cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
Beberapa hari setelah itu, semuanya tetap berjalan seperti biasa. Aura dan Harry masih duduk di kelas yang sama, masih mencatat materi yang sama, masih berada dalam ruangan yang sama selama berjam-jam. Tapi rasanya berbeda. Tidak ada lagi percakapan kecil sebelum dosen datang. Tidak ada lagi tatapan iseng saat bosan. Bahkan kini mereka jarang saling melihat. Harry benar-benar menjaga jarak. Ia datang, duduk, belajar, lalu pulang. Sesederhana itu.
Aura mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini memang yang ia mau. Bukankah ia sendiri yang meminta? Bukankah ia yang mengetik kalimat itu tanpa paksaan? Tapi setiap kali kelas selesai dan Harry keluar tanpa menunggunya, ada bagian kecil dalam dirinya yang terasa kosong.
Siang itu, setelah kelas berakhir, Aura sengaja memperlambat langkah. Ia ingin memastikan satu hal—apakah Harry akan menoleh? Apakah ia akan menunggu seperti dulu, meski hanya sebentar? Namun yang ia lihat justru Harry sudah berdiri di ujung lorong bersama beberapa anak fakultas, termasuk Putri. Mereka terlihat membahas sesuatu dengan serius, lalu tertawa ringan. Harry tampak santai. Tidak canggung. Tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan kedekatan dengan seseorang.
Aura berjalan melewati mereka. Kali ini tidak ada anggukan. Tidak ada sapaan. Harry hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada pembicaraan. Putri sempat tersenyum padanya, ramah seperti biasa. Aura membalas tipis lalu pergi. Dadanya terasa aneh. Bukan marah. Bukan cemburu yang jelas. Hanya perasaan seperti… digantikan oleh waktu.
Sore harinya, Aura tetap pergi ke taman. Ia duduk di bangku yang sama, menatap air mancur yang memantulkan cahaya matahari senja. Tangannya memainkan korek api tanpa benar-benar menyalakan rokok. Ia sadar, yang ia tunggu bukan nikotin. Tapi langkah kaki seseorang yang dulu selalu datang tanpa diminta. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada siapa-siapa.
Di sisi lain kampus, Harry sebenarnya juga berada tidak jauh dari sana. Ia melihat taman itu dari kejauhan saat berjalan bersama Putri menuju gedung kegiatan fakultas. Ia tahu Aura sering duduk di sana. Ia tahu mungkin Aura ada di sana sekarang. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak membelokkan langkahnya. Ia terus berjalan lurus.
Malamnya, Aura membuka ponselnya. Tidak ada pesan dari Harry. Tidak ada notifikasi namanya muncul. Ia membuka chat mereka. Percakapan terakhir masih sama. Singkat. Dingin. Ia menggulir ke atas, membaca ulang candaan lama, foto acak yang pernah dikirim, kalimat-kalimat tidak penting yang dulu terasa hangat. Dadanya mengencang. Ternyata jarak bukan hanya soal tidak berbicara. Jarak adalah saat seseorang berhenti mencoba.
Di kamar kosnya, Harry duduk menatap layar ponsel yang sama. Ia sempat membuka profil Aura. Melihat story yang tidak ia balas. Melihat foto yang tidak lagi ia komentari. Tangannya sempat bergerak ingin mengetik sesuatu. Apa saja. Tapi ia berhenti. Ia menepati permintaan itu. Ia tidak akan terlalu dekat lagi.
Dan di titik itu, tanpa mereka sadari, hubungan mereka tidak lagi berada di fase menunggu siapa yang akan menyerah dulu. Tapi mulai memasuki fase yang lebih berbahaya fase ketika salah satu benar-benar belajar hidup tanpa yang lain.
hanya tinggal menunggu siapa yang siap untuk belajar hidup tanpa satu dan lain, entah itu harry atau aura atau bahkan alden.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣