ia sangat mengenali siluet pria yang kini keluar dari mobil tersebut dengan gerakan yang kasar dan penuh provokasi.

"Derby ..." bisik Liana, jemarinya meremas tali tasnya hingga buku-bukunya memutih.

Morgan, yang baru saja hendak mematikan mesin mobil, tetap tenang. Ia tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun; jemarinya tetap bergerak presisi mencabut kunci kontak dan merapikan kacamata bacanya yang sedikit merosot. Ia melirik ke arah spion, melihat Derby yang kini berjalan mendekat dengan gaya angkuh, mengenakan jaket kulit yang lusuh dan puntung rokok yang terselip di sela bibirnya.

"Jangan turun, Liana," perintah Morgan. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang membuat Liana tidak berani membantah.

Morgan membuka pintu mobilnya. Ia keluar dengan gerakan yang sangat elegan, kontras dengan kekacauan yang dibawa oleh Derby. Morgan merapikan kancing jas biru gelapnya yang tidak berkerut sedikit pun, lalu berdiri tegak di samping pintu mobilnya, menunggu Derby sampai di hadapannya.

"Jadi, ini dia sang profesor hebat yang selalu menyembunyikan mahasiswinya sampai larut malam?" Derby memulai pembicaraan dengan tawa sinis yang dibuat-buat. Ia berhenti tepat di depan Morgan, mengembuskan asap rokoknya tepat ke arah wajah Morgan.

Morgan tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip. Ia menatap Derby dengan pandangan yang kosong, sebuah tatapan yang biasa ia gunakan saat melihat deretan angka statistik yang tidak relevan di layar komputernya. Bagi Morgan, kehadiran Derby saat ini hanyalah sebuah anomali kecil dalam rutinitasnya.

"Saudara Derby Neeson," ucap Morgan, suaranya jernih dan berwibawa, menggema di area parkir yang mulai ramai oleh mahasiswa yang menonton dari kejauhan. "Anda berada di area privat staf pengajar. Dan sejauh pengetahuan saya, Anda bukan mahasiswa fakultas ini, apalagi mahasiswa universitas ini."

"Aku tidak peduli dengan aturan kampusmu yang membosankan ini, Profesor!" Derby melangkah maju, memperkecil jarak hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dada Morgan. Ia lebih pendek beberapa sentimeter dari Morgan, sehingga ia harus mendongak untuk menantang mata pria itu. "Mana Liana? Aku tahu dia di dalam. Kau pikir kau siapa, mengurungnya dengan alasan tugas tambahan setiap hari?"

"Liana adalah mahasiswi saya, dan keselamatannya adalah tanggung jawab saya selama ia berada di lingkungan akademis ini," jawab Morgan tenang. Ia sedikit memiringkan kepalanya, memperhatikan Derby seolah-olah pria di depannya adalah spesimen laboratorium yang cacat. "Dan melihat kondisi Anda yang ... kurang stabil, saya rasa keputusan saya untuk menjauhkannya dari Anda adalah langkah logis yang tepat."

Provokasi itu berhasil. Derby naik pitam. Ia menjatuhkan puntung rokoknya dan mencengkeram kerah jas mahal Morgan dengan kedua tangannya. "Kau pikir kau bisa mengajariku soal logika?! Liana itu milikku! Kau hanya dosen pengecut yang bersembunyi di balik buku-buku tebalmu!"

Liana yang melihat adegan itu dari dalam mobil segera membuka pintu dengan panik. "Derby, hentikan! Lepaskan dia!"

"Masuk kembali ke mobil, Liana!" perintah Morgan tanpa menoleh, suaranya tetap stabil meskipun kerah jasnya sedang ditarik kasar.

Morgan kembali menatap Derby. Ia tidak membalas cengkeraman itu, tangannya tetap berada di samping tubuhnya, rileks seolah ia sedang tidak berada dalam ancaman fisik.

"Anda tahu, Saudara Derby," Morgan berbicara dengan nada yang hampir menyerupai bisikan, namun sangat tajam. "Dalam ilmu statistik, ada yang disebut sebagai 'debu statistik'—variabel pengganggu yang tidak memiliki dampak berarti pada hasil akhir dan biasanya langsung dibuang agar data menjadi bersih. Saat ini, bagi saya, Anda adalah debu itu. Tidak signifikan, tidak bernilai, dan hanya mengotori pemandangan saya."

Derby mengeram marah. Ia mengangkat tinjunya, siap untuk menghantam wajah Morgan yang tetap tenang tanpa ekspresi. Mahasiswa yang menonton serempak menahan napas.

"Pukul saya," tantang Morgan, matanya berkilat dingin di balik lensa kacamatanya. Ia sedikit memajukan wajahnya, membiarkan Derby memiliki sasaran yang jelas. "Pukul saya di area kampus ini, di depan puluhan saksi dan kamera CCTV itu. Dan saya pastikan, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Anda tidak hanya akan ditangkap karena penganiayaan, tapi semua catatan hutang judi Anda yang sudah saya kumpulkan akan sampai ke tangan pihak yang paling Anda takuti di kota ini."

Tangan Derby gemetar di udara. Ia menatap Morgan dengan rasa takut yang mulai merayap. Pria di depannya ini bukan sekadar dosen kaku; Morgan adalah pemangsa yang tenang yang sudah menyiapkan jebakan bahkan sebelum Derby melancarkan serangan.

"Kau ... kau mengancamku?" Derby berdesis, namun cengkeramannya pada kerah Morgan mulai melonggar.

Morgan mengulurkan tangannya, perlahan tapi pasti ia melepaskan tangan Derby dari kerah jasnya satu per satu dengan kekuatan yang mengejutkan. Morgan kemudian merapikan kembali kerahnya dengan gerakan jari yang sangat presisi.

"Saya tidak mengancam. Saya memberikan fakta," ucap Morgan. Ia mengambil sapu tangan sutra dari saku jasnya, lalu mengusap bagian jas yang tadi disentuh Derby, seolah-olah ia baru saja terkena kotoran yang menjijikkan. "Sekarang, pindahkan mobil Anda sebelum saya meminta petugas keamanan untuk mendereknya ke tempat sampah. Itu tempat yang paling cocok untuk kendaraan, dan pemiliknya."

Derby berdiri terpaku, wajahnya merah padam karena malu dan marah yang tidak bisa ia luapkan. Ia melihat Liana yang menatapnya dengan pandangan penuh kekecewaan dari pintu mobil. Tanpa berkata-kata lagi, Derby berbalik dan masuk ke mobilnya, menggeber mesinnya dengan kencang sebelum melesat pergi meninggalkan kepulan asap hitam.

Morgan menghela napas panjang. Ia memasukkan kembali sapu tangannya ke saku, lalu berbalik menghampiri Liana.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Liana, suaranya bergetar. Ia menyentuh lengan Morgan, memastikan pria itu tidak terluka.

Morgan menatap Liana sejenak, tatapannya melembut hanya untuk beberapa milidetik sebelum kembali menjadi kaku. "Saya baik-baik saja, Liana. Jas ini hanya perlu sedikit dibersihkan. Mari, kita sudah terlambat untuk kelas pertama."

Liana berjalan di samping Morgan menuju gedung fakultas. Ia melihat bagaimana Morgan berjalan dengan dagu terangkat, seolah insiden barusan tidak pernah terjadi. Rasa kagum Liana semakin dalam; Morgan baru saja menghadapi ancaman fisik tanpa sekali pun kehilangan martabatnya.

Bagi Morgan, Derby bukan lagi saingan. Derby hanyalah variabel yang harus segera ia eliminasi dari persamaan hidup Liana. Dan saat mereka melangkah masuk ke lobi gedung, Morgan sempat melirik ke arah gerbang kampus, memastikan "debu" itu benar-benar telah hilang dari pandangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!