Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34.
Wajah Alana yang memerah semakin panas mendengar jawaban Aslan. Rasa malu bercampur dengan perasaan geli yang aneh, membuatnya ingin segera lari dari situasi ini. Tanpa berpikir panjang, Alana bergerak cepat, berusaha menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang.
"Aku... aku mau ke kamar mandi dulu!" serunya dengan suara yang sedikit melengking karena gugup. Ia berniat langsung berjalan pergi, namun baru saja ia bergerak, lengan kekar Aslan dengan lembut namun tegas menahan pergelangan tangannya, menariknya perlahan agar tidak turun, seolah mencegahnya kabur.
"Mau ke mana begitu terburu-buru, Sayang?" goda Aslan, matanya berbinar penuh selera. Ia justru sedikit menarik tubuh Alana agar kembali berbaring sedikit, tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Belum juga selesai menyapa pagi, sudah mau lari hmm?"
Tindakan itu justru memicu reaksi Alana. Merasa sedang digoda dan tidak mau kalah, serta ingin lepas dari rasa malunya, Alana mengumpulkan tenaga. Dengan gerakan yang tiba-tiba dan cukup cepat, ia menangkup bahu Aslan lalu mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Karena Aslan tidak menyangka dan sengaja tidak menahan kekuatannya, tubuhnya terguncang dan sedikit terlempar ke belakang, hingga punggungnya menempel pada sandaran tempat tidur.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Alana. Ia melompat turun dari ranjang dan berlari kecil, langkah kakinya terdengar berderap cepat di atas lantai keramik yang dingin.
Lalu dengan sigap ia masuk ke kamar mandi dan membanting pintu di belakangnya. Suara kunci yang diputar terdengar jelas, tanda bahwa ia sudah mengamankan posisinya.
Di luar, Aslan masih duduk di tepi ranjang, memijat bahunya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali, namun ia pura-pura merasakan sakit agar terlihat lucu. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu, dan di wajahnya muncul senyum yang sangat gemas. Tatapannya penuh kasih sayang dan kekaguman, seolah ia sedang melihat hal paling berharga dan menyenangkan di dunia. Bayangan Alana yang berani mendorongnya dan berlari itu justru membuatnya merasa gadis itu semakin hidup dan cantik.
"Dasar gadis kecil yang nakal," gumam Aslan pelan, lalu ia tertawa kecil. Suara tawanya itu rendah, hangat, namun memiliki daya tarik yang memikat, menggema pelan di ruangan yang sunyi itu. Ia benar-benar menyukai sisi Alana yang berani menentangnya seperti ini. Ini membuktikan bahwa gadis itu tidak takut padanya sepenuhnya, dan memiliki kepribadian yang kuat.
Di dalam kamar mandi, Alana bersandar di pintu, napasnya sedikit terengah-engah sambil menahan tawa. Rasa malu tadi sudah berubah menjadi suasana hati yang ceria. Ia menghabiskan waktu cukup lama di sana mencuci muka, menyikat gigi, dan merapikan rambutnya yang berantakan karena tidur. Ketika tiba saatnya berpakaian, ia melihat baju ganti yang sudah disiapkan Aslan, namun entah kenapa, ia justru mengambil kembali gaun yang ia pakai kemarin malam. Gaun itu masih bersih dan nyaman, dan mungkin sedikit rasa pemberontakan kecil membuatnya memilih pakaian yang sudah dikenalnya, daripada yang baru yang disiapkan pria itu. Ia merapikan lipatannya, menyetrika sedikit dengan telapak tangannya hati-hati agar terlihat rapi, dan memastikan penampilannya kembali sopan dan anggun seperti biasanya.
Waktu berlalu, dan sekitar setengah jam kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamar utama. Pelayan hotel datang mengantarkan sarapan yang dipesan Aslan. Kereta dorong berisi berbagai hidangan didorong masuk, menampilkan tatahan yang mewah namun menggugah selera ada roti panggang hangat, telur dengan berbagai olahan, potongan buah segar, keju, serta teko besar berisi kopi dan teh panas yang mengeluarkan uap wangi. Setelah pelayan pergi dan menutup pintu kembali, aroma makanan pun memenuhi ruangan.
Aslan berjalan menuju pintu kamar mandi, kali ini mengetuknya dengan lembut dan teratur.
"Alana, Sayang? Sarapan sudah datang. Baunya sudah sampai ke luar pintu lho, kalau tidak keluar nanti aku makan semuanya sendiri ya," serunya dengan nada bercanda namun lembut.
Di dalam, Alana yang sudah siap sepenuhnya menarik napas panjang. Ia membuka kunci pelan-pelan, lalu mendorong pintu terbuka.
Ia muncul dengan langkah ragu, menatap Aslan yang sudah berdiri menunggu. Aslan yang awalnya tersenyum, tiba-tiba terdiam saat melihat apa yang dikenakan Alana. Matanya menyapu tubuh gadis itu, menyadari bahwa itu adalah pakaian yang sama yang dipakai Alana kemarin malam.
"Kau..." Aslan mengerutkan kening sedikit, namun bukan karena marah, melainkan karena rasa heran yang bercampur gemas. Ia berjalan mendekat, berputar pelan di sekitar Alana seolah sedang meneliti sebuah karya seni. "Kenapa memakai baju kemarin? Aku sudah menyiapkan baju yang baru dan lebih nyaman di atas lemari, Sayang. Apa ini bentuk hukuman untukku karena sudah menggodamu tadi?"
Alana memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecilnya. "Baju ini masih bersih dan nyaman kok. Lagipula... aku suka pakai ini," jawabnya singkat, sebenarnya ia hanya ingin melihat reaksi Aslan, dan ternyata berhasil.
Aslan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, lalu tertawa lagi. "Baiklah, kalau itu yang kau mau. Bagaimanapun juga, kau tetap terlihat cantik, bahkan jika kau hanya..... memakai kain pun aku tetap akan bilang begitu." Bisik Aslan Dalam namun tidak ada kilatan dimatanya yang berlebihan.
Alana membelalak tak percaya
Kilatan dimatanya menandakan kemarahan yang bercampur rasa malu luar biasa berbeda dengan pria itu.
"Pria ini sungguh sangat keterlaluan" Jerit batin Alana, Namun ia tidak bertindak berlebihan, tidak mengeluarkan isi hatinya. karena tahu Aslan yang akan keluar sebagai pemenang jika ia berusaha membuat keributan dengan pria itu.
Setelah puas mengobrol, Aslan pun menepuk pelan kepala Alana. "Tunggu di sini, aku segera bersiap. Jangan dimakan duluan ya semuanya," candanya, lalu ia berjalan cepat masuk ke kamar mandi yang baru saja ditinggalkan Alana. Tidak butuh waktu lama bagi Aslan untuk bersiap—karakter terbiasa dengan efisiensi membuatnya selesai mandi dan berpakaian rapi dalam waktu singkat. Ketika ia keluar, ia sudah kembali tampil rapi, meskipun dengan gaya yang lebih santai dibandingkan saat di acara kemarin.
Mereka pun akhirnya duduk bersebelahan di dekat meja yang sudah disusun dengan hidangan sarapan. Suasana di antara mereka sangat hangat dan tenang. Aslan menuangkan teh hangat ke cangkir Alana, memotongkan buah-buahan, dan sesekali menyelipkan godaan kecil tentang kejadian pagi tadi, namun selalu dengan nada yang penuh kasih sayang. Alana pun mulai terbuka lagi, tertawa dan membalas ucapan Aslan, rasa was-was dan ketakutan semalam kini benar-benar telah hilang, tergantikan oleh kehangatan kebersamaan di pagi yang indah itu.
**********
Sarapan pun selesai dengan suasana yang penuh tawa dan kehangatan. Setelah membereskan segala sesuatu dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, persiapan menuju kota Lyon pun dimulai. Aslan dengan sigap membawa mereka menuju mobil, sebuah kendaraan mewah yang nyaman dan tangguh, siap menempuh perjalanan. Sebelum masuk ke dalam kendaraan, Aslan tidak lupa memastikan sabuk pengaman Alana terpasang dengan sempurna, bahkan sempat mencubit pelan pipi gadis itu dengan tatapan penuh perhatian.
Perjalanan berjalan lancar. Pemandangan luar berganti, dari gedung-gedung tinggi kota hingga ke hamparan pemandangan alam yang asri dan menenangkan. Sepanjang jalan, Aslan sesekali membagikan perhatiannya mengulurkan camilan atau minuman, atau sekadar bercerita hal-hal ringan agar Alana tidak merasa bosan. Hingga akhirnya, mobil itu memasuki kawasan perumahan yang tenang dan berhenti di depan sebuah rumah tua yang megah namun penuh nuansa hangat. itulah rumah keluarga Alana, tempat Nenek Aretha tinggal.
Belum lama mereka turun dari mobil, pintu utama rumah terbuka lebar. Helena dan Samuel, sudah tampak duduk di teras menanti. Melihat putri mereka dan Aslan tiba, keduanya segera bangkit dan berjalan menghampiri dengan wajah penuh senyum. Pelukan hangat dan sapaan akrab pun terjadi, seolah mereka sudah lama tidak bertemu.
"Kau makin tampan saja, Nak," puji Samuel sambil menepuk bahu Aslan dengan kuat.
Pria itu pun membalas dengan sopan. "Terima kasih, Paman. Semoga Paman dan Bibi selalu sehat."
Karena waktu masih sore, Samuel mengajak Aslan duduk di ruang tamu sambil menyeruput teh hangat buatan Helena. Mereka berdua mengobrol tentang banyak hal mulai dari urusan pekerjaan, perkembangan kota, hingga kenangan masa lalu. Namun, percakapan itu terhenti tiba-tiba ketika telepon genggam Samuel berdering. Nama "Marcel" tertera jelas di layar, sahabat karibnya yang tak lain adalah ayah dari Aslan sendiri.
Samuel mengangkat telepon itu dan berbicara cukup lama, suaranya serius namun sesekali diselipkan tawa. Sementara itu, Aslan yang sebenarnya tidak ingin mendengar pembicaraan itu dan lebih ingin menghabiskan waktu dengan Alana tiba-tiba mendapat ide.
"Paman, izinkan saya sebentar ya," kata Aslan tiba-tiba dengan wajah yang seolah menahan keinginan. "Perut saya agak tidak enak, saya mau ke toilet dulu sebentar."
Samuel hanya mengangguk sibuk sambil terus berbicara di telepon, tidak menyadari bahwa itu hanyalah alasan semata. Begitu menjauh dari pandangan orang tua Alana, langkah Aslan tidak menuju kamar kecil, melainkan berbelok menuju arah dapur yang terang benderang dari mana terdengar suara air mengalir dan bau masakan yang harum.
Ia melangkah pelan, matanya menyusuri setiap sudut ruangan hingga akhirnya melihat sosok yang ia cari. Alana sedang berdiri di dekat meja dapur, sibuk memotong sayuran untuk persiapan makan malam. Namun, sebelum Aslan sempat mendekati gadis itu, suara lembut namun berwibawa menyapanya lebih dulu.
"Ah, ini pasti Aslan ya? kenapa berdiri di sana? Ayolah kemari nak."
Aslan menoleh dan melihat seorang wanita tua yang berjalan dengan tegap namun anggun, wajahnya menyimpan jejak kecantikan masa muda dan kebijaksanaan yang mendalam. Itu Nenek Aretha.
"Selamat sore, Nek," sapa Aslan segera, mengubah sikapnya menjadi sangat sopan dan hormat. Ia bahkan sedikit menundukkan kepala, sebuah tanda penghormatan yang tulus.
"Mari duduk, Nak. Jangan hanya berdiri di sana. Ceritakan padaku, bagaimana ayahmu? Apakah dia masih suka lupa makan kalau sedang sibuk bekerja seperti dulu?"
Aslan pun duduk dan mengobrol dengan sangat patuh. Ia menjawab setiap pertanyaan nenek itu dengan detail, tertawa sesuai situasi, dan sama sekali tidak menunjukkan sisi dominan atau tegas yang biasa ia tunjukkan pada orang lain. Ia benar-benar seperti cucu sendiri yang sedang mendengarkan cerita orang tua.
Di sudut dapur, Alana yang masih sibuk memotong sayuran hampir saja menjatuhkan pisaunya karena menahan tawa. Ia menyembunyikan wajahnya di balik keranjang buah, gemas melihat pria yang tadi pagi begitu berani menggodanya kini berubah menjadi sosok yang sangat penurut dan lemah lembut hanya di hadapan neneknya. Pemandangan itu terlalu lucu untuk dilewatkan.
Merasakan pandangan itu, Aslan menyelinapkan tatapan ke arah Alana. Matanya berkilat, seolah berkata "Kau tunggu saja balasanku nanti," Namun di balik tatapan itu terselip kasih sayang yang begitu dalam, sebuah dendam main-main yang justru membuat hatinya semakin hangat. Di kepalanya, perlahan mulai tersusun rencana-rencana untuk membalas godaan dan rasa malunya tadi, dengan cara yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Waktu pun berlalu, dan kesempatan yang ditunggu Aslan akhirnya datang. Matahari mulai terbenam, dan seluruh penghuni rumah mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Samuel kembali sibuk menelepon, Helena membantu Aretha menata ruang makan, dan Alana meminta izin untuk naik ke kamar sebentar demi mengambil sesuatu dan merapikan diri.
Aslan menunggu sejenak, lalu dengan langkah yang hampir tak terdengar, ia menaiki tangga menuju lantai dua. Ia tahu persis di mana kamar Alana—gadis itu pernah menceritakannya dulu. Sampai di depan pintu kayu itu, ia mendengar suara gerakan di dalam. Karena pintu tidak tertutup rapat, hanya terganjal sedikit, rasa ingin tahu dan niat isengnya membuatnya mendorong pintu itu perlahan, hanya cukup untuk melihat celah di dalam.
Namun, apa yang dilihatnya membuat napasnya tertahan seketika.
Alana sedang berdiri membelakangi pintu, baju yang ia kenakan sudah sedikit terlepas, dan ia tampak sedang bersiap mengganti pakaiannya. Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadiran siapa pun, pikirannya sedang fokus pada hal lain.
Jantung Aslan berdegup kencang. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah seketika. Tanpa berpikir dua kali, ia segera memalingkan wajah dengan kasar ke arah dinding koridor, matanya terpejam erat. Rasa kaget, malu, dan juga sesuatu yang lain beradu di dadanya. Ia tidak berniat melihat hal itu, apalagi membuat gadis itu menderita atau malu.
Dengan hati-hati dan secepat mungkin, Aslan menarik kembali pintu itu hingga tertutup persis seperti semula, lalu melangkah mundur perlahan. Ia berbalik dan menuruni tangga dengan langkah cepat namun tetap berhati-hati, memastikan tidak ada satu pun suara yang terdengar. Hingga ia kembali ke ruang tamu dan duduk seolah tidak terjadi apa-apa, Aslan masih bisa merasakan wajahnya yang panas, dan dalam hatinya ia berjanji kesalahan kali ini akan ia jadikan alasan untuk menggoda Alana lebih lama lagi di masa depan, asalkan tentu saja, gadis itu tidak tahu apa yang baru saja terjadi.