NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:182.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buktikan Sendiri

Timmy tiba-tiba berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius saat menatap Naomi.

“Naomi,” katanya dengan nada serous. “Kau serius?”

Yura ikut mencondongkan tubuh ke depan. “Jangan-jangan kamu bercanda?” ujarnya ragu. “Ini ulang tahun siapa memangnya bulan ini?”

Sonya mengerutkan kening, lalu berpikir sejenak. Ketiganya saling pandang.

Beberapa detik berlalu.

“Tidak ada,” gumam Sonya akhirnya. “Tidak ada yang ulang tahun hari ini.”

Naomi mengangguk pelan. “Aku serius,” katanya mantap. “Aku tidak mungkin berbohong soal ini.”

Ia menatap mereka satu per satu. “Apa kalian tidak merasa aneh dengan perubahan sikapku setelah aku bangun dari koma?”

Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening.

Timmy terdiam, alisnya berkerut. Yura menunduk, sementara Sonya menggigit bibirnya pelan. Mereka semua tahu, bahkan merasakannya langsung.

Naomi memang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia yang dulu selalu diam, menunduk, dan menurut saat berhubungan dengan keluarga kandungnya, kini justru tegas. Ia yang dulu mati-matian bertahan di keluarga Elios, sekarang malah menjauh seolah tidak ingin lagi terikat apa pun dengan mereka.

Timmy menghela napas pelan. “Kalau begitu .…” katanya hati-hati, “kau benar-benar bereinkarnasi, Nao?”

Naomi kembali mengangguk. Wajahnya serius, tidak ada sedikit pun tanda bercanda.

Ketiga sahabatnya saling berpandangan. Di mata mereka tergambar kebingungan antara ingin percaya dan takut mempercayai sesuatu yang terdengar mustahil.

Melihat ekspresi itu, Naomi tersenyum tipis. “Tidak apa-apa kalau kalian tidak ingin percaya,” katanya tenang. “Aku mengerti.”

Ia lalu mengalihkan pembicaraan. “Sekarang tanggal berapa?”

Sonya menoleh ke ponselnya. “Dua puluh enam,” jawabnya. “Tanggal dua puluh enam.”

Naomi terdiam.

Tatapan matanya menerawang, seolah mengingat sesuatu yang tidak diketahui siapa pun selain dirinya. Ia tahu betul apa yang akan terjadi esok hari.

Beberapa detik kemudian, Naomi mengangkat kepalanya. Ia menunjuk Timmy lebih dulu.

“Tim,” ucapnya pelan. “Besok pagi, motor sport kesayanganmu akan mogok di tengah jalan dekat kuburan. Kamu akan terlambat masuk kelas, dan dosen statistik akan menegurmu di depan kelas.”

Timmy membelalak. “Hah?”

Naomi lalu menoleh ke Yura. “Yura, besok kamu akan menerima telepon dari rumah sakit. Bukan kabar buruk, tapi kamu akan panik karena mengira ibumu kambuh. Padahal hanya salah paham.”

Yura menegang. “Kau … kau tahu dari mana soal ibuku?”

Terakhir, Naomi menatap Sonya. “Dan kamu, Son. Besok sore, kamu akan bertengkar dengan pacarmu karena pesan yang sebenarnya bukan untukmu. Dan yaa, kalian akan putus karena itu.”

Rooftop kembali sunyi. Angin berembus pelan, namun ketiganya merasakan bulu kuduk mereka merinding.

Naomi menurunkan tangannya. “Aku tidak meminta kalian langsung percaya,” katanya lirih. “Tunggu saja sampai besok. Kalau semua itu terjadi … baru kalian putuskan sendiri.”

Naomi melihat jam tangannya yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“Sudah hampir masuk jam kuliah,” katanya. “Kita ke kelas saja.”

Sonya, Yura, dan Timmy saling pandang, lalu mengangguk. Tanpa berkata banyak, mereka berjalan turun dan menuju ruang kelas masing-masing. Percakapan tentang reinkarnasi itu pun terpaksa tertunda, meski masih terngiang di benak mereka.

*

Sore harinya, setelah mata kuliah terakhir selesai, Naomi melangkah keluar dari gedung fakultas bersama ketiga sahabatnya.

Begitu melewati pintu kampus, pandangan Naomi langsung tertuju pada sebuah mobil yang sangat familiar baginya. Mobil hitam itu terparkir tak jauh dari sana.

Itu adalah mobil milik Erick. Calon tunangan Naomi.

Naomi berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku duluan, ya,” katanya pada ketiga sahabatnya.

“Oke,” jawab Sonya sambil tersenyum.

“Titip salam buat Erick,” tambah Timmy dengan nada menggoda.

Yura hanya mengangguk pelan. Ketiganya mengira Naomi akan menuju Erick seperti biasanya.

Naomi pun melangkah cepat, senyum tipis masih terukir di wajahnya.

Di sisi lain, Erick yang berdiri di samping mobilnya menyeringai sinis saat melihat Naomi berjalan ke arahnya.

“Heh!” gumamnya pelan. “Sudah kuduga.”

Ia menyilangkan tangan di dada. “Kau memang tidak akan tahan jauh dariku,” lanjutnya dalam hati. “Benar-benar gadis munafik kau Naomi.”

Erick sudah memasang ekspresi dingin seperti biasa. Dalam pikirannya, ia bahkan sudah bersiap memarahi Naomi terlebih setelah mendengar aduan dari adiknya.

Saat Naomi semakin dekat, Erick mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahnya.

“Naomi, dengar—”

Kalimat Erick langsung terhenti. Naomi tidak berhenti. Ia bahkan tidak melirik Erick sedikit pun. Gadis itu melewatinya begitu saja.

Erick membeku di tempatnya. “Apa?” gumamnya bingung.

Ia segera berbalik, mengikuti arah langkah Naomi dengan tatapan tak percaya. Barulah ia menyadari bahwa Naomi tidak menuju ke mobilnya, melainkan menyeberang jalan ke arah sebuah mobil mewah yang terparkir di seberang.

Itu adalah mobil Max.

Naomi berhenti di depan mobil itu, wajahnya langsung berbinar. Kaca jendela terbuka, memperlihatkan Max di kursi pengemudi.

“Kakak,” sapa Naomi ceria. “Kakak pasti datang menjemputku, kan?” tebaknya dengan mata berbinar terang.

Max mendengus pelan. “Jangan salah paham,” jawabnya datar. “Aku hanya kebetulan lewat depan kampusmu. Ada urusan.”

Naomi langsung cemberut. “Oh … aku kira kakak sengaja datang menjemputku hari ini.”

“Jangan terlalu percaya diri,” ujar Max sambil meliriknya singkat.

Naomi mengangguk lemas. “Baiklah,” katanya. “Aku yang terlalu percaya diri.”

Di balik sikapnya yang dingin, Max diam-diam tersenyum tipis. Padahal, ia memang sengaja datang menjemput Naomi bahkan meninggalkan tumpukan pekerjaan yang masih menunggu di kantor.

Max berdeham ringan. “Karena aku sudah terlanjur lewat,” katanya akhirnya, “ayo pulang.”

Naomi langsung mengangguk kecil. “Iya.”

Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Max pun langsung menarik sabuk pengaman miliknya. Tak lama kemudian, mobil mewah itu melaju pergi meninggalkan area kampus.

Di seberang jalan, tangan Erick mengepal kuat. Rahangnya mengeras, matanya menatap mobil yang semakin menjauh.

Tiba-tiba terdengar suara tawa.

“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”

Erick menoleh.

Timmy berdiri tak jauh dari sana bersama Sonya dan Yura. Wajah mereka penuh ejekan.

“Kasihan sekali,” kata Timmy tertawa samnil menutup mulutnya. “Terlalu percaya diri, ya.”

Sonya ikut menimpali, “Sudah siap-siap marah, ternyata tidak dianggap. Benar-benar kasihan.”

Yura hanya tersenyum tipis, lalu berkata singkat, “Ayo. Kita tinggalkan orang tak penting sebelum dia mengamuk.”

Ketiganya segera pergi menuju kendaraan masing-masing, meninggalkan Erick yang berdiri kaku dengan perasaan dongkol dan harga diri yang tercabik.

Di dalam mobil, suasana terasa hening. Naomi duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan tanpa berkata apa pun. Raut wajahnya tampak tenang, tetapi jelas pikirannya sedang melayang entah ke mana.

Max melirik sekilas ke arahnya. “Kamu kenapa?” tanyanya akhirnya. “Sejak tadi diam saja.”

Naomi terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah kakak angkatnya.

“Kak,” ucapnya pelan, “kita jangan pulang dulu.”

Max mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Naomi menarik napas kecil. “Bukannya kakak ingin bertemu dengan ketiga tuan muda lainnya hari ini?”

Pertanyaan itu membuat tangan Max yang memegang kemudi sedikit mengendur. Ia menoleh cepat ke arah Naomi.

“Dari mana kamu tahu?” tanyanya curiga.

Naomi refleks memejamkan mata. Ia keceplosan.

Ia lalu membuka matanya kembali dan berdeham pelan. “Aku … aku tidak sengaja mendengar, semalam, waktu kakak berbicara dengan mereka,” kata Naomi hati-hati.

Max terdiam. Pandangannya kembali lurus ke jalan. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Begitu.”

Naomi menghela napas lega..“Kalau begitu,” katanya sambil tersenyum kecil, “ayo, Kak. Aku ikut ke sana, ya?”

Max kembali menoleh. “Kamu ikut?”

Naomi mengangguk cepat. “Iya. Aku bosan kalau harus di rumah terus.” Ia lalu menambahkan dengan nada meyakinkan, “Aku janji tidak akan nakal.”

Naomi menoleh sepenuhnya ke arah Max dan memasang ekspresi memelas, kedua matanya membulat seperti anak anjing.

Max menghela napas panjang. Tak bisa menolak Naomi dengan ekspresi menggemaskan seperti itu.

Naomi tersenyum tipis, tetap menatapnya penuh harap.

Beberapa saat kemudian, Max kembali menghela napas, kali ini lebih dalam.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi kamu ikut diam-diam. Jangan ikut campur.”

Wajah Naomi langsung berbinar. “Siap, Kak!”

1
Arbaati
kapokmu kapan
Kusii Yaati
nah kan kena gampar sama max, terlalu kepedean sih... tubuh max itu terlalu mahal untuk di sentuh sama yang murahan kayak elo... sakit nggak seberapa tapi malunya luar biasa, udah di tolak di depan umum kena gampar pula 🤣🤣🤣🤣
Atalia
mampus kau vivian 😂😂😂
Silla Okta
babang max emang the best,,, gak mungkin tergoda sama ulet keket,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣 next Thor
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tumaan 🤣🤣 dipuskn berpa pri tuh 😤
Eka Haslinda
babang Max Seraaamm 👍👍👍
Hary Nengsih
salah sasaran y 🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Si Zane ini sensi banget dah 🤣
Nor Azlin
Rasakan lah anak orang lain yang kalian jaga & anggap anak sendiri malah menikam kalian dari belakang🤣🤣🤣🤣ini lah karma yang kalian cari sendiri ...buat yang kayak nyonya sama tuan Elios ini berpada2 lah mau menjaga anak orang yang kehilangan kedua orang tua nya kerana ini sangat berbahaya akibat nya mereka membuang anak sendiri kedesa namun meranti kan anak orang lain menjadi puteri mereka...sesuatu kebenaran sangat menyakitkan di saat semua nya terbongkar dengan sendiri disaat kalian di ambang kehancuran bukan bisa menolong malah membinasakan masa depan kalian semua yah 😂😂😂semoga ini titik pelajaran buat kalian para manusia busuk darah daging sendiri dituduh2 Mulu dasar orang tua bodoh percaya dengan orang luar berbanding anak yang di kandung kan nya sendiri ...ini lah contoh orang tua bodoh sudah ada anak sendiri masih mau ambil lagi beban yang akan membinasakan diri mereka sendiri deh...lanjutkan thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mantap Max walau menurut saya kurang tp tak apa itu sebagai perkenalan sama Viviane 😉😏😅
Passolle
lanjut thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Zane sblm kamu marah dan pertemananmu dngn Max hancur gara" tunangan mu itu mending selidiki dulu 😏
zylla
yakin? 🤣🤣🤣🤣
zylla
Zane benar" bodoh
Lesmana
wkwkwkwk brasa timmy lg ngejual sonya ke clay😄😄😄
Tiara Bella
Viviane kena tampol max... mana mw diksh para pria lg kan itu hukuman dr max bt cwek kegatelan
🍒⃞⃟🦅 ☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
puas gak tuh viviane🤣🤣🤣
@ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hahahaha rasakan itu vivian
nnti pulang jadi apa coba
@ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
blm tau kah yg sebebrnya kau zen
🏡s⃝ᴿ . Cha
go maxxxx i lope you
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!