Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana di dalam ruang ICU berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati.
Rangga hanya bisa menyaksikan melalui kaca kecil dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
"Siapkan defibrillator! Charge ke 200 joule!" teriak dokter dengan nada mendesak.
Seorang perawat dengan sigap mengoleskan gel pada alat berbentuk setrika tersebut.
Rangga melihat tubuh Linggar yang mungil terhentak keras saat aliran listrik itu dihantarkan ke dadanya.
Dug!
Tubuh Linggar membal kaku, namun monitor masih menunjukkan garis lurus yang mematikan.
"Belum ada respons! Naikkan ke 300 joule! Clear!"
Dug!
Sekali lagi, tubuh itu terangkat dari ranjang. Rangga memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram kusen pintu hingga memutih.
"Jangan pergi, Linggar. Tolong jangan pergi," bisiknya dalam tangis yang tak bersuara.
Tiba-tiba, bunyi tiiiit yang panjang itu terputus.
Bip... bip... bip...
Monitor jantung kembali menunjukkan grafik yang naik turun, meski masih sangat lemah.
Dokter dan perawat menghela napas lega, namun mereka belum beranjak.
Di saat itulah, sebuah keajaiban yang tak terduga terjadi.
Kelopak mata Linggar yang bengkak dan lebam itu bergerak sedikit.
Perlahan, sangat perlahan, ia membuka matanya.
Pandangan Linggar masih kabur, tertutup oleh bayangan cahaya lampu ICU yang menyilaukan.
Ia merasakan tenggorokannya tersumbat oleh selang ventilator yang menyiksa, dan seluruh tubuhnya terasa seperti dihimpit beton. Namun, secara naluriah, ia memutar kepalanya ke arah samping.
Di sana, di balik kaca jendela yang memisahkan dunia steril dan lorong rumah sakit, ia melihat seorang pria.
Rangga yang berdiri dengan wajah hancur, mata yang sembab, dan pakaian yang berantakan. Rangga yang sedang menempelkan telapak tangannya di kaca seolah ingin meraihnya.
Linggar hanya terdiam. Ia tidak bisa tersenyum, tidak bisa bersuara, bahkan tidak bisa menggerakkan jemarinya untuk membalas lambaian pria itu.
Tatapannya kosong dan sayu, menyimpan ribuan luka yang tak terucap.
Ia menatap Rangga cukup lama, seolah sedang memastikan apakah pria di balik kaca itu nyata, atau hanya bagian dari mimpi buruk yang baru saja ia lalui.
Rangga yang melihat Linggar membuka mata langsung luruh ke lantai, berlutut sambil menangis bahagia.
"Dia bangun, Tuhan. Terima kasih, dia bangun," rintihnya.
Namun Linggar kembali memejamkan matanya, memalingkan wajah ke arah lain.
Keheningan itu terasa lebih menyakitkan bagi Rangga daripada teriakan kemarahan, karena ia tahu, meskipun jantung Linggar sudah kembali berdetak, hati wanita itu mungkin masih terkunci rapat untuknya.
Nadya dan Edwin berlari kecil di sepanjang koridor saat melihat Rangga tidak lagi terduduk lesu di kursi tunggu.
Harapan besar membuncah di dada mereka. Begitu masuk ke area bangsal, mereka mendapati dokter tengah melakukan pengecekan terakhir sebelum memindahkan Linggar ke ruang perawatan intensif karena kondisinya yang sudah stabil.
"Mbak Linggar! Mbak sudah bangun?" Nadya menghambur ke sisi ranjang saat kakaknya sudah berada di ruang perawatan yang lebih tenang.
Linggar masih terlihat sangat lemah. Ia tidak bisa banyak bergerak, namun tangannya yang dingin mencengkeram lengan baju Nadya dengan sisa tenaga yang ada.
Suaranya keluar sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang menyayat hati.
"Nad, jangan biarkan lelaki itu masuk," ucap Linggar dengan tatapan yang gemetar, menyiratkan trauma yang mendalam.
Nadya tertegun, ia tahu persis siapa yang dimaksud kakaknya.
"Mbak, tapi Mas Rangga yang menunggu Mbak selama ini. Dia tidak pulang sama sekali, dia sangat khawatir," bisik Nadya mencoba memberi pengertian.
Mendengar nama itu, Linggar justru memejamkan matanya rapat-rapat.
Air mata mengalir di sudut matanya yang lebam. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, sebuah penolakan yang tak terbantahkan.
Bayangan saat Rangga menghinanya di kafe, meninggalkannya di bawah hujan, dan menyebutnya "bukan siapa-siapa" di depan wanita lain masih terlalu segar dan menyakitkan.
Nadya menghela napas panjang, hatinya perih melihat ketakutan di mata kakaknya. Ia pun melangkah keluar dari kamar perawatan.
Di lorong, Rangga langsung berdiri saat melihat Nadya keluar.
Wajahnya penuh harapan, ia sudah bersiap untuk masuk dan meminta maaf secara langsung.
"Nad, bagaimana? Aku boleh masuk sekarang? Aku ingin bicara dengannya," tanya Rangga dengan suara yang memohon.
Nadya menatap Rangga dengan tatapan datar, ada rasa iba namun ia harus mengutamakan perasaan kakaknya.
"Mas Rangga, lebih baik Mas pulang saja," ucap Nadya tegas.
Rangga tertegun, langkahnya terhenti. "Kenapa? Aku cuma mau melihatnya sebentar saja, Nad."
"Mbak Linggar tidak mau melihat Mas. Dia meminta agar tidak ada lelaki yang masuk ke kamarnya, terutama Mas," lanjut Nadya.
"Tolong hargai permintaannya. Kehadiran Mas hanya akan membuatnya semakin tertekan. Mbak butuh ketenangan untuk pulih, bukan diingatkan lagi pada luka yang Mas buat."
Kata-kata itu seperti ribuan jarum yang menusuk jantung Rangga.
Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, menyadari bahwa meski raga Linggar sudah kembali, hati wanita itu kini telah membangun tembok yang jauh lebih tinggi dan kokoh daripada sebelumnya.
Dengan bahu yang merosot dan langkah yang sangat berat, Rangga akhirnya berbalik arah, meninggalkan koridor rumah sakit dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan.
Di tangannya, ia masih mendekap erat buku harian cokelat milik Linggar—satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan wanita yang kini membencinya.
Gemercik air dari shower memenuhi kamar mandi yang mewah namun terasa begitu hampa.
Rangga berdiri mematung di bawah guyuran air dingin yang menusuk kulit, masih mengenakan kemeja yang kini sudah basah kuyup dan ternoda bercak darah kering milik Linggar.
Ia menyandarkan kedua telapak tangannya pada dinding marmer yang dingin, membiarkan air menyapu wajahnya, menyatu dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
Bayangan tatapan kosong Linggar di rumah sakit tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Linggar..." bisiknya parau, suaranya tenggelam di antara suara air.
Ia teringat betapa sombongnya ia saat meminta sepuluh cangkir kopi.
Ia teringat betapa angkuhnya ia saat memuji foto Nadya dan merendahkan sosok asli yang berdiri di hadapannya.
Setiap kenangan manis yang ia baca di buku harian tadi kini berbalik menjadi belati yang menguliti harga dirinya.
"Beri aku satu kesempatan lagi, Linggar. Tolong jangan tutup pintu itu selamanya," rintihnya sambil memukul dinding marmer dengan kepalan tangan hingga buku jarinya memerah.
Rangga mematikan air dan keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai.
Ia bahkan tidak peduli dengan lantai apartemennya yang basah.
Ia berjalan menuju meja kerja dan mengambil kembali buku harian cokelat yang ia letakkan di sana.
Dengan jemari yang masih gemetar dan dingin, ia membalik halaman terakhir yang ditulis Linggar sebelum kejadian naas itu.
Di sana, ia menemukan sebuah coretan kecil yang tampak ditulis dengan terburu-buru:
Seberapa keras pun aku mencoba menjadi sempurna, di matanya aku tetaplah kesalahan.
Mungkin memang benar, aku tidak ditakdirkan untuk dicintai, hanya ditakdirkan untuk berguna.
Rangga mendekap buku itu erat di dadanya, terduduk lemas di lantai samping tempat tidur.
"Kamu salah, Linggar. Kamu bukan kesalahan. Aku yang merupakan kesalahan terbesar dalam hidupmu," gumamnya dalam kegelapan malam.
Tekadnya kini bulat. Meskipun Linggar tidak mau melihatnya, meskipun dunia membencinya, ia tidak akan menyerah.
Ia akan mencari tahu siapa yang telah menyentuh Linggar malam itu, dan ia akan melakukan apa pun untuk mengembalikan binar di mata sekretarisnya, meskipun itu berarti ia harus mencintainya dari kejauhan.