Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Pulang dan Pernikahan
Waktu berjalan begitu lambat bagi Nadira yang harus kerja keras nyari ongkos pulang. Sudah dua minggu dia bekerja di warung makan. Tubuhnya yang kurus makin kurus. Wajahnya kusam dan pucat, seolah darah pun mengkhianatinya.
Telapak tangannya kapalan dan terdapat beberapa luka akibat menimba air. Selain itu, area tangannya juga ada beberapa yang menghitam karena terkena panas saat memasak.
"Bu, ini yang terakhir, kan?"
Nadira berjalan sempoyongan mengangkat air dari ember. Tubuhnya terduduk lemah begitu tiba di hadapan Dewi. Napas perempuan itu tersengal-sengal.
"Iya. Tapi itu cucian piring masih ada. Kamu cuci dulu sebelum pulang, ya," titah Dewi yang tengah memasak makanan terakhir.
Nadira mengangguk. Namun, dia tidak langsung bangkit. Memilih mengistirahatkan tubuh sesaat sambil bersandar ke dinding.
"Gini amat nyari uang. Padahal upahnya nggak seberapa," keluh Nadira sembari memegangi kepala.
"Dulu waktu Mas Arga kasih aku uang, padahal lebih dari ini, aku selalu marah-marah karena merasa nggak cukup buat memenuhi kebutuhan rumah," bisik Nadira lirih, bibirnya bergetar menahan isak tangis.
Kini, uang lima puluh ribu terasa seperti harta karun, itupun harus dia tabung. Setiap malam, tangannya terasa gemetar dan kaki pegal seperti dipukul-pukul.
"Nadira! Jangan melamun. Cepat kerjakan. Nanti keburu Magrib!" titah Dewi.
Dengan sisa tenaga, Nadira bangkit dengan perlahan. Kedua kakinya gemetaran saat berjalan menuju bak cucian. Tumpukan piring kotor dan berminyak menggunung. Air sabun menghitam karena bercampur dengan sisa nasi dan kuah.
Nadira merasakan tangannya kembali perih saat terkena busa sabun. Luka yang belum kering terasa seperti disayat kembali.
Ia mengigit bibir menahan sakit.
"Tinggal beberapa hari lagi, aku harus kuat," batin Nadira lalu ia menangis tanpa suara.
Malam harinya...
Nadira menghitung uang hasil kerjanya dengan hati-hati. Tangannya gemetar.
"Lima puluh, seratus, seratus lima puluh..."
"Nadira, kamu yakin mau pulang? Bukannya dulu kamu ke kota cari kerja. Kamu bisa tetap kerja di warung makan itu dan tinggal di sini," kata Sri. Dia tengah menjahit karung yang robek.
Nadira menggeleng tegas. "Nggak bisa, Mbak. Aku harus pulang."
"Suami dan anakku pasti sudah mengkhawatirkan aku karena nggak kasih kabar."
Nadira tiba-tiba termenung. Kalimat itu terdengar seperti penenang, namun terbesit kekhawatiran dalam hatinya.
"Apa mungkin Mas Arga dan Andini mengkhawatirkan aku?" batin Nadira tiba-tiba merasa ketakutan.
"Saat aku hilang kabar saat di rumah Mas Bima dan kembali menghubungi mereka, sepertinya mereka tidak begitu mengkhawatirkan aku."
"Andini bahkan terdengar begitu ceria, apalagi saat bercerita tentang bidan itu."
"Bagaimana jika Andini marah padaku karena udah pergi ninggalin dia?"
"Dan, Mas Arga. Bagaimana jika dia menolakku?"
"Atau...." Tubuh Nadira memegang saat sebuah pikiran buruk terbesit dalam benaknya. Wajahnya pucat pasi.
"Bagaimana jika Mas Arga dan bidan itu?"
Nadira menepis pemikiran itu cepat. "Nggak! Nggak mungkin Mas Arga secepat itu menemukan penggantiku."
"Dan bidan itu nggak mungkin mau sama Mas Arga yang hanya tukang kuli."
Nadira berusaha mengumpulkan kepercayaan dirinya lagi. "Setelah aku kembali, aku akan minta maaf padanya. Mas Arga orang baik, dia pasti bisa memaafkan aku demi Andini."
---
Sementara di desa…
Tenda pernikahan sudah berdiri kokoh di halaman rumah Rini. Kain putih dan janur kuning melambai tertiup angin sore.
Beberapa wanita sibuk menata kursi, bapak-bapak memasang lampu hias. Suara tawa dan obrolan bercampur menjadi satu.
Rumah sederhana itu berubah menjadi rumah bahagia.
Di dalam kamar, Rini sedang duduk di depan cermin. Beberapa gaun tergantung di dinding. Andini berdiri di sampingnya, memandangi setiap pilihan dengan mata berbinar.
"Ibu, Dini juga nanti mau pake mahkota kayak Ibu, ya. Biar kayak princess di TV-TV," pinta Andini yang paling antusias.
"Boleh dong. Andini juga harus tampil cantik nanti. Jadi putrinya Ibu," kata Rini yang memangku tubuh calon anak sambungnya.
Ia tersenyum kecil. Masih tak percaya sebentar lagi akan dipanggil ibu. Lebih tak percaya karena dia akan menikah dengan Arga.
"Ibu, kamar Ibu bagus banget, udah dihias. Nanti Andini boleh tidur di sana nggak sama Ibu?" tanya Andini dengan polos. Matanya berbinar penuh harap.
Rini, sambil mengulum senyuman mengangguk tanpa pikir panjang. "Boleh. Kamu boleh tidur di manapun kamu mau."
"Sama Ibu, ya," rengek Andini sambil memeluk tubuh Rini.
Rini membetulkan anak rambut yang menutupi mata Andini sebelum menganggukkan kepala. "Iya. Nanti kita tidur bertiga," jawab Rini tanpa sadar.
Setelah tersadar, dia jadi malu sendiri dengan ucapannya. "Bagaimana bisa aku kepikiran tidur bareng Mas Arga?"
Sementara Arga, malam itu malah berada di proyek. Acara pernikahan yang semakin dekat tidak membuat dia malas-malasan, malah semakin semangat bekerja karena sebentar lagi dia akan memiliki istri yang harus dia cukupi.
"Mas Arga, mending pulang dan minta izin cuti. Sebentar lagi kan menikah. Kalo sampe jatuh sakit karena kelelahan, nanti saya yang repot haru gantiin Mas Arga di pelaminan," celetuk rekan kerja Arga bergurau.
Arga tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tidak terdengar. Ia kemudian menimpali dengan bumbu humor, "Kalo saya cuma duduk diam, justru makin nggak sabar nunggu hari H, Mas. Makanya saya kerja."
"Udah nggak sabar nikahnya atau malam pengantinnya, Mas?! Inget, jangan terlalu digas!"
Semua orang di sana ikut tertawa, sementara Arga malah memalingkan wajah menatap pada eksavator yang dikelilingi kegelapan malam. Matanya berbinar.
"Saya harap, ini pernikahan terakhir saya. Kali ini, saya akan berjuang keras untuk memperhatikan pernikahan ini," gumam Arga.
---
Pagi ini, Nadira lebih bersemangat karena hari ini akan jadi hari terkahir dia kerja. Rencananya, nanti malam dia akan langsung pulang ke desa.
Rasa lelah dan sakit sudah tak dia rasa demi lima puluh ribu terakhir, yang akan membawanya kembali berkumpul bersama suami dan putrinya.
"Nadira, yakin nggak mau lanjut kerja di sini? Saya naikin deh gaji kamu," bujuk Dewi sembari memperhatikan Nadira yang berdiri di depan kompor dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
"Anak saya udah kangen sama saya, Bu. Suami saya bilang, dia menangis sepanjang malam," dusta Nadira.
Dewi membuang napas panjang. "Padahal saya udah seneng sama kerjaan kamu, meskipun lelet. Setidaknya ada yang bantu saya di sini."
"Tapi, kalo itu udah jadi keputusan kamu. Ya sudah, mau gimana lagi."
Dewi pergi dari ambang pintu, beberapa saat kemudian dia kembali dan mendekat pada Nadira. "Ini upah kamu hari ini. Saya lebihin buat tambah-tambah ongkos dan jajan di jalan. Jangan sampe ilang," kata Dewi.
Meskipun dia keras, tapi bukan berarti dia membenci Nadira.
Nadira menerima uang itu dengan senyuman yang mengembang. "Terima kasih, Bu. Uang ini mau saya belikan boneka buat Andini. Dia pasti seneng banget."
Dewi mengangguk dan pergi meninggalkan Nadira.
Nadira, ia menggenggam uang itu sambil tersenyum lebar. Matanya menerawang jauh, membayangkan reaksi bahagia putrinya saat melihat dia pulang.
"Andini, Ibu mau pulang. Kita bakal tinggal bareng lagi kayak dulu. Tunggu Ibu sebentar lagi, ya."
Bersambung...
bagusan tu nadira pergi jauh2 deh dr hidup arga
guntur deketin nadira aj di larang arga,hawatir yg berlebih bisa memicu kecemburuan bidan rini.
bibit" clbk nh