NovelToon NovelToon
Hush, My Love

Hush, My Love

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Lampu neon di lorong St. Jude’s Academy selalu terasa terlalu terang bagi mata Paris Desmon. Di sekolah elit yang terletak di jantung Manhattan ini, setiap inci ubin marmernya seolah memantulkan kesempurnaan yang menyakitkan.

Bagi sebagian orang, sekolah ini adalah panggung; bagi Paris, ini adalah labirin kaca di mana ia harus berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan bunyi.

Paris duduk di baris tengah kelas Sastra Inggris, posisi yang paling aman untuk menjadi tidak terlihat. Ia adalah kebalikan dari kebisingan New York. Rambutnya yang cokelat sering kali menutupi sebagian wajahnya saat ia menunduk, asyik dengan buku sketsa atau novel klasik yang sampulnya sudah mulai mengelupas.

Lima baris di depannya, tepat di barisan paling depan, punggung itu tegak dan kaku.

Luciano Russo.

Nama itu diucapkan dengan nada hormat oleh para guru dan dengan bisikan penuh damba oleh para siswi. Luciano adalah prototipe dari "pangeran" sekolah elit: cerdas dengan nilai yang selalu sempurna, tajam dalam berdebat, dan memiliki aura dingin yang membuat orang segan untuk sekadar menyapa. Di New York yang berisik, Luciano adalah keheningan yang otoriter.

"Paris, kau melamun lagi?"

Bisikan tajam itu datang dari Delaney, sahabat karibnya yang duduk tepat di sebelah kiri. Delaney adalah energi murni—rambut pirang yang dikuncir kuda tinggi dan semangat yang meledak-ledak. Ia adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengenal Paris. Atau setidaknya, itu yang Delaney pikirkan.

"Hanya memikirkan esai Hemingway," bohong Paris, suaranya nyaris seperti bisikan.

"Lupakan Hemingway. Lihat ke depan," Delaney menyenggol lengan Paris, matanya tertuju pada Luciano yang sedang menjawab pertanyaan Mr. Sterling.

"Dia benar-benar seperti patung es. Tampan, tapi tidak punya hati. Aku bertaruh dia bahkan tidak tahu kita bernapas di ruangan yang sama."

Paris memaksakan senyum kecil yang getir. Dadanya berdenyut pelan. Jika Delaney tahu apa yang terjadi Tujuh Hari yang lalu di perpustakaan yang gelap saat badai salju menghantam New York, Delaney mungkin akan berteriak.

Ingatan itu masih menghantui Paris setiap malam. Saat itu, ia sedang mengembalikan buku ketika ia menemukan Luciano duduk di sudut paling terpencil. Tidak ada buku di depannya, hanya tatapan kosong ke arah jendela yang tertutup es.

"Kau terlihat sedang mencari sesuatu," ujar Paris saat itu, entah keberanian dari mana yang merasukinya.

Luciano menoleh. Matanya yang berwarna kelabu gelap menatap Paris, bukan dengan kejengkelan, melainkan dengan rasa ingin tahu yang dingin. "Aku sedang mencari cara untuk merasa hidup, Paris Desmon."

Fakta bahwa Luciano tahu namanya saja sudah membuat jantung Paris berhenti berdetak. Dan ketika Luciano melangkah mendekat, mengikis jarak di antara rak-rak buku tua, Paris merasa dunianya runtuh.

"Jadilah pacarku," ucap Luciano. Kalimat itu bukan sebuah permohonan, melainkan sebuah pernyataan fakta. "Tapi ada syaratnya. Tidak ada yang boleh tahu. Tidak teman-temanmu, terutama tidak keluargaku. Di sekolah ini, kita adalah orang asing. Di luar, kau adalah milikku."

"Kenapa?" tanya Paris, suaranya bergetar.

"Karena aku perlu tahu apakah aku bisa merasakan sesuatu pada seseorang yang begitu... tenang seperti kau," jawab Luciano, jemarinya menyentuh helai rambut Paris dengan gerakan yang mekanis namun memabukkan.

Paris, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang dan kesepian yang diam, merasa seolah-olah matahari akhirnya melirik ke arahnya. Ia tidak menyadari bahwa matahari bisa membakar siapapun yang terlalu dekat. Ia menyetujui kontrak itu. Ia memilih backstreet.

Kembali di ruang kelas, bel berbunyi nyaring. Para siswa mulai membereskan barang-barang mereka dengan gaduh. Luciano berdiri, tas kulit mahalnya tersampir di bahu dengan sempurna. Ia berjalan melewati barisan Paris tanpa menoleh sedikit pun. Aroma parfum sandalwood dan citrus yang dingin tertinggal di udara, menyesakkan napas Paris.

"Ayo, Paris! Kita harus ke kafetaria sebelum antrean saladnya jadi gila," ajak Delaney sambil menarik tangan Paris.

Paris mengikuti, namun matanya terus tertuju pada punggung Luciano yang menghilang di balik pintu. Di koridor, mereka berpapasan lagi. Luciano sedang dikerumuni oleh anggota tim debat, tertawa tipis yang tidak sampai ke mata. Saat Paris berjalan melewatinya, bahu mereka nyaris bersentuhan. Tidak ada sapaan. Tidak ada kontak mata.

Hati Paris mencelos. Inilah harga yang harus ia bayar. Menjadi rahasia yang disimpan rapat-rapat.

Setiap malam, melalui pesan singkat yang enkripsinya sangat kuat, Luciano akan mengirimkan koordinat. Sebuah kafe kecil di Brooklyn, atau sudut tersembunyi di Central Park saat senja. Di sana, Luciano akan menjadi sosok yang berbeda—ia akan bicara tentang tekanan ayahnya yang menuntutnya menjadi senator, tentang kehampaan yang ia rasakan di balik nilai-nilai A-nya.

Dan Paris, dengan sifat pendiamnya, menjadi pendengar yang sempurna. Ia memberikan jiwanya, kata-katanya, dan cintanya yang murni kepada seorang laki-laki yang sebenarnya hanya sedang melakukan eksperimen emosional. Luciano tidak sedang mencintai Paris; ia sedang menggunakan Paris sebagai kompas untuk menemukan jati dirinya yang hilang di tengah ekspektasi keluarga Russo yang mencekik.

Sore itu, sepulang sekolah, Paris berdiri di depan cermin kamarnya di apartemen sederhana daerah Queens. Ia melihat pantulan dirinya—seorang gadis yang tampak biasa saja, yang kini menyimpan rahasia terbesar di St. Jude’s Academy.

Ponselnya bergetar.

Luciano: Grand Central Station. Pukul 7 malam. Di bawah jam emas. Jangan terlambat.

Paris menghela napas. Ia merasa seperti karakter dalam novel detektif, selalu bersembunyi. Ia ingin sekali berteriak pada Delaney, "Aku berkencan dengan Luciano Russo!" Ia ingin menggandeng tangan laki-laki itu di lorong sekolah, menunjukkan pada dunia bahwa si gadis pendiam telah memenangkan hati sang pangeran es.

Namun, ia tahu peraturannya. Begitu identitas mereka terungkap, Luciano akan pergi. Bagi Luciano, Paris adalah laboratorium emosi. Bagi Paris, Luciano adalah seluruh dunianya.

Paris mulai bersiap-siap, mengenakan sweter oversized yang biasa ia pakai agar tidak menarik perhatian di stasiun. Saat ia melangkah keluar rumah, New York terasa lebih dingin dari biasanya. Ia berjalan menuju kereta bawah tanah, tidak menyadari bahwa di balik kemudi sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang sekolah tadi pagi, seseorang telah memperhatikannya dengan curiga.

Di Manhattan, rahasia adalah mata uang yang paling berharga. Dan Paris Desmon baru saja memulai transaksi yang mungkin akan menghancurkan hatinya berkeping-keping.

Ia tiba di Grand Central. Di tengah hiruk-pikuk komuter, Luciano berdiri di sana. Ia mengenakan mantel wol panjang, tampak seperti model yang keluar dari majalah Vogue. Orang-orang lewat begitu saja, tidak menyadari bahwa pemuda paling cerdas di New York itu sedang menunggu seorang gadis dari barisan tengah kelas sastra.

Saat mata mereka bertemu, Luciano tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil, sebuah isyarat dingin yang memberi tahu Paris bahwa permainan malam ini dimulai.

"Kau datang," ucap Luciano saat Paris sampai di hadapannya.

"Aku selalu datang," jawab Paris pelan.

Luciano meraih tangan Paris, menyembunyikannya di dalam saku mantelnya yang hangat. Untuk sesaat, Paris merasa dicintai. Namun, saat ia melihat pantulan mereka di kaca stasiun, ia menyadari satu hal: mereka tampak seperti dua orang asing yang hanya kebetulan bersinggungan di tengah keramaian.

🌷🌷🌷🌷

Tinggalkan Jejak Ya Dear 🫶

1
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Pria Sejati hrs sperti ini, cukup 1, Selamanya 👍👍👍
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade ❤️🤗😘
total 2 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Yeee, Akhirx, Resmi Smua, Bareng 🥳🥳🥳
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Ikut happy utk 2 pasangan ini ❤️🤗😘
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Skrng, Mreka berdua, manis mlulu, auto diabetes ini 🤭🤭🤭
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Kini saatnya Arthur yg berjuang utk Cinta ny 🙈🙈🙈
ros 🍂: Nah benar Kak 🤭😍
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Kn adem klo liat gini ❤️🤗😘 ... Apa otw dresmikn aja y, biar gk kburu 🙈🙈🙈
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mommy Paris, itu Putra mu udh 'nakal' 🙈🙈🙈
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade ❤️🤗😘 ... Lnjt Arthur 🤭👍🥳
total 6 replies
Sany Indah
berharap Paris sama Kay meski bermulut pedas tp cintanya ke Paris tulus
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
hi hi licik demi honey, gk pa² deh 🤭🤭🤭
ros 🍂: Hahaha🤣🥰
total 3 replies
winpar
sdih bgt kisah mereka😥
winpar
Thor ceritanya bikin mewekkkk😥😥
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍
ros 🍂: Ashiaapp 🤭🥰
total 1 replies
Sany Indah
ceritanya menarik
ros 🍂: ma'aciww 🥰
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Klo Jodoh, pasti ada jalan ny 😔😔😔
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Iya, Ade ❤️🤗😘
total 2 replies
winpar
akhirnya nana bertemu jg 🥰😍
winpar
thot knp hri ini upnya dikit bgt. pdhl ceritanya seru bgt?
ros 🍂: Maaf ya kak, Sedang kurang sehat, hehehe🙏
total 1 replies
winpar
smngt thorrrr💪💪💪💪 ceritamu selalu bgus
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
waw bgmnakh klnjutanya????
winpar
selalu happy akhir ceritanya 😍🥰
ros 🍂: iya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
winpar
ceritanya bgus bangettt😍🥰
ros 🍂: ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
winpar
mkin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!