NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Robenyo

"Baiklah, silahkan keluarkan mana anda dari dalam tubuh."

Mengikuti perintah salah satu instruktur pengecekan bintang, Leon mengeluarkan mana dari dalam tubuhnya.

"Pejuang bintang satu dikonfirmasi. Selanjutnya tunjukkan kontrolmu terhadap mana di luar tubuh."

Sebelum kembali ke bumi, Leon berencana meningkatkan status identitasnya menjadi pejuang bintang dua. Dia melakukan ini bukan tanpa alasan.

Hanya ada lebih dari seratus pejuang yang diklasifikasikan sebagai bintang dua. Mengingat namanya yang terdaftar sebagai pemilik restoran permata ungu dan guild permata ungu, dia ingin agar mata yang mengawasi tidak mencari masalah.

"Pejuang bintang dua dikonfirmasi. Dengan ini status Leon akan berubah menjadi pejuang bintang dua."

Malamnya, Leon pergi ke restoran pada pukul sebelas. Restoran sudah tutup dan para pegawai telah kembali ke rumah masing-masing, menyisakan security yang berada di pos.

Setelah menyapa petugas security, Leon pergi ke belakang restoran dan membawa motornya masuk ke dalam gudang. Tidak ada kamera pengawas di dalam, melainkan hanya di luar gudang berkat perintah Leon. Tentu Leon sudah mematikan kamera sebelum dia terekam, untuk mencegah situasi menjadi rumit jika ada yang memperhatikan.

Di dalam gudang, Leon kemudian memasukkan motornya ke dalam inventory. Dengan ini, akhirnya Leon dapat membawa motornya ke bumi!

*****

Leon kembali ke bumi lebih awal dari yang dia rencanakan sebelumnya. Tenggat waktu pertemuan dengan Reynold dan Arini masih tersisa sepuluh hari lagi.

Selama beberapa hari ini, selain berkultivasi, dia juga membeli sejumlah barang ke dalam inventory sambil menjual emas dan mencairkannya menjadi uang.

"Aku pulang."

"Leon! Masuklah! Mama sudah masak banyak untukmu."

"Ohhh, kalau begitu Leon mau langsung makan."

"Mmm, makan yang banyak!"

Setelah berpelukan dengan ibunya, Leon naik ke lantai dua dan langsung pergi ke meja makan. Membuka tudung saji, selera makan Leon langsung memuncak hanya dari penampilan dan aroma yang menggugah selera. Masakan ibunya memang tidak perlu diragukan lagi!

"Selamat makan!"

Rasa daging ikan yang manis meleleh di mulut Leon. Setelah dia mencoba ikan bakar itu dengan sambal kecap yang ada, perpaduannya benar-benar nikmat. Ada juga udang goreng tepung dengan saus asam manis. Ketika Leon menyatukannya dengan sedikit nasi, itu menjadi sangat sempurna. Dan yang tak kalah penting adalah makanan yang sangat dia sukai, petai goreng dengan sambal terasi!

Ketika Leon mengambil satu biji petai dan mengoleskan sambal, dia perlahan memasukkannya ke dalam mulut. Matanya langsung terpejam menikmati rasa yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

"Kakak kamu sudah pulang. Ahhh, kamu makan tanpa menunggu kami berdua!"

"Hahahaha, aku tidak tahan melihat masakan mama. Ayo sini ikut makan!"

Mengetahui Leon akan pulang hari ini, Wilona dan Elisa bergegas kembali ke rumah setelah kelas mereka berakhir. Karena ini adalah hari Jumat, keduanya hanya ada kelas sampai jam sepuluh pagi. Namun ketika mereka kembali, mereka cukup kecewa karena ternyata Leon telah tiba lebih dulu di rumah.

"Bagaimana pelajarannya?"

"Nilai ujianku tinggi semua kak. Tapi coba tebak nilai-nilai Elisa?"

"Hmm? Bagaimana Elisa?"

Leon menoleh ke Elisa dan bertanya.

"Hasilnya bagus kak Leon."

"Tidak hanya bagus kak, Elisa dapat A di semua mata kuliah. Sebagai hadiahnya, kakak harus menuruti permintaan kami berdua!"

"Hahahahah baiklah. Apa permintaannya?"

"Aku mau besok kakak ikut dengan kami ke dalam kelas!"

"Apa tidak masalah?"

"Tidak apa-apa kak. Besok adalah mata kuliah umum, kelasnya juga bukan di gedung jurusan kami. Jadi tidak perlu khawatir."

Setelah itu, Wilona menyenggol lengan Elisa untuk mengajukan permintaan yang sudah direncanakan oleh Wilona.

"Ka-kalau aku, aku ingin jalan-jalan berdua dengan kak Leon."

"Tidak masalah. Tapi aku sudah ada rencana dengan Reynold hari Minggu nanti. Bagaimana dengan besok?"

"Iya kak Leon. Aku luang besok."

Keesokan paginya, Leon mengikuti mereka ke dalam gedung serbaguna yang dijadikan sebagai tempat kuliah umum hari itu. Kuliah umum yang diambil para gadis adalah mata kuliah umum yang paling diminati oleh mahasiswa. Mereka hanya diwajibkan datang ke kelas, dan mendengarkan pembicara yang diundang oleh pihak kampus.

Tentu tidak setiap minggu kampus kedatangan pembicara. Namun sesekali, pihak kampus bahkan berhasil mengundang tokoh-tokoh penting seperti menteri, wakil presiden, dan berbagai tokoh penting lainnya.

Kali ini kelas akan diisi oleh seorang pengusaha besar. Karena itu, pengawasan masuk tidak terlalu ketat. Meskipun begitu, kursi kosong juga masih banyak tersedia. Karena Leon dan para gadis datang cukup awal, mereka berhasil mengamankan kursi kelima dari depan.

"...... Di zaman ini, ketika informasi dapat diakses dengan cukup mudah, sangat sulit untuk memulai segalanya dari awal. Akan ada banyak pesaing dalam suatu bisnis yang serupa. Jika orang tua anda kaya, anda dapat bangun dari kegagalan, kemudian mencobanya lagi dan lagi. Namun bagaimana jika kalian berada di keluarga rata-rata atau bahkan yang kurang mampu? Kalian perlu bekerja untuk mengumpulkan modal. Jika terjadi kegagalan, itu semua akan langsung berakhir."

Seorang mahasiswa mengangkat tangan dan bertanya kepada pengusaha tersebut.

"Saya berasal dari keluarga biasa pak. Jadi menurut bapak, apa yang terbaik untuk dilakukan?"

"Karena kamu adalah anak emas yang berhasil masuk ke universitas ini, saya yakin nantinya kamu dapat mengambil pekerjaan dengan gaji yang memuaskan. Namun jika kamu ingin mengambil resiko dengan membangun sebuah bisnis......"

Tidak seperti motivator gadungan yang sering berbicara omong kosong, pengusaha ini memberikan contoh langsung berdasarkan pengalamannya. Dia berasal dari keluarga biasa. Setelah mengumpulkan cukup modal, dia memulai langkah awal dari sebuah pabrik rumahan untuk menghasilkan kemasan odol. Namun dikarenakan perbedaan zaman, tidak banyak pesaing karena ilmu yang beredar terkait bisnisnya sulit didapatkan.

Leon sangat menikmati arahan serta percakapan aktif antara pembicara dengan mahasiswa.

"...... Ketika kebijakan presiden sebelumnya mulai berjalan, perusahaan saya juga tidak mengekspor bijih langsung ke luar negeri. Untungnya, saya berhasil melakukan negosiasi dengan perusahaan luar untuk membangun pabrik dengan teknologi mereka di dalam negeri. Pabrik tersebut kemudian mengolah hasil tambang menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi."

Setelah kelas berakhir, mahasiswa mulai keluar dari gedung tersebut. Pengusaha itu terlihat sedang duduk santai setelah berbicara asistennya. Melihat sebuah kesempatan, Leon berjalan menuju panggung mendekati sang pengusaha.

"Halo pak Robenyo, saya adalah Leon. Apakah anda sedang senggang?"

Pengusaha itu bernama Robenyo. Seorang warga negara Indonesia keturunan tionghoa yang lahir di Bandung. Ketika dia melihat seorang pemuda mengambil sebuah kesempatan untuk berbicara dengannya, dia tertarik mendengar apa yang ingin dibicarakan pemuda ini.

"Tentu. Apa ada yang mau kamu tanyakan?"

"Pak Robenyo mempunyai pertambangan, termasuk emas. Kebetulan saya mempunyai jalur khusus untuk memperoleh emas. Apakah pak Robenyo tertarik?"

Mendengar itu, ekspresi santai Robenyo berubah menjadi lebih serius.

"Apakah ini ilegal?"

"Tidak. Saya memperolehnya tanpa merugikan siapapun. Tapi saya tidak dapat memberikan bukti untuk itu."

Melihat Robenyo berpikir dalam diam. Leon menunggu tanggapannya dengan ekspresi santai. Tidak masalah jika Robenyo menolaknya. Untuk saat ini, dia hanya perlu menjual emas secara kecil-kecilan.

Kemudian Robenyo membisikkan sesuatu kepada asistennya. Tak lama setelah asistennya pergi, seorang pria bertubuh besar berjalan mendekat ke arah Leon.

"Ini adalah kepala keamananku, Joe."

Tanpa basa-basi, Joe mengulurkan tangannya. Leon pun menyambut tangan Joe dan keduanya saling berjabat tangan.

"Saya adalah...."

Sebelum Leon menyelesaikan kalimatnya, Joe menggenggam telapak tangan Leon dengan sangat kuat. Melihat ekspresi Leon masih santai, Joe mulai mengubah pendekatannya.

Orang ini menggunakan qi! Dia adalah seorang kultivator!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!