NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 5 - HAL YANG SUDAH TERLANJUR DI DENGAR

Pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung selama dua jam penuh.

Ara mencatat. Tangannya bergerak mengikuti apa yang Bu Ratna tulis dan ucapkan di depan kelas, otomatis dan teratur, sementara kepalanya berada di tempat yang berbeda sama sekali. Ini kemampuan yang sudah ia asah tanpa sengaja selama bertahun-tahun, bisa terlihat hadir sepenuhnya sementara sebagian dirinya sedang bersembunyi di tempat lain.

Berguna di banyak situasi.

Tidak berguna untuk menghentikan pikiran yang tidak mau diam.

Via duduk di sebelahnya selama dua jam itu tanpa berkata sepatah kata pun. Mencatat juga, tapi dengan cara yang lebih keras dari biasanya. Ujung penanya menekan kertas lebih dalam. Halamannya dibalik lebih cepat. Semua gerakan kecil yang tidak akan diperhatikan orang lain, tapi Ara memperhatikannya karena ia sudah cukup lama mengenal Via untuk tahu bedanya.

Via sedang tidak baik-baik saja.

Dan Ara tidak tahu harus bagaimana setelah ini.

Bel istirahat makan siang berbunyi. Kelas langsung pecah menjadi suara kursi bergeser dan tas diangkat dan obrolan yang meledak setelah dua jam tertahan. Bu Ratna mengucapkan sesuatu tentang tugas minggu depan yang tenggelam di antara semua kebisingan itu.

Via berdiri, mengambil tasnya.

"Kantin yuk," ia berkata ke Ara, nada suaranya sudah kembali normal. Terlalu normal. Seperti dua jam sebelumnya tidak pernah terjadi.

Ara mengangguk. "Oke."

Mereka berjalan keluar kelas bersama seperti biasa. Lorong sudah ramai, arus siswa mengalir ke berbagai arah, dan Ara mengikuti langkah Via yang selalu sedikit lebih cepat dari kebanyakan orang.

Di antara mereka, tidak ada suara.

Biasanya jarak dari kelas ke kantin adalah waktu Via bercerita tentang sesuatu yang ia lihat tadi pagi atau mengomentari kejadian di kelas dengan cara yang hanya Via yang bisa. Tapi hari ini lorong itu terasa seperti memiliki dinding di antara mereka berdua, transparan tapi nyata, dan Ara tidak tahu pintu masuknya ada di mana.

Mereka hampir sampai di belokan menuju kantin ketika Via tiba-tiba berhenti.

Ara ikut berhenti, hampir menabrak bahunya.

"Via?"

Via tidak langsung menjawab. Ia berdiri menghadap tembok di sampingnya sebentar, seperti sedang membaca pengumuman yang ditempel di sana, padahal Ara bisa melihat bahwa tidak ada apa pun di tembok itu selain cat putih yang sudah sedikit kusam.

Lalu Via berbalik. Menatap Ara langsung.

"Aku mau cerita sesuatu," Via berkata. Bukan pembukaan, lebih seperti pengumuman. Nadanya datar tapi matanya tidak. "Dan aku mau kamu dengerin sampai habis dulu sebelum ngomong apa-apa."

Ara mengangguk pelan. "Oke."

Via menarik napas satu kali. Panjang, terkontrol, seperti seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk melompat dari ketinggian yang sudah lama ia hindari.

"Apa yang Diana katakan tadi itu benar," Via memulai. "Aku suka Mike. Dari kelas dua SMP, waktu dia pertama kali pindah ke sekolah kami. Sudah lama." Ia berhenti sebentar. "Dan aku sudah lama juga tahu bahwa dia nggak suka aku balik. Itu bukan masalah. Aku sudah terbiasa."

Ara mendengarkan. Tidak menyela, seperti yang diminta.

"Yang jadi masalah adalah..." Via melanjutkan, matanya tidak berpaling dari Ara, "aku juga sudah lama lihat cara Mike ngeliat kamu. Dan itu beda." Satu jeda pendek. "Beda dari cara dia ngeliat orang lain."

Sesuatu di dada Ara bergerak. Bukan kencang, bukan menyakitkan. Tapi ada.

"Via—"

"Aku bilang dengerin dulu." Via mengangkat satu tangan. Ara menutup mulutnya. "Aku nggak cerita ini karena minta dikasihani. Aku cerita karena aku nggak mau ada dinding di antara kita cuma gara-gara hal ini. Kamu sahabat aku. Dan aku..." Via berhenti sebentar, menatap lantai satu detik sebelum kembali menatap Ara, "aku nggak mau kamu merasa harus jaga perasaanku sampai kamu jadi nggak jujur sama diri sendiri."

Ara diam.

Tidak karena tidak mau bicara. Tapi karena terlalu banyak hal yang tiba-tiba harus ia proses sekaligus.

Via suka Mike. Itu sudah ia dengar tadi pagi. Tapi mendengarnya lagi sekarang, langsung dari Via, dengan cara ini, dengan suara yang lebih pelan dan lebih sungguhan dari cara Via biasanya berbicara tentang apa pun, terasa jauh berbeda.

Dan yang membuat semuanya lebih berat adalah bagian berikutnya.

Karena Via tidak salah. Mike memang memandang Ara dengan cara yang berbeda. Ara bukan tidak sadar. Ia hanya sudah sangat lama memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.

Tapi sekarang ia harus memikirkannya.

Karena Via sudah meletakkan semuanya di atas meja, dan Ara tidak bisa pura-pura tidak melihat.

"Aku..." Ara memulai, pelan, menjaga setiap kata. "Aku nggak tau harus bilang apa."

Via mengangguk. "Nggak harus bilang apa-apa sekarang."

"Tapi kamu udah cerita sebanyak itu."

"Iya. Dan itu bukan karena aku minta jawaban." Via memasukkan tangannya ke saku seragamnya, bahu-nya sedikit turun dari posisi tegak tadi. Lebih santai, sedikit. "Aku cuma mau kamu tau. Supaya kalau nanti ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Mike, kamu nggak perlu ngerasa harus sembunyi-sembunyi dari aku."

Ara menatap sahabatnya itu.

Ada sesuatu di Via yang hari ini terasa berbeda. Bukan lebih lemah, Via tidak pernah lemah, tapi lebih... manusiawi. Seperti lapisan paling luar dari semua ketegasan dan kekasarannya sudah dilepas sebentar, dan di bawahnya ada seseorang yang ternyata juga bisa lelah menyimpan sesuatu sendiri.

"Via," Ara berkata akhirnya.

"Ya."

"Aku sayang kamu."

Via terdiam satu detik. Lalu ia mendengus pelan, membuang muka ke arah lain, tapi tidak cukup cepat untuk menyembunyikan ujung bibirnya yang bergerak sedikit ke atas.

"Gombal."

"Serius."

"Aku tau." Via mulai berjalan lagi ke arah kantin, langkahnya kembali ke kecepatan normalnya. "Makanya aku cerita ke kamu, bukan ke orang lain."

Ara mengikutinya, berjalan setengah langkah di belakang sebelum menyejajarkan diri.

Lorong tidak terasa berdinding lagi sekarang.

Tapi Ara tahu percakapan ini meninggalkan sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang belum selesai, yang tidak bisa diselesaikan dengan satu obrolan saja. Karena Via sudah berkata jujur, dan kejujuran Via itu sekarang duduk berdampingan dengan satu hal yang sudah lama Ara simpan di sudut paling tidak ia sentuh di dalam dirinya.

Bahwa ia juga menyukai Mike.

Atau setidaknya, ia pikir begitu.

Atau setidaknya, itu yang selalu ia asumsikan selama ini.

Tapi entah mengapa, saat ini, saat Via baru saja bercerita dengan cara yang paling jujur yang pernah ia dengar dari siapa pun, yang muncul di kepala Ara justru bukan wajah Mike.

Yang muncul adalah sepasang mata dingin di bawah lampu neon minimarket semalam.

Dan satu suara datar yang menyebutnya cewe gila.

Ara merapatkan bibirnya.

Ia tidak mengerti dirinya sendiri hari ini.

Dan perutnya masih lapar karena ia terlalu banyak berpikir sampai lupa bahwa tujuan mereka adalah kantin.

"Via."

"Ya?"

"Kita beneran mau makan, kan?"

Via meliriknya sekilas. "Ya iyalah. Emang mau ngapain lagi."

"Oke. Bagus." Ara menghela napas pelan. "Karena aku lapar."

"Harusnya kemarin jangan numpahin makanan."

"Itu tidak disengaja."

"Iya iya." Via mendorong pintu kantin terbuka dengan satu tangan. "Yuk, masuk."

Ara melangkah masuk.

Dan untuk sementara, ia memilih untuk tidak memikirkan apa pun selain makan siang yang hari ini tidak boleh tumpah lagi ke siapa pun.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!