Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pintu ruang operasi terbuka sepenuhnya, menampakkan deretan petugas medis yang bergerak cepat.
Suara gesekan roda ranjang rumah sakit yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu memekakkan di telinga Rangga.
Perawat mendorong ranjang itu keluar, memindahkan Linggar menuju ruang ICU.
Di atas ranjang itu, Linggar tampak sangat kecil dan rapuh.
Wajahnya hampir tertutup sepenuhnya oleh masker oksigen, dan kepalanya dibalut perban putih yang tebal.
Kabel-kabel medis menjuntai dari balik selimut, terhubung dengan monitor yang terus mengeluarkan bunyi bip yang monoton—satu-satunya tanda bahwa nyawa masih bertahan di tubuh itu.
Rangga berdiri terpaku di sisi koridor, matanya tak lepas dari wajah Linggar yang masih menutup mata dengan rapat.
Ia ingin menyentuh tangan wanita itu, namun tangannya terasa terlalu kotor dan berdosa bahkan hanya untuk sekadar mendekat.
"Dokter..." panggil Rangga dengan suara yang pecah. Ia mencegat dokter bedah yang tadi menanganinya.
"Izinkan saya masuk. Tolong, biarkan saya menemuinya sebentar saja."
Dokter menatap Rangga dengan pandangan penuh simpati, lalu melihat ke arah Nadya dan Edwin yang masih terisak.
Setelah beberapa detik menimbang, sang dokter menganggukkan kepalanya pelan.
"Hanya sebentar, Pak Rangga. Kondisinya masih sangat kritis. Silakan ikuti perawat untuk memakai pakaian khusus sebelum masuk ke ruang steril."
Rangga segera mengikuti instruksi perawat dengan gerakan yang kaku.
Ia mengenakan gaun pelindung berwarna hijau, masker, dan penutup kepala.
Setiap helai pakaian yang ia kenakan terasa berat, seolah ia sedang bersiap untuk masuk ke dalam ruang pengadilan terakhirnya.
Langkah kaki Rangga terasa goyah saat ia melintasi pintu otomatis ruang ICU.
Ruangan itu begitu dingin dan sunyi, hanya diisi oleh suara mesin ventilator yang memompa udara ke paru-paru Linggar secara paksa.
Ia berdiri di samping tempat tidur. Di bawah cahaya lampu neon yang putih pucat, Linggar terlihat sangat pucat, nyaris transparan.
Rangga meraih tangan Linggar yang dingin dan penuh bekas jarum infus.
Ia menggenggamnya dengan kedua tangan, seolah-olah kekuatan genggamannya bisa menarik Linggar kembali dari ambang kematian.
"Linggar..." bisik Rangga, air matanya jatuh membasahi punggung tangan wanita itu.
"Ini aku, Linggar. Ini Rangga. Maafkan aku, demi Tuhan, maafkan aku."
Rangga menempelkan tangan Linggar ke pipinya, memejamkan mata dengan penuh penyesalan.
"Buka matamu, sayang. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah membaca bukumu. Aku bodoh. Aku pria paling bodoh karena tidak menyadari bahwa wanita sehebat kamu adalah orang yang sama yang aku cari setiap malam."
Suasana sunyi di ICU itu mencekam. Tak ada jawaban dari bibir Linggar yang membiru.
Rangga terisak hebat, bahunya terguncang di samping ranjang yang kini menjadi saksi bisu kehancuran hatinya.
"Kamu tidak perlu menjadi Nadya untuk aku cintai, Linggar. Kamu adalah sekretarisku yang hebat, kamu adalah wanita yang bernyanyi di mobilku, kamu adalah orang yang menyembuhkan lukaku. Jangan pergi, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat yang tidak bisa aku jangkau."
Rangga terus menggenggam tangan itu, tidak menyadari bahwa di luar kaca ruang ICU, Nadya menatapnya dengan kebencian yang mendalam, sementara Edwin terus menjaganya.
Malam itu, di tengah denting mesin medis, Rangga menyadari bahwa kekuasaan dan kekayaan yang ia miliki tak ada artinya jika ia tak mampu membangunkan wanita yang jiwanya baru saja ia sadari adalah miliknya.
Rangga keluar dari ruang ICU dengan langkah yang seolah tak menapak bumi. Dunianya baru saja terbalik.
Ia duduk di kursi besi yang dingin di depan ruangan itu, menunduk dalam dengan jemari yang saling bertautan, mencoba menahan getaran di sekujur tubuhnya.
Tak lama kemudian, Nadya duduk di sampingnya. Kemarahannya yang meledak tadi kini meredup, menyisakan kesedihan mendalam yang membuat suaranya terdengar kosong.
"Mbak Linggar itu segalanya buat aku, Mas," ucap Nadya memulai cerita tanpa menoleh ke arah Rangga.
"Dia pengganti mendiang kedua orang tua kami. Sejak Papa dan Mama pergi, dia yang berdiri paling depan buat aku."
Rangga tetap diam, namun ia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir Nadya.
"Waktu Mbak Linggar masih kecil, Mama pernah cerita kalau Mbak sebenarnya punya badan yang kecil dan mungil. Tapi saat kelas 4 SD, Mbak Linggar jatuh sakit. Sakitnya parah sampai harus minum banyak sekali obat-obatan dari dokter dalam jangka waktu lama," lanjut Nadya dengan tatapan menerawang ke arah dinding putih rumah sakit.
"Sejak saat itulah badan Mbak Linggar mulai berubah. Obat-obatan itu membuatnya gemuk. Saat masuk SMP, Mbak memang sudah berhenti minum obat itu, tapi efeknya tidak hilang. Metabolisme tubuhnya sudah berubah, dan itu yang membuat Mbak Linggar tetap gemuk sampai sekarang, sekeras apa pun dia mencoba untuk diet."
Rangga mendongakkan kepalanya sedikit, matanya yang merah menatap Nadya dengan rasa ingin tahu yang besar sekaligus pilu.
"Linggar sakit apa waktu kecil, Nad?" tanya Rangga dengan suara parau.
Nadya menggelengkan kepalanya perlahan, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Mama pun tidak tahu pasti, Mas. Mama bilang dulu dokter tidak mengatakan apa-apa secara spesifik tentang nama penyakitnya. Dokter hanya bilang itu infeksi langka yang menyerang sistem imunnya dan butuh pengobatan dosis tinggi."
Nadya menghela napas panjang, suaranya bergetar.
"Mbak Linggar tumbuh besar dengan hinaan. Orang-orang hanya melihat fisiknya, menyebutnya 'babi' atau 'kerbau', tanpa pernah mau tahu kalau badannya itu adalah sisa dari perjuangannya untuk bertahan hidup saat kecil. Dan Mas Rangga, Mas adalah orang pertama yang dia harapkan bisa melihat lebih dari sekadar fisik itu."
Mendengar itu, Rangga merasa dadanya seperti dipukul godam.
"Maafkan aku, Nad..." bisik Rangga, air matanya jatuh lagi.
"Aku benar-benar tidak tahu."
"Maaf Mas tidak akan merubah kenyataan kalau Mbak Linggar sekarang tidur di dalam sana dengan bantuan mesin," sahut Nadya dingin, lalu ia berdiri dan meninggalkan Rangga sendirian dalam keheningan lorong yang menyakitkan.
Rangga kembali membuka buku harian di pangkuannya, jemarinya mengusap tulisan tangan Linggar yang rapi.
Ia berjanji dalam hati, jika Linggar bangun nanti, ia tidak akan membiarkan satu orang pun menghina wanita itu lagi—termasuk dirinya sendiri.
Setelah keheningan panjang yang menyesakkan, Edwin berdiri dan memegang bahu Nadya dengan lembut.
"Nad, kita harus pulang sebentar. Kamu perlu mengambil pakaian ganti untuk Mbak Linggar dan perlengkapan lainnya. Kamu juga butuh istirahat sejenak agar tidak jatuh sakit."
Nadya sempat ragu, matanya melirik ke arah pintu ICU yang tertutup rapat.
"Biar aku yang menjaganya di sini," ucap Rangga tiba-tiba. Suaranya terdengar berat namun tegas.
"Kalian pulanglah. Aku tidak akan membiarkan Linggar sendirian satu detik pun."
Ada ketakutan yang merayap di benak Rangga. Ia belum tahu siapa dalang di balik perbuatan keji ini, namun ia khawatir jika pelaku itu—siapa pun dia—akan kembali untuk memastikan Linggar benar-benar tidak bisa bicara.
Nadya menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan, namun akhirnya ia mengangguk pelan.
Bersama Edwin, ia melangkah menjauh dari lorong rumah sakit, meninggalkan Rangga dalam kesunyian yang mencekam.
Untuk mengalihkan rasa cemas dan bersalah yang membakar jiwanya, Rangga kembali membuka buku harian cokelat milik Linggar.
Ia membalik halaman demi halaman hingga sampai pada bagian di mana Linggar menceritakan kejadian di hotel Bandung.
Tuhan, hari ini jantungku rasanya mau copot. Kakiku sakit sekali karena terkilir, tapi Rangga dengan sigap menggendongku.
Rasanya seperti mimpi dia membawaku dengan gaya bridal style.
Tapi yang paling memalukan adalah saat dia memijat kakiku di ruang kesehatan.
Aku berteriak kesakitan karena dia menekan titik saraf yang kaku, tapi aku tidak sadar kalau suaraku terdengar ambigu sampai keluar ruangan.
Pak Bayu dan tamu lainnya salah paham, mereka mengira kami melakukan hal yang tidak-tidak. Wajahku rasanya sudah matang seperti kepiting rebus.
Dan yang paling membuatku gila, saat kami sudah di dalam kamar Presidential Suite, Rangga justru menggodaku. Dia menirukan suara rintihanku dengan nada sensual: "Ahhh, sakit, Rangga. Pelan-pelan, Rangga..."
Di kamar aku tertawa dan gemas sendiri mendengarnya diam-diam. Ya Tuhan, aku sangat mencintai ciptaan-Mu yang satu ini. Di balik sikap tegasnya, dia bisa jadi pria yang sangat lucu.
Rangga tersenyum getir membaca bagian itu. Air matanya menetes jatuh tepat di atas tulisan tangan Linggar.
"Aku juga mencintaimu, Linggar. Maafkan aku yang baru menyadarinya sekarang," bisiknya lirih.
Namun, momen haru itu hancur seketika.
TIIIIIIIIITTTTTT!!!
Suara monitor jantung dari dalam ruang ICU tiba-tiba berbunyi nyaring dan panjang, memecah kesunyian lorong.
Rangga tersentak, buku harian di tangannya jatuh tergeletak di lantai.
Melalui kaca kecil di pintu ICU, ia bisa melihat kepanikan di dalam sana.
Beberapa perawat berlari masuk, disusul oleh dokter jaga yang wajahnya tampak sangat tegang.
Garis di layar monitor yang tadi bergelombang lemah, kini berubah menjadi garis lurus yang mendatar.
"Dokter! Apa yang terjadi?!" teriak Rangga sambil menggedor pintu, namun seorang petugas segera menahannya di luar.
"Mohon tunggu di luar, Pak! Pasien mengalami gagal napas mendadak!"
Rangga jatuh terduduk di depan pintu, napasnya tersengal.
Ia baru saja tertawa bersama kenangan Linggar di buku harian itu, dan sekarang maut seolah sedang menjemput wanita itu tepat di depan matanya.