Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tempat tinggal baru
Gagal membujuk pasangan Davin dan Melodi yang kini telah pergi meninggalkan Desa Sukun, Pak Aris memutuskan pulang ke rumah. Begitu tiba, dia langsung disambut oleh Bu Risma. "Bapak darimana, sih? Bukannya bantu menenangkan Dahlia, malah pergi nggak bilang-bilang," cerocosnya sambil merengut.
"Bapak juga lagi usaha, Bu," jawab Pak Aris.
"Usaha apaan sih, Pak?" Bu Risma tampak penasaran.
"Tadi bapak mendatangi Dokter Davin memohon agar mau menerima Dahlia..." ucapan Pak Aris terhenti.
"Terus, gimana hasilnya? Apa Bapak berhasil?" sambar Bu Risma tak sabar.
Pak Aris menggeleng pelan. "Ini semua gara-gara Melodi. Gadis miskin itu tak mau mengalah dan merelakan Dokter Davin untuk Dahlia..."
"Apa...! Kurang ajar memang bocah itu! Nggak ingat apa, dulu kita ngasih pekerjaan buat dia agar bisa makan! Sekarang malah tak tahu diuntung," marah Bu Risma.
Ia bergegas keluar rumah, tetapi Pak Aris menahan lengannya. "Mau ke mana kamu, Bu?"
"Tentu saja ibu mau ngasih pelajaran buat dia," jawab Bu Risma. "Menyesal aku dulu selalu bersikap baik padanya."
"Tidak usah, Bu. Percuma, mereka sudah meninggalkan desa ini, baru saja," beritahu Pak Aris dengan wajah muram.
"Terus bagaimana ini, Pak? Apa kita nikahkan saja Dahlia dengan Herman?" tanya Bu Risma dengan nada frustasi.
"Nggak...!" Tiba-tiba Dahlia keluar dari kamar dan berteriak lantang menolak ide sang ibu.
"Lia nggak mau nikah dengan Herman. Lia hanya mau menikah sama Dokter Davin, titik!" ujar Dahlia bersikeras.
"Tapi Lia, dokter itu sudah pergi dari sini. Dia membawa serta gadis miskin itu beserta adiknya," beritahu sang ayah.
"Enggak...!" teriak Dahlia histeris.
"Nggak ada yang boleh memiliki Davin-ku...!" Ia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai. Berguling-guling dan meraung meneriakkan nama Davin dan dan mengumpati Melodi dengan sumpah serapah yang tak pantas untuk didengar. Sungguh, kelakuan Dahlia sangat tidak elok, tak malu pada profesinya yang sebagai bidan desa. Benar-benar tak mencerminkan orang yang katanya terhormat dan berpendidikan.
Pak Aris dan Bu Risma hanya bisa mengelus dada, melihat kelakuan anaknya yang sudah dalam tahap stres akut.
.
Kita tinggalkan sejenak Pak Aris dan Bu Risma yang sedang pusing tujuh keliling menyaksikan Dahlia yang sedang mengereog.
Mari kita tengok perjalanan Davin dan Melodi.
Hampir tiga jam sudah perjalanan mereka dari Desa Sukun menuju Jakarta. Alvian yang belum pernah naik kendaraan jarak jauh pun mabok. Melodi dengan telaten merawat adiknya. Kemudian Davin meminta Pak Makmur menghentikan mobilnya di rest area.
"Pak, kita istirahat saja dulu di rest area," pintanya pada sang sopir.
"Siap, Mas. Dengan senang hati," kata Pak Makmur.
Mereka istirahat sejenak di rest area sambil mengisi perut. Davin lantas membeli obat anti mabok dan memberikan pada Alvian.
"Vian, ayo, ini diminum obatnya, ya. Biar nanti nggak mabok lagi." Alvian mengangguk. Davin pun membantu bocah itu meminum obat.
"Apa perjalanannya masih jauh, Mas?" tanya Melodi.
Davin tersenyum mendengar Melodi memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.
"Nggak kok, paling setengah jam lagi," jawab Davin.
"Kenapa? Kamu sudah nggak sabar ya, pengin ketemu keluargaku?" tanyanya menggoda.
"Hahhh..." Melodi terbengong, tak tahu harus menjawab apa. Lalu meringis tipis, ia mulai merasa gugup, dadanya berdebar semakin cepat. Ada perasaan takut juga tak percaya diri. Pikirannya pun resah dan gelisah, membayangkan berbagai kemungkinan. Kata 'bagaimana jika' muncul memenuhi isi kepalanya.
Davin yang seakan mengetahui kerisauan hati Melodi, meraih jemari gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu nggak perlu khawatir. Jika kamu merasa belum siap bertemu keluargaku, aku akan membawamu ke apartemen-ku. Kamu bisa tinggal di sana, " ucapnya sembari menatap Melodi dengan pandangan lembut.
Melodi mengangguk dan tersenyum tipis. Ia merasa bersyukur Davin bukan tipe pria yang memaksakan kehendak.
Setelah dirasa cukup beristirahat, mereka pun melanjutkan perjalanan.
"Vian, apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Davin.
"Iya, Kak. Sudah nggak mual lagi," jawab bocah itu.
"Oke. Ayo, Pak Makmur. Let's go!" perintahnya pada pria bertubuh dubur tersebut.
"Siap, Mas." Pak Makmur mengemudikan mobil Alphard itu meninggalkan rest area.
Hingga satu jam kemudian, sampailah mereka di sebuah bangunan apartemen mewah di kawasan Mega Kuningan. Apartemen yang satu unitnya, berharga sangat fantastis.
"Kakak, kita ini di mana?" bisik Alvian ketika mereka telah turun dari mobil.
"Kakak nggak tahu, Dik," jawab Melodi.
"Ayo, kita naik ke atas," ajak Davin, mengambil alih kursi roda Alvian, dan berjalan di depan menuju lift.
Di belakangnya Melodi mengekor langkah Davin tanpa banyak bertanya. Sementara Pak Makmur mengiringi mereka sambil membawa barang milik Melodi.
Sampai di lantai tujuh, mereka keluar dari lift, menuju unit hunian Davin. Setelah memasukkan kode akses mereka pun masuk ke dalam.
"Selamat datang, di tempat tinggal kalian yang baru." Davin merentangkan tangan kanan sambil membungkukkan badannya.
"Wah...! Rumahnya bagus sekali, Kak! Tivi-nya besar!" seru Alvian, bocah itu tersenyum lebar dengan wajah berseri-seri penuh kekaguman.
"Apa kamu, suka?" balas Davin.
Alvian menganggukkan kepalanya antusias. "Suka sekali, Kak!"
"Kakak harap kalian betah tinggal di sini," sahut Davin.
"Bagaimana, Mel? Apa kamu juga suka?" tanyanya pada Melodi yang sejak tadi hanya diam.
Melodi mengangguk singkat sambil tersenyum kecil. Ia tak mampu berkata-kata. Netra indahnya sibuk memperhatikan sekeliling. Hunian yang selama ini hanya bisa dilihatnya di tivi atau di iklan, kini ia akan menempatinya.
Unit hunian itu memiliki tiga kamar tidur. Davin lantas menarik tangan Melodi dan menujukkan kamarnya.
"Ini kamar, kamu." Davin membuka kamar yang selama ini menjadi kamarnya.
Melodi mengerjapkan matanya, mulutnya sedikit terbuka -- terkagum-kagum melihat interior dalam kamar tersebut. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa... ini nggak terlalu mewah buat kami, Mas?"
"Kamu pantas mendapatkannya, Mel. Bahkan lebih dari ini." Davin meyakinkan.
"Tapi..." Davin menempelkan jari telunjuknya di bibir Melodi, membuat ucapannya terhenti.
"Dengar, Mel. Sekarang kamu tanggung jawabku. Dan aku nggak akan membiarkanmu hidup susah lagi. Mulai saat ini kalian adalah prioritasku," ujar Davin mantap, lalu memeluk Melodi dengan erat.
"Ekhemmm...!"
Davin segera melepaskan pelukannya, netranya membelalak dengan lebar. Sementara Melodi, tertunduk malu dengan wajah semerah tomat.
"Mami...?"
"Bagus, ya! Dasar, anak nakal!" Mami Mia langsung menjewer telinga Davin, hingga memerah membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Ampun, Mi! Ampuuunnn...!"
tidak akan tinggal diam mengenai hal ini.
tak bukan taj mom typo nih
Gagal rencanamu Renata dan semoga Davin melaporkan hal ini ke manajemen rumah sakit, biar Renata kena sanksi dan berharap dikeluarkan