Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Takhta dan Runtuhnya Topeng Valerius
Ruang sidang takhta malam itu terasa mencekam. Lampu gantung kristal yang biasanya bersinar terang kini diredupkan, hanya menyisakan sorot lampu pada kursi singgasana di mana Raja Valerius duduk dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Di sisi lain ruangan, duduklah Lord Maximillian, yang hanya bersandar santai pada tongkat peraknya seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan teater murahan.
Shaneen masuk dengan langkah yang bergema. Ia mengenakan gaun beludru hitam pekat dengan pin berlian hitam pemberian Matthias di kerahnya. Di belakangnya, Matthias berjalan dengan seragam militer lengkap, tangannya selalu berada di dekat gagang pedangnya, siap mencabutnya jika ada satu gerakan mencurigakan dari pengawal istana.
"Lady Shaneen von Asturia," suara Raja Valerius bergetar, mencoba mempertahankan sisa wibawanya. "Kekacauan yang kau buat melalui media hari ini... kau pikir kau bisa menjatuhkan stabilitas negara ini hanya dengan beberapa dokumen palsu?"
Shaneen berhenti tepat di tengah aula. Ia tidak membungkuk. Ia hanya menatap Raja dengan tatapan yang sangat datar. "Palsu? Anda terlalu meremehkan ketelitianku, Yang Mulia. Aku benci angka yang tidak akurat. Semua data korupsi itu simetris dengan bukti transfer bank yang Anda miliki di rekening rahasia Swiss."
"Diam!" bentak Valerius sambil berdiri. "Kau hanyalah gadis yang terlalu banyak membaca buku! Kau tidak tahu apa-apa tentang beban mahkota ini!"
Lord Maximillian tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang kering namun menusuk. "Beban mahkota? Valerius, jangan membuatku tertawa. Kau sangat membenci keluarga Asturia bukan karena kami pemberontak, tapi karena kau tahu bahwa kau adalah seorang pencuri."
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Para menteri yang hadir saling pandang dengan wajah pucat.
"Tiga puluh tahun lalu," Maximillian melanjutkan sambil berdiri dari kursinya, "saat putraku menolak takhta ini demi cintanya pada Han-seol, kau memohon padaku untuk membiarkanmu menjaganya. Kau berjanji akan mengembalikannya jika keturunan sah Asturia sudah siap memimpin. Tapi apa yang kau lakukan? Kau memalsukan dekrit penghapusan garis keturunan kami agar kau bisa duduk selamanya di sana."
Shaneen melangkah maju satu langkah lagi, auranya sebagai The Alpha benar-benar keluar. "Itulah alasan Anda menyebut kami pemberontak. Anda takut jika dunia tahu bahwa setiap napas yang Anda hirup di istana ini adalah 'pinjaman' dari kakekku. Dan sekarang, ketika Anda melihat Matthias memihakku, Anda ketakutan setengah mati karena militer dan darah murni baru saja bersatu."
Raja Valerius menatap ke sekeliling, mencari dukungan dari para menterinya, namun mereka semua menunduk. Data korupsi yang dirilis Shaneen sudah menghancurkan loyalitas mereka.
"Kau... kau tidak bisa membuktikan apa pun!" teriak Valerius frustrasi.
Shaneen mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari tas tangannya. "Aku tidak butuh pembuktian verbal. Di tanganku ada akses langsung untuk membekukan seluruh aset operasional istana. Dalam waktu sepuluh menit, jika Anda tidak menandatangani surat pengunduran diri secara sukarela dengan alasan kesehatan, aku akan merilis rekaman suara Anda saat memerintahkan pembunuhan rahasia terhadap saksi kunci korupsi senjata."
Shaneen melirik jam tangannya. "Satu menit sudah berlalu. Kehilangan waktu adalah sesuatu yang paling aku benci, Yang Mulia."
Matthias maju ke samping Shaneen, memberikan tekanan mental yang luar biasa pada Raja. "Yang Mulia, sebagai Jenderal tertinggi, saya menyarankan Anda untuk turun dengan terhormat sebelum rakyat yang berdiri di depan gerbang istana saat ini masuk dan menyeret Anda keluar."
Valerius ambruk kembali ke kursinya. Ia menatap Shaneen dengan rasa ngeri. Ia menyadari bahwa gadis di depannya ini bukan hanya seorang bangsawan cerdas, tapi seorang Maestro yang sudah menyusun skenario kehancurannya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Maximillian mendekati Shaneen dan menepuk bahunya. "Ninin, kau jauh lebih kejam dari Kakek di masa muda dulu. Kakek suka itu."
Shaneen hanya menoleh tipis. "Aku tidak kejam, Kakek. Aku hanya sedang merapikan sejarah yang sudah terlalu lama berantakan."
Malam itu, Raja Valerius menandatangani surat pengunduran dirinya. Secara resmi, kekuasaan kembali ke tangan Lord Maximillian sebagai Regent sementara, sampai pernikahan Matthias dan Shaneen dilaksanakan.
Saat mereka berjalan keluar dari istana, Matthias menarik napas lega. "Jadi, sekarang kau adalah calon Ratu yang sebenarnya, Lady Asturia?"
Shaneen berhenti, lalu menatap Matthias dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku tidak butuh takhta untuk menjadi Ratu, Matthias. Dan kau... kau masih punya hutang padaku."
"Hutang apa?" tanya Matthias bingung.
"Kau merusak jadwal tidurku karena drama sidang ini. Besok, aku ingin kau menemaniku ke studio musikku. Dan pastikan bajumu tidak berkerut seincipun."
Matthias terkekeh, lalu mengecup kening Shaneen di bawah sinar rembulan. "Apapun untukmu, oh Shaneen ku."