NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Isabella's black thread

Jennie menarik tangan Ibu Maurel dengan cepat, menjauhkan kotak berbalut kertas emas itu dari jangkauan mereka. Jantungnya berdegup kencang. Di kehidupan sebelumnya, ia ingat Isabella pernah menggunakan taktik kotor serupa untuk meneror orang-orang di sekitar Limario demi mendapatkan perhatian.

"Ibu, biarkan penjaga yang memeriksanya terlebih dahulu," ucap Jennie dengan nada setenang mungkin agar tidak menakuti Maurel.

"Ada apa, Jennie? Ini hanya sebuah kotak," tanya Maurel bingung.

Jennie tidak menjawab. Ia memberi kode pada kepala keamanan mansion, seorang pria tegap bernama Hans. Dengan hati-hati, Hans membawa kotak itu ke halaman depan dan membukanya menggunakan peralatan khusus.

Isinya bukan bom. Namun, jauh lebih menjijikkan secara mental.

Di dalam kotak itu terdapat sebuah foto pernikahan Jennie dan Limario yang sudah dicoret-coret dengan tinta merah menyerupai darah, serta sebuah bangkai burung merpati yang lehernya tertekuk. Di bawahnya, terdapat secarik kertas bertuliskan:

“Ratu yang palsu akan segera jatuh. Apa yang kau curi akan kembali ke pemilik aslinya."

Wajah Ny. Maurel memucat. Ia hampir jatuh jika Jennie tidak sigap merangkul pundaknya. "Siapa... siapa yang tega melakukan hal seperti ini?"

Jennie menatap bangkai burung itu dengan mata yang mendingin. Isabella. Kau benar-benar tidak sabar untuk masuk ke liang kuburmu sendiri.

Instruksi Sang Ratu

"Hans, bersihkan ini. Jangan biarkan Kenzhi melihatnya," perintah Jennie tegas. "Dan mulai detik ini, perketat pengawalan untuk Ibu dan Kenzhi. Siapa pun yang mengirim barang tanpa protokol keamanan, tangkap dan bawa padaku."

Jennie menuntun Maurel kembali ke ruang tengah, memberikan teh hangat untuk menenangkan ibu mertuanya. "Ibu, jangan takut. Selama Jennie ada di sini, tidak akan ada yang berani menyentuh Ibu."

Maurel menatap menantunya dengan haru. "Kau sangat mirip dengan Limario sekarang, Jennie. Dingin, tapi sangat melindungi."

Jennie hanya tersenyum tipis. Ia segera beranjak ke ruang kerjanya dan menghubungi Limario.

"Lim, tikus betinamu baru saja mengirim 'hadiah' ke rumah," lapor Jennie tanpa basa-basi.

Suara Limario di seberang telepon mendadak berubah menjadi sangat rendah, pertanda kemarahan besar. "Dia menyentuh rumah kita? Aku akan mengirim unit elit ke apartemen Isabella sekarang juga."

"Jangan," potong Jennie. "Jika kau menyerangnya sekarang, dia akan bersembunyi. Biarkan dia berpikir rencananya berhasil. Dia ingin membuatku tampak lemah dan ketakutan di depanmu. Maka, mari kita beri dia pertunjukan yang dia inginkan."

Umpan di Pesta Amal

Malam harinya, sebuah pesta amal besar diadakan oleh yayasan kota. Jennie tahu Isabella akan hadir di sana untuk mencari dukungan dari para pemegang saham Vincentius Group.

Jennie mengenakan gaun sutra hitam backless yang memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna, dengan kalung berlian zamrud pemberian Limario melingkar di lehernya. Ia tampak seperti seorang permaisuri mafia yang sesungguhnya.

Di sisi lain, Limario tampak gagah dengan tuksedo hitamnya, namun matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik di sekitar istrinya.

Benar saja, Isabella muncul dengan gaun merah menyala, mencoba menarik perhatian Limario. Saat Limario sedang berbicara dengan beberapa kolega, Isabella mendekati Jennie yang sedang berdiri sendirian di dekat balkon.

"Kau tampak tenang sekali, Jennie. Apa kau menyukai hadiahku tadi pagi?" bisik Isabella dengan nada mengejek.

Jennie menyesap champagne-nya, tidak sedikit pun menoleh. "Burung merpati itu terlalu murah, Isabella. Jika kau ingin mengirim pesan kematian, setidaknya gunakan sesuatu yang lebih berkelas. Tapi aku maklum, seleramu memang selalu murahan."

Isabella menggeram. "Jangan sombong. Limario hanya bersamamu karena kewajiban. Begitu dia tahu kau sebenarnya sedang merencanakan sesuatu di belakangnya, dia sendiri yang akan mengusirmu."

"Oh ya?" Jennie berbalik, menatap Isabella dengan senyum meremehkan. "Kenapa kita tidak tanya saja langsung padanya?"

Jennie melambaikan tangan pada Limario. Limario segera pamit dari obrolannya dan berjalan cepat menuju Jennie, mengabaikan Isabella seolah wanita itu hanyalah pajangan dinding.

"Ada apa, Sayang?" tanya Limario sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jennie, mencium keningnya di depan mata Isabella.

"Isabella bilang kau hanya bersamaku karena kewajiban, Lim. Benarkah itu?" tanya Jennie dengan nada manja yang dibuat-buat.

Limario menoleh ke arah Isabella. Tatapannya begitu dingin hingga Isabella merasa seolah-olah suhu di ruangan itu turun drastis.

"Isabella, jika kau ingin tetap memiliki karier di kota ini, saranku hanya satu: Berhentilah bernapas di dekat istriku. Karena setiap detik yang kau habiskan untuk mengganggunya, adalah satu detik lebih dekat menuju kehancuran total keluargamu."

Isabella terpaku. Ia tidak menyangka Limario akan mempermalukannya secara terang-terangan di depan publik.

Pukulan Telak

Namun, serangan Jennie belum berakhir. Saat Isabella hendak pergi dengan penuh malu, Jennie menahan lengannya.

"Tunggu, Isabella. Aku punya hadiah balasan untukmu," bisik Jennie.

Tiba-tiba, layar besar di aula pesta yang seharusnya menampilkan profil yayasan amal berubah. Layar itu menampilkan rekaman CCTV rahasia yang diambil oleh mata-mata Jennie: Rekaman Isabella yang sedang menyerahkan uang kepada Sarah dan merencanakan sabotase terhadap kendaraan Ny. Maurel.

Seluruh ruangan mendadak riuh. Bisik-bisik kebencian mulai mengarah pada Isabella.

"I-itu fitnah! Itu editan!" teriak Isabella panik.

"Polisi sudah menunggumu di lobi, Isabella. Oh, dan satu lagi," Jennie mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Isabella gemetar hebat. "Aku tahu tentang penggelapan pajak yang dilakukan ayahmu. Mulai besok, kau bukan lagi siapa-siapa."

Saat polisi menyeret Isabella keluar, Jennie bersandar di dada Limario. "Satu duri lagi sudah dicabut, Lim."

Limario menatap istrinya dengan bangga. "Kau benar-benar tidak butuh bantuanku, ya?"

"Aku butuh bantuanmu untuk hal lain nanti di rumah," bisik Jennie nakal.

Limario memberikan isyarat pada Hans untuk segera membawa Isabella pergi sebelum kemarahannya benar-benar meledak dan mengotori lantai aula pesta tersebut. Kerumunan orang masih berbisik-bisik, menatap Isabella yang kini hancur secara sosial hanya dalam hitungan menit.

Kemenangan Sang Ratu

Jennie tetap berdiri tegak, membiarkan semua mata menatapnya dengan kekaguman sekaligus rasa ngeri. Ia telah membuktikan bahwa dia bukan lagi Jennie yang bisa dimanipulasi; dia adalah pelindung keluarga Vincentius yang paling tajam.

"Pertunjukan yang luar biasa, Sayang," bisik Limario di telinga Jennie, tangannya masih mendekap pinggang istrinya dengan erat seolah tidak membiarkannya lepas sedikit pun.

"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Lim. Siapa pun yang mencoba menyentuh Ibu atau Kenzhi, mereka harus berhadapan denganku terlebih dahulu," jawab Jennie dengan suara tenang namun tegas.

Limario membawa Jennie menuju balkon yang lebih sepi, menjauh dari kerumunan kolega bisnis yang mulai mencoba mendekat untuk sekadar menjilat. Di bawah cahaya rembulan, wajah Jennie tampak sangat cantik, namun ada gurat kelelahan yang tersirat di matanya.

"Kau sudah melakukan cukup banyak hari ini. Mari kita pulang. Kenzhi pasti sudah menunggu cerita sebelum tidurnya," ucap Limario lembut.

Malam Penuh Kelembutan

Sesampainya di mansion, suasana sudah sangat sunyi. Jennie segera menuju kamar Kenzhi, mendapati putri kecilnya itu sudah terlelap sambil memeluk boneka kelinci barunya. Jennie mencium kening Kenzhi perlahan, merasakan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan di kehidupan sebelumnya.

Saat Jennie kembali ke kamar utama, ia melihat Limario sedang duduk di tepi ranjang, sudah melepas jas dan dasinya. Ia tampak sedang melamun.

"Lim? Ada apa?" tanya Jennie sambil mendekat dan duduk di sampingnya.

Limario menatap Jennie, tangannya meraih tangan istrinya dan menggenggamnya kuat. "Aku hanya berpikir... bagaimana bisa aku hampir kehilangan wanita sehebat kau dulu? Bagaimana bisa aku membiarkan hubungan kita sedingin es selama bertahun-tahun?"

Jennie tersenyum sedih. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Limario. "Bukan salahmu, Lim. Aku yang menutup mata. Tapi sekarang, aku sudah melihat semuanya. Aku tidak akan membiarkan es itu kembali."

Limario menarik Jennie ke dalam dekapannya, merebahkan tubuh mereka di atas ranjang sutra yang empuk. Malam itu, tidak ada lagi pembicaraan tentang musuh atau bisnis. Hanya ada dua jiwa yang saling menebus kesalahan masa lalu dengan kasih sayang yang tulus.

Fajar yang Baru dan Rahasia yang Tersimpan

Keesokan paginya, Jennie terbangun lebih awal. Ia merasa tubuhnya sangat ringan, seolah beban berat dari masa lalu telah terangkat. Namun, saat ia hendak beranjak dari ranjang, matanya menangkap sesuatu di laci nakas Limario yang sedikit terbuka.

Sebuah map cokelat tua bertuliskan: "Laporan Investigasi: Jennie Ruby Jane - Perubahan Perilaku Mendadak."

Jantung Jennie berdebar kencang. Ia tahu Limario adalah orang yang sangat teliti, tapi ia tidak menyangka suaminya sampai melakukan investigasi sedalam itu terhadap dirinya sendiri.

Dengan tangan gemetar, Jennie membuka map itu. Di dalamnya terdapat catatan tentang semua kegiatannya sejak hari ia terbangun dari "kematian". Namun, di lembar terakhir, ada sebuah catatan kecil tulisan tangan Limario:

"Tidak peduli siapa dia sekarang atau mengapa dia berubah. Jika ini adalah mimpi, aku tidak ingin bangun. Dia adalah Jennie-ku yang baru, dan aku akan melindunginya dengan nyawaku."

Air mata menetes di pipi Jennie. Ia menutup map itu perlahan dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia menyadari bahwa Limario mungkin tidak tahu tentang konsep "terlahir kembali", tapi pria itu memilih untuk mencintainya tanpa bertanya.

Namun, ketenangan itu kembali terusik saat ponsel Jennie bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:

"Kau pikir kau satu-satunya yang kembali, Jennie? Jangan senang dulu. Permainan sebenarnya baru saja dimulai."

Darah Jennie seolah membeku. Apakah ada orang lain yang juga kembali dari masa lalu?

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!