Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas sprei yang berantakan.
Rengganis mengerjapkan matanya perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Hal pertama yang ia rasakan adalah lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Permadi masih memejamkan mata, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Permadi dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, namun matanya tetap terpejam seolah ingin menikmati momen itu lebih lama.
"S-selamat pagi, Mas," jawab Rengganis pelan.
Rengganis mencoba bergerak, berniat bangkit dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap menuju rumah sakit. Namun, baru saja ia mencoba mengangkat tubuhnya, sebuah rasa perih yang asing namun nyata menyerang di sekitar area sensitifnya.
Tubuhnya terasa kaku dan sedikit pegal setelah "maraton" emosi dan fisik semalam.
"Awh..." rintihnya kecil sambil kembali terduduk lemas.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Permadi seketika membuka mata, raut wajahnya berubah menjadi penuh kekhawatiran.
Ia langsung bangun dan bersandar pada kepala ranjang.
Rengganis menggigit bibir bawahnya, wajahnya kembali memerah sampai ke telinga.
"M-mas, sepertinya aku tidak bisa masuk kerja hari ini. Kakiku terasa lemas dan rasanya perih."
Sebagai seorang dokter spesialis kandungan, Rengganis tentu tahu secara medis apa yang terjadi pada tubuhnya. Namun, mengatakannya secara langsung kepada pria yang menjadi penyebab rasa perih itu ternyata jauh lebih sulit daripada menjelaskan diagnosis pada pasien.
Permadi terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman nakal sekaligus bangga muncul di wajah tampannya. Namun, melihat kerutan di dahi istrinya, ia segera kembali ke mode suami siaga.
Permadi menarik bahu Rengganis dan merebahkan kembali tubuh istrinya itu ke atas bantal.
Ia menyelimuti Rengganis sampai ke dada dengan penuh perhatian.
"Jangan dipaksa. Hari ini Dokter Rengganis sedang tidak dalam kondisi prima untuk mengurus pasien. Sekarang, kamu istirahat saja di sini. Aku yang akan mengurus izinmu ke rumah sakit dan aku juga yang akan menyiapkan sarapan. Tidak ada bantahan, Ibu Dokter."
Rengganis hanya bisa menurut, merasakan perhatian Permadi yang begitu meluap.
"Tapi aku ada jadwal kontrol pasien jam sepuluh, Mas..."
"Aku akan minta Dina untuk menjadwalkan ulang atau dialihkan ke dokter lain. Hari ini, kamu adalah satu-satunya pasienku," sahut Permadi sambil mengedipkan mata sebelum beranjak dari tempat tidur dengan tubuhnya yang atletis.
Rengganis menatap punggung suaminya dengan perasaan campur aduk.
Ia yang biasanya menjadi pilar kekuatan bagi orang lain, kini merasa sangat bersyukur bisa menjadi sosok yang dijaga.
Permadi berdiri di balkon kamar sambil menghirup udara pagi yang segar.
Ia melirik istrinya yang masih meringkuk di bawah selimut dengan wajah yang disembunyikan di balik bantal. Senyum kemenangan tak lepas dari wajah pria itu.
Ia segera meraih ponselnya di atas nakas dan mencari kontak perawat kepercayaan istrinya.
"Halo, Suster Dina?" sapa Permadi begitu panggilan tersambung.
"Eh, iya, Pak Permadi? Ada apa pagi-pagi telepon? Dokter Ganis sudah berangkat ke rumah sakit?" tanya Dina di seberang sana, terdengar suara bising khas lobi rumah sakit.
"Begini, Suster. Tolong pindahkan semua jadwal konsultasi Dokter Rengganis hari ini ke Dokter Zaky. Katakan pada manajemen kalau Dokter Rengganis sedang kurang sehat dan butuh istirahat total. Saya yang bertanggung jawab."
Dina terdiam sejenak. Sebagai perawat senior di poli kandungan, otaknya langsung bekerja cepat.
"Kurang sehat bagaimana, Pak? Sakit serius atau sakit yang 'itu'?" goda Dina dengan nada suara yang mulai berubah jahil.
Permadi terkekeh pelan sambil melirik ke arah ranjang.
"Intinya dia tidak bisa turun dari tempat tidur hari ini, Suster. Saya rasa Anda mengerti maksud saya."
"Oalah! Mengerti, Pak, mengerti sekali! Siap, laksanakan! Biar Dokter Zaky yang ambil alih. Bapak fokus saja jadi perawat pribadinya Dokter Ganis," sahut Dina sambil tertawa sebelum menutup telepon.
Tak berselang lama, ponsel Rengganis yang tergeletak di atas meja kecil bergetar.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari WhatsApp.
Rengganis meraihnya dengan tangan lemas, mengira itu adalah keadaan darurat dari pasiennya.
Suster Dina:
[Dok, jadwal sudah aman ya. Sudah saya oper ke Dokter Zaky. Selamat istirahat ya, Dok... Cieee, sepertinya semalam ada yang 'belah duren' nih sampai nggak bisa jalan! Semangat ya pengantin baru, semoga langsung 'isi'!]
Wajah Rengganis yang tadinya pucat karena kelelahan, seketika berubah menjadi merah padam layaknya kepiting rebus.
Ia melempar ponselnya kembali ke kasur seolah benda itu baru saja meledak.
"Dinaaaaa!" teriaknya tertahan, mengubur wajahnya semakin dalam ke bantal.
Permadi yang baru saja kembali masuk dari balkon hanya bisa tertawa melihat tingkah istrinya.
Ia duduk di pinggir ranjang, mengelus punggung Rengganis yang masih tertutup selimut.
"Kenapa? Dina bilang apa?" tanya Permadi pura-pura tidak tahu.
"Kamu! Kenapa bilang ke Dina kalau aku nggak bisa bangun? Sekarang satu poli pasti tahu!" Rengganis mendongak, menatap Permadi dengan mata besar yang berkaca-kaca karena malu.
Permadi justru menarik bantal yang menutupi wajah istrinya, lalu mengecup hidung Rengganis dengan gemas.
"Biar saja mereka tahu. Lagipula, itu tandanya aku sangat mencintaimu sampai tidak membiarkanmu bekerja hari ini. Sekarang, mau dipijat atau mau dibuatkan sarapan?"
Rengganis hanya bisa mendengus, namun di balik rasa malunya, ia merasa sangat dimanja.
Ternyata, menjadi "pasien" suaminya sendiri tidak seburuk yang ia bayangkan.
Ponsel Rengganis kembali bergetar di atas kasur. Kali ini bukan hanya satu, tapi rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi.
Wajah Rengganis yang baru saja mulai mendingin, kembali memanas saat melihat nama-nama yang muncul di layar kuncinya.
Ternyata, berita tentang "Dokter Rengganis yang mendadak tidak bisa bangun" sudah menyebar lebih cepat daripada virus di grup WhatsApp internal dokter spesialis.
Pesan dari Dokter Shinta (Sahabat Rengganis):
[Ganiiiissss!! Hahaha! Aku baru dengar dari Dina kalau kamu tumbang. Wah, gila sih! Si berondong kamu ternyata tenaganya bukan main ya? Sampai spesialis kandungan kita yang paling tangguh ini menyerah? Hahahaha! Selamat menikmati 'cedera' yang membahagiakan ya, Bu Dokter! Jangan lupa, vitaminnya yang banyak biar besok bisa jalan lagi!]
Rengganis memejamkan matanya, meremas bantal dengan erat.
"Shinta benar-benar minta dijahit mulutnya," gumamnya kesal.
Namun, belum sempat ia meletakkan ponselnya, sebuah pesan lagi masuk.
Kali ini dari Dokter Andy, dokter spesialis bedah yang terkenal paling tenang namun sangat suka menyindir.
Pesan dari Dokter Andy:
[Selamat pagi, Dokter Ganis. Saya dengar jadwal Anda dialihkan ke Dokter Zaky hari ini. Sebagai kolega, saya turut prihatin atas 'insiden' semalam. Semoga proses pemulihan jaringannya cepat ya. Saran saya, kompres air hangat saja kalau masih pegal. Semangat, Ganis! Kamu masih muda, masa kalah sama yang umur dua puluhan?]
Rengganis melempar ponselnya ke ujung tempat tidur.
Ia merasa martabatnya sebagai dokter senior yang dingin dan berwibawa telah hancur dalam semalam.
"Mas! Lihat ini!" seru Rengganis saat Permadi masuk kembali ke kamar membawa segelas air hangat.
"Teman-teman dokterku semua meledekku! Ini semua gara-gara kamu yang terlalu bersemangat memberi tahu Dina!"
Permadi bukannya merasa bersalah, justru duduk di tepi ranjang sambil mengambil ponsel
Rengganis dan membaca pesan-pesan itu.
Tawa baritonnya pecah saat membaca pesan dari Dokter Shinta.
"Wah, Dokter Andy benar juga," goda Permadi sambil mengelus rambut Rengganis yang berantakan.
"Proses pemulihan jaringan memang butuh waktu. Tapi jangan khawatir, perawat pribadimu ini sangat profesional."
"Mas Permadi! Berhenti tertawa!" Rengganis mencoba memukul lengan Permadi dengan bantal, namun ia justru meringis karena gerakan itu membuat pinggangnya kembali terasa perih.
"Sstt... jangan banyak gerak dulu," ucap Permadi.
Ia meletakkan gelas air di nakas dan menarik Rengganis ke dalam pelukannya.
"Biarkan saja mereka tertawa. Mereka hanya iri karena mereka tidak punya istri sehebat kamu dan suami sekeren aku."
Rengganis menghela napas pasrah, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di leher Permadi.
"Besok aku mau pakai masker saja ke rumah sakit, aku malu..."
"Pakai saja, tapi mereka tetap tahu kalau matamu itu mata wanita yang sedang sangat dicintai," bisik Permadi sambil mengecup pelipis istrinya.