NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.8 sisa hujan di atas luka

​Hujan di Jakarta tidak pernah benar-benar membersihkan jalanan. Ia hanya mengangkat debu dan bau aspal yang terbakar ke udara.

Sekar berdiri di bawah kanopi lobi rumah sakit, menatap bulir air yang jatuh menghantam ulu hatinya.

Jas putih yang tadi terkena noda darah Viona sudah ia tinggalkan di ruang sterilisasi, namun ia merasa noda itu telah meresap hingga ke kulitnya.

​Ia baru saja mematahkan satu-satunya "senjata" yang ia miliki di depan Rahman. Keberanian itu terasa nyata beberapa menit lalu, namun sekarang, saat ia sendirian, rasa takut mulai merayap seperti hawa dingin musim dingin di Berlin.

​"Kamu pikir kamu pahlawan, Sekar?"

​Suara Alvin muncul dari belakang, pelan namun tajam seperti sembilu. Pria itu tidak lagi memakai topeng dokter yang ramah. Ia berdiri dengan tangan di saku celana bahan mahalnya, menatap hujan dengan tatapan kosong.

​Sekar tidak menoleh. "Aku hanya melakukan apa yang benar, Alvin."

​"Benar bagi siapa?" Alvin terkekeh sinis. "Benar bagi sumpahmu? Atau benar bagi rasa cintamu yang bodoh pada Rahman? Kamu baru saja membuang bukti kunci yang dikumpulkan ayahku selama lima tahun hanya karena nuranimu mendadak bangkit saat melihat Viona sekarat."

​Sekar akhirnya menoleh, matanya merah karena lelah dan emosi yang meluap. "Jika aku harus menghancurkan mereka dengan membiarkan seseorang mati di meja operasiku, maka aku tidak ada bedanya dengan keluarga Wijaya yang membunuh orang tuaku. Aku tidak akan menjadi monster demi membalas monster."

​Alvin melangkah mendekat, masuk ke ruang pribadi Sekar. "Dengarkan aku baik-baik, dr. Sekar. Di dunia ini, orang baik hanya berakhir di dua tempat, di bawah tanah atau di balik jeruji besi. Ayahku tidak akan senang mendengar kabar ini. Kami sudah mempertaruhkan banyak hal untuk membawamu masuk ke sistem Wijaya."

​"Jadi itu alasanmu mendekatiku? Untuk menjadikanku kunci pembuka brankas rahasia mereka?" Sekar tersenyum pahit. "Kalian semua sama saja. Rahman, Viona, dan sekarang kamu. Semuanya hanya ingin menggunakanku."

​"Bedanya," Alvin berbisik tepat di telinga Sekar, "Aku menawarkan keadilan. Sekarang, tanpa data itu, kamu hanyalah seorang dokter dengan skandal perselingkuhan yang siap diledakkan. Kamu tidak punya perlindungan lagi, Sekar. Selamat menikmati kehancuranmu."

​Alvin berjalan menembus hujan menuju mobilnya, meninggalkan Sekar yang menggigil sendirian.

​Sekar memutuskan untuk kembali ke dalam. Ia tidak bisa pulang ke apartemennya; bayangan Rahman yang menciumnya semalam masih terlalu menyakitkan untuk dihadapi di tempat yang sama.

Ia melangkah menuju ruang ICU tempat Viona baru saja dipindahkan.

​Di sana, di balik kaca tebal, ia melihat Rahman. Pria itu sedang duduk di samping tempat tidur Viona, menggenggam tangan wanita yang masih belum sadarkan diri itu. Pemandangan itu seharusnya membuat Sekar cemburu, namun yang ia rasakan hanyalah kekosongan.

​Pintu ICU terbuka. Rahman keluar dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Saat melihat Sekar, langkahnya terhenti.

​"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Rahman pelan.

​"Aku harus memastikan pasienku stabil," jawab Sekar kaku. Ia menghindari kontak mata dengan Rahman. "Mas Rahman sebaiknya istirahat. Viona sudah melewati masa kritisnya."

​Rahman tidak bergerak. Ia menatap Sekar dengan intensitas yang membuat Sekar ingin melarikan diri. "Kenapa kamu mematahkan flashdisk itu, Sekar? Kenapa tidak kamu berikan pada polisi atau media semalam?"

​Sekar mengepalkan tangannya di balik saku coat-nya. "Karena jika aku melakukannya, aku akan menghancurkan satu-satunya keluarga yang aku kenal, meski itu adalah keluarga palsu. Dan karena... aku ingin kamu hidup dengan rasa bersalahmu setiap kali kamu menatapku. Itu jauh lebih menyiksa daripada penjara."

​Rahman mendekat, mencoba menyentuh lengan Sekar, namun Sekar mundur satu langkah.

​"Jangan sentuh aku, Rahman. Setiap kali kamu menyentuhku, aku merasa seperti sedang mengkhianati nisan orang tuaku," bisik Sekar dengan suara yang pecah.

​"Aku akan memberikan semuanya padamu, Sekar," kata Rahman tiba-tiba, suaranya penuh tekad. "Bukan data dari Alvin yang penuh manipulasi. Aku punya dokumen asli yang ditandatangani Ayah. Aku akan memberikannya padamu, tapi kumohon... jangan pergi ke Alvin lagi. Dia jauh lebih berbahaya dari yang kamu kira."

​Sekar tertawa kecil, suara yang terdengar sangat sedih. "Kalian semua berbahaya bagiku. Aku sudah memutuskan. Besok pagi, aku akan mengajukan surat pengunduran diri dari rumah sakit ini."

​Rahman terkejut. "Apa? Tidak, Sekar! Kamu baru saja mulai. Kamu baru saja menyelamatkan Viona!"

​"Aku menyelamatkannya sebagai tugasku. Tapi aku tidak bisa bekerja di bawah atap yang dibangun dari kebohongan. Aku akan pergi dari rumah ini, Rahman. Dan kali ini, jangan coba-coba mencariku."

​Sekar berbalik dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin dan sepi. Langkah kakinya menggema, terdengar seperti hitung mundur menuju akhir dari segalanya.

Ia tidak tahu bahwa di dalam ruang ICU, kelopak mata Viona bergerak sedikit. Wanita itu telah sadar beberapa saat lalu, dan ia mendengar setiap kata yang diucapkan Sekar dan Rahman.

​Di tangan Viona yang terpasang infus, jemarinya mencengkeram sprei ranjang dengan erat. Rasa terima kasih karena telah diselamatkan? Tidak.

Di hati Viona, yang ada hanyalah kebencian yang semakin membara karena ia menyadari satu hal. Rahman tidak pernah mencintainya, bahkan saat ia hampir mati. Rahman hanya memikirkan Sekar.

​Sekar kembali ke apartemennya yang kini terasa seperti penjara. Ia menghabiskan malam dengan duduk di lantai, memandangi foto orang tuanya yang ia bawa dari Berlin. Air matanya sudah kering, digantikan oleh ketetapan hati yang suram.

​Ia mengambil secarik kertas dan mulai menulis surat pengunduran dirinya. Tangannya tidak lagi bergetar. Ia sudah mati rasa.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!