Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
Lantai kelima Paviliun Kitab Suci sangat berbeda dari lantai-lantai di bawahnya. Tidak ada rak kayu usang atau tumpukan buku yang berdebu. Tempat ini menyerupai ruang hampa yang terbuat dari batu giok putih bercahaya, dengan ukiran formasi pertahanan yang rumit di setiap inci dindingnya.
Hanya ada dua belas bola cahaya yang mengambang di tengah ruangan. Di dalam setiap bola cahaya itu, terdapat sebuah gulungan kuno yang memancarkan fluktuasi Qi yang sangat kuat. Inilah koleksi tertinggi Akademi Angin Langit: dua belas teknik tingkat Bumi.
"Hanya dua belas teknik tingkat Bumi kelas rendah. Sungguh perbendaharaan yang miskin untuk ukuran akademi nomor satu di kerajaan," Jian Chen menggelengkan kepalanya pelan.
Di kehidupan masa lalunya, teknik tingkat Bumi bahkan tidak pantas digunakan untuk mengganjal kaki meja di istananya. Namun, untuk tubuh fananya saat ini yang baru berada di Kondensasi Qi Tingkat Tujuh, teknik ini adalah pijakan transisi yang diperlukan.
Bagi seorang jenius normal, membaca dan memahami satu teknik tingkat Bumi membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan meditasi di depan bola cahaya tersebut.
Tetapi Jian Chen bukanlah manusia normal. Ia memiliki Lautan Kesadaran.
Jian Chen tidak berjalan mendekati bola-bola cahaya itu. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangannya, dan melepaskan Indra Spiritual-nya.
Weng!
Jaring kesadaran yang tak kasat mata menyapu seluruh ruangan, menembus lapisan pelindung kedua belas bola cahaya itu secara bersamaan tanpa memicu peringatan formasi sedikit pun. Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, isi dari kedua belas gulungan itu telah tersalin sempurna ke dalam memori Jian Chen.
"Sebagian besar adalah sampah. Teknik Pedang Awan Mengalir? Terlalu lembek. Seni Tinju Pemecah Gunung? Terlalu boros Qi," Jian Chen mengevaluasi satu per satu teknik tersebut di dalam kepalanya, membuangnya seperti memilah sayuran busuk.
Hingga akhirnya, perhatiannya tertuju pada dua teknik yang sedikit menarik.
Yang pertama adalah teknik pergerakan bernama Langkah Bayangan Ilusi. Teknik ini meminjam elemen bayangan untuk menciptakan ilusi saat bergerak.
"Dasarnya lumayan, tapi eksekusinya terlalu kaku. Jika aku menggabungkan prinsip teknik ini dengan Langkah Bayangan Kosong fana milikku, aku bisa menciptakan langkah yang benar-benar tidak meninggalkan jejak di ruang angkasa fana. Mari kita sebut modifikasi ini: Langkah Hantu Kekosongan," gumam Jian Chen.
Teknik kedua yang menarik perhatiannya adalah sebuah teknik pedang yang diberi catatan peringatan tebal oleh para pendahulu akademi: Seni Tebasan Kehancuran Bintang.
Berdasarkan catatannya, teknik ini adalah teknik tingkat Bumi kelas menengah yang cacat. Alasan cacatnya adalah karena teknik ini tidak membutuhkan manipulasi elemen Qi yang rumit. Sebaliknya, teknik ini murni membutuhkan kekuatan ledakan fisik minimal 3.000 kilogram dan senjata yang sangat berat untuk dieksekusi. Siapa pun yang memaksakan diri menggunakan teknik ini tanpa fisik yang memadai akan menghancurkan organ dalamnya sendiri karena gaya pantul yang brutal.
Oleh karena itu, teknik ini telah berdebu selama ratusan tahun tanpa ada yang berani melatihnya.
Senyum puas yang mengerikan mekar di wajah Jian Chen. Matanya melirik ke arah Pedang Penguasa Kosong seberat 800 kilogram di punggungnya, lalu merasakan kekuatan fisik 4.400 kilogram di dalam ototnya.
"Teknik ini bukan cacat. Teknik ini diciptakan khusus untuk monster. Dan kebetulan, aku adalah raja dari para monster," Jian Chen terkekeh dingin.
Dengan modifikasi dari pemahaman Kaisar Pedang miliknya, Jian Chen memperbaiki celah-celah aliran Qi dalam Seni Tebasan Kehancuran Bintang. Kini, teknik itu menjadi pelengkap yang sempurna untuk senjata raksasanya.
Hanya butuh waktu lima belas menit baginya untuk menyelesaikan kunjungannya di lantai lima. Ia berbalik dan berjalan turun.
Saat Jian Chen melangkah keluar dari pintu utama Paviliun Kitab Suci, suasana di luar sama sekali tidak tenang.
Ratusan murid telah berkumpul membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran itu, Yan Ting masih tergeletak di lantai marmer, wajahnya pucat dengan napas tersengal-sengal. Lengan kanannya yang hancur kini ditangani oleh beberapa ahli medis akademi.
Berdiri di samping Yan Ting adalah seorang pria paruh baya berjubah hitam-merah dengan lambang pedang bersilang di dadanya. Wajah pria itu sangat garang, dipenuhi bekas luka. Ia memancarkan aura Pembentukan Fondasi Tahap Awal yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Dia adalah Penatua Kuang, salah satu Tetua dari Aula Penegakan Hukum Akademi, sekaligus guru langsung dari Yan Ting.
"Siapa?! Siapa yang berani melumpuhkan murid kesayanganku di depan Paviliun Kitab Suci?!" raungan Penatua Kuang menggelegar, membuat banyak murid pelataran dalam gemetar ketakutan.
Kedua pengikut Yan Ting yang sebelumnya mengompol kini merangkak maju dan menunjuk ke arah pintu Paviliun tepat saat Jian Chen melangkah keluar.
"T-Tetua Kuang! Itu dia! Pemuda berjubah hitam itu! Dia mencuri token masuk lantai lima dan menyerang Kakak Senior Yan Ting secara diam-diam dengan taktik kotor!" fitnah salah satu pengikut itu sambil menangis.
Mata Penatua Kuang seketika terkunci pada Jian Chen. Niat membunuhnya meledak. Seorang bocah Tingkat Tujuh—Jian Chen tidak lagi menyembunyikannya di Tingkat Empat—berani melumpuhkan murid intinya? Ini adalah tamparan langsung ke wajahnya!
"Bocah keparat! Kau berani berbuat onar di Akademi Angin Langit?! Berlutut dan serahkan tanganmu untuk kupotong!"
Penatua Kuang tidak banyak bicara. Ia langsung mengulurkan tangan kanannya yang besar. Qi elemen api berwarna merah pekat membentuk cakar raksasa di udara, menyambar ke arah kepala Jian Chen dengan kecepatan kilat. Tekanan dari Alam Pembentukan Fondasi benar-benar berbeda dengan Kondensasi Qi; itu adalah tekanan yang bisa mengunci pergerakan musuh!
Namun, Jian Chen bahkan tidak berkedip. Ia tidak mundur, ia juga tidak mencabut pedangnya.
Ia hanya mengangkat tangan kirinya dengan santai dan mengacungkan sebuah objek berwarna emas tepat ke arah cakar Qi yang melesat itu.
Token Emas Tetua Tertinggi.
"Buka matamu lebar-lebar, Anjing Tua, dan lihat apa yang sedang kau serang," suara Jian Chen terdengar datar, menembus keriuhan angin.
Mata Penatua Kuang yang awalnya dipenuhi amarah tiba-tiba menyipit. Ketika ia melihat ukiran naga dan awan emas pada token itu, jantungnya seakan diremas oleh tangan raksasa yang tak kasat mata. Darahnya membeku.
"T-Token Tetua Tertinggi Feng..."
Dengan panik, Penatua Kuang menggigit lidahnya sendiri dan menarik paksa cakar Qi miliknya sebelum mengenai Jian Chen. Pembalikan Qi yang mendadak itu membuat Penatua Kuang terbatuk darah, namun ia tidak peduli.
Tubuh pria paruh baya yang garang itu mendarat di tanah, lututnya langsung menekuk dan membentur lantai marmer dengan keras. Ia berlutut!
"P-Penatua Kuang memberi hormat pada pemegang Token Tertinggi!" teriaknya dengan suara bergetar hebat, kepalanya ditundukkan dalam-dalam.
Seluruh murid yang menonton menahan napas. Rahang mereka hampir jatuh ke tanah. Penatua Aula Penegakan Hukum yang terkenal kejam baru saja berlutut dan memuntahkan darah demi menghentikan serangannya sendiri?!
"Guru... apa yang kau lakukan... bunuh dia..." rintih Yan Ting yang setengah sadar.
PLAAAK!
Penatua Kuang menampar wajah muridnya sendiri dengan keras hingga Yan Ting kembali pingsan. "Tutup mulutmu, murid durhaka! Kau berani memprovokasi pemegang Token Tertinggi?!"
Di Akademi Angin Langit, memegang Token Tetua Tertinggi sama dengan mewakili kehadiran Tetua itu sendiri. Menyerang Jian Chen berarti menyerang Feng Wuya secara langsung. Jika Kuang tidak menghentikan serangannya tadi, besok kepalanya sudah dipajang di gerbang akademi!
Jian Chen menurunkan tokennya dan menatap Penatua Kuang dari atas ke bawah, seolah menatap seekor serangga yang menyedihkan.
"Kalian dari Aula Penegakan Hukum sangat suka menyuruh orang berlutut dan memotong tangan, ya?" Jian Chen tersenyum dingin. "Muridmu menyerangku lebih dulu, dengan niat membunuh, karena iri melihat token ini. Jika aku tidak kuat, aku yang akan mati."
Keringat dingin membanjiri dahi Penatua Kuang. "Tuan Muda... ini adalah kesalahan pengajaran saya. Saya jamin, Yan Ting akan dihukum seberat-beratnya!"
"Tidak perlu," Jian Chen melangkah maju, melewatinya begitu saja. Jubah hitamnya berkibar menepis udara dingin. "Aku sudah mematahkan tangannya. Jika dia atau kau masih merasa tidak puas, pintu Puncak Awan Awan selalu terbuka. Datanglah kapan saja untuk membalas dendam."
Jian Chen terus berjalan menjauh, meninggalkan keheningan absolut di belakangnya. Tidak ada satu pun dari ratusan orang di sana yang berani menghalangi jalannya atau mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Hari ini, nama pemuda berjubah hitam dengan pedang raksasa itu benar-benar terukir sebagai mimpi buruk baru di Akademi Angin Langit. Seseorang yang tidak hanya kejam dan mengerikan secara kekuatan, tetapi juga memiliki perisai mutlak di belakangnya.
"Puncak Awan Awan..." Penatua Kuang bergumam dengan bibir pucat, menatap kepergian Jian Chen. "Dia... dia adalah murid pribadi baru Tetua Tertinggi Feng?! Langit... monster macam apa yang baru saja bergabung dengan akademi ini?"