Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Barter Kepentingan
Minggu-minggu menjelang simulasi ujian nasional pertama selalu menjadi waktu yang paling tidak bersahabat bagi siswa kelas tiga. Namun, bagi Senara, tekanan itu bertambah dua kali lipat saat Maria memanggilnya ke ruang guru dengan wajah yang sedikit bimbang.
"Nara, ini soal Portofolio Integrasi untuk jalur undangan di SMA Garuda," ujar Maria sambil menunjukkan berkas resmi. "Pihak Garuda meminta laporan kolaborasi mendalam antara kamu dan Bima sebagai pemenang lomba nasional kemarin. Mereka ingin melihat bagaimana dua pemikiran terbaik ini bekerja sama dalam satu proyek akhir."
Senara mengerutkan kening. "Bukankah nilai ujian dan piala kami sudah cukup, Bu? Mereka juga sudah memastikan, bahwa nilai yang saya punya bisa membawa saya masuk ke sekolah itu dengan mudah. Mereka juga bilang, kalau bakat yang saya punya adalah yang paling di cari di SMA Garuda?"
"Tahun ini aturannya lebih ketat, Nara. Mereka ingin memastikan bahwa calon siswa mereka bukan hanya pintar secara individu, tapi juga bisa berkolaborasi dan bekerjasama dengan baik. Masalahnya..." Maria ragu sejenak. "Bima sudah mengajukan proposal pengerjaan proyek ini. Dia ingin pengerjaannya dilakukan di bawah pengawasannya agar datanya valid dan bisa langsung diunggah ke sistem pusat Garuda lewat jalur khusus keluarganya."
Senara mengepalkan tangannya di bawah meja. Ini jelas hanya akal-akalan Bima, agar ia bisa lebih leluasa mengatur dan mengawasinya.
Keesokan harinya, di perpustakaan kota yang sepi, Bima duduk dengan kaki menyilang, menatap Senara yang baru saja datang dengan wajah penuh permusuhan.
"Aku tahu kamu pasti tidak suka ini," ujar Bima tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Tapi pilihannya sederhana. Kita kerjakan ini di rumahku dengan fasilitas yang memadai, atau portofolio ini tidak akan pernah selesai tepat waktu, dan kamu harus masuk Garuda lewat jalur tes reguler yang sangat berisiko. Tapi aku yakin, kamu pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini dengan mudah, karena kamu tidak mau semua perjuangan kamu selama ini berakhir sia-sia."
"Kamu sengaja membuat aturan ini, kan?" desis Senara.
"Aku hanya mempermudah jalur kita, Senara. Di rumahku, aku punya akses ke jurnal internasional yang tidak bisa kamu buka di warnet kumuh itu. Lagipula, aku tidak punya waktu untuk belajar di tempat yang tidak memiliki pendingin ruangan, kulitku ini sedikit sensitif," balas Bima dengan keangkuhan yang sudah menjadi ciri khasnya.
Senara menatap Bima dengan tajam, ia tahu Bima sedang memasang perangkap. Bima ingin dia berada di tempat di mana Bima memegang kendali penuh. Namun, Senara juga tahu bahwa ia tidak boleh mempertaruhkan kesempatan masuk ke Garuda Nusantara. Jalur undangan adalah harga mati baginya untuk menghemat biaya pendaftaran yang sangat besar. Kalau dia bisa masuk lewat jalur undangan, dia akan menghemat lebih banyak karena tidak sepenuhnya biaya sekolah ditanggung oleh beasiswa.
"Satu syarat," ujar Senara dingin. "Kita hanya akan mengerjakan proyek itu. Tidak ada interogasi, tidak ada drama teknologi, dan kamu tidak boleh menjemputku dengan mobil mencolokmu itu di depan rumahku."
Bima tersenyum miring. "Deal. Sopirku akan menunggumu di depan minimarket di ujung Blok 4. Besok, jam empat sore."
Sore itu, untuk pertama kalinya, Senara melangkahkan kaki keluar dari dunianya yang sempit menuju wilayah kekuasaan Bima. Di sepanjang perjalanan menuju kawasan elit di perbukitan kota, Senara hanya diam menatap keluar jendela. Ia melihat bagaimana jalanan mulai berubah dari aspal yang berlubang menjadi jalan mulus yang dipayungi pepohonan rindang.
Rumah Bima lebih mirip istana modern daripada tempat tinggal. Begitu pintu gerbang otomatis terbuka, Senara merasakan aura teknologi yang sangat kuat. CCTV dengan sensor gerak yang mengikuti setiap langkahnya sejak ia turun dari mobil.
Bima menunggunya di teras luas yang menghadap ke kolam renang. Di atas meja marmer, sudah ada dua laptop kelas atas yang menyala, tumpukan referensi, dan camilan mewah yang tidak pernah Senara lihat sebelumnya.
"Silakan duduk, Senara. Selamat datang di dunia nyata," sindir Bima.
Senara tidak menunjukkan ekspresi kagum. Ia langsung duduk dan mengeluarkan buku catatannya yang lusuh. "Bisa kita mulai sekarang? Aku tidak punya banyak waktu."
Selama berjam-jam, mereka terjebak dalam adu argumen yang cerdas. Bima dengan logikanya yang tajam dan akses data yang tak terbatas, sementara Senara dengan intuisi dan kemampuan analisisnya yang melampaui teori buku teks. Bima berkali-kali mencoba memancing Senara untuk menggunakan komputer miliknya yang sudah ia pasangi alat pemantau khusus.
"Gunakan laptop ini, Senara. Risetmu akan juah lebih cepat," ujar Bima, menggeser sebuah perangkat super tipis ke arah Senara.
"Tidak perlu. Aku sudah punya semua datanya di sini," sahut Senara, menunjuk kepalanya sendiri. "Teknologi hanya alat untuk orang yang malas berpikir."
Bima mendengus. "Atau kamu hanya takut kalau aku tahu bagaimana cara kerjamu?"
Pertarungan mental itu terus berlangsung hingga malam. Tanpa mereka sadari, mereka adalah dua kutub yang saling menolak namun secara teknis saling melengkapi dalam pengerjaan proyek tersebut. Bima mulai menyadari satu hal, Senara bukan hanya pintar karena buku-buku yang dia baca, tapi dia memiliki cara pandang yang sangat unik terhadap masalah, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Di tengah sesi belajar, Bima sengaja meninggalkan Senara sendirian untuk mengambil minuman, sementara ia memantau dari ruang kontrol di dalam rumah. Ia ingin melihat apa yang dilakukan Senara saat tidak diawasi.
Di layar CCTV, ia melihat Senara hanya diam, menatap kolam renang dengan pandangan kosong. Namun, tiba-tiba, seluruh sistem keamanan di ruang kontrol Bima berbunyi pelan. Sebuah notifikasi muncul: [EXTERNAL INTERFERENCE DETECTED].
Bima tertegun. Ia melihat Senara di layar, gadis itu bahkan tidak menyentuh laptop atau ponselnya. Ia hanya duduk diam sambil memegang botol minumnya.
"Sial! Dari mana gangguan itu berasal?" batin Bima.
Bima kembali ke teras dengan wajah setenang mungkin. "Sudah malam, sebaiknya kamu pulang sekarang."
Senara langsung membereskan barang-barangnya. "Bagus, aku juga sudah muak dengan udara di sini."
Saat Senara berjalan menuju mobil jemputan, ia merogoh saku jaketnya, mecoba mengumpulkan kembali energinya yang hilang lewat gantungan robot kecil yang selalu ia bawa, seolah itu adalah jimat keberuntungan. Ia merasakan permukaan robot itu terasa sedikit hangat, namun ia menganggapnya itu hanya karena suhu tubuhnya sendiri.
Senara tidak tahu bahwa robot itu baru saja melakukan "jabat tangan digital" yang sangat agresif dengan firewall rumah Bima, memastikan tidak ada satu pun malware pelacak dari rumah itu yang menempel pada barang-barang Senara.
Di teras, Bima berdiri menatap mobil yang membawa Senara pergi. Ia mengepalkan tangannya. "Kamu tidak membawa apa-apa, tapi kamu meninggalkan jejak yang merusak sistemku, Senara. Permainan akan menjadi sangat menarik, lebih dari yang aku bayangkan."