Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3 Pisau yang bergetar
Bau antiseptik yang tajam menyambut Sekar begitu ia melangkah melewati pintu otomatis Ruang Operasi Utama Rumah Sakit Wijaya. Bagi sebagian orang, bau ini menakutkan, namun bagi Sekar, ini adalah bau "rumah".
Di sini, ia memegang kendali. Di sini, ia bukan sekadar adik angkat yang tidak diinginkan atau bidak catur dalam permainan citra keluarga. Di sini, ia adalah pemberi harapan.
Namun, pagi ini, kepercayaan diri itu terusik. Luka di dahinya sudah ditutup dengan plester kecil, namun denyut di baliknya masih terasa seirama dengan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Dokter Sekar, pasien sudah diinduksi. Tim anestesi sudah siap," lapor seorang perawat senior, Suster Maya, dengan nada hormat namun ada sedikit nada menyelidiki dalam tatapannya.
Berita tentang kepulangan dr. Sekar sang lulusan Jerman sudah menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit secepat virus.
Sekar mengangguk, lalu mulai melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir melewati sikunya, sabun antimikroba digosokkan dengan gerakan ritmis yang seharusnya menenangkan. Namun, bayangan Rahman yang menekan sapu tangan ke dahinya tadi terus terbayang. Kata-kata pria itu—“Kenapa kamu harus pulang?”—berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Dokter, Anda baik-baik saja?" tanya dr. Aris, asisten bedahnya hari ini, yang menyadari Sekar terdiam sedikit terlalu lama di bawah kucuran air.
Sekar tersentak. "Ya. Hanya kurang tidur karena jet lag."
Ia melangkah masuk ke ruang operasi dengan tangan terangkat di depan dada. Perawat membantu mengenakan jubah bedah steril dan sarung tangan lateks yang pas di tangannya. Di atas meja operasi, terbaring seorang pria paruh baya, salah satu donatur terbesar yayasan Wijaya yang menderita aneurisma aorta perut yang hampir pecah. Operasi berisiko tinggi. Satu kesalahan kecil, dan pasien ini akan kehabisan darah dalam hitungan detik.
"Skalpel," pinta Sekar.
Suaranya tetap datar, namun saat ia menerima pisau bedah itu, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Ujung jari telunjuknya bergetar. Sangat tipis, hampir tidak terlihat oleh orang lain, namun bagi Sekar, getaran itu terasa seperti gempa bumi. Ia menahan napas, mencoba memusatkan seluruh energinya pada saraf-saraf di tangannya. Fokus, Sekar. Jangan biarkan dia menang.
Ia membuat sayatan pertama. Darah mulai merembes, segera dihisap oleh alat suction. Operasi berlangsung selama dua jam pertama dengan ketegangan yang merayap. Sekar bekerja dengan kecepatan luar biasa, namun setiap kali ia teringat wajah Rahman, tangannya akan menegang sesaat.
Tiba-tiba, suara monitor berubah menjadi alarm yang melengking. Bip-bip-bip-bip!
"Tekanan darah turun! 70/40! Kita kehilangan dia!" seru dr. Aris panik.
"Terjadi ruptur pada dinding aorta!" Sekar berseru, matanya melebar melihat genangan darah yang mendadak memenuhi rongga perut pasien. "Klem! Beri aku klem vaskular, sekarang!"
Di saat kritis seperti ini, pintu observasi di lantai atas ruang operasi terbuka. Di balik kaca pelindung, Sekar bisa merasakan kehadiran seseorang. Ia melirik sekilas ke atas. Di sana berdiri Rahman. Pria itu masih mengenakan jas yang sama, berdiri tegak dengan tangan bersedekap, menatap lurus ke bawah—ke arah Sekar yang sedang berjuang melawan maut.
Tatapan Rahman seolah menghakimi. Seolah pria itu sedang menunggu Sekar gagal agar ia punya alasan untuk mengusirnya kembali ke Berlin.
Sialan kamu, Rahman, maki Sekar dalam hati.
"Dokter, pendarahannya terlalu hebat! Kita tidak bisa melihat titik rupturnya!" dr. Aris mulai menyerah.
"Diam dan hisap darahnya!" bentak Sekar. Suaranya menggelegar di ruang yang sempit itu. Ia memasukkan tangannya langsung ke dalam rongga perut pasien, merasakan aliran darah hangat yang membanjiri sarung tangannya. Ia mencari dengan indra peraba, mencari titik di mana pembuluh darah itu robek.
Tangannya kembali bergetar. Kali ini lebih hebat. Memorinya kembali ke sepuluh tahun lalu, malam di mana ia menangis di pelukan Rahman sebelum pria itu mendorongnya menjauh dan berkata bahwa mereka tidak mungkin bersama. Rasa sakit hati itu berbaur dengan kepanikan di meja operasi.
Jangan sekarang... kumohon jangan sekarang...
Sekar memejamkan mata sesaat. Ia membayangkan udara dingin Berlin. Ia membayangkan disiplin ketat para profesornya di Charité. Ia memaksa dirinya untuk memutus emosinya dari tubuhnya. Ia bukan lagi Sekar si adik angkat. Ia adalah instrumen medis.
Detik berikutnya, ia merasakannya. Robekan kecil itu.
"Dapat," bisiknya. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi yang mematikan, ia memasang klem tepat di titik ruptur. Aliran darah melambat. Monitor jantung yang tadinya liar mulai kembali ke ritme yang stabil.
"Tekanan darah naik, 90/60... 100/70. Stabil, Dokter," lapor perawat anestesi dengan nada lega yang luar biasa.
Sekar menghembuskan napas panjang hingga masker bedahnya mengembang. Keringat bercucuran di pelipisnya. Ia tidak lagi menoleh ke atas, ke arah kaca observasi. Ia tidak butuh validasi dari Rahman.
Setelah menjahit lapisan kulit terakhir, Sekar keluar dari ruang operasi. Tubuhnya terasa lemas seolah tulang-tulangnya telah berubah menjadi jeli. Ia melepas jubah bedahnya yang berlumuran darah dan membasuh wajahnya di wastafel luar.
"Hebat sekali," sebuah suara berat bergema di lorong yang sunyi itu.
Sekar tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Rahman berdiri bersandar di dinding, tidak jauh dari pintu ruang ganti.
"Aku tidak tahu CEO punya waktu luang untuk menonton operasi selama empat jam," sindir Sekar sambil mengeringkan tangannya dengan tisu.
"Aku hanya ingin memastikan aset terbesar keluarga Wijaya tidak melakukan malpraktik di hari pertamanya," sahut Rahman. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Sekar bisa mencium bau aroma maskulin yang kini tercampur dengan bau rumah sakit.
Sekar mendongak, menatap mata Rahman dengan berani. "Aset? Jadi itu aku bagimu? Hanya alat untuk menaikkan nilai saham rumah sakit ini?"
Rahman terdiam sejenak, matanya turun ke tangan Sekar yang masih sedikit gemetar. Ia meraih pergelangan tangan Sekar secara mendadak. "Tanganmu gemetar, Sekar. Kamu pikir aku tidak lihat dari atas sana?"
Sekar mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Rahman kuat namun anehnya terasa hangat. "Itu karena kelelahan, Rahman. Bukan urusanmu."
"Ini urusanku kalau itu menyangkut nyawa pasien di rumah sakitku!" suara Rahman merendah, penuh ancaman. "Atau mungkin... kamu bergetar karena kehadiranku? Karena kamu sadar bahwa melarikan diri ke ujung dunia pun tidak bisa menghapus fakta bahwa kamu masih menginginkanku?"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Rahman. Suaranya bergema di lorong yang sepi.
Sekar mengatur napasnya yang memburu. Matanya berkaca-kaca karena amarah. "Jangan pernah... jangan pernah merendahkan profesiku dengan ego mu yang menjijikkan itu, Rahman Hakim Wijaya. Aku menyelamatkan nyawa orang hari ini. Sementara kamu? Kamu hanya sibuk menjaga topengmu agar tidak retak di depan Viona."
Rahman memegang pipinya yang memerah, tapi ia justru tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan. "Topengku tidak akan retak, Sekar. Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana jika orang-orang tahu bahwa dr. Sekar yang suci ini memiliki 'darah daging' yang sama denganku?"
Sekar membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa maksudmu?"
Rahman merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto usang dari amplop cokelat—foto yang sama dengan yang dibawa pria misterius di pesta semalam. Ia menunjukkannya sekilas di depan wajah Sekar sebelum menariknya kembali.
"Kabar lama itu... sebentar lagi akan menjadi berita utama, Sekar. Dan saat itu terjadi, pisau bedahmu tidak akan bisa menyelamatkanmu," bisik Rahman tepat di telinga Sekar, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
Rahman berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Sekar yang berdiri gemetar di lorong rumah sakit yang dingin. Kali ini, tangannya benar-benar tidak bisa berhenti bergetar.
Di meja operasinya tadi, ia baru saja menyelamatkan satu nyawa. Namun di lorong ini, ia baru saja menyadari bahwa hidupnya sendiri sedang berada di ambang kematian.