Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kondensasi Inti Emas dan Lahirnya Bulan Beku
Helikopter militer berlogo Garuda mendarat dengan sangat mulus di helipad rahasia milik Emerald Group menjelang senja.
Kapten Bayu dan pasukannya turun dengan lutut yang masih sedikit gemetar. Sepanjang perjalanan pulang dari perairan perbatasan, tidak ada satu pun dari prajurit elit itu yang berani mengucapkan sepatah kata. Pikiran mereka masih tersita oleh pemandangan mustahil: seorang pemuda membelah kapal perusak baja seberat sembilan ribu ton hanya dengan lambaian tangan kosong.
"Tuan Arya," Kapten Bayu memberi hormat militer dengan sangat kaku saat Arya melangkah turun. "Kami akan melaporkan... keberhasilan misi ini kepada Jenderal Sudirman. Apakah ada pesan yang ingin Tuan sampaikan?"
"Katakan padanya untuk mengambil alih pulau itu. Kabut beracunnya sudah lenyap," jawab Arya santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. "Dan beritahu armada fana kalian untuk tidak perlu repot-repot menjagaku. Aku bisa pulang sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, sosok Arya mengabur, melesat membelah angin sore Kota Emerald bagaikan bayangan hantu, meninggalkan para prajurit elit yang hanya bisa menatap kosong ke arah udara.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit bagi Arya untuk menyeberangi separuh kota dan melangkah masuk ke halaman belakang kediaman Kusuma.
Begitu ia melewati Formasi Pertahanan Cangkang Kura-Kura Emas Langit, suhu udara mendadak turun drastis. Rumput hijau di halaman telah tertutup lapisan embun beku yang berkilauan. Di tengah-tengah taman, Nadia masih duduk bersila.
Aura dingin murni yang memancar dari tubuh istrinya membuat Arya tersenyum puas. Hanya dalam waktu kurang dari sehari semalam, afinitas Yin murni Nadia telah menyerap Qi di dalam formasi dengan rakus. Di meridiannya, untaian energi spiritual mulai mengalir stabil.
Nadia perlahan membuka matanya. Bulu matanya yang lentik dihiasi kristal es kecil yang segera mencair begitu ia menghentikan kultivasinya. Matanya memancarkan kejernihan yang belum pernah ada sebelumnya.
"Kau kembali," Nadia tersenyum, bangkit berdiri. Ia merasa tubuhnya begitu ringan, seolah beban gravitasi Bumi tak lagi menariknya terlalu kuat. "Arya, ini luar biasa. Aku merasa... aku bahkan tidak butuh tidur atau makan untuk merasa berenergi."
"Itu adalah tanda bahwa kau telah resmi melangkah ke ranah Kondensasi Qi tingkat pertama," Arya berjalan mendekat, mengusap lembut rambut istrinya yang terasa sedingin salju, namun perlahan menghangat oleh sentuhannya. "Bakatmu jauh melampaui para jenius di sekte-sekte besar. Tapi ingat, fondasi adalah segalanya. Jangan terburu-buru."
"Aku mengerti," angguk Nadia. "Lalu, bagaimana dengan perjalananmu? Jenderal Sudirman mengatakan ada sesuatu yang berbahaya di lautan."
"Hanya mengambil sedikit rumput liar dan batu kali peninggalan masa lalu," Arya tertawa pelan. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah ruang distorsi kecil terbuka di udara.
Arya mengeluarkan bongkahan Baja Bintang Meteorit yang memancarkan cahaya perak gelap, lalu menunjukkannya pada Nadia. "Malam ini, aku akan melakukan retret tertutup di rumah kaca. Aku harus menyerap tanaman obat yang kutemukan, sekaligus menempa senjata pertamamu dari batu bintang ini."
Mata Nadia berbinar. "Senjata untukku? Apakah... semacam pedang terbang seperti di cerita-cerita itu?"
"Sesuatu yang jauh lebih indah dan mematikan dari itu," janji Arya. "Jaga rumah malam ini. Apa pun cahaya atau suara yang kau dengar dari arah rumah kaca, jangan masuk."
Nadia mengangguk patuh, sepenuhnya memercayakan segalanya pada sang suami.
Malam harinya, di dalam rumah kaca yang telah disegel dengan tiga lapis formasi isolasi.
Arya duduk bersila di tengah-tengah ruangan. Ia mengeluarkan Teratai Jiwa Sembilan Bayangan dari ruang penyimpanannya. Bunga kristal ungu itu memancarkan aura mistis yang membuat udara di sekitarnya beriak.
Tanpa ragu, Arya menelan bunga spiritual tingkat Bumi itu secara utuh.
BLAAARRR!
Ledakan energi spiritual yang mahadahsyat seketika meledak di dalam tubuhnya. Qi ungu yang liar dan ganas mencoba merobek meridiannya, namun Sembilan Transformasi Naga Langit langsung berputar dengan kecepatan maksimum. Ilusi naga emas bermanifestasi di sekeliling tubuh Arya, mengaum dan menelan energi ungu itu secara paksa, memurnikannya menjadi Qi keemasan yang sangat padat.
Energi itu mengalir deras menuju Dantian Arya, berkumpul, memadat, dan terus memadat.
Di atas rumah kaca, langit malam Kota Emerald mendadak dihiasi oleh pusaran awan aneh yang memancarkan cahaya keemasan. Namun, karena formasi isolasi Arya, fenomena alam itu berhasil disembunyikan dari pandangan manusia fana di luar area kediaman Kusuma.
KRAK!
Sebuah suara retakan halus terdengar dari dalam tubuh Arya. Fondasinya telah mencapai batas absolut. Cairan Qi di Dantian-nya mulai mengkristal, menyusut menjadi sebuah bola kecil seukuran kelereng yang memancarkan cahaya emas menyilaukan dan tak tertembus.
Inti Emas (Golden Core).
Arya membuka matanya. Sepasang pupilnya kini memancarkan kilatan emas murni yang seolah bisa menembus waktu dan ruang. Tarikan napasnya selaras dengan detak jantung Bumi. Umur fana telah ia tinggalkan sepenuhnya; ia kini memiliki rentang hidup setidaknya tiga ribu tahun.
"Inti Emas Tahap Awal," gumam Arya, mengepalkan tangannya. Ruang udara di dalam genggamannya retak dan hancur. "Di Bumi yang kekurangan energi ini, aku akhirnya kembali menyentuh pijakan para dewa sungguhan."
Kini, ia tidak lagi membutuhkan udara untuk terbang, dan Qi di dalam tubuhnya hampir tidak akan pernah habis.
Tanpa membuang waktu, Arya membuka telapak tangannya. Sebuah api spiritual berwarna emas kemerahan, Api Inti Emas, berkobar dengan suhu yang ribuan kali lipat lebih panas dari magma.
Ia melemparkan Baja Bintang Meteorit ke dalam api tersebut. Baja yang tak bisa dilelehkan oleh senjata modern terkuat mana pun itu mulai mencair di bawah nyala api Sang Kaisar.
Arya menggunakan Qi-nya sebagai palu tak kasat mata, memukul, membentuk, dan melipat logam kosmik itu ribuan kali di udara. Ia memasukkan ukiran formasi penyejuk, penambah kecepatan, dan pemecah ruang ke dalam bilahnya.
Tiga jam kemudian, cahaya perak yang menyilaukan meledak di dalam rumah kaca.
Di hadapan Arya, melayang sebilah pedang yang sangat ramping dan elegan. Bilahnya tidak terlihat seperti logam, melainkan terbuat dari kristal es perak yang setengah transparan, memancarkan kabut dingin abadi. Gagangnya berukir motif teratai yang indah dan sangat pas untuk genggaman tangan wanita.
"Mulai sekarang, namamu adalah Bulan Beku," ucap Arya. Pedang itu berdengung riang, seolah memiliki jiwa, merespons nama yang diberikan oleh penciptanya.
Sementara Arya menikmati terobosannya di Kota Emerald, di ujung dunia yang lain, sebuah badai politik dan militer berskala global sedang mendidih.
Di kedalaman markas bawah tanah Pentagon, yang dijaga oleh teknologi militer tercanggih, suasana di ruang perang utama sangat mencekam. Layar monitor raksasa menampilkan puing-puing kapal perusak berbobot sembilan ribu ton yang telah diangkat dari Laut Selatan. Bekas potongan simetris di lambung kapal itu membuat para jenderal bintang lima berkeringat dingin.
"Mutan Tingkat S kita, Krueger, tewas dalam satu serangan tanpa perlawanan. Tiga kapal perusak hancur. Dan pelakunya..." Seorang jenderal menunjuk ke rekaman satelit yang memperlihatkan sosok Arya, diperbesar hingga beresolusi tinggi. "...adalah seorang pemuda berusia dua puluhan."
"Ini bukan lagi ranah senjata konvensional," suara serak dan berat menggema dari sudut gelap ruangan.
Semua jenderal menoleh dengan rasa segan. Dari bayang-bayang, melangkah keluar seorang pria tua berjubah putih bersulam salib emas. Matanya tertutup kain merah, namun auranya memancarkan tekanan mematikan yang membuat udara di ruangan itu terasa berat.
Dia adalah Saint dari Asosiasi Kuil Barat, eksistensi setara kultivator tingkat tinggi yang selama ini bersembunyi di balik kekuasaan negara adidaya.
"Timur telah melanggar perjanjian kuno dengan melahirkan seorang monster yang mencampuri urusan fana," ucap pria tua itu dingin. "Pemuda itu telah merampas pusaka di Pulau Karang Kematian. Pusaka yang seharusnya menjadi milik Kuil."
Sang Jenderal menelan ludah. "Lalu, apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia? Mengirim armada lagi hanya akan mengulang tragedi."
Pria tua berjubah putih itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kejam.
"Tidak perlu armada besi berkarat kalian," desisnya. "Aku akan memanggil Tiga Kesatria Kiamat dari tidur panjang mereka. Sudah saatnya kita mengajarkan bidat dari Timur itu, bahwa langit di dunia ini masih berada di bawah kekuasaan Kuil Barat."