Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tagihan tak terduga.
Hujan malam ini sangat deras, membuat suasana apartemen Nana terasa jauh lebih hening dari biasanya. Setelah menghabiskan waktu bersama Gani di kantor Stellar, Nana pulang dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, meski bayangan wajah Aska yang melewatkan masakannya tetap mengganggu di sudut pikirannya.
Ia baru saja hendak mematikan lampu kamar ketika ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan singkat masuk. Bukan dari Bapak, bukan pula dari Gani.
Aska: [Kau sedang senggang, kan? Besok bisa temui aku di kantor?]
Nana menghela napas. "Apalagi ini? Biasanya dia memanggil hanya untuk urusan kerjaan. Kali ini entah apalagi yang salah."
Keesokan harinya, Nana tiba di gedung firma hukum Aska tepat pukul delapan. Ia mengenakan blus sederhana namun rapi, rambutnya diikat kuda, memberikan kesan profesional yang selama ini selalu ia coba bangun di depan Aska. Saat melewati meja Siska, ia melihat asisten Aska itu sedang menahan senyum penuh arti.
"Semoga beruntung, Nana. Pak Aska sepertinya sedang tidak mood karena kopi paginya terasa hambar," bisik Siska jenaka.
Nana mengerutkan kening. "Hambar? Bukankah dia selalu minum kopi hitam tanpa gula?"
"Entahlah. Mungkin dia butuh sesuatu yang lebih 'gurih' semalam," sahut Siska sambil mengedipkan mata.
Nana tidak sempat membalas karena pintu ruangan Aska sudah terbuka. Aska berdiri di sana, tanpa jas, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, tampilan yang selalu sukses membuat Nana merasa terintimidasi sekaligus terpaku.
"Masuk," perintah Aska singkat.
Nana melangkah masuk ke ruangan yang beraroma kayu cendana dan kertas itu. Di atas meja Aska, tidak terlihat tumpukan berkas hukum seperti biasanya.
"Duduklah," ujar Aska sambil kembali ke kursinya. Ia tidak langsung membahas naskah. Ia justru menatap Nana dengan intensitas yang membuat Nana salah tingkah.
"Aku dengar kemarin kau memasak," ujar Aska tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris menyerupai geraman halus.
Nana tersentak. Ia mengira mereka akan langsung membahas sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. "Ah, itu... iya. Aku ikut kelas memasak kilat. Aku ingin mencoba menu baru untuk mengisi waktu luang."
"Dan kau memberikannya pada Gani?" tanya Aska lagi. Satu alisnya terangkat.
"Siska bilang Abang sedang pergi. Daripada masakannya mubazir dan dingin, aku memberikannya pada Gani. Dia sedang lembur dan belum makan siang," Nana menjelaskan dengan jujur, meski ia merasa seperti sedang disidang di ruang pengadilan.
Aska terdiam lama. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja jati itu dengan irama yang membuat Nana gugup. "Gani bilang masakanmu enak?"
Nana mengangguk ragu. "Katanya begitu. Dia bahkan bilang aku cocok jadi koki kalau bosan menggambar."
Aska mendengus pelan, sebuah tawa getir yang sangat tipis. "Dia memang selalu bicara berlebihan. Tapi, Nana, bukankah kau bilang itu adalah bentuk 'apresiasi' untukku?"
"Iya, Bang. Tapi Abang kan tidak ada di tempat," bela Nana.
"Lalu kenapa kau tidak menungguku? Atau setidaknya meninggalkannya di meja Siska?" Aska memajukan tubuhnya, menatap Nana tepat di manik mata. "Kau tahu, aku melewati makan siang kemarin. Dan saat aku pulang, aku hanya mendapati laporan bahwa apa yang seharusnya jadi milikku, jadi milik orang lain."
Nana terpaku. Apakah Aska baru saja mengakui bahwa dia cemburu? Atau dia hanya merasa "haknya" diambil?
"Maaf, Bang. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya pikir Abang tidak akan tertarik dengan masakan rumahan seperti itu," cicit Nana. Dalam hati Nana mencibir, 'Dulu waktu aku masih tunangan Tris, aku pernah memberikan makan siang, tapi kau memberikan itu ke staf lain.'
Aska menghela napas panjang, meredakan ketegangan di bahunya. "Lain kali, jika kau membuat sesuatu untukku, jangan pernah berikan pada orang lain. Jika aku tidak ada, simpan di kulkas kantorku. Mengerti?"
"Mengerti, Bang," jawab Nana patuh, meski di dalam hatinya ia merasa ingin tertawa karena melihat sisi kekanak-kanakan seorang pengacara hebat ini.
"Bagus. Sekarang kita bahas alasan sebenarnya aku memanggilmu," Aska mengubah suaranya kembali menjadi profesional, seolah percakapan tentang makanan tadi tidak pernah terjadi. "Gani memberitahuku bahwa kau berencana berhenti menulis setelah proyek ini selesai dan ingin lanjut S2 DKV?"
Nana sedikit terkejut Gani secepat itu melapor. "Iya. Aku rasa itu pilihan terbaik. Aku ingin fokus pada visual. Aku ingin tangan ini fokus menghidupkan imajinasi, bukan memikul beban alur cerita yang melelahkan."
Aska menatap Nana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pilihan yang logis, tapi sangat disayangkan. Kau punya insting narasi yang tajam, Nana. Jarang ada ilustrator yang paham bagaimana membangun tensi dalam sebuah panel cerita."
"Aku hanya ingin hasil yang maksimal, Bang. Mengejar langkahmu dengan cara menjadi 'serba bisa' itu melelahkan. Aku ingin ahli di satu bidang yang paling aku cintai," sahut Nana mantap.
Aska mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Jika itu keputusanmu, aku tidak akan melarang. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa lagi, Bang?"
"Selama masa studi S2-mu nanti, kau tetap harus menjadi konsultan visual eksklusif untuk firma hukumku dan proyek Stellar. Aku tidak mau ada orang lain yang menyentuh estetika hukum dari kasus-kasus besarku selain kau."
Dalam kasus-kasus besar (seperti pembunuhan atau korupsi yang ditangani Aska), pengacara sering butuh Presentasi Grafis. Contoh: Nana diminta membuat ilustrasi rekonstruksi kejadian, diagram alur transaksi keuangan yang rumit, atau anatomi luka dalam bentuk visual yang mudah dipahami hakim dan juri.
Nana terbelalak. Itu bukan syarat, itu adalah tawaran pekerjaan jangka panjang yang menjamin masa depannya. "Abang serius?"
"Aku tidak pernah bercanda soal kontrak," sahut Aska dingin, meski matanya menunjukkan sedikit binar kepuasan. "Dan sebagai kompensasi karena kemarin aku melewatkan Beef Stroganoff itu ... malam ini kau harus memasaknya lagi. Dan kali ini, pastikan hanya ada satu porsi di meja makan."
Nana terpana. "Maksudnya ... Abang mau aku masak di mana?"
"Di apartemenku," ujar Aska santai sambil kembali fokus pada layar monitornya. "Aku akan menjemputmu jam tujuh. Jangan terlambat, dan jangan bawa Gani."
Nana keluar dari ruangan Aska dengan kaki yang terasa lemas. Ia melewati Siska yang kini tertawa kecil tanpa suara. Nana menyadari bahwa rencananya untuk "bersantai" setelah masa sibuk sepertinya gagal total. Ia baru saja menandatangani kontrak tak tertulis yang jauh lebih mengikat daripada sekadar HAKI atau proyek film.
Malam itu, apartemen Aska terasa sangat mewah namun sunyi. Nana berdiri di dapur yang didominasi warna hitam dan marmer, merasa sangat kaku. Ini adalah pertama kalinya ia berada di ruang pribadi Aska yang sesungguhnya.
Aska duduk di meja makan, masih mengenakan kemeja kerjanya namun dengan kancing atas yang terbuka. Ia memperhatikan Nana yang sedang sibuk memotong jamur dengan sangat telaten.
"Kau sudah menelpon bapakmu?" tanya Aska tiba-tiba.
Nana tersentak. "Belum. Terakhir yang mengangkat adalah ibu tiriku. Sepertinya bapak sedang sangat sibuk di ladang."
Aroma gurih mulai memenuhi ruangan. Aska menghirup aroma itu dan entah mengapa, rasa lapar yang ia rasakan bukan hanya soal perut, tapi soal kerinduan akan kehangatan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan di rumah besarnya sendiri.
Saat masakan disajikan, Aska mencicipinya dalam diam. Nana menunggu dengan cemas, meremas ujung celemeknya.
"Bagaimana, Bang?"
Aska meletakkan garpunya, lalu menatap Nana lama. "Gani benar. Kau seharusnya buka restoran saja."
Nana tersenyum lebar, rasa bangga menyelimuti hatinya. Namun, kalimat Aska berikutnya membuat senyum itu membeku.
"Tapi itu akan membuang bakatmu. Tetaplah menjadi ilustratorku, Nana. Tetaplah di jangkauanku agar aku tidak perlu lagi merasa iri pada Gani hanya karena masalah makanan."
Nana terdiam. Sikap Aska berubah-ubah, dia seperti sebuah warna di antara hitam dan putih. Sebenarnya dia menyukai Nana atau tidak? Nana segera menggelengkan kepalanya. Jika Aska tidak tertarik padanya, dia tidak akan memberikan kesempatan pada Nana. Bisa saja Aska sendiri tidak tahu jawabanya.
Istri ideal Aska ialah seperti Vanya, tapi ia tidak dapat membohongi perasaan bahwa ia tidak memiliki ketertarikan terhadap wanita itu.
Bersambung....