NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Dalam Tubuh Fariz

Tubuh Fariz gemetar saat mendengar Ratu Kalaputih memanggilnya keluar.

Bukan karena takut. Bukan lagi.

Tapi karena tekanan. Tekanan spiritual yang membuat dia sedikit terkejut. Seperti berdiri di tengah badai yang tidak terlihat tapi terasa di setiap serat tubuh. Udara berat. Napas sesak. Jantung berdetak terlalu keras di dada sampai terdengar di telinga.

Dan karena marah.

Melihat ayahnya di sana. Diapit dua orang anak buahDarmawijaya. Wajahnya pucat. Matanya putih. Tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri.

Melihat orang-orang yang kehilangan sukma. Berdiri dalam barisan dengan mata kosong. Mulut membaca mantra tanpa henti. Seperti boneka yang tidak bisa dimatikan.

Melihat sistem yang sudah ratusan tahun mengorbankan yang lemah untuk yang kuat. Yang menuntut darah untuk kesuburan. Yang meminta nyawa untuk perlindungan.

Tapi kakinya tidak mundur.

Ia melangkah keluar dari barisan. Perlahan. Tegak. Menatap Ratu Kalaputih dengan tatapan yang tidak bergetar.

Darma Wijaya langsung melirik. Menatap Fariz dengan mata yang tajam. Seperti tidak percaya anak muda ini berani berdiri di hadapan Ratu yang ia sembah selama puluhan tahun.

Ratu Kalaputih tertawa.

Suaranya berlapis. Wanita di luar. Tapi ada suara lain di dalam. Lebih tua. Lebih berat. Seperti sesuatu yang sudah hidup terlalu lama dan sudah lupa bagaimana rasanya menjadi manusia.

Menakutkan.

"Kamu pikir bisa menghentikan perjanjian ini, Fariz?"

Ia melayang lebih tinggi. Rambut panjangnya bergerak seperti ada angin, meski tidak ada angin di ruangan ini. Mahkota emas di kepalanya berkilau terkena cahaya obor.

Berputar-putar di udara. Seperti menari. Seolah mengancam Fariz agar ia kecut saat berhadapan langsung dengan penguasa desa ini.

Tapi Fariz tidak mundur.

Ia menatap altar di depan. Di sana, tempat di mana persembahan akan dilakukan. Tempat di mana perjanjian dibuat. Tempat di mana ia harus berdiri dan menyatakan penolakan.

Ia harus sampai di sana.

Hanya di sana doanya akan bekerja.

Fariz mulai berjalan. Satu langkah. Melewati barisan orang-orang yang masih membaca mantra. Dua langkah. Menuju altar.

"Bismillah—"

Kata itu keluar dari mulutnya. Pelan. Tapi jelas.

Tapi sebelum ia sampai, Ratu Kalaputih menggerakkan tangan.

"Dasar anak bodoh!"

Seketika tubuh Fariz terpental. Seperti ada tangan raksasa yang memukul dadanya. Tubuhnya melayang ke belakang. Membentur dinding batu dengan keras.

BRAK!

"Akh!" Fariz merintih. Dadanya sesak. Tulang seperti retak. Napas terhenti sebentar.

Ia jatuh ke lantai. Lutut menyentuh tanah dulu. Lalu tangan. Mencoba menahan tubuh agar tidak ambruk sepenuhnya.

Ratu Kalaputih melayang mendekat. Perlahan. Seperti tidak terburu-buru. Seperti sedang menikmati.

"Kamu hanya diperdaya oleh Salman... seolah kamu mampu mengalahkan aku hanya dengan satu doa saja!"

Fariz mencoba berdiri. Tangan menekan lantai. Kaki berusaha menapak. Tapi sebelum ia berdiri sepenuhnya, Ratu Kalaputih menggerakkan tangan lagi.

Tubuh Fariz terangkat ke udara.

Seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram leher. Kaki menggantung. Tangan mencoba meraih sesuatu tapi hanya meraih udara.

Napas tercekat. Tidak bisa masuk. Tidak bisa keluar.

Fariz mencoba berdoa. Mulutnya bergerak. Tapi suaranya tidak keluar. Tenggorokan tertutup.

Ratu Kalaputih melayang tepat di hadapannya. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Fariz. Mata tajamnya menatap langsung ke mata Fariz.

"Lihat aku, Fariz!"

Tangannya bergerak. Mengangkat wajah Fariz dengan paksa. Memaksa mata mereka bertemu.

Lalu ia melihat.

Bukan dengan mata. Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam.

Masuk ke dalam diri Fariz. Mencari. Membaca. Seperti membuka buku dan membaca halaman demi halaman.

Mencari apa yang dititipkan Kyai Salman sebelum mati. Mencari warisan yang tersembunyi.

Dan ia menemukannya.

Darah.

Bukan darah biasa. Tapi darah yang mengalir dari generasi ke generasi. Dari keturunan paling atas. Dari kakek buyut. Dari leluhur yang jauh sebelum itu.

Darah para Kyai. Para ulama besar. Para pejuang yang melawan kegelapan dengan cahaya iman.

Mengalir di tubuh anak muda ini.

Dan di dalam darah itu, ada potensi.

Potensi yang jika dilatih dengan baik, jika dituntun dengan benar, bisa mengalahkan bukan hanya dirinya. Tapi juga yang lebih tua. Yang lebih kuat. Yang sudah tidur di bawah tanah ratusan tahun.

Wajah Ratu Kalaputih berubah.

Bukan lagi senyum dingin. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu antara takut dan tertarik. Mata menyipit. Bibir terbuka sedikit.

"Kamu..."

Bisiknya pelan. Suara berlapisnya jadi lebih jelas sekarang. Seperti dua orang berbicara bersamaan.

"Kamu lebih berbahaya dari yang kukira."

Lalu ia menghempaskan tubuh Fariz.

Fariz jatuh ke tanah. Keras. Bahu membentur lantai batu dulu. Lalu kepala. Lalu seluruh tubuh.

Ia meringis. Merasakan sakit di setiap bagian tubuh. Tapi ia tidak pingsan. Masih sadar. Masih bisa bergerak.

Ratu Kalaputih melayang kembali ke altar. Berputar dengan anggun. Rambut panjangnya menyapu udara.

Lalu ia bicara dengan suara yang lebih keras. Bergema di seluruh ruangan.

"Aku akan memberikan sesuatu untukmu, anak muda."

Ia mengangkat tangan. Memberi isyarat.

Seluruh pengawal Ratu Kalaputih yang berdiri di belakang altar mulai bergerak. Mengetuk lantai dengan tombak yang mereka pegang. Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. Bersamaan. Seperti drumbeat yang membuat lantai bergetar.

DUNG. DUNG. DUNG.

Suara mantra yang dibaca orang-orang di barisan semakin keras. Nada naik. Semakin cepat. Semakin kental. Seperti ada yang mendesak mereka untuk membaca lebih keras.

Lalu lantai retak.

Cahaya berwarna merah keluar dari tanah. Seperti lava yang mendidih. Naik pelan ke udara. Berkumpul di atas altar.

Lalu bergerak. Masuk ke dalam genggaman Ratu Kalaputih.

Di tangannya, sekarang ada peti kecil. Terbuat dari kayu hitam. Dengan ukiran emas di permukaannya yang sudah pudar.

Ratu Kalaputih membuka peti itu.

Di dalamnya, batu sakral.

Seukuran ibu jari. Warnanya hitam pekat. Tapi ada cahaya merah yang bergerak di dalam seperti api yang hidup. Seperti jantung yang berdetak.

"Aku akan memberikan mustika kebanggaanku untukmu, Fariz."

Ia mengangkat batu itu. Cahaya merah bergerak lebih cepat. Seperti bangga. Seperti memanggil.

"Dengan ini, kamu bisa memerintah jin dari dua puluh kerajaan. Kamu bisa mengendalikan apa yang tidak bisa dilihat. Kamu bisa menjadi penguasa yang lebih besar dari Darma Wijaya."

Ia menatap Fariz dengan senyum yang dingin.

"Bahkan lebih besar dariku."

Batu itu bercahaya lebih terang. Seperti mengundang. Seperti menggoda.

Darma Wijaya terdiam.

Berdiri di samping altar dengan tangan dilipat. Tapi tangannya tidak tenang. Mengepal. Gemetar sedikit.

Ia menatap peti kecil itu dengan mata yang melebar.

Mustika.

Mustika yang dijanjikan padanya dua puluh tahun lalu. Mustika yang ia tunggu selama ini. Yang ia layani. Yang ia korbankan begitu banyak untuk mendapatkan.

Tapi tidak pernah diberikan.

Dan sekarang, mustika itu ditawarkan kepada anak muda yang baru saja keluar dari barisan. Yang baru saja berani melawan. Yang belum memberikan apa-apa.

Wajahnya berubah. Pucat dulu. Lalu merah. Marah. Malu. Terhina.

Ia tersentak. Melangkah maju satu langkah. Tapi berhenti. Tidak berani melangkah lebih jauh.

Tangannya mengepal lebih kuat. Sampai buku-buku jari memutih.

"Kurang ajar."

Gumamnya pelan. Tapi cukup keras untuk terdengar oleh beberapa orang di dekatnya.

Iri. Marah. Terluka.

Puluhan tahun mengabdi. Tapi tidak pernah dihargai seperti ini.

Fariz berdiri perlahan.

Tubuhnya masih sakit. Dadanya masih terasa sesak. Tapi ia berdiri.

Menatap batu di tangan Ratu Kalaputih. Cahaya merah yang bergerak. Yang memanggil.

Ia merasakan sesuatu. Seperti ada yang menarik. Seperti ada suara berbisik di telinga yang bilang: Ambil. Dengan ini kamu bisa menyelamatkan mereka. Dengan ini kamu bisa melindungi keluargamu. Dengan ini kamu tidak perlu takut lagi.

Tapi ia ingat.

Ingat kata-kata Kyai Salman di mimpi. Doa itu kekuatan seorang muslim. Tapi jika pikiranmu telah menuduh-Nya, maka apalah artinya sebuah doa.

Ingat kata-kata di kertas. Bukan dengan kekuatan. Bukan dengan ilmu. Tapi dengan niat yang tulus dan penyerahan penuh kepada Allah.

Fariz menarik napas.

Lalu bicara. Dengan suara yang pelan tapi jelas.

"Aku tidak akan mengikat diriku dengan selain Allah."

Suaranya keluar lebih kuat dari yang ia kira.

"Aku hanya tunduk pada Allah. Bukan padamu."

Ratu Kalaputih terdiam sebentar.

Lalu tertawa. Keras. Bergema. Seperti ada puluhan orang yang tertawa bersamaan.

"Bodoh!"

Ia menutup peti. Mustika itu menghilang kembali ke dalam tanah.

"Kalau begitu, kamu akan melihat harga dari pilihanmu."

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!