"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Restu di Atas Luka Lama
Varro berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah yang dibuat sedramatis mungkin. Ia menghela napas panjang, berkali-kali menyeka sudut matanya yang kering tanpa air mata.
"Gimana ya, Vin... Berat banget rasanya. Nirbi ini asupan oksigen gue. Kalau dia lo bawa, nanti siapa yang gue palakin buat beli martabak?" Varro memasang wajah lesu yang sangat dibuat-buat.
Calvin melipat tangannya, menatap Varro datar tanpa ekspresi. "Saya sudah melunasi hutang perusahaanmu, Navarro. Itu setara dengan stok martabak untuk sepuluh keturunanmu. Jadi berhenti berakting seolah-olah kamu sedang kehilangan ginjal."
Varro langsung nyengir, akting sedihnya lenyap seketika. "Nah! Itu yang gue tunggu! Oke, karena lo udah lulus ujian 'makan sepiring di warteg' tanpa pingsan dan nggak mati kena kuman, gue restuin kalian. Tapi inget, lecet dikit adek gue, gue sita balik hartanya!"
Nirbi bersorak girang dan langsung memeluk kakaknya erat. "Makasih, Abang! Akhirnya Nirbi nggak perlu pacaran backstreet lagi! Nggak perlu ngumpet-ngumpet di dapur cuma buat pegangan tangan!"
Varro melepaskan pelukan Nirbi perlahan, lalu memegang kedua bahu adiknya. Wajahnya yang tadi jenaka mendadak berubah serius, ada binar kebapakan yang jarang ia tunjukkan.
"Dengerin Abang, Bi," suara Varro merendah. "Kalau udah jadi istri, kamu harus nurut sama suami. Jangan bandel lagi, jangan naruh kaos kaki sembarangan di rumah Calvin yang kayak museum itu. Hormatin dia. Tapi..."
Varro melirik Calvin dengan tatapan tajam. "Kalau si Kulkas ini mulai nakal, mulai dingin nggak jelas, atau berani-beraninya nyakitin hati kamu sampe kamu nangis... lapor sama Abang. Detik itu juga, Abang bakal dateng bawa ember isi air comberan paling bau se-Jakarta buat nyiram muka gantengnya itu biar nggak steril lagi. Paham?"
Nirbi tertawa sambil menyeka air mata yang mulai muncul beneran. "Iya, Bang. Nirbi lapor!"
Varro kemudian berbalik menghadap Calvin. Ia menepuk dada Calvin dengan cukup keras, seolah sedang menitipkan seluruh dunianya di sana.
"Vin, gue serius sekarang. Lo boleh kaya raya, tapi kalau Nirbi sampe hidup susah, urusannya sama gue. Dia emang manja, tapi dia adek gue satu-satunya. Kasih dia makanan enak yang sehat, jangan kasih dia roti gandum hambar terus cuma gara-gara lo diet kuman. Belikan dia pakaian bagus biar dia makin cantik, dan yang paling penting..."
Varro sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Calvin. "Jangan sampe dia kekurangan uang jajan. Kalau dia mau jajan bakwan di pinggir jalan, biarin. Jangan lo potong gajinya gara-gara remah biskuit. Janji sama gue?"
Calvin terdiam sejenak. Ia menatap Nirbi yang sedang menatapnya dengan penuh harap, lalu kembali menatap Varro—sahabat lamanya yang kini akan menjadi kakaknya.
"Saya berjanji, Navarro," ucap Calvin dengan nada paling tulus yang pernah ia miliki. "Dia tidak akan pernah kekurangan satu hal pun. Saya akan memastikan dia mendapatkan standar hidup paling tinggi—secara finansial, fisik, dan hati. Jika saya gagal, kamu tidak perlu air comberan. Kamu boleh mengambil seluruh saham saya."
Varro tersenyum puas, kali ini senyum yang benar-benar lega. "Oke. Deal. Sekarang, calon pengantin... ayo kita bahas gimana caranya bikin gedung pernikahan lo nggak bau rumah sakit!"
Proyek "Gedung Steril" Calvin
Persiapan pernikahan pun dimulai, dan di sinilah mimpi buruk sesungguhnya bagi tim Wedding Organizer. Calvin tidak peduli soal dekorasi bunga atau jenis katering, ia hanya fokus pada satu hal: Protokol Dekontaminasi.
"Saya minta seluruh karpet gedung disemprot uap suhu 100 derajat. Dan semua tamu wajib melewati bilik disinfektan sebelum bersalaman dengan saya," titah Calvin pada manajer gedung yang tampak pucat.
"Tapi Pak, itu bisa merusak gaun para tamu..."
"Kesehatan saya dan istri saya lebih penting daripada gaun mereka!" sahut Calvin tanpa kompromi.
Di sudut lain, Nirbi duduk di lantai dikelilingi buku-buku tebal. "Duh, Kak Calvin! Jangan berisik dulu! Aku lagi revisi skripsi! Dosennya galak banget, lebih galak dari Kakak kalau liat debu!"
"Nirbita, pakai meja! Lantai itu sarang kuman mikroskopis!" tegur Calvin sambil tetap memegang denah gedung yang sudah ia corat-coret dengan titik-titik penempatan hand sanitizer.
Di tengah hiruk pikuk itu, Calvin menyadari sesuatu. Varro, yang biasanya sangat berisik, mendadak diam di pojok balkon sambil menatap ponselnya dengan rahang mengeras. Wajahnya terlihat keruh, persis seperti sepuluh tahun lalu saat persahabatan mereka hancur.
Calvin melangkah mendekat, mengamati Varro dari belakang. Ia tahu wajah itu. Itu adalah wajah "kekalahan" Varro. Wajah yang sama saat dulu Veyra menolak pernyataan cinta Varro dengan kasar di depan semua orang.
"Aku nggak akan pernah cinta sama kamu, Varro! Liat penampilanmu, sangat berantakan! kamu bukan selera ku Varro! . Aku cuma cinta sama Calvin yang sempurna," kata-kata Veyra dulu masih terngiang, menjadi duri yang memutuskan hubungan Calvin dan Varro selama bertahun-tahun karena Varro merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri—meskipun Calvin tidak pernah menanggapi Veyra.
Calvin berdiri di samping Varro. "Masalah apa lagi, Navarro?"
Varro tersentak, mencoba memasang senyum sok kerennya. "Masalah apa? Nggak ada. Gue cuma lagi mikir mau pake jas warna apa nanti."
"Jangan bohong. Kamu payah dalam menyembunyikan masalah," desis Calvin. "Wajahmu sama seperti saat Veyra menolakmu dulu. Perusahaan rintisanmu mengalami kendala lagi, kan? Investor menarik diri?"
Varro terdiam, bahunya merosot. Ia tidak bisa lagi bersembunyi di depan mata elang Calvin. "Gue cuma pengen berdiri di samping lo sebagai ipar yang sepadan, Vin. Bukan sebagai beban yang terus-menerus lo talangi."
"Kamu bukan beban," sahut Calvin pendek. Ia mengeluarkan botol disinfektan, menyemprot udara di sekitar mereka seolah ingin membuang hawa negatif. "Kita bukan lagi anak kuliahan yang berebut perhatian wanita tidak berguna seperti Veyra. Kamu adalah kakak dari istri saya. Masalahmu adalah masalah Weinstein Group."
Varro menoleh, menatap Calvin lama. "Lo... beneran nggak dendam soal gue yang dulu mutusin kontak sama lo?"
Calvin menatap lurus ke depan. "Saya terlalu sibuk membersihkan kuman untuk menyimpan dendam lama yang sudah berdebu. Fokuslah pada pernikahan adikmu. Urusan bisnismu... asisten saya—yang sebentar lagi jadi istri saya—sudah cukup membuat saya pusing, jangan ditambah lagi."
Varro tertawa kecil, kali ini tawa yang lebih tulus. "Dasar kaku. Makasih, Vin."
Nirbi yang sedari tadi mengintip dari kejauhan akhirnya tersenyum. Ia melihat dua pria paling penting di hidupnya itu akhirnya benar-benar berdamai dengan masa lalu.
"KAK CALVIN! ABANG! Ayo bantuin aku ngerjain tugas! Katanya mau jadi keluarga yang kompak!" teriak Nirbi dari dalam.
Calvin menghela napas, sementara Varro tertawa. Mereka berdua melangkah masuk, siap menghadapi tantangan terbesar mereka: menghadapi kekacauan seorang Nirbita sebelum hari besar tiba.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka