NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:53.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buktikan Sendiri

Timmy tiba-tiba berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius saat menatap Naomi.

“Naomi,” katanya dengan nada serous. “Kau serius?”

Yura ikut mencondongkan tubuh ke depan. “Jangan-jangan kamu bercanda?” ujarnya ragu. “Ini ulang tahun siapa memangnya bulan ini?”

Sonya mengerutkan kening, lalu berpikir sejenak. Ketiganya saling pandang.

Beberapa detik berlalu.

“Tidak ada,” gumam Sonya akhirnya. “Tidak ada yang ulang tahun hari ini.”

Naomi mengangguk pelan. “Aku serius,” katanya mantap. “Aku tidak mungkin berbohong soal ini.”

Ia menatap mereka satu per satu. “Apa kalian tidak merasa aneh dengan perubahan sikapku setelah aku bangun dari koma?”

Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening.

Timmy terdiam, alisnya berkerut. Yura menunduk, sementara Sonya menggigit bibirnya pelan. Mereka semua tahu, bahkan merasakannya langsung.

Naomi memang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia yang dulu selalu diam, menunduk, dan menurut saat berhubungan dengan keluarga kandungnya, kini justru tegas. Ia yang dulu mati-matian bertahan di keluarga Elios, sekarang malah menjauh seolah tidak ingin lagi terikat apa pun dengan mereka.

Timmy menghela napas pelan. “Kalau begitu .…” katanya hati-hati, “kau benar-benar bereinkarnasi, Nao?”

Naomi kembali mengangguk. Wajahnya serius, tidak ada sedikit pun tanda bercanda.

Ketiga sahabatnya saling berpandangan. Di mata mereka tergambar kebingungan antara ingin percaya dan takut mempercayai sesuatu yang terdengar mustahil.

Melihat ekspresi itu, Naomi tersenyum tipis. “Tidak apa-apa kalau kalian tidak ingin percaya,” katanya tenang. “Aku mengerti.”

Ia lalu mengalihkan pembicaraan. “Sekarang tanggal berapa?”

Sonya menoleh ke ponselnya. “Dua puluh enam,” jawabnya. “Tanggal dua puluh enam.”

Naomi terdiam.

Tatapan matanya menerawang, seolah mengingat sesuatu yang tidak diketahui siapa pun selain dirinya. Ia tahu betul apa yang akan terjadi esok hari.

Beberapa detik kemudian, Naomi mengangkat kepalanya. Ia menunjuk Timmy lebih dulu.

“Tim,” ucapnya pelan. “Besok pagi, motor sport kesayanganmu akan mogok di tengah jalan dekat kuburan. Kamu akan terlambat masuk kelas, dan dosen statistik akan menegurmu di depan kelas.”

Timmy membelalak. “Hah?”

Naomi lalu menoleh ke Yura. “Yura, besok kamu akan menerima telepon dari rumah sakit. Bukan kabar buruk, tapi kamu akan panik karena mengira ibumu kambuh. Padahal hanya salah paham.”

Yura menegang. “Kau … kau tahu dari mana soal ibuku?”

Terakhir, Naomi menatap Sonya. “Dan kamu, Son. Besok sore, kamu akan bertengkar dengan pacarmu karena pesan yang sebenarnya bukan untukmu. Dan yaa, kalian akan putus karena itu.”

Rooftop kembali sunyi. Angin berembus pelan, namun ketiganya merasakan bulu kuduk mereka merinding.

Naomi menurunkan tangannya. “Aku tidak meminta kalian langsung percaya,” katanya lirih. “Tunggu saja sampai besok. Kalau semua itu terjadi … baru kalian putuskan sendiri.”

Naomi melihat jam tangannya yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“Sudah hampir masuk jam kuliah,” katanya. “Kita ke kelas saja.”

Sonya, Yura, dan Timmy saling pandang, lalu mengangguk. Tanpa berkata banyak, mereka berjalan turun dan menuju ruang kelas masing-masing. Percakapan tentang reinkarnasi itu pun terpaksa tertunda, meski masih terngiang di benak mereka.

*

Sore harinya, setelah mata kuliah terakhir selesai, Naomi melangkah keluar dari gedung fakultas bersama ketiga sahabatnya.

Begitu melewati pintu kampus, pandangan Naomi langsung tertuju pada sebuah mobil yang sangat familiar baginya. Mobil hitam itu terparkir tak jauh dari sana.

Itu adalah mobil milik Erick. Calon tunangan Naomi.

Naomi berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku duluan, ya,” katanya pada ketiga sahabatnya.

“Oke,” jawab Sonya sambil tersenyum.

“Titip salam buat Erick,” tambah Timmy dengan nada menggoda.

Yura hanya mengangguk pelan. Ketiganya mengira Naomi akan menuju Erick seperti biasanya.

Naomi pun melangkah cepat, senyum tipis masih terukir di wajahnya.

Di sisi lain, Erick yang berdiri di samping mobilnya menyeringai sinis saat melihat Naomi berjalan ke arahnya.

“Heh!” gumamnya pelan. “Sudah kuduga.”

Ia menyilangkan tangan di dada. “Kau memang tidak akan tahan jauh dariku,” lanjutnya dalam hati. “Benar-benar gadis munafik kau Naomi.”

Erick sudah memasang ekspresi dingin seperti biasa. Dalam pikirannya, ia bahkan sudah bersiap memarahi Naomi terlebih setelah mendengar aduan dari adiknya.

Saat Naomi semakin dekat, Erick mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahnya.

“Naomi, dengar—”

Kalimat Erick langsung terhenti. Naomi tidak berhenti. Ia bahkan tidak melirik Erick sedikit pun. Gadis itu melewatinya begitu saja.

Erick membeku di tempatnya. “Apa?” gumamnya bingung.

Ia segera berbalik, mengikuti arah langkah Naomi dengan tatapan tak percaya. Barulah ia menyadari bahwa Naomi tidak menuju ke mobilnya, melainkan menyeberang jalan ke arah sebuah mobil mewah yang terparkir di seberang.

Itu adalah mobil Max.

Naomi berhenti di depan mobil itu, wajahnya langsung berbinar. Kaca jendela terbuka, memperlihatkan Max di kursi pengemudi.

“Kakak,” sapa Naomi ceria. “Kakak pasti datang menjemputku, kan?” tebaknya dengan mata berbinar terang.

Max mendengus pelan. “Jangan salah paham,” jawabnya datar. “Aku hanya kebetulan lewat depan kampusmu. Ada urusan.”

Naomi langsung cemberut. “Oh … aku kira kakak sengaja datang menjemputku hari ini.”

“Jangan terlalu percaya diri,” ujar Max sambil meliriknya singkat.

Naomi mengangguk lemas. “Baiklah,” katanya. “Aku yang terlalu percaya diri.”

Di balik sikapnya yang dingin, Max diam-diam tersenyum tipis. Padahal, ia memang sengaja datang menjemput Naomi bahkan meninggalkan tumpukan pekerjaan yang masih menunggu di kantor.

Max berdeham ringan. “Karena aku sudah terlanjur lewat,” katanya akhirnya, “ayo pulang.”

Naomi langsung mengangguk kecil. “Iya.”

Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Max pun langsung menarik sabuk pengaman miliknya. Tak lama kemudian, mobil mewah itu melaju pergi meninggalkan area kampus.

Di seberang jalan, tangan Erick mengepal kuat. Rahangnya mengeras, matanya menatap mobil yang semakin menjauh.

Tiba-tiba terdengar suara tawa.

“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”

Erick menoleh.

Timmy berdiri tak jauh dari sana bersama Sonya dan Yura. Wajah mereka penuh ejekan.

“Kasihan sekali,” kata Timmy tertawa samnil menutup mulutnya. “Terlalu percaya diri, ya.”

Sonya ikut menimpali, “Sudah siap-siap marah, ternyata tidak dianggap. Benar-benar kasihan.”

Yura hanya tersenyum tipis, lalu berkata singkat, “Ayo. Kita tinggalkan orang tak penting sebelum dia mengamuk.”

Ketiganya segera pergi menuju kendaraan masing-masing, meninggalkan Erick yang berdiri kaku dengan perasaan dongkol dan harga diri yang tercabik.

Di dalam mobil, suasana terasa hening. Naomi duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan tanpa berkata apa pun. Raut wajahnya tampak tenang, tetapi jelas pikirannya sedang melayang entah ke mana.

Max melirik sekilas ke arahnya. “Kamu kenapa?” tanyanya akhirnya. “Sejak tadi diam saja.”

Naomi terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah kakak angkatnya.

“Kak,” ucapnya pelan, “kita jangan pulang dulu.”

Max mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Naomi menarik napas kecil. “Bukannya kakak ingin bertemu dengan ketiga tuan muda lainnya hari ini?”

Pertanyaan itu membuat tangan Max yang memegang kemudi sedikit mengendur. Ia menoleh cepat ke arah Naomi.

“Dari mana kamu tahu?” tanyanya curiga.

Naomi refleks memejamkan mata. Ia keceplosan.

Ia lalu membuka matanya kembali dan berdeham pelan. “Aku … aku tidak sengaja mendengar, semalam, waktu kakak berbicara dengan mereka,” kata Naomi hati-hati.

Max terdiam. Pandangannya kembali lurus ke jalan. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Begitu.”

Naomi menghela napas lega..“Kalau begitu,” katanya sambil tersenyum kecil, “ayo, Kak. Aku ikut ke sana, ya?”

Max kembali menoleh. “Kamu ikut?”

Naomi mengangguk cepat. “Iya. Aku bosan kalau harus di rumah terus.” Ia lalu menambahkan dengan nada meyakinkan, “Aku janji tidak akan nakal.”

Naomi menoleh sepenuhnya ke arah Max dan memasang ekspresi memelas, kedua matanya membulat seperti anak anjing.

Max menghela napas panjang. Tak bisa menolak Naomi dengan ekspresi menggemaskan seperti itu.

Naomi tersenyum tipis, tetap menatapnya penuh harap.

Beberapa saat kemudian, Max kembali menghela napas, kali ini lebih dalam.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi kamu ikut diam-diam. Jangan ikut campur.”

Wajah Naomi langsung berbinar. “Siap, Kak!”

1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Timmy kayak emak" yg suka barang diskonan 😅😅
Dew666
💃💃💃💃💃
Miss Typo
sopo meneh sing rep ngerjain Naomi itu 😤
Hanima
minta pelasah 🤭
Tiara Bella
kepedean bngt sh tuh orang....
mama_im
orang gila mana lagi ini 😤😤😤
Zeepree 1994
Thor bilang ke Naomi dah ini para emak2 pengagum diskon mau ikut bantu belanja 😅🤭
Emmastlen95
jangan lupa upnya ya buat lebih sikit okey 👌👏🤜🤛♥️💗💓💞💕🤗👍/Smile//Scream//Determined/
Queen adzilla👑
mampus emang enak😂dasar kakak laknat😤pasti bakal nyesal kalau tau kelakuan si anak pungut/Grimace/
Miss Typo
wahahaha sukurin emang enak,,,
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
Kusii Yaati
sekalian Sonya burung perkutut nya yang kecil itu kasih alat kejut listriknya biar nggak bisa bangun lagi 🤭
Lyvia
suwun thor upnya
sukensri hardiati
ni volkov yg sama dengan klan zoe dallen volkov ?
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Beda kak🤣🤣
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
kalo penyakit hati mulai mendera, madu yang manis pun bagaikan racun yang mematikan
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehhh kapok 1 mobil di rusak maka gantinya. 2mobil hahahha lebih dr impas
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
mampus
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
Noey Aprilia
Bagooooosss......
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....
sambua
syukurin ini msh blm seberapa 😤
sambua
yg ada kau yg akan menyesal nanti Krn sdh salah milih membela si rubah betina itu/Sly/
sambua
jgn bilang nanti clay ini jdi calon jodoh nya sonya ya kak othoorr/Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!