Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Setelah Badai di Kamar Nomor 14
Cahaya matahari pagi yang pucat merayap masuk melalui celah-celah gorden motel yang tipis dan berdebu, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu kusam. Di dalam kamar nomor 14 yang pengap, waktu seolah berhenti berputar. Seraphina perlahan membuka kelopak matanya, merasakan berat yang manis di sekujur tubuhnya. Rasa pegal yang asing namun mendebarkan menjalar di pinggang dan pahanya—sebuah pengingat fisik yang sangat nyata tentang kegilaan gairah yang mereka bagi sepanjang malam tadi.
Ia menoleh ke samping, menemukan sisi tempat tidur yang sudah kosong. Namun, sprei yang berantakan itu masih menyisakan kehangatan dan aroma maskulin yang khas—perpaduan antara sabun hotel yang murah, aroma tembakau tipis, dan bau tubuh Dareen yang memabukkan.
"Dareen?" bisik Sera, suaranya terdengar parau dan dalam.
Pintu kamar mandi yang sedikit terbuka memperlihatkan siluet pria itu. Dareen sudah mengenakan celana kain hitamnya, meski dadanya yang bidang dan penuh bekas luka masih terekspos bebas. Ia berdiri di depan cermin kecil yang retak, mencoba mengganti perban di pelipisnya dengan gerakan kaku. Luka sobek akibat benturan meja itu sudah berhenti berdarah, namun memar keunguan di sekitarnya tampak semakin kontras dengan kulit wajahnya yang pucat karena kelelahan.
Mendengar suara Sera, gerakan tangan Dareen yang sedang menempelkan plester medis terhenti sejenak, namun ia tidak segera menoleh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—sosok pria yang telah melanggar janji profesionalisme tertingginya.
"Segera berpakaian, Nona," ujar Dareen. Suaranya kembali pada nada yang biasa—dingin, datar, dan profesional, seolah-olah malam tadi hanyalah sebuah kesalahan teknis dalam protokol penjagaan. "Tim evakuasi Seldin akan mendeteksi sinyal GPS mobil ini dalam waktu kurang dari satu jam jika kita tidak segera bergerak. Kita tidak boleh berada di sini saat mereka datang."
Sera bangkit dari ranjang, menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh polosnya, namun rasa tidak puas muncul di hatinya mendengar perubahan sikap pria itu yang begitu drastis. Ia turun dari tempat tidur, mengabaikan rasa dingin lantai yang menerpa telapak kakinya yang mungil. Ia melangkah mendekati Dareen, melingkarkan lengannya di pinggang pria itu dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung Dareen yang kokoh.
"Jangan takut padanya, Babe. Jangan kembali menjadi robot yang membosankan itu sekarang," bisik Sera dengan nada yang manja namun tegas. "Aku memiliki dokumen Julian di tas itu. Itu adalah tiket kita untuk bernegosiasi. Seldin tidak akan berani menyentuhmu selama aku memegang kartu as miliknya."
Dareen memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan tubuh Sera yang menempel di punggungnya sebelum ia melepaskan tangan gadis itu dengan lembut namun pasti. Ia berbalik, menatap mata Sera dengan tatapan yang sarat akan jarak. "Dokumen itu adalah tiket keamanan bagi Anda, Sera. Bagi saya, itu hanyalah bukti bahwa saya telah gagal menjalankan perintah dengan bersih dan telah membiarkan emosi mengambil alih nalar saya."
Sera tidak menyerah begitu saja. Ia melihat sisa darah yang mengering di leher Dareen dan guratan lelah yang amat sangat di bahu pria itu. Alih-alih menjauh seperti yang diperintahkan, Sera justru menarik tangan Dareen yang besar dan kasar, menuntunnya kembali ke arah bathtub tua di sudut kamar mandi yang sudah ia isi dengan air hangat beberapa menit yang lalu.
"Kau berdarah, kotor, dan sangat berantakan, Dareen. Aku ingin kau bersih dan tenang sebelum kita kembali menghadapi singa di rumah itu," ujar Sera, suaranya berubah menjadi rendah, serak, dan penuh tuntutan.
Sera duduk di pinggiran bathtub yang keramiknya mulai retak, lalu dengan gerakan yang penuh provokasi, ia menuntun tangan Dareen ke arah bahunya yang terbuka. "Mandikan aku, Babe. Lakukan pelan-pelan, seperti kau sedang membelai sesuatu yang paling berharga milikmu."
Dareen menelan ludah dengan susah payah. Logikanya berteriak bahwa mereka harus segera pergi, namun jemari Sera yang menuntun tangannya untuk mengambil spons sabun seolah memiliki daya magis yang melumpuhkan seluruh fungsi otaknya. Pria itu akhirnya menyerah, ia berlutut di samping bathtub, matanya terpaku pada pantulan air hangat yang bergetar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai mengusapkan busa lembut ke bahu Sera, bergerak perlahan, menelusuri garis leher hingga tulang selangka gadis itu.
Sentuhan itu, yang awalnya terasa seperti perawatan medis yang kaku, dengan cepat berubah menjadi bara api yang menyulut kembali sisa-sisa gairah semalam. Sera memejamkan mata, kepalanya mendongak ke belakang, membiarkan rambut panjangnya yang basah menjuntai ke air.
"Duniaku akan hancur karena Anda, Nona. Seldin akan memastikan tidak ada tempat bagi saya di dunia ini setelah ia melihat bagaimana saya menatap Anda hari ini," gumam Dareen parau, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
"Biarkan duniamu hancur, asal kita hancur bersama di dalam sini," balas Sera. Ia tiba-tiba memutar tubuhnya, meraih lengan Dareen yang kuat dan menariknya dengan satu sentakan bertenaga hingga pria itu kehilangan keseimbangan.
Byuur!
Dareen terjatuh ke dalam bathtub, menindih tubuh Sera sepenuhnya. Air hangat meluap ke lantai motel yang kotor, namun tak satu pun dari mereka peduli. Celana panjang Dareen kini basah kuyup, melekat erat pada otot pahanya yang besar.
"Sera, aku sudah tidak punya tenaga lagi ...." Dareen mencoba memprotes, namun suaranya langsung dibungkam oleh lumatan dalam dari bibir Sera.
Sera terus melontarkan kata-kata godaan di sela-sela ciuman mereka yang liar dan basah. "Kau tahu, Babe... tubuhmu selalu jauh lebih jujur daripada mulutmu yang kaku itu. Kau menginginkanku lagi, kan? Rasakan bagaimana jantungmu berdegup di dadaku."
Dareen menggeram rendah, sebuah suara yang keluar dari naluri predator yang terluka. Meskipun ia merasa lelah secara fisik setelah malam yang panjang, kehadiran Sera yang begitu menuntut di bawahnya membangkitkan energi cadangan yang berbahaya.
Sera melihat perjuangan di mata gelap Dareen. Ia tersenyum licik, sebuah senyum kemenangan sang dewi. Tangannya yang lentik merayap turun dari bahu Dareen yang lebar, melewati otot perut yang keras, lalu turun lebih rendah menuju ritsleting celana Dareen yang basah. Dengan gerakan sensual yang sangat terukur, ia menurunkan ritsleting itu, membebaskan ketegangan yang tersembunyi di baliknya.
Dareen terkesiap, kepalanya terlempar ke belakang menyentuh dinding kamar mandi saat Sera mulai bermain-main di area sensitifnya. Lidah Sera yang nakal bergerak dengan sangat terampil, memberikan stimulasi yang belum pernah Dareen bayangkan sebelumnya.
"Ahh ... Sera ... cukup ..." Dareen mengerang, namun tangannya justru semakin erat mencengkeram pinggiran bathtub.
Rasa nikmat yang luar biasa itu menusuk hingga ke ubun-ubunnya, membuatnya melepaskan semua beban identitas. Di dalam bathtub yang sempit itu, ia bukan lagi seorang pengawal, bukan lagi mantan tentara yang gagal, bukan lagi pelayan Seldin. Ia hanyalah seorang pria yang sedang menyerahkan seluruh jiwanya pada wanita yang paling ia damba. Erangan dan lenguhan Dareen memenuhi ruangan kecil itu, bersaing dengan suara air yang bergejolak.
Beberapa jam kemudian, perjalanan kembali ke Aeryon City terasa jauh lebih sunyi. Kabut pagi mulai menghilang, namun kecemasan di hati mereka semakin menebal. Dareen mengemudi dengan kewaspadaan tingkat tinggi, matanya terus memantau setiap kendaraan melalui kaca spion. Sera duduk di sampingnya, mengenakan kembali pakaiannya yang sedikit kusut, tangannya mendekap erat amplop cokelat berisi dokumen Julian.
Sesampainya di kediaman mewah Aeru, atmosfer terasa sangat mencekam. Barisan pengawal bersenjata berdiri siaga, dan Seldin sudah menunggu di beranda dengan wajah yang memerah karena murka. Namun, dengan langkah tegak, Sera maju lebih dulu. Ia menggunakan dokumen itu sebagai senjata utama untuk menekan kakaknya.
"Aku akan memberimu dokumen ini, Kak. Tapi kau harus mengembalikan beasiswa Dareen. Dia boleh kembali ke kampus bersamaku, atau aku akan membocorkan data penyuapanmu ke pihak berwenang bersama dokumen ini," ancam Sera tanpa ragu.
Seldin terdiam lama, menatap adiknya dengan pandangan tidak percaya sebelum akhirnya mengalah demi stabilitas bisnisnya. "Baiklah. Dia boleh kembali. Tapi nilainya tidak boleh satu poin pun lebih tinggi darimu. Dia harus ingat bahwa dia tetaplah anjing penjagamu, bukan teman belajarmu."
Kehidupan kampus pun berlanjut dengan dinamika baru yang penuh rahasia. Dareen kembali duduk di samping Sera, namun status mereka kini terpisah oleh jurang perintah Seldin. Dareen dipaksa untuk sengaja melakukan kesalahan dalam ujian-ujiannya agar tetap terlihat bodoh di depan para dosen, sebuah penghinaan bagi intelektualitasnya demi tetap bisa berada di sisi Sera.
Suatu sore, saat mereka sedang beristirahat di dalam mobil mewah yang terparkir di bawah rimbunnya pohon di area parkir kampus, Sera memperhatikan sebuah foto tua yang terselip di celah dashboard yang selama ini tidak pernah ia perhatikan. Foto itu sedikit menguning, memperlihatkan Dareen muda dalam seragam tentara elit, merangkul seorang pria lain yang tampak sangat akrab.
"Siapa pria di sampingmu ini, Babe? Kau terlihat sangat ... bahagia di sini," tanya Sera sambil menarik foto itu keluar.
Wajah Dareen seketika menegang. Otot rahangnya mengeras, dan aura dingin yang tadi sempat mencair kini kembali membeku. Ia mencoba meraih foto itu, namun Sera dengan cepat menjauhkannya, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
"Itu hanya masa lalu yang sudah terkubur, Nona. Kembalikan fotonya," ujar Dareen dengan suara yang sangat rendah, sebuah nada yang menandakan ia tidak ingin pembicaraan ini dilanjutkan.
Sera melihat ada luka yang sangat dalam di balik sorot mata Dareen saat menatap foto itu. Ia menyadari bahwa ia baru saja menyentuh bagian paling rapuh dari jati diri Dareen Christ. Pencariannya untuk membongkar siapa sebenarnya pria yang telah menyerahkan tubuh dan jiwanya di motel itu baru saja dimulai. Ia bersumpah akan menemukan alasan mengapa seorang tentara elit bisa berakhir menjadi pengawal pribadi di bawah kaki kakaknya yang kejam.