NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Potongan yang Belum Sempurna

Malam semakin larut.

Koridor rumah sakit yang tadi dipenuhi doa dan tangis kini perlahan kembali sunyi. Satu per satu orang mulai berpamitan, meninggalkan ICU dengan hati yang masih menggantung pada mesin-mesin yang menjaga hidup Valeria.

Sofía mencium kaca ICU sebelum melangkah pergi. Miguel memeluk bahu istrinya erat. Mereka diantar oleh sopir pribadi Alexander menuju apartemen yang telah disiapkan, tubuh mereka lelah, jiwa mereka lebih lelah lagi.

“Besok kita kembali lagi,” bisik Sofía lirih, seolah Valeria bisa mendengarnya.

Daniel membantu ibunya mengenakan mantel.

“Pulanglah, Mama. Istirahat,” ucapnya lembut pada Isabella.

Isabella mengangguk pelan. Tatapannya masih tertinggal di balik kaca ICU.

“Ada sesuatu pada gadis itu, Daniel…” gumamnya. “Entah kenapa hati Mama terasa… dekat.”

Daniel terdiam. Ia sendiri merasakan hal yang sama, tapi ia tak tahu bagaimana menjelaskannya.

Ia mengantar ibunya pulang ke rumah mereka di Manhattan, sepanjang perjalanan pikirannya dipenuhi wajah pucat Valeria yang terbaring tak berdaya.

Di sisi lain, Alexander justru kembali masuk ke ruang perawatannya sendiri. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, luka dan ketegangan hari ini membuatnya kelelahan luar biasa.

Namun sebelum itu, ia berdiri beberapa menit di depan kaca ICU.

Menatap Valeria.

“Aku tidak akan kalah,” bisiknya pelan. “Kau harus bertahan.”

Bukan lagi tentang persaingan dengan Daniel.

Kini hanya tentang hidup atau mati.

Camille masih berdiri sendirian di sana. Matanya sembab, wajahnya pucat.

Ia menatap sahabat yang hampir kehilangan nyawa itu dengan dada sesak.

“Aku belum minta maaf…” lirihnya. “Jangan pergi sebelum aku sempat memperbaiki semuanya.”

Ia mengusap air matanya cepat. Besok pagi ia harus praktik di rumah sakit ini. Ia harus kuat.

Perlahan ia melangkah pergi.

Koridor akhirnya benar-benar sunyi.

Namun tidak untuk dua pria yang kini berdiri di depan pintu sebuah ruangan di lantai atas.

Vincenzo mengetuk pintu itu.

“Masuk.”

Suara berat dan tegas terdengar dari dalam.

Ruangan itu milik Profesor Eduardo.

Lampu meja menyala redup, berkas-berkas medis masih terbuka. Eduardo berdiri di dekat jendela, menatap gemerlap Manhattan yang tak pernah tidur.

Vincenzo masuk perlahan.

Sudah lama mereka tak berbicara sedalam ini.

“Aku berterima kasih atas apa yang kau lakukan tadi,” ucap Vincenzo tulus.

Eduardo menghela napas.

“Aku hanya melakukan tugasku sebagai dokter.”

“Tapi kau jarang sekali turun tangan langsung,” balas Vincenzo pelan.

Hening.

Eduardo akhirnya duduk, melepas kacamatanya.

“Kau ingin tahu kenapa aku melakukannya?”

Vincenzo menatapnya.

“Ya.”

Eduardo terdiam sejenak. Wajah Valeria terlintas lagi di benaknya. Entah mengapa, saat ia berdiri di meja operasi tadi, ada dorongan kuat yang sulit dijelaskan.

“Gadis itu…” ucapnya pelan, “…memiliki sesuatu yang tidak biasa.”

“Maksudmu?”

“Tatapannya. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, ada kekuatan di sana. Dan saat aku mendengar namanya… Valeria…”

Ia menggantungkan kalimatnya.

Vincenzo ikut terdiam.

Nama itu.

Valeria.

Alessandra Valentina De Luca.

Dua puluh tahun lalu, putri kecilnya yang hilang juga memiliki nama tengah Valentina.

Terlalu banyak kebetulan.

“Atau mungkin,” lanjut Eduardo lebih hati-hati, “kita hanya sedang mencari jawaban dari kehilangan kita masing-masing.”

Vincenzo menunduk.

“Daniel mencintainya,” ucapnya lirih. “Aku bisa melihatnya. Dan anehnya… aku juga merasa dekat dengan gadis itu, padahal aku baru melihatnya hari ini.”

Eduardo menatap sahabat lamanya itu dalam.

“Kau masih menyelidiki kasus Alessandra?”

“Tidak pernah berhenti,” jawab Vincenzo tegas. “Setiap tahun kami datang ke rumah sakit ini… berharap mukjizat. Berharap suatu hari seseorang akan mengenali wajah kami. Atau kami mengenali wajah seseorang.”

Eduardo membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan berkas medis Valeria.

“Tanggal lahirnya… dua puluh tahun lalu. Tidak ada catatan orang tua kandung. Ditemukan di desa kecil, tanpa identitas jelas.”

Jantung Vincenzo berdegup lebih cepat.

“Apakah kau berpikir…?”

“Aku tidak berpikir apa pun,” potong Eduardo cepat. “Aku hanya melihat potongan puzzle yang belum tersusun. Dan terlalu banyak bagian yang tampak… mirip.”

Mereka saling menatap.

Harapan adalah hal paling berbahaya bagi orang tua yang pernah kehilangan anak.

Karena jika itu salah… maka luka lama akan terbuka kembali.

“Jangan beri tahu Daniel dulu,” ucap Vincenzo akhirnya.

“Aku tidak akan mengatakan apa pun sebelum semuanya jelas.”

"Aku melihat Alexander terpuruk saat kondisi gadis itu tidak stabil, apa itu artinya Anakmu mencintainya juga?" ucap Vincenzo.

" Ya aku tau itu, bahkan saat Alexander kecelakaanpun pihak polisi menghubungi Gadis itu untuk pertama kalinya,." tawa kecil Eduardo

"Bahkan semua dunia tau Alexander anakku, tetap saja aku kalah dengan Gadis manis itu di posisi terburuk sekalipun". Eduardo menatap wajah sahabat.

Di luar sana, Manhattan tetap bercahaya.

Di ICU, mesin masih berbunyi pelan mengiringi napas Valeria.

Sementara di ruang sunyi itu, dua pria dengan masa lalu yang sama-sama retak, mulai menyadari bahwa mungkin—

Takdir sedang menyusun kembali kepingan yang hilang.

Namun apakah potongan itu benar-benar cocok…

Atau hanya ilusi dari hati yang terlalu lama menunggu?

1
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!