Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Itu Lebih Baik
Queen melihat ketiga saudara Bryan tampaknya begitu takut pada Bryan. Queen menatap Bryan sesaat dan lalu beralih kepada kakaknya. Queen seperti mendapat ide untuk mengalihkan perhatian Bryan. Dia langsung berdiri dan berlari menghambur ke pelukan Blake.
"Kak, kamu di sini? Aku sangat merindukanmu."
Blake melirik sekilas ke arah Bryan. Dia tersenyum mendengar ucapan Queen. Blake membalas pelukan Queen dengan penuh kelembutan. Dia merasa seperti kembali ke masa dulu, saat dirinya dan Queen masih akur.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja di sini, Kak. Lihatlah Ellara dan Sofia. Mereka tumbuh dengan sangat baik. Berat badan mereka sudah naik."
Queen menarik tangan Blake, dia mengabaikan Bryan yang berdiri mematung menatap ke arahnya.
Henry dan yang lainnya merasa tertolong. Mereka menghela napas lega sambil melihat ekspresi Bryan yang sedikit terdistorsi. Mereka semua sangat bersyukur ada Queen di sini. Namun, dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya kembali terlihat tenang. Dia berjalan mendekati mereka dan lalu saat Bryan berdiri tepat di depan Queen, Bryan menyerahkan satu amplop coklat kepada wanita itu.
"Ini hasil penyelidikan orang-orangku."
Ketiga saudara Bryan segera meninggalkan tempat, begitu juga dengan kakek Lewis. Mereka tahu ada hal yang bisa didengar dan tidak. Jadi mereka memberikan ruang pada Bryan untuk bicara dengan Queen dan kakaknya. Pengasuh Ellara dan Sofia juga membawa kedua bayi itu masuk ke dalam rumah.
Queen membuka amplop di tangannya dengan ekspresi datar. Bryan lalu menjelaskan satu per satu isi di dalam amplop itu.
Yang pertama adalah bukti pembelian apartemen atas nama Mia, tetapi Xavier memakai akun bank miliknya untuk membayar apartemen itu. Lalu Xavier juga membeli satu buah mobil dan tiga perhiasan untuk Mia, semua dibayarkan dengan kartu milik Queen.
"Apa kamu begitu bodoh memberikan kartu bank utamamu pada Xavier?" tanya Blake dengan marah. Sejak dia melihat informasi yang dibawa oleh Bryan, hatinya benar-benar dipenuhi dengan emosi yang kompleks.
Queen menatap saudaranya dengan wajah yang tampak begitu santai. "Jangan marah-marah, Kak, nanti kamu terlihat tua. Seharusnya kakak bisa melihat ini dari sisi positifnya. Semua yang dia belikan untuk Mia adalah uangku. Bukan uangnya. Jika masalah ini dinaikkan ke persidangan, hakim pasti dengan mudah akan berada di pihakku. Apakah kamu masih mengirim gajinya ke rekening pribadinya?"
"Tentu saja masih. Lagi pula meski kamu menyerahkan sahammu pada ba*ingan itu, berkasnya sebenarnya memiliki cacat hukum, itulah sebabnya deviden masuk di akunmu, bukan akunnya."
"Dia terlalu bersemangat dengan deviden saham 10 persen itu, sehingga tidak mempedulikan gajinya yang tidak seberapa itu di rekeningnya sendiri," ujar Queen. "Tapi, Kak, apakah kamu sudah mengirim barang barang kemarin sesuai yang aku katakan?"
"Sudah, kamu tidak perlu cemas. Aku jamin semuanya aman."
Queen merasa tenang, dia mengambil laptop miliknya yang sejak tadi di kursi. Dia memiliki caranya sendiri untuk mengetahui apakah orang-orang dari pasar gelap yang membeli barang-barangnya telah mengirimkan uangnya atau belum.
Queen mulai membuka laptopnya dan mengetik dengan kecepatan yang sulit ditiru. Bryan bahkan tercengang saat melihat Queen mengetik. Tak berapa lama layar laptopnya menunjukkan laporan dari akun bank Xavier. Saat melihat nominal di akun bank asli Xavier. Queen tersenyum tipis. Sesuai dugaannya. Ini terlihat sangat meyakinkan.
Queen menggeser laptopnya dan menunjukkan hasilnya pada Blake dan Bryan. "Coba kalian lihat. Kerugian yang ditaksirkan sudah berpindah di sini. Ini akan jadi bukti kuat."
"Aku mengira kartu Xavier dibawa oleh Mia. Jika dia berbelanja dengan uang itu, maka BOOM! Keduanya akan menjadi tersangka dalam kasus semalam."
"Tapi kamu tetap harus hati-hati. Jangan gegabah."
"Kakak tenang saja. Aku pasti bisa membuat mereka menjadi gelandangan dan yang paling buruk membuat mereka semua mendekam di penjara."
Bryan menatap Queen tanpa berkedip. Dia pernah melihat seorang pria yang membalaskan dendamnya dengan kejam, tetapi melihat seorang perempuan membalas dendam dengan cerdik, dia baru sekali menemukannya dan perempuan ini ada di hadapannya dan menjadi sekutunya.
"Tuan Bryan, terima kasih atas semuanya."
"Tidak perlu berterima kasih."
Blake menatap interaksi diantara keduanya dengan raut wajah penuh curiga. Dia menduga Bryan benar-benar telah jatuh hati pada adiknya. Ini sungguh berbahaya, apalagi status adiknya masih sah sebagai istri orang.
"Queen, kamu tidak ingin pulang. Aku yakin tidak lama lagi pria itu akan datang padamu dan memohon agar kamu membantunya membatalkan proyek ini."
"Ponselku sudah hancur. Dia bisa apa? Begini juga lebih baik. Biarkan dia kelimpungan mencariku, dengan begitu fokusnya akan terpecah. Semakin buruk kondisinya, semakin baik."
"Kamu sungguh sangat kejam," ujar Blake. Namun, saat mendengar kata itu, Queen terhenyak.
"Kejam? Jika aku kejam, lalu mereka apa?" Mata Queen langsung memerah. Dia teringat bagaimana di tengah kepanikannya, dia justru mendapati bayinya sudah tidak bernyawa.
Blake dan Bryan mengira Queen masih menyimpan sakit hati karena Xavier berselingkuh. Saat air mata Queen menetes, Blake langsung memeluknya.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu padamu."
"Aku baik baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, Kak."
Bryan melihat interaksi antara Queen dan Blake seketika memasang wajah kecut. Dia merasa diperlakukan seperti angin yang tidak nampak.
Blake melepas pelukannya. Dia menatap adiknya. "Aku masih harus pergi mengurus sesuatu. Jika kamu mau pulang, jangan ragu untuk menghubungiku."
"Hmm, ya, baiklah."
Blake segera berpamitan pada Bryan. Setelah Blake pergi, Bryan duduk di hadapan Queen. Dia membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman pada Queen. Awalnya Pria itu ragu untuk menunjukkan video tersebut pada Queen. Akan tetapi, saat melihat respon gadis itu tadi, dia merasa tidak masalah untuk memperlihatkannya.
Saat melihat rekaman CCTV itu, Queen tersenyum miring. "Pela*cur memang pantas bersanding dengan ba*jingan."
"Kamu tidak marah?"
"Marah? Untuk apa? Terlalu membuang energi. Rasanya tidak patut memikirkan orang-orang itu."
"Aku benar-benar kagum padamu."
Queen dan Bryan lalu membahas rencana Queen. Semakin Bryan mendengarkan, semakin kagum dia dibuatnya.
Bryan segera mengirim pesan pada Ethan dan mengingatkan poin poin penting yang telah ditekankan oleh Queen. Besok siang penandatanganan proyek kerja sama akan dilakukan. Queen berharap semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Kamu tidak pergi?"
"Hari ini aku tidak memiliki jadwal khusus. Jadi aku memutuskan untuk di rumah. Kamu sungguh tidak akan pulang?"
Saat Bryan bertanya pada Queen. Dia tidak terlalu memperhatikan apapun. Namun, ekspresi Queen terlihat agak terdistorsi.
"Ada apa? Apakah kamu sakit?"
"A_aku .... "
Queen menunduk, kemejanya yang berwarna biru terlihat basah di area dada. "Aku harus naik, sepertinya salah satu dari mereka menangis."
Queen langsung berlari meninggalkan Bryan yang masih mematung. Saat tatapan mata Queen tadi menurun, dia juga bisa melihat dada Queen yang basah. Telinganya langsung memerah