NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 : Di Ambang Cahaya yang Ragu.

Udara di lereng mendadak menurun, dinginnya merambat pelan seperti ingatan yang datang tanpa diundang. Garis bukit yang tadi masih tegas kini luluh ke dalam senja, warnanya surut satu per satu, seakan ditarik kembali oleh malam yang belum sepenuhnya tiba.

Di kejauhan, titik-titik cahaya lahir dengan ragu, mula-mula satu, lalu yang lain menyusul, biru pucat dan gemetar, goyah dihembus angin.

Dari tempatku berdiri, nyala-nyala itu tampak kecil dan terpisah, berkelip tanpa irama, seperti makhluk hidup yang takut bernapas terlalu dalam. Bayangan tebing memanjang perlahan, menelan jarak di antaranya, membuat tiap cahaya seolah bergantung pada satu detik rapuh, cukup bagi malam untuk melangkah lebih dekat dan memadamkannya.

Aku tidak bergerak. Abu meringkuk di sisiku, tubuhnya hangat, napasnya teratur.

Perutku melilit, dan roti kering di dalam kantong terasa lebih ringan dari yang kuingat, seakan sebagian beratnya telah hilang bersama waktu.

Aku memecahkannya dengan jari, memberinya sepotong, lalu menahan sisanya, bukan karena perhitungan, melainkan karena kebiasaan lama menunda sesuatu yang seharusnya segera dihabiskan.

“Kita harus mendekat,” kataku pelan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. “Tapi tidak ceroboh.”

Abu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kepala, telinganya bergerak.

Teriakan datang dari arah perkemahan. Pendek, terpotong, lalu sunyi lagi. Tak lama kemudian tiga sosok meninggalkan lingkar api dan bergerak ke barat. Langkah mereka cepat, teratur. Gadis itu berada di tengah.

Aku menelan ludah. Jari-jariku mulai menghitung tanpa kusadari. Jarak. Waktu. Arah angin. Jika aku bergerak sekarang, menyusuri punggung bukit, aku bisa tiba lebih dulu. Jalur itu sempit, tapi aku sudah menghafalnya sejak siang. Masalahnya hanya satu.

Abu.

Ia mendorong lenganku dengan moncongnya, cukup keras untuk menarik perhatianku. Lalu ia duduk, ekornya melingkar rapi, tatapannya tenang. Tidak ada keraguan di sana, hanya kesabaran yang membuat dadaku terasa lebih sempit.

“Tunggu di sini,” kataku. Aku tidak yakin itu perintah atau permintaan. “Jangan ke mana mana.”

Aku menuruni tebing setapak demi setapak. Tanah basah menahan telapak kakiku, licin, memaksa tubuhku berhenti sesaat di setiap pijakan, seolah bumi sendiri meminta waktu. Aku bergerak pelan, bukan karena ragu, melainkan karena terlalu sadar. Dadaku tidak berdebar liar, tapi juga tak pernah benar benar tenang. Di kepalaku, pikiran datang bersamaan, saling menyalip, lalu berhenti mendadak sebelum berlari lagi tanpa tujuan.

Aku berhenti di balik batang pohon besar yang tumbuh miring di tepi jalur. Kulit kayunya dingin dan lembap menempel di punggungku. Jantungku memukul dada lebih keras dari yang seharusnya, bunyinya terasa terlalu nyaring di telingaku sendiri.

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas perlahan, mengingat suara ayah saat kami bersembunyi di semak untuk mengamati burung.

Jangan kejar. Tunggu. Biarkan dunia yang bergerak lebih dulu.

Langkah kaki mendahului suara.

Dari balik lengkung jalur, tiga bayangan mengalir keluar dari malam yang sudah sepenuhnya berjuang. Dua laki-laki dan Xiao Lu. Yang tertua berjalan dengan bahu sedikit turun, bukan karena lelah, melainkan karena beban yang sudah lama ia kenal. Yang muda bergerak kaku, tiap langkahnya seakan diukur ulang, seperti tubuhnya belajar berjalan di bawah tatapan tak terlihat.

Percakapan mereka rendah, tapi udara di lereng tidak cukup tebal untuk menyimpannya.

“Jejak pertempuran masih hangat,” kata yang tua. “Dua hari. Mungkin kurang. Alirannya tidak rapi.”

“Xue Gou?” suara yang muda tipis, waspada.

“Siapa lagi.”

“Kalau begitu kenapa dia belum pergi?”

Langkah mereka melambat.

“Ada yang tertinggal,” ujar Xiao Lu. Tidak meninggi, tidak menekan. Kata-katanya jatuh seperti batu kecil ke air tenang. “Atau seseorang.”

Mereka berhenti.

Sisa cahaya api unggun merayap sampai ke wajahnya. Nyala itu menyingkap garis rahang yang tegas dan bekas luka kecil di dagunya. Luka lama. Tidak disembunyikan, tidak pula dijadikan tanda jasa. Pada saat itu aku sadar tanganku bergetar. Aku menggenggamnya di balik kain, menahan getaran itu agar tidak menjalar ke lutut.

Matanya bergerak.

Hanya sekilas.

Lalu berhenti tepat di tempatku berdiri.

“Siapa di sana?” katanya. “Keluar.”

Tangannya telah berada di gagang pedang sebelum kalimat itu selesai. Dua lelaki di sisinya bergeser serempak, posisi berubah tanpa suara, seperti ingatan lama yang bangkit di tubuh.

Aku melangkah keluar sebelum kakiku sempat memilih arah lain.

“Maaf,” kataku. Lidahku terasa kering, seperti debu yang lupa bentuk air. “Aku tersesat.”

Kata itu kosong bahkan sebelum sepenuhnya lahir.

Xiao Lu menatapku tanpa berkedip. Pandangannya menyusuri pakaianku yang robek, luka di lengan dan paha, lalu berhenti pada sesuatu di sekitarku yang bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana menamainya. Aku merasa seperti tanah yang baru dibuka, masih mentah, belum dipadatkan oleh waktu, mudah runtuh jika diinjak terlalu keras.

“Tersesat,” ulangnya pelan. “Di wilayah ini?”

Lelaki tua mendekat. Ia tidak menyentuhku, tapi jaraknya cukup dekat untuk membuat kulitku bereaksi lebih dulu daripada pikiranku.

“Persimpangan Kelindang,” katanya. “Debu abu-abu di lengannya. Jejak Xue Gou.”

Xiao Lu mengangguk singkat.

“Namamu?”

“Ling Feng.”

“Asalmu?”

“Jinglan.”

Yang muda mengernyit. “Desa di lembah selatan?”

Aku mengangguk. Kepalaku terasa berat, seolah leherku menahan beban yang tidak sepadan dengan tubuh.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Jawaban berdesakan, saling mendahului, lalu runtuh sebelum sempat menjadi kata.

“Aku tahu di mana Xue Gou terakhir terlihat.”

Keheningan jatuh, tipis tapi tegang.

Xiao Lu melangkah mendekat. Api memantul di matanya, membuat sorotnya hidup namun sulit dibaca.

“Katakan.”

“Persimpangan Sungai Kelindang. Tapi dia mungkin sudah pergi. Setelah kereta benderanya terbakar.”

“Terbakar?” suara lelaki tua menajam.

“Aku mendengar teriakan anak buahnya. Seseorang menolongku saat dia lengah.”

“Kami tidak melakukannya,” kata Xiao Lu. “Kami baru tiba pagi ini. Jadi siapa yang mengejarnya selain Sekte Cang Huo Zong kami?”

Nama itu menggema di dadaku. Wajah Wei Zhang muncul, lalu lenyap. Kata-katanya tentang sesuatu yang diambil dan sesuatu yang ditinggalkan berputar tanpa arah. Aku menutup mulut rapat-rapat. Pikiran itu belum siap dilepaskan ke udara.

“Kau bertahan melawannya?” tanya Xiao Lu.

Aku mengangguk tipis. Gerakan itu menarik luka di punggungku. Napasku tersendat, tapi aku memaksanya tetap di tempat.

“Xue Gou hampir mencapai Ningjing,” katanya. “Dan kamu masih berdiri.”

“Aku tidak menang.” Bahuku terangkat sedikit, lalu turun saat nyeri menyusul.

“Tapi kau hidup.”

Aku diam. Kata itu terlalu besar untuk dibawa sendirian.

“Bantuan dari siapa?” tanyanya.

“Dari bumi.”

Kejujuran itu keluar tanpa izin.

“Kau kultivator alam?” Yang muda mendengus. “Langka.”

“Aku tidak tahu apa aku kultivator atau bukan,” kataku. “Aku hanya… petani.”

“Petani bisa bertahan dari Xue Gou?” gumamnya.

Xiao Lu mengangkat tangan, menghentikannya. Ia menatapku lagi, lebih lama, seolah menimbang sesuatu yang tidak bisa disentuh.

“Kenapa kau memberitahu kami?”

“Karena tujuan kita sejalan,” jawabku. “Kalian mengejar Xue Gou. Aku hanya ingin memastikan dia tidak kembali ke tempat seperti rumahku.”

Bayangan Jinglan melintas. Jika aku pulang sekarang, Xue Gou akan menemukan jalannya ke sana. Dan orang-orang di lembah tak punya apa pun untuk menolaknya.

Xiao Lu mengangguk.

“Kau harus bertemu Shifu,” katanya. “Pemimpin rombongan kami. Dia perlu mendengarmu sendiri.”

Aku menoleh ke arah tebing. Ke tempat Abu menunggu. Batu-batu di bawah kakiku terasa rapuh, seolah satu langkah salah bisa mengubah berdiri menjadi jatuh.

Sesaat aku tidak tahu apakah aku maju, atau hanya terlalu lelah untuk mundur.

Dadaku kosong dan penuh sekaligus, seperti paru-paru yang lupa bagaimana caranya bernapas tanpa rasa takut.

Aku menghela napas. Panjang. Tidak rapi.

Inilah batas itu. Antara hutan yang kejam tapi jujur, dan dunia manusia yang tertata namun menyimpan harga di setiap kebaikan.

“Aku setuju,” kataku akhirnya. Suaraku terdengar lebih mantap daripada isi dadaku. Ada jeda sebelum aku melanjutkan. “Tapi ada satu hal.”

Lelaki tua itu menoleh.

“Apa?”

Aku meremas jariku sendiri, mencari rasa sakit kecil agar tetap di tempat.

“Aku punya teman. Dia terluka. Aku tidak bisa meninggalkannya.”

“Teman?” alisnya menyempit. “Di mana?”

Aku menunjuk ke arah tebing.

“Di atas sana. Tapi dia … berbeda.”

Xiao Lu menatapku lama, seolah mencari celah terakhir yang belum retak. Lalu ia mengangguk.

“Bawa kami ke sana.”

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!