Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Langit di atas Gunung Lin keluarga berwarna biru cerah, tapi bagi Lin Feng, langit itu terasa seperti kain kafan yang menutupi harapannya.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu seluruh generasi muda keluarga Lin: Upacara Pembukaan Dantian. Di panggung batu hitam yang terpahat rumit dengan formasi kuno, ratusan anak muda berusia 12 hingga 15 tahun berbaris rapi, dada mereka membusung penuh harapan. Di sekitar panggung, para tetua keluarga duduk di kursi kayu cendana berukir naga, wajah mereka penuh kebanggaan. Di bawah panggung, ribuan pelayan, murid luar, dan anggota keluarga cabang menatap dengan iri dan kagum.
Di barisan paling depan, Lin Feng berdiri tegak. Tubuhnya ramping, wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, tapi matanya… matanya kosong. Sudah tiga tahun ia mendengar bisik-bisik di belakang punggungnya. Sudah tiga tahun ia pura-pura tak mendengar.
“Lin Feng, Tuan Muda Sampah,” seseorang berbisik cukup keras hingga terdengar oleh puluhan orang di sekitarnya.
Tawa kecil pecah di barisan belakang.
Lin Feng mengepalkan tangan di balik lengan baju biru lamanya. Ia tak menoleh. Ia sudah terlalu sering menoleh, dan setiap kali hanya menemukan tatapan menghina.
Di atas panggung, Patriark Lin Tianhao—ayahnya sendiri—berdiri dengan jubah hitam berhiaskan sulaman emas. Suaranya menggelegar, menembus angin pegunungan.
“Hari ini, generasi baru keluarga Lin akan membuka dantian mereka! Siapa pun yang berhasil membuka dantian kelas langit atau lebih tinggi akan langsung diangkat menjadi inti murid keluarga! Siapa pun yang membuka dantian kelas bumi akan mendapat sumber daya kultivasi dua kali lipat! Dan yang membuka dantian kelas manusia… setidaknya masih bisa menjadi penjaga gerbang!”
Sorak sorai membahana.
Lin Feng menatap batu hitam di bawah kakinya. Ia tahu urutannya. Anak-anak dari garis keturunan cabang akan diuji lebih dulu. Lalu garis keturunan samping. Terakhir… garis utama.
Dan ia adalah yang pertama dari garis utama.
Setelah hampir dua jam, giliran garis utama tiba.
“Lin Feng, maju!”
Suara tetua ketiga, Lin Huo, terdengar dingin seperti es.
Lin Feng melangkah naik panggung. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya diikat rantai besi. Ia bisa merasakan ribuan pasang mata menatapnya—sebagian penuh harap, sebagian penuh ejekan, dan sebagian lagi… penuh iba.
Di tengah panggung berdiri Batu Uji Dantian kuno berwarna abu-abu kehitaman. Batu itu setinggi dua meter, permukaannya dipenuhi garis-garis rune yang samar-samar bercahaya. Konon, batu ini dibawa leluhur keluarga Lin dari reruntuhan zaman kuno, dan mampu mengukur kualitas dantian dengan sempurna.
“Tempelkan telapak tanganmu,” perintah Lin Huo tanpa ekspresi.
Lin Feng menarik napas dalam-dalam. Ia sudah melakukan ini berkali-kali dalam mimpi buruknya. Ia tahu apa yang akan terjadi.
Telapak tangannya menyentuh batu.
Sesaat, keheningan menyelimuti seluruh panggung.
Lalu…
Tak ada apa-apa.
Tidak ada cahaya. Tidak ada getaran. Tidak ada suara gemuruh qi langit dan bumi yang seharusnya mengalir masuk.
Batu itu tetap diam seperti batu biasa.
Beberapa detik berlalu.
Lalu tiba-tiba, sebuah suara retak kecil terdengar.
Crack… crack…
Retakan kecil muncul di permukaan batu, tepat di bawah telapak tangan Lin Feng. Retakan itu menyebar perlahan, seperti laba-laba yang merayap.
Tetua Lin Huo membelalak.
“Batu… retak?”
Desas-desus langsung meledak di bawah panggung.
“Apa-apaan ini?!”
“Dantian rusak sampai bisa merusak batu uji?!”
“Itu… mustahil!”
Patriark Lin Tianhao berdiri dari kursinya. Wajahnya pucat. Matanya menatap Lin Feng dengan campuran kekecewaan, kemarahan, dan… rasa malu.
Lin Feng menarik tangannya perlahan. Telapak tangannya terasa dingin. Ia menatap retakan di batu itu, lalu menatap ayahnya.
“Ayah… aku—”
“DIAM!”
Bentakan Lin Tianhao menggema seperti petir.
“Lin Feng! Kau… kau telah mencemarkan nama baik keluarga Lin!”
Suara itu seperti cambuk yang menghantam dada Lin Feng.
Lin Huo melangkah maju, menunjuk wajah Lin Feng dengan jari gemetar.
“Dantianmu rusak total! Meridianmu tersumbat sepenuhnya! Bahkan qi langit dan bumi tingkat terendah pun tak bisa masuk! Kau bukan hanya sampah… kau adalah kutukan bagi keluarga ini!”
Tawa keras meledak dari barisan generasi muda.
Lin Hao, saudara tiri Lin Feng yang berusia 14 tahun, melangkah maju sambil tersenyum sinis. Dantiannya baru saja diuji—kelas langit tingkat tinggi. Ia adalah bintang baru keluarga.
“Kakak sulung… sepertinya kau memang ditakdirkan jadi penutup pintu gudang obat seumur hidupmu. Jangan khawatir, aku akan memastikan kau mendapat jatah nasi setiap hari.”
Tawa semakin keras.
Lin Mei, tunangan Lin Feng dari keluarga cabang sekte Bunga Salju, berdiri di sisi panggung. Wajah cantiknya yang biasanya lembut kini dingin seperti es. Ia melangkah maju, suaranya jelas terdengar oleh semua orang.
“Patriark Lin, aku datang hari ini untuk menyaksikan upacara. Tapi setelah melihat ini… aku rasa pertunangan antara aku dan Lin Feng harus dibatalkan. Sekte Bunga Salju tidak bisa menerima suami yang bahkan tidak bisa membuka dantian.”
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk tepat di jantung Lin Feng.
Ia menatap Lin Mei. Gadis yang dulu pernah tersenyum manis padanya saat kecil, yang pernah berjanji akan menemaninya menaklukkan dunia kultivasi.
Kini matanya hanya penuh kebencian dan jijik.
Lin Feng membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.
Ia hanya bisa berdiri di sana, dikelilingi tawa, hinaan, dan tatapan kecewa.
Patriark Lin Tianhao menghela napas panjang. Suaranya berat saat berbicara.
“Lin Feng… mulai hari ini, kau tidak lagi mendapat jatah sumber daya kultivasi dari keluarga utama. Kau boleh tinggal di paviliun belakang gunung sebagai… pelayan biasa. Jangan harap ada lagi harapan untukmu.”
Kata-kata itu adalah vonis mati bagi seorang pemuda di dunia kultivasi.
Lin Feng menunduk. Rambut hitamnya menutupi matanya.
Di dalam dadanya, sesuatu mulai bergerak.
Bukan qi.
Bukan harapan.
Melainkan… bara kecil yang selama ini ia pendam.
Bara itu bernama kebencian.
Bara itu bernama dendam.
Dan bara itu… mulai menyala.
Malam itu, setelah upacara usai dan kerumunan bubar, Lin Feng berjalan sendirian menuju paviliun kecil di belakang gunung. Paviliun yang dulu adalah tempat penyimpanan kayu bakar, kini menjadi “kamar” barunya.
Ia duduk di atas jerami kering, menatap bulan sabit di langit.
Air mata tak jatuh. Ia sudah kehabisan air mata sejak tiga tahun lalu.
Yang ada hanyalah suara dalam kepalanya yang semakin keras.
“Kenapa aku?”
“Kenapa harus aku yang seperti ini?”
“Apakah langit benar-benar membenciku?”
Tiba-tiba, angin malam berhembus dingin. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh samar—seperti api yang terbakar di dalam gua.
Lin Feng mengangkat kepala.
Di belakang paviliun, ada sebuah gua terlarang yang sudah ditutup puluhan tahun. Konon, di dalamnya pernah terjadi pertempuran besar ribuan tahun lalu, dan api abadi pernah menyala di sana sebelum akhirnya padam.
Tetua keluarga melarang siapa pun mendekat.
Tapi malam ini…
Lin Feng berdiri.
Matanya memerah.
“Jika langit tak memberiku jalan… maka aku akan menciptakan jalanku sendiri.”
Ia melangkah menuju gua terlarang itu.
Langkahnya ringan, tapi di dalam dadanya, bara kecil itu mulai membesar.
Dan tanpa ia sadari…
Di dalam kegelapan gua yang sudah lama mati itu, sesosok kesadaran kuno mulai terbangun.
Secercah api merah samar menyala di kedalaman lautan abu.
“Anak ini… memiliki api kebencian yang paling murni yang pernah kulihat dalam ribuan tahun.”
Suara itu bergema pelan, seperti hembusan angin dari neraka.
“Baiklah… kau akan menjadi pewarisku.”
Api itu mulai bergerak, perlahan menuju permukaan.
Dan Lin Feng, tanpa tahu apa yang menantinya, terus melangkah masuk ke dalam kegelapan.
Malam itu, nasib seorang Tuan Muda Sampah… mulai berubah selamanya.