Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Beberapa bulan telah berlalu sejak kelahiran Baby Alif.
Pagi itu, langit terlihat cerah, matahari menebar sinarnya ke seluruh penjuru rumah keluarga Atmajaya. Angin bertiup lembut, menebarkan aroma bunga melati dan mawar yang sengaja diletakkan di sudut-sudut ruangan sebagai bagian dari tradisi menyambut hari istimewa.
Di dalam kamar, Raya berdiri diam di depan cermin besar. Ia mengenakan kebaya putih gading berhias bordiran bunga-bunga halus yang menjalar dari pundaknya hingga ke pergelangan tangan. Kebaya itu pas di tubuhnya, membalut sosok mungilnya dengan anggun. Matanya menatap pantulan dirinya lama, seolah tak percaya bahwa perempuan dalam cermin itu adalah dirinya yang dulu dipandang sebelah mata, yang pernah jatuh sedalam-dalamnya, kini berdiri bersinar, menanti hari bahagianya.
Tangan halusnya menyentuh bagian dada kebaya, merasakan degup jantungnya yang berdebar tak menentu. Di balik kegembiraan itu, ada gugup yang tak bisa ia tolak. Esok hari, ia dan Arya akan mengikat janji suci. Sebuah pernikahan yang awalnya lahir dari rencana, namun mungkin kini tumbuh dari cinta yang nyata.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan lembut di pintu.
"Raya... Boleh Ibu masuk, sayang?" terdengar suara lembut Bu Atika.
Raya segera membalikkan badan, "Masuk, Bu," jawabnya dengan senyum malu-malu.
Pintu terbuka dan Bu Atika masuk dengan langkah pelan. Saat matanya tertumbuk pada penampilan Raya, wanita paruh baya itu langsung menahan napas, lalu tersenyum penuh kekaguman.
"Ya Allah... Cantik sekali kamu, Nak," ujar Bu Atika pelan, suaranya bergetar menahan haru. Ia mendekat, menelusuri wajah Raya seolah menyimpan setiap detail dalam hatinya. "Seperti bidadari turun dari langit. Arya beruntung sekali..."
Raya tertunduk, wajahnya merona. "Terima kasih, Bu. Saya juga masih nggak percaya... semua ini terasa seperti mimpi."
Bu Atika mengelus pipi menantunya dengan penuh kasih. "Kalau ini mimpi, maka Ibu nggak mau bangun. Ibu ingat pertama kali Arya kenalin kamu ke kami. Waktu itu kamu masih diam, ragu, takut... tapi sekarang lihat dirimu. Kamu sudah seperti bunga yang mekar sempurna."
Raya mengedipkan matanya cepat-cepat, menahan air mata yang mulai menggenang.
"Saya juga ingat, Bu... betapa takutnya saya waktu itu. Takut nggak diterima, takut dianggap cuma beban. Tapi Ibu dan Bapak... Ibu dan Bapak membuat saya merasa benar-benar seperti anak sendiri. Saya... berhutang banyak pada keluarga ini."
Bu Atika menarik Raya ke dalam pelukannya.
"Tidak, Nak. Kamu nggak berhutang apa-apa. Justru kami yang bersyukur. Kamu membawa kebahagiaan baru ke dalam rumah ini. Kamu mengubah Arya... kamu menjadikan dia laki-laki dewasa yang bertanggung jawab. Dan kamu memberi kami cucu yang begitu manis."
Raya tertawa pelan di pelukan Bu Atika. "Baby Alif sekarang lagi tidur, Bu. Tapi pasti nanti dia bangun dan teriak cari Papa-nya."
Mereka tertawa bersama.
"Dan besok, kamu akan benar-benar menjadi istri Arya." ujar Bu Atika sambil menatap lembut.
"Iya, Bu. Semoga saja saya bisa menjadi istri yang baik dan menantu yang baik untuk keluarga ini."
"Pasti, kamu pasti bisa menjadi yang terbaik untuk keluarga Atmajaya."
Mendengar itu entah kenapa dalam hati Raya merasa bersalah, sebab pernikahan ini mungkin akan seperti yang mereka harapkan selamanya. Karena setelah dia menghancurkan Daffa, dia akan merelakan Arya untuk mencari wanita yang dia cintai dan di jadikan istri selamanya.
Malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu di kamar bayi menyala temaram, menciptakan suasana tenang dan hangat. Di kursi goyang yang berada di pojok ruangan, Raya duduk sambil menggendong Baby Alif. Bayi mungil itu tertidur pulas di pelukannya, sesekali menggerakkan bibir mungilnya seolah tengah bermimpi.
Namun tidak seperti biasanya, wajah Raya tidak sepenuhnya tenang. Ada semburat resah yang bersembunyi di balik senyumnya. Ia menatap putranya dengan mata nanar, menyentuh pipinya pelan.
"Kenapa hatiku seperti ini? Harusnya aku bahagia, tapi kenapa justru terasa seperti akan kehilangan sesuatu... atau seseorang?" gumamnya dalam hati.
Pintu kamar terbuka perlahan. Sosok Arya masuk, mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang santai. Wajahnya sedikit lelah, tapi senyumnya tetap lembut saat melihat Raya dan Alif.
"Belum tidur juga?" tanyanya sambil mendekat.
Raya menoleh cepat dan menggeleng. "Belum. Alif baru saja tertidur."
Arya mendekat dan menunduk untuk mencium dahi anaknya. "Boleh aku gendong sebentar?" tanyanya pelan.
Raya mengangguk. Dengan hati-hati, Arya mengambil Baby Alif dari pelukan Raya dan mengayun-ayunkannya pelan sambil menatap anaknya penuh kasih.
"Aku lihat kamu tadi melamun. Lagi mikirin apa?" tanya Arya sambil melirik sekilas ke arah Raya.
Raya tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Nggak, cuma berharap waktu nggak cepat-cepat berlalu aja."
Arya mengernyit. "Maksud kamu?"
Raya menarik napas. Ia tak ingin Arya tahu apa yang benar-benar ia rasakan ketakutannya tentang masa depan, tentang cinta yang bisa saja berubah, tentang kehidupan yang tak pasti.
"Kalau Alif tetap sekecil ini kan enak digendong. Nggak berat. Nggak lari-larian juga," katanya dengan nada bercanda, berusaha menyembunyikan kegundahannya.
Arya tertawa kecil. "Ah, kamu ini. Alif nggak akan selamanya kecil, Ray. Nanti dia tumbuh besar, lari ke sana ke mari, main bola, jatuhin barang-barang, bikin kita pusing tujuh keliling."
Raya ikut tertawa, walau tawanya terdengar agak hambar.
Arya menoleh serius. "Udah ah, kamu istirahat aja sekarang. Besok hari penting, kita harus kelihatan segar."
Raya bangkit dari kursi, matanya menatap jauh sejenak sebelum berkata pelan, "Hari penting itu... cuma bagi orang-orang yang nggak tahu perjanjian kita."
Arya diam. Ucapan Raya bagai angin dingin di malam hangat.
"Sepenting apapun besok, Arya... kalau waktunya tiba, semuanya bisa berakhir," tambah Raya dengan suara hampir tak terdengar.
Dia berbalik hendak meninggalkan kamar. Tapi baru saja kakinya menyentuh ambang pintu, suara Arya terdengar pelan namun jelas,
"Aku percaya... kalau cinta yang datang dari Allah, itu nggak akan pernah berakhir."
Langkah Raya terhenti. Jantungnya berdetak lebih kencang. Perlahan, ia menoleh, menatap Arya yang kini tengah membaringkan Baby Alif ke dalam boks bayi.
"Apa... kamu bilang tadi?" tanya Raya, matanya menyipit penasaran.
Arya berbalik, ekspresinya langsung berubah. Ia menyilangkan tangan dan pura-pura santai.
"Aku? Nggak bilang apa-apa. Aku tadi ngomong ke Alif. Kan dia mau tidur, ya aku kasih pesan moral dikit."
Raya mengerutkan alis. "Kamu ngomong sama Alif? Dengan kalimat seindah itu?"
Arya mengangkat bahu. "Ya... siapa tahu dia jadi anak puitis. Kamu tuh capek, Ra. Udah mulai ngelantur. Mending kamu tidur deh. Biar cantik besok."
Raya mendengus pelan, setengah kesal. Tapi dalam hatinya, kata-kata tadi masih berputar.
"Cinta yang datang dari Allah, tidak akan pernah berakhir..."
Ia menatap Arya sekali lagi sebelum melangkah keluar. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih tenang. Mungkin memang pernikahan bisa berakhir. Tapi tidak dengan cinta... yang tumbuh karena keikhlasan, pengorbanan, dan niat yang tulus dari awal.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Raya tidur dengan senyum yang penuh harap.