NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pintu geser ruangan itu terbuka dengan debuman keras. Dokter dan tiga orang perawat menyerbu masuk, mendorongku menjauh dari sisi bangsal. Segalanya terjadi begitu cepat dan kacau. Aku hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan tubuh Arlan yang pucat itu dipasangi berbagai alat pacu jantung.

"Siapkan defibrilator! 200 Joule!" teriak dokter lantang.

DEG!

Tubuh Arlan tersentak ke atas, namun garis di monitor masih lurus mendatar. Duniamu seolah runtuh saat itu juga. Air mataku jatuh tanpa suara. Jangan sekarang, Arlan. Kamu belum menjelaskan semuanya. Jangan pergi dengan membawa rahasia itu.

"Lagi! 300 Joule! Clear!"

Hening sejenak. Seluruh ruangan seolah menahan napas. Sampai akhirnya, suara tit... tit... tit... kembali terdengar, meskipun sangat lemah dan tidak beraturan. Garis itu bergelombang lagi. Arlan kembali. Dia menolak untuk menyerah.

Dokter menghela napas panjang, menyeka keringat di dahinya. "Pasien sudah melewati masa kritisnya untuk saat ini, tapi kondisinya sangat tidak stabil. Kita harus segera memindahkannya ke ICU untuk observasi ketat."

Aku keluar dari ruangan dengan kaki lemas, hampir terjatuh jika Bapak Arlan tidak segera menopangku. "Dia selamat, Om. Arlan masih bertahan," bisikku parau.

Ibu Arlan menangis histeris karena lega, memelukku erat-iap seolah aku adalah satu-satunya harapan mereka. Namun, di balik rasa syukur itu, kata-kata terakhir Arlan sebelum jantungnya berhenti tadi terus terngiang di kepalaku.

"Siska... aku dipaksa minum... dia jebak aku."

Apa yang sebenarnya terjadi di Jogja? Apakah selama tiga tahun ini aku membenci orang yang salah? Atau ini hanya trik Arlan di saat-saat terakhirnya agar aku merasa iba?

Malam itu, aku duduk di kursi tunggu koridor ICU yang dingin. Orang tua Arlan sudah kucujuk untuk beristirahat sebentar di kantin. Di tengah keheningan, ponselku bergetar. Sebuah nomor yang sudah sangat kuhafal muncul di layar. Harva.

Aku ragu sejenak, namun akhirnya mengangkatnya.

"Kamu sudah puas, Rania?" suara Harva terdengar begitu tajam dan penuh kebencian di seberang sana. "Pak Bram baru saja menelponku. Aku sudah menarik semua dukungan Vantara untuk proyek Tangerang karena ketidakprofesionalanmu hari ini. Kamu kehilangan segalanya, Ran. Karirmu, proyekmu, dan sebentar lagi... harga dirimu."

Aku memejamkan mata, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. "Kalau harga diri menurutmu adalah membiarkan orang mati demi selembar kontrak, maka kita memang tidak pernah berada di level yang sama, Harva."

"Jangan sombong! Lihat saja, besok pagi kamu akan dipanggil ke ruang direksi. Selamat tinggal, Rania. Nikmati sisa waktumu dengan mayat hidup itu," Harva mematikan telepon dengan kasar.

Aku meletakkan ponselku di pangkuan. Kehilangan proyek besar itu memang menyakitkan, tapi entah kenapa, rasa mual yang biasanya menyiksaku kini perlahan memudar.

Tiba-tiba, seorang wanita berjalan menyusuri koridor ICU dengan langkah yang angkuh. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai marmer. Begitu dia melepaskan kacamata hitamnya, jantungku berdegup kencang.

Siska.

Dia berdiri di hadapanku dengan senyum tipis yang menjijikkan. "Wah, dramanya seru ya? Sampai masuk ICU segala. Tapi kayaknya kamu belum tahu rahasia yang mau Arlan kasih tahu tadi, kan?"

Siska merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dan menggoyangkannya di depan wajahku. "Mau tahu apa yang terjadi malam itu? Aku punya videonya. Tapi harganya mahal, Rania. Semahal posisi yang baru saja kamu lepaskan di kantor."

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!