DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Jadi Murid Baru
Keluar dari lift, keduanya melangkah di lorong apartemen masih di kawal ajudan.
Mata Aqqela bergerak melihat gedung elite itu.
"Kalian bisa pergi!"
"Baik tuan muda."
Fattah mendecak dan menarik baju belakang Aqqela yang mau ikutan beranjak mengikuti ajudan, "Bukan elo, tapi ajudan gue," ketusnya.
Fattah menekan password dan masuk ke dalamnya, di susul Aqqela yang merenggut sinis.
"Ini bibi Tya, yang bakalan datang pagi sampai sore di sini. Dia yang bantuin segala keperluan kita," terang Fattah.
Bibi Tya yang lagi menyapu, membungkuk sedikit dan tersenyum sopan.
Aqqela balas tersenyum, "Halo, bi!" katanya sambil menjabat tangan beliau, "Aku Aqqe-"
"Nggak usah sok manis! Bibi udah tau," potong Fattah datar membuat Aqqela mendelik tajam.
Serius, Aqqela gemas sekali pengen mencakar-cakar muka sok gantengnya.
"Di situ kamar gue!" Fattah menunjuk salah satu pintu, "Dan yang di sampingnya itu kamar lo."
"Nggak usah."
"Kenapa nggak usah? Lo pengen tidur sekamar sama gue?"
Aqqela ternganga kesal, "Mulut lo! Elo nggak usah ngayal berumah tangga beneran ya, Ka!"
Fattah mengangkat alis, "Ngayal apa? Gue kan emang suami lo."
"Suami jadi-jadian," ralat Aqqela.
"Gue bukan siluman," kata Fattah sengit. Enak aja di bilang jadi-jadian.
Aqqela mendengus, "Gue pengen tinggal di Jakarta Pusat aja."
"Kenapa sama Jakarta Pusat?"
"Karena gue asalnya dari sana."
"Oh."
"Cuma oh?" Kesal Aqqela, reflek menendangnya saking kesalnya.
"Aduh, apa sih lo?" omel Fattah mengusap kakinya yang sakit.
"Gue pengen pulang. Lagian kita udah nikah kayak yang lo mau, kan? Ngapain gue masih di sini?"
"Nggak bisa. Kita suami istri sekarang," kata Fattah masih sabar.
"Emang suami istri nggak ada yang boleh LDR?"
"Gue yang nggak mau"
"Ck, lo pikir gue nggak butuh sekolah apa?"
"Papi udah daftarin elo sekolah bareng gue. Besok lo mulai sekolah."
Mata Aqqela membulat sepenuhnya, "Apaan, sih? Nggak mau."
"Kenapa nggak mau?"
"Masih nanya lo, ya? Gue bisa mati pelan-pelan kalau tinggal sama lo di sini."
"Katanya lo pengen mati, sampai lompat ke sungai waktu itu?"
Aqqela hampir mengumpat.
"Sana masuk ke kamar lo!"
"Nggak mau."
"Aza..."
Aqqela melebarkan mata dan tertegun mendengar panggilan itu.
Ini membuatnya...dejavu. Ibunya sering memanggilnya Aza saat masih hidup, di ambil dari kata Calizta.
"Nggak usah panggil gue Aza-Aza! Sok akrab banget," sinisnya.
"Masuk ke kamar!"
"Tujuan lo apa sih sebenarnya? Elo bilang nggak akan halangi hubungan gue sama Oliver?"
Fattah mendorong koper yang dia genggam ke arah Aqqela, "Gue jawab, tapi habis itu masuk kamar."
"Nggak usah di jawab, gue pengen pulang aja."
Fattah menatapnya dengan raut wajah menindas, "Nggak usah ngebantah gue!"
"Gue bilang-AAAAA MAMA!!!"
Aqqela terkejut saat Fattah tiba-tiba menggendongnya di bahu.
"Fattah, turunin gue! Gue nggak mau tinggal di sini, Fattah." Aqqela memukul-mukul punggungnya, tetapi Fattah dengan mudah membawanya beranjak.
DIA." "BIBI, TOLONGIN AKU, BI! AKU DI CULIK
Bibi Nur malah tersenyum geli menatap keduanya.
Apalagi saat Fattah terkekeh ketika membuka pintu kamar, karena suara melengking Aqqela.
"Apa lo ketawa-ketawa? Turunin gue, gue mau pulang."
Brughh!!
Aqqela memekik saat tubuhnya jatuh ke kasur.
"Awh, sak-heh-heh, mau ngapain lo deket-deket? Jauh-jauh nggak!?" ancamnya melotot kecil, saat Fattah maju dan mengurung tubuh Aqqela di bawahnya sekarang.
Fattah mengangkat sebelah alis.
"Kenapa gue nggak boleh deket-deket sama lo? Kan lo istri gue," balasnya menantang tak mau kalah.
"Pergi dari atas badan gue!" Aqqela memukul-mukul dada Fattah.
"Kalau nggak mau?"
"Fattah, jangan berani macem-macem ya lo!"
Aqqela panik menutupi kedua dadanya, membuat bibir Fattah berkedut menahan tawa.
"Elo nggak baca perjanjiannya?"
"Apa?"
Aqqela menatap Fattah sepenuhnya, membuat Fattah tersentak menatap mata bulat cantik milik Aqqela.
Untuk sejenak, Fattah terpaku.
Fattah mengalihkan wajah sesaat, dan memberanikan diri menatap Aqqela lagi.
"Kalau lo langgar perjanjian, elo harus bayar denda 1 milyar. Lupa?"
"1 MILYAR?" ulangnya kaget.
Fattah mengangguk, "Gue punya tempramen yang buruk. Gue paling nggak suka di bantah atau di tentang. Jangan coba-coba bikin gue marah!"
Aqqela mendecih sinis, "Kalau gue ngebantah?"
"Gue Fattah Fernandez. Gue bisa dengan mudah hancurin dan ikat sesuatu yang gue mau.
Termasuk lo, Aqqela Calista."
Aqqela memicingkan matanya sengit.
Bodo amatlah sama kasta sultannya.
"ANJ-WOI-WOI SAKIT KEPALA GUE," pekik Fattah kaget saat rambutnya di jambak oleh Aqqela dengan gadis itu berdiri, menarik-nariknya geram.
"GUE KIRA MANUSIA JAHAT KAYAK LO DAN BOKAP LO CUMA ADA DI SINETRON YA ANJIR," amuk Aqqela memukul-mukuli Fattah yang berteriak kesakitan.
Keduanya berguling-guling di kasur, dengan Fattah tak mau kalah dan mendorong jidat Aqqela.
Keduanya ribut di sana, tidak ada yang mau kalah.
Sampai Fattah unggul dan menahan kedua tangan Aqqela di kedua sisi kepalanya, membuat gadis itu memekik rusuh.
Fattah terengah. Memandang tajam Aqqela di bawah tubuhnya.
"Udah gue bilang, jangan bikin gue marah!"
"Apa?" Aqqela mengangkat dagu menantang.
"Lo-" Ucapan Fattah terhenti dan tersentak diam, menyadari wajah keduanya terlalu dekat, hingga ujung hidung mereka bersentuhan samar.
Tubuh keduanya sama-sama membeku.
Pemuda itu menelan saliva tercekat dengan jakun naik turun melirik bibir gadis itu.
Sebelum akhirnya, dia memilih menutup bibir Aqqela dengan telapak tangannya.
Sampai mata Aqqela melotot saat Fattah memajukan wajah dan mencium punggung tangannya sendiri yang ada di atas bibir Aqqela dan di tekan pelan.
"Kalau lo bandel lagi, gue cium lo beneran," ancam Fattah dan segera beranjak pergi meninggalkan kamar.
Brakk!!
Pintu di banting keras.
***
Garis berambut hitam panjang dengan poni itu mendesah berat.
Berdiri di depan cermin kaca dengan seragam sekolah barunya.
Atasan kemeja putih, yang di balut rompi v-neck warna maroon dengan bawahan rok kotak-kotak warna cream.
Dia benar-benar tidak ada kekuatan apapun untuk menentangnya lagi.
"Aqqela, cepetan!"
Aqqela melangkah keluar setelah meraih tasnya. Melihat Ryshaka yang sudah duduk di meja makan.
"Nih!" Fattah menyodorkan paperbagiBox padanya.
Mata Aqqela melebar meraih bungkus hitam itu, "Buat gue?"
"Iya," jawabnya mengunyah roti, "Itu HP sekalian sama tablet."
Aqqela makin membelalak sambil menarik napas kaget.
"Wah, ternyata selain kejam, elo nggak pelit dan tajir abis."
Fattah maju menarik paper bag, membuat Aqqela mendongak reflek.
"Jangan coba-coba kabur atau ngadu apapun sama Oliver!" katanya tegas.
Aqqela diam sebentar.
Lagian, dia mau kabur kemana?
Anak buah Jordan pasti dengan mudah menemukannya. Aqqela bingung kalau sampai ketangkap, terus harus bayar 1 milyar.
Ngadu ke Oliver? Aqqela tidak mau Oliver ikut kena masalah.
"Gimana?"
"Ck, iya-iya." Aqqela merebut paperbag itu lagi, karena dia sudah tidak sabar ingin menghubungi Oliver.
"Aaaaaa welcome HP baruku!" riangnya memeluk paper bag membuat Fattah mendelik.
Cowok itu mendecih, "Elo segitu kangennya sama Oliver? Seneng banget di kasih HP," sindirnya.
"Iya lah gue kangen. Namanya juga punya pacar, emangnya elo?" kata Aqqela sudah tersenyum-senyum lebar melihat ponsel barunya.
Fattah mendengus kesal dan mengalihkan wajah, lalu berdiri.
"Ayo buruan, udah siang."
***
Gerbang besar SMA Taruna Jaya Prawira sudah ramai murid-murid yang berdatangan dengan semangat pagi, memulai hari baru.
Murid-murid terlihat mengobrol riang bersama teman dan pacar tercinta.
Sampai keadaan berubah saat sebuah ninja hitam memasuki gerbang.
Motor milik sang badboy utama sekolah, Fattah Andara Fernandez.
Seperti center, kehadiran Fattah membuat mereka menolehkan kepala dan membelalak lebar.
"Weh anjir, itu siapa yang sama Fattah?"
"Pacarnya kali, ya? Tapi nggak pernah lihat."
"Najis, hati gue kratak banget anjis. Huhuhu Fattah gue..."
Ini Fattah Andara. Berandalnya sekolah.
Terkenal garang dan kasar, mengizinkan seorang gadis duduk di boncengannya yang selalu kosong itu? Jelas mereka heboh.
"Makasih!" kata Aqqela turun dari motor dengan ekspresi murung.
Sebenarnya tak suka harus pindah sekolah begini.
Fattah melepaskan helm fullface-nya, "Sana masuk! Nggak usah cemberut terus," ucap Fattah mengusap puncak kepala Aqqela.
Beberapa murid sampai membekap mulut, saking tidak percayanya melihat ini.
"Ck, nggak usah usap-usap, deh!" Aqqela menepisnya dan melangkah pergi.
Aqqela menggigit bibir. Mendongak melihat gedung sekolah barunya dan mendesah berat.
"It's okay, Qell. Lo harus percaya, kalau bakalan ada pelangi setelah badai," katanya menguatkan diri.
Dari jauh, Fattah memperhatikan itu dengan ekspresi datar.
Entah kenapa terus terpaku memandangi Aqqela yang berjalan murung memasuki gedung sekolah.
Dia turun dari motor, berniat menyusulnya.
"Fattah! Fattah!" Noel berteriak heboh mendekat, membuat Fattah mengeryit dan menoleh.
"Apa? Gue sibuk!" katanya hendak beranjak.
"Bos, bentar dulu, bentar! Gue habis dapat bocoran dari mata-mata kita di Starlight," paniknya menahan-nahan dengan ngos-ngosan.
"Apa, sih?" Kesal Fattah.
"Si Oliver..." ujar Noel terputus-putus, "Nanti siang mau ke sini nantangin kita tawuran."
Ekspresi wajah Fattah berubah kaget, dengan kilatan mata menajam.
"Brengsek! Suruh anak-anak kumpul sekarang di halaman belakang!"
***
KRINGGGG!!!
Bel masuk berbunyi. Seluruh murid memasuki kelas untuk memulai pelajaran.
Termasuk kelas 11 IPA 1.
"Woi-woi-woi, udah ada yang tau belum?"
Mereka menoleh kaget melihat Sakira berlarian heboh memasuki kelas. Tapi mereka tidak peduli banyak dan melanjutkan kesibukan masing-masing.
"Di parkiran...di parkiran sekolah..." katanya menggebu.
"Duduk! Bentar lagi mister Derric masuk,"
tegur Arsen-ketua OSIS dengan datar.
"Bentar Sen, ini lebih penting." Sakira menarik napasnya dalam-dalam.
"Fattah bonceng pacar barunya ke sekolah woy. PACARNYA," jeritnya histeris.
Seluruh siswi tersentak dan menoleh kaget.
Gerakan menulis Arsen berhenti saat Sakira menyebutkan nama sepupunya.
Sejak kapan Fattah punya pacar?
"Demi apa lo?" Catu berdiri kaget, di ikuti cewek-cewek yang penasaran.
"Sumpah, Ca. Dan lo semua tau nggak, pacar barunya Fattah itu murid baru di sekolah ini. Parah anjir, langsung di go public, kyaaaaaa," katanya ambyar sendiri.
"Pacarnya cakep nggak?" tanya Catu.
"Cantik banget Ca, eleuh-eleuhhh. Vanilla doang mah lewat," kata Sakira menyebut nama cewek IPS yang di kabarkan naksir Fattah.
"Huft, serbuk arang sepertiku bisa apa, hiks?" kata Catu drama.
"Nggak usah drama lo, Ca! Lagian elo juga udah pacarnya Matthew."
"Pokoknya ya Ca, kalau anak baru masuk kelas ini, dia harus masuk geng cantik kita," kata Sakira belagu, karena dia pacarnya Jefan wakilnya geng Levian.
"Terus gue? Gue?" Vania menunjuk dirinya dengan delikan merasa jomblo.
"Halah, elo kan sama Noel, udah dapat enak tuh," kata Catu menyebutkan nama teman Fattah yang terkenal kardus dengan cewek dimana-mana.
"OGAH," umpat Vania.
"Tapi masa-eh, punten mister," kata Aya manis dan langsung kabur saat mister Derric tiba-tiba muncul.
Mata anak-anak 11 IPA 1 melebar melihat seorang gadis cantik terlihat mengekor di belakang mister Derric.
"Good morning, students!"
"GOOD MORNING MISTER," sahut anak-anak cewek lebay.
Pasalnya mister Derric sangat muda dan tampan.
"Kalian dapat teman baru."
Cowok-cowok bersiul menggoda dan sisanya ternganga lebar.
Berbeda dengan Arsen yang tampak diam memandang Aqqela dengan alis terangkat sebelah.
Itu cewek barunya, Fattah?
"Silahkan, perkenalkan diri kamu!"
"Hai! Nama saya Aqqela Calista, biasa di panggil Aqqela. Saya pindahan dari SMA Starlight," katanya tersenyum kecil.
"HAI CALISTAAA!"
"Aqqela oon," kesal Catu menendang bangku depannya.
"Aqqela, nama gue Cakra. Panggil sayang aja nggak papa."
"Aduh, cantik banget sih dia. Hati gue aja sampai berserakan anjir."
"Najis lo," kata Aya super sewot.
"Itu yang katanya pacarnya Fattah, ya?"
"Sudah-sudah, jangan ribut! Aqqela, kamu boleh duduk di bangku yang kosong. Itu, di sebelahnya Catu!"
"Akhirnya gue nggak jomblo lagi," kata Catu mengucap syukur, lalu berdehem, "Qell, sini-sini!" katanya mengangkat tangan ramah.
Aqqela tersenyum dan berjalan ke arah Catu.
"Hai, nama gue Catu. Gue kapten cheerleaders juga di sekolah. Kalau yang depan gue ini namanya Vania. Nah kalau sampingnya Vania, Aya. Biasa di panggil siluman," papar Catu membuat Aya yang berniat berkenalan jadi mengumpat.
"Hai Aqqela, gue Aya!"
Aqqela menjabat tangan mereka satu-satu, "Hai, gue Aqqela!" katanya tak kalah ramah.
"Yesss, lo langsung masuk circle kita aja, ya! Tenang, circle kita itu di isi orang cantik dan baik hati semua," kata Aya super pede.
Catu mengangguk setuju, "Bener. Apalagi lo kan pacarnya ketua Levian. Nah kita-kita ini pacarnya anak-anak Levian juga. Kecuali si Vania tuh, sok cantik banget di deketin Noel nggak mau."
Aqqela mengerjap-ngerjap.
Pacarnya ketua Levian? Fattah gitu?
"Sorry, selera gue itu goodboy," kata Vania sombong.
"Pffftt dia kan naksir Arsen. Tapi Arsen-nya yang nggak mau, malah jadian sama adek kelas ahahaha," kata Catu membuat Vania mengumpat.
"Nggak usah di ingetin njir," kesalnya.
"Nah Qell, kalau itu namanya Arsen! Dia ketua OSIS sekolah."
Aqqela menoleh ke cowok ganteng berwajah kalem di bangku depan.
"Tapi dia udah punya pacar, jangan sampai naksir! Oh ya, dia sepupunya Fattah juga."
Mata Aqqela agak melebar samar dan manggut-manggut mengerti.
"Anak-anak, langsung buka bab berikutnya!
Kita mulai pelajarannya."
"Yes, mister."
***