NovelToon NovelToon
Puteri Sampah Yang Berubah

Puteri Sampah Yang Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.

Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!

Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Pembunuh

​Pagi buta, suasana Paviliun Pangeran Pertama terasa sangat sunyi. Sesuai rencana, Bai Hua meminta Bibi Pong dan Choi untuk tetap tinggal di paviliun. Ia beralasan bahwa kunjungan ke rumah Menteri Bai akan sangat emosional dan ia tidak ingin pelayan kesayangannya melihatnya direndahkan.

​"Nona, tapi siapa yang akan menjaga Anda?" Bibi Pong bertanya dengan wajah pucat pasi.

​"Pangeran akan menjagaku, Bi. Dan aku juga perlu kalian di sini untuk memastikan paviliun ini tidak digeledah lagi oleh orang-orang Selir Agung saat kami pergi," jawab Bai Hua dengan nada yang tak terbantahkan.

​Choi hanya menunduk dalam, tangannya meremas ujung hanfu, namun ia tidak membantah. Mereka berdua melepaskan keberangkatan kereta kuda yang tampak ringkih itu menuju gerbang luar istana.

​Kereta kuda mulai memasuki Jalur Hutan Bambu. Batang-batang bambu yang menjulang tinggi menutupi cahaya matahari, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas jalanan setapak yang becek. Di dalam kereta, suasana berubah menjadi sangat taktis.

​Wan Long tidak lagi merengek. Ia duduk tegak, tangan kirinya sudah terpasang busur mini di balik lengan bajunya, sementara tangan kanannya menggenggam belati bambu yang tajam.

​"Bersiaplah. Kita sudah masuk ke zona eliminasi," bisik Wan Long. Telinganya yang terlatih mendengar gesekan dedaunan yang tidak wajar di luar sana.

​Bai Hua tidak menjawab. Ia duduk di kursi rodanya yang dipaku kuat ke lantai kereta agar tidak goyang. Tangannya menggenggam tusuk konde beracun. "Mereka ada di sebelah kiri. Tiga orang di atas pohon, lima di semak-semak," gumam Bai Hua pelan.

​Sret! Sret!

​Tiba-tiba, tiga anak panah meluncur menembus jendela kayu kereta. Wan Long dengan refleks menarik tubuh Bai Hua hingga merunduk ke lantai kereta.

​"Sialan! Wan Jin benar-benar ingin kita mati di sini!" geram Wan Long.

​Kuda yang menarik kereta tiba-tiba menjerit keras dan jatuh tersungkur setelah sebuah pisau lempar menancap di lehernya. Kereta berhenti mendadak dengan guncangan hebat.

​"Keluar!" perintah Wan Long. Ia menendang pintu kereta hingga terbuka. Dengan gerakan akrobatik yang luar biasa meski tubuhnya kurus, ia melompat keluar sambil menarik kursi roda Bai Hua.

​Begitu roda kursi menapak tanah, delapan orang berpakaian hitam dengan topeng menutupi wajah langsung mengepung mereka. Mereka membawa pedang panjang yang berkilat haus darah.

​"Wah! Banyak teman bermain!" teriak Wan Long, kembali ke mode idiotnya sejenak sambil melompat-lompat aneh. Namun, setiap lompatannya sebenarnya adalah langkah untuk memposisikan diri agar busur mininya memiliki sudut tembak yang sempurna.

​Ctek! Ctek!

​Dua jarum besi meluncur dari lengan baju Wan Long, mengenai tenggorokan dua pembunuh yang paling dekat. Mereka tumbang tanpa sempat bersuara.

​"Bajingan! Pangeran ini tidak gila! Bunuh mereka!" teriak pemimpin pembunuh itu.

​Dua orang menerjang ke arah Bai Hua. Sebagai target yang dianggap paling lemah karena lumpuh, mereka meremehkannya. Namun, Bai Hua menyeringai. Ia memutar kursi rodanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melemparkan sumpit bambu yang sudah diasah.

​Jleb!

​Sumpit itu menembus mata salah satu pembunuh. Pria lainnya mencoba menebas kaki Bai Hua, namun dengan teknik pernapasan Neigong yang diajarkan Wan Long, Bai Hua merasakan ledakan energi di otot lengannya. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga krak! tulang itu patah, dan menghujamkan tusuk konde beracunnya ke dada pria tersebut.

​Hanya dalam tiga detik, racun pelumpuh buatannya bekerja. Pria itu kejang-kejang dan ambruk.

​"Kerja bagus!" seru Wan Long. Ia kini sedang berduel satu lawan tiga. Ia bergerak seperti bayangan, menggunakan teknik penguncian sendi polisi modern yang digabung dengan kelincahan tubuh kuno ini. Ia menghindari tebasan pedang hanya dengan selisih satu inci, lalu menghantam ulu hati lawannya dengan belati bambu.

​Melihat kawan-kawannya tumbang secara aneh, pemimpin pembunuh bayaran itu menjadi kalap. Ia mengeluarkan sebuah bola hitam---bom asap beracun---dan melemparkannya ke tengah-tengah.

​Booom!

​Asap kelabu pekat memenuhi jalur hutan itu. Pandangan menjadi nol.

​"Tahan napasmu!" teriak Wan Long.

​Bai Hua memejamkan mata, mengandalkan pendengarannya yang tajam. Ia mendengar langkah kaki berat mendekat dari arah belakang. Ia segera memutar kursi rodanya dan melepaskan sisa tusuk kondenya ke arah suara tersebut.

​"Aaakh!" suara jeritan terdengar, diikuti bunyi tubuh jatuh ke tanah.

​Saat asap mulai menipis, Wan Long berdiri di tengah tumpukan mayat. Wajahnya yang semula cemong kini bersih tersapu angin, menampakkan raut dingin seorang pembantai. Pemimpin pembunuh itu mencoba merangkak kabur dengan kaki yang sudah tertancap panah busur Wan Long.

​Wan Long mendekat, menginjak tangan pria itu dengan sepatu kainnya yang kotor. "Katakan pada Wan Jin. Jika dia ingin membunuhku, kirimkan pasukan yang lebih kompeten."

​Tanpa ampun, Wan Long mengakhiri nyawa pria itu dengan satu tusukan di jantung.

​Suasana kembali sunyi. Hutan bambu itu kini berbau amis darah. Wan Long berbalik, menatap Bai Hua yang masih duduk tenang di kursi rodanya, dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan fisik tubuh aslinya.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Wan Long, suaranya kembali melembut.

​"Hanya lapar," jawab Bai Hua pendek, berusaha menyembunyikan rasa lemasnya. "Dan kereta kita hancur. Bagaimana kita sampai ke rumah Ayahku?"

​Wan Long melihat satu kuda pengawal pembunuh yang masih hidup dan terikat di pohon. Ia melepaskannya dan menuntun kuda itu ke arah Bai Hua. "Kita akan berkuda. Kau di depanku. Ingat, saat kita sampai di sana, kita kembali ke sandiwara semula. Aku si Pangeran Gila, dan kau si Istri Lumpuh yang teraniaya."

​Wan Long mengangkat tubuh Bai Hua ke atas kuda, lalu melompat di belakangnya. Ia memegang kendali kuda, namun lengannya secara tak sengaja melingkari pinggang Bai Hua.

​"Mei Lin...atau Bai Hua," bisik Wan Long di telinganya saat kuda mulai berjalan. "Jangan mati di kediaman Bai. Aku belum selesai urusan denganmu."

​"Urus saja ingusmu, Wang Yu," balas Bai Hua ketus, meski dalam hatinya ia merasa sedikit lebih aman di balik punggung lebar musuh bebuyutannya itu.

​Gerbang kediaman Menteri Bai sudah terlihat di kejauhan.

***

Happy Reading ❤️

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih

1
sahabat pena
hadeuh.. benci tapi rindu nihh nanti.. eh salah cinta dong🤣🤣🤣lain di mulut lain di hati. sama sama ego.. 🤣🤣🤣
Pa Muhsid
buka puasa gak usah beli kolak udah ada yang manis😍😍😍 wangyu dan meilin
Pa Muhsid
bbc berlapis ok👍
mimief
wkwkwkwkwkwk
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
Roti Bakar
lanjutttt kpn upp?
mimief
gimana?
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
Pa Muhsid
cinta sejati😘😘😘❤❤❤ berbungkus benci (benar "cinta)
Dede Dedeh
rame... pisan lanjut thor
Pa Muhsid
visual nya mana tor
mimief
wah...seru
jadi bayangin visual merekanya bertarung
SusanTee
lnjutt
mimief
bukan??🤣🤣🤣
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mimief
iy..ya
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
ANWi/Berly Re: hehe iya kak, susah susah gampang sistem retensi ini. bikin bingung😭😭😭😭
total 1 replies
mimief
senjata makan tuan ya gaes .
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sahabat pena
ga punya kak
sahabat pena: siap kak. semangat up nya
total 2 replies
Roti Bakar
ah aku paham! Jd si kaisar biarin para anjing saling tarung gitu yahh??? (permaisuri-wanjin-meteri bai vs bai hua-wan long) trs dia tinggal leyeh leyeh 🤭
Roti Bakar
oh wan jin , dia kn anak permaisuri yah?? brarti dia disitu atas printah permaisuri dong
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️💪
mimief
Waduuuh...
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!