Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Dunia Tanpa Filter
Setelah kejadian mengerikan dengan para bandit, kami terus berjalan hingga larut malam. Kaki-kakiku terasa seperti batu, dan kelopak mata baginya dibebani oleh rasa lelah yang amat sangat. Akhirnya, aku menyerah. "Eveline, aku tidak bisa lagi. Aku butuh tidur."
Dia mengangguk, dan dengan sigap mencari tempat yang agak terlindung di balik bebatuan besar. Dia mengumpulkan ranting dan daun kering, dan dengan sedikit gerakan jari, api unggun kecil kembali menyala, menghangatkan udara yang semakin dingin.
"Aku akan berjaga," ujarnya sambil duduk di seberangku, posturnya tegak dan waspada.
Aku tidak membantah. Tubuhku nyaris kolaps. Aku merebahkan diri di atas tanah yang dingin, menggunakan tas kecil sebagai bantal, dan tak lama kemudian, kegelapan menyergapku.
Aku berdiri di suatu tempat yang berkabut. Kabut putih pekat menyelimuti segalanya, hingga hanya beberapa meter di depanku yang bisa kulihat. Suara tangis samar-samar terdengar—tangisan seorang perempuan.
"Jangan tinggalkan aku..."
Suara itu lemah, penuh keputusasaan. Aku berusaha melangkah mendekat, tapi kakiku terasa berat.
"Kembalilah..."
Aku memicingkan mata, berusaha menembus kabut. Hanya siluet samar seorang gadis yang bisa kulihat. Dia sedang berlutut, bahunya bergerak-gerak menahan isak tangis. Aku berusaha melihat wajahnya, tapi kabut seolah hidup, selalu bergerak untuk menutupinya.
"Siapa kamu?" tanyaku, tapi suaraku seperti tenggelam dalam kekosongan.
Tangisannya semakin keras, semakin menghantui. "Kau berjanji... jangan tinggalkan aku sendirian di sini..."
Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak bisa mendekat. Jarak antara kami seolah tak tergapai. Perasaan bersalah dan duka yang tidak bisa kupahami membanjiri diriku.
"Bangun."
Suara datar Eveline membangunkanku. Sinar matahari pagi menyelinap melalui daun-daun pohon, menyinariku langsung di wajah. Aku mengerang, mengangkat tangan untuk melindungi matanya. Kepalaku berdenyut-denyut sakit, seperti ada yang memukul-mukul dari dalam.
"Kepalaku..." keluhku sambil duduk perlahan. "Aku mimpi aneh sekali."
Eveline sudah berdiri, api unggun telah dipadamkannya. "Mimpi apa?"
"Aku... tidak terlalu ingat," jawabku sambil mengusap pelipis. "Hanya ada kabut, dan seorang gadis menangis... memintaku untuk tidak meninggalkannya. Wajahnya tidak bisa kulihat." Aku menggeleng-gelakkan kepala, berusaha mengusir sisa-sisa mimpi itu dan denyutan yang mengganggu. "Rasanya... sangat nyata. Dan menyedihkan."
Eveline diam sejenak, matanya yang biru pucat menatapku dengan intens. "Mungkin itu hanya sisa ketakutan dari peristiwa semalam. Atau mungkin... efek dari ikatan kita."
"Ikatan kita menyebabkan mimpi seperti itu?" tanyaku sambil berdiri, masih agak limbung.
"Tidak mustahil," jawabnya, membantu membereskan barang-barang kami. "Jiwa dan ingatan kita kini terhubung. Kadang, batas antara realitas dan mimpi bisa menjadi... kabur."
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menjernihkan pikiran. Mimpi itu meninggalkan rasa hampa dan sedih yang aneh di dadaku, seolah ada sesuatu yang penting yang terlewat.
"Apapun itu, kita harus terus berjalan," ujarku, memaksakan diri untuk fokus. "Kota Veridia masih menanti."
Eveline mengangguk, dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Namun, bayangan gadis menangis dalam mimpiku dan rasa sakit di kepalaku terus mengikutiku, seperti kabut tipis yang tak kunjung hilang, menambah beban di pundakku yang sudah dipenuhi oleh misteri dunia baruku ini.
Setelah melewati malam yang dipenuhi mimpi buruk dan bangun dengan kepala yang masih berdenyut, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tujuanku jelas: mencapai Veridia, ibu kota Kadipaten Lindenroth. Menurut peta yang kami bawa dan penjelasan Eveline, kota itu seharusnya tidak lebih dari setengah hari perjalanan lagi dari lokasi kami sekarang. Veridia bukan hanya tujuan geografis, tapi juga sumber harapan satu-satunya untuk memahami dunia ini dan mencari cara bertahan hidup di dalamnya.
Perjalanan pagi itu terasa lebih berat. Kaki masih pegal, pikiran masih diselubungi sisa-sisa mimpi aneh, dan rasa waspada terhadap bahaya yang mungkin mengintai di setiap belokan jalan. Hutan Silverwood perlahan mulai menipis, berganti dengan pemandangan bukit-bukit dan ladang yang mulai mengering diterpa musim dingin.
Dan akhirnya, di kejauhan, kelihatan sekumpulan bangunan dengan asap mengepul dari cerobongnya. Sebuah desa.
"Desa Oakhaven," ucap Eveline tiba-tiba, suaranya tetap datar. "Desa terakhir sebelum Veridia."
Saat kami melangkah masuk ke desa itu, suasana langsung terasa... berbeda. Rumah-rumah kayu beratap jerami dengan desain khas Eropa abad pertengahan berjejer di sepanjang jalan tanah. Beberapa penduduk desa yang sedang melakukan aktivitas—mengangkut air, memotong kayu, atau sekadar berbincang—serentak menghentikan apa yang mereka lakukan saat melihat kami.
Mata mereka membelalak, penuh dengan ketakutan yang nyata. Mereka berbisik-bisik, saling menyikut, dan beberapa wanita langsung menarik anak-anak mereka masuk ke dalam rumah. Aku bisa menangkap pandangan was-was dan rasa tidak percaya yang tertuju padaku, dan terutama, pada Eveline di sampingku.
Tiba-tiba, seorang wanita tua yang keriput, berdiri di depan pintu rumahnya, menjatuhkan keranjang kayu yang dipegangnya. Suara kayu jatuh memecah kesunyian. Matanya tertuju pada Eveline, penuh ketakutan dan pengakuan.
"P-Putri... Putri Eveline?" teriaknya dengan suara serak, hampir tidak percaya. "B-Bagaimana mungkin? H-Hantu... kau adalah hantu dari masa lalu!"
Orang ini mengenalinya. Dan dia menyebut Eveline dengan sebutan "Putri". Statusnya yang sebagai putri adipati masih diingat.
Melihat reaksi ketakutan itu, aku cepat-cepat berbisik pada Eveline. "Eveline, saran aku, beraktinglah. Bersikap lah seperti dirimu dulu, saat kau masih hidup. Cobalah tenangkan mereka."
Eveline mengangguk perlahan. Lalu, dia mengangkat dagunya, bahunya menarik kebelakang, dan ekspresi datarnya berubah menjadi sebuah tatapan dingin dan penuh superioritas. Dia melangkah maju, suaranya yang biasanya datar kini berubah menjadi bernada tinggi dan penuh sikap merendahkan.
"Berdirilah dengan tegak, wanita tua! Apakah ini caramu menyambut putri dari Adipatimu? Atau matamu sudah buta sehingga tidak bisa mengenaliku?" ujarnya dengan suara lantang yang memenuhi seluruh area. "Lenyap dari pandanganku! Aku tidak sudi melihat wajah-wajah kotor dan ketakutan seperti kalian!"
Aku langsung tercekat. Ini bukan sekadar 'bersikap seperti dulu'. Ini adalah kesombongan tingkat tinggi!
Warga desa yang ketakutan itu langsung menunduk dan berhamburan masuk ke rumah-rumah mereka, meninggalkan jalanan yang tadinya ramai menjadi sepi dalam sekejap.
"Aku minta maaf!" kataku cepat kepada wanita tua dan warga yang masih bisa mendengarku, mencoba memperbaiki situasi. "Dia tidak bermaksud—"
Tapi mereka hanya melirikku dengan bingung dan ketakutan. Mereka tidak mengerti bahasaku.
Eveline lalu berbicara dengan bahasa mereka, suaranya masih bernada tinggi. Aku bisa memahaminya berkat ikatan kami. "Orang asing bodoh ini meminta maaf atas ketidaksopanan kalian. Sekarang, tutup pintu-pintu kalian dan jangan ganggu perjalananku!"
Aku menarik napas dalam, menahan rasa frustrasi. Aku menarik lengan Eveline dan membawanya menyusuri jalan desa dengan cepat, meninggalkan desa yang kini menjadi sunyi dan mencekam.
Begitu kami keluar dari desa dan kembali ke jalan sepi menuju Veridia, aku berhenti dan menatapnya.
"Eveline," kataku, mencoba bersikap tenang. "Aku memintamu untuk berakting, bukan untuk meneror mereka."
"Dulu, itulah caraku," jawabnya, kembali ke suara datarnya. "Aku adalah putri adipati. Rakyat jelata bukanlah urusanku."
"Aku mengerti. Tapi untuk selanjutnya, tolong, jangan seperti itu lagi," pinta ku tegas. "Buang sifat sombongmu itu. Dari sekarang, cobalah untuk bersikap rendah hati. Hormati mereka, meski mereka rakyat kecil. Jangan memandang mereka dengan sebelah mata. Itu yang kuminta."
Eveline memandangiku lama, seolah memproses perintah yang asing baginya. "Rendah hati...? Itu bukan caraku."
"Tapi itu caraku," tukasku. "Dan kau harus mengikutiku, ingat? Percayalah, di dunia yang berbahaya ini, memiliki teman lebih baik daripada memiliki musuh. Dan sikap sombongmu tadi hanya akan menciptakan lebih banyak musuh."
Dia terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Aku... akan mencoba. Aku akan berusaha membuang sifat sombongku dan menjadi... rendah hati."
"Bagus," ujarku, merasa lega. "Sekarang, mari kita lanjutkan. Dan ingat, Veridia mungkin penuh dengan orang yang mengenalimu. Kita harus lebih berhati-hati."
Perjalanan dilanjutkan dengan pikiran yang lebih berat. Tidak hanya harus menyembunyikan identitas asliku, tapi kini aku juga harus mengajarkan sopan santun dasar pada seorang putri mayat hidup yang sombong. Tantanganku di dunia baru ini ternyata tidak hanya bersifat fisik, tapi juga sosial.
Setelah melewati desa Oakhaven yang mencekam, kami kembali menyusuri jalan setapak menuju Veridia. Pemandangan sekitar mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang lebih ramai—ladang yang lebih terawat, jalan yang lebih lebar, dan bahkan jejak roda pedati yang masih fresh. Namun, pikiran ku masih diselimuti oleh pertanyaan-pertanyaan besar tentang dunia tempat aku terlempar.
"Eveline," mulailku, memecah kesunyian di antara kami. "Aku ingin bertanya tentang duniamu. Di sini... apakah ada perbudakan?"
Eveline menoleh kepadaku, matanya yang biru pucat tidak menunjukkan kejutan. "Tentu saja," jawabnya dengan datar, seolah menanyakan apakah hujan turun. "Budak adalah tulang punggung ekonomi di banyak kadipaten. Ada beberapa jenis: budak perang—tawanan dari konflik antar kadipaten, budak hutang—mereka yang tidak mampu melunasi pinjaman, budak pekerja untuk tambang dan perkebunan, dan..." dia sedikit berhenti, "...budak seks untuk hiburan kaum bangsawan dan pedagang kaya."
Jawaban langsung dan tanpa embel-embel itu membuat perutku mual. Dunia ini ternyata lebih kejam dari yang kubayangkan.
"Dan... tentang ras? Apakah hanya manusia seperti kita saja?"
"Tidak," balasnya. "Setidaknya ada empat ras utama manusia dengan ciri khas masing-masing. Manusia dataran tinggi dengan kulit pucat dan rambut terang seperti kami, manusia gurun dengan kulit gelap dan mata tajam, manusia kepulauan dengan kulit sawo matang dan rambut ikal, serta manusia hutan yang lebih pendek dan lincah."
Dia melanjutkan dengan suara yang tetap monoton, "Lalu ada ras semi-manusia atau furry—manusia dengan ciri hewan tertentu. Beast—makhluk yang lebih mendekati hewan tapi memiliki kecerdasan. Iblis—penghuni wilayah gelap dengan sihir hitam. Dan yang paling langka dan kontroversial..."
Eveline menatapku lebih intens. "...adalah Dewa dan Dewi Jatuh—makhluk abadi yang diusir dari alam mereka dan terdampar di dunia fana."
Aku mengerutkan kening. "Dewa jatuh? Seperti apa mereka?"
"Mereka masih menyimpan sisa kekuatan ilahi, tapi tidak lagi sempurna. Yang menarik," ujarnya, "banyak dari mereka memiliki pengikut fanatik. Mereka memanipulasi pengikutnya, menjadikan mereka bidak dalam permainan catur politik yang abadi. Setiap dewa jatuh ingin membuktikan mereka yang terhebat, seringkali dengan mengorbankan pengikutnya sendiri."
Mendengar penjelasannya, aku merasa familiar dengan konsep itu. "Jadi... mereka seperti pemimpin kultus atau organisasi radikal di duniaku. Bukan karena mereka dewa, tapi karena mereka merasa paling suci dan berhak mengendalikan orang lain. Di tempat asalku, banyak orang seperti itu—mengatasnamakan agama atau ideologi, tapi sebenarnya hanya mencari kekuasaan dan pengikut."
Eveline mengangguk perlahan. "Deskripsimu tepat. Mereka bukan ilahi sejati, hanya makhluk kuat yang haus pengakuan. Tapi pengaruh mereka nyata dan telah menyebabkan banyak kerusakan moral baik di kalangan manusia maupun ras lain."
Aku menghela napas, mencerna semua informasi ini. Dunia ini bukan hanya asing secara geografis, tapi juga kompleks secara sosial dan politis. Perbudakan, multi-ras, dan permainan kekuasaan oleh makhluk-makhluk yang mengaku ilahi.
"Jadi kita harus berhati-hati bukan hanya dari manusia, tapi juga dari ras lain dan... 'dewa-dewi' ini," gumamku.
"Ya," konfirmasi Eveline. "Veridia adalah kota besar. Semua ras dan kepentingan ada di sana. Itu sebabnya kita harus waspada."
Perjalanan pun berlanjut dengan pemahaman baru yang membuatku semakin sadar: bertahan hidup di dunia ini akan membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik. Aku harus mempelajari aturan sosial yang kompleks dan berbahaya ini, dan cepat.
Setelah berjam-jam berjalan, melewati ladang dan perkebunan yang mulai sepi, akhirnya sebuah pemandangan megah membentang di kejauhan. Di atas sebuah bukit tinggi, berdiri kokoh sebuah istana dengan menara-menara menjulang, dinding batu pucatnya berkilauan lembut di bawah sinar matahari sore. Di bawahnya, terhampar pemukiman padat yang dikelilingi oleh tembok kota tinggi.
"Veridia," ucap Eveline di sampingku, suaranya tetap datar namun seolah ada gema pengakuan di dalamnya. "Ibu kota Kadipaten Lindenroth. Kita hampir sampai."
Melihat istana yang megah itu, untuk sesaat aku membayangkan sebuah kota fantasi seperti dalam anime-anime yang sering kutonton dulu—bersih, pen warna-warni, dan penduduknya ramah.
Namun, semakin dekat kami dengan gerbang kota, bayangan indah itu mulai memudar. Tembok kota yang dari jauh terlihat kokoh, ternyata dipenuhi retakan dan tambalan di beberapa bagian. Antrian panjang pedati, pedagang, dan pengelana terlihat di depan gerbang kayu besar yang dijaga ketat oleh para prajurit berseragam.
Saat kami mendekat, seorang prajurit dengan baju zirah kulit dan tombak di tangan melangkah maju. Matanya yang awalnya menyapu kami dengan acuh, tiba-tiba terbuka lebar saat tertuju pada Eveline. Wajahnya berubah pucat, campuran antara takut dan tidak percaya.
"P-Putri Eveline van der Linden?" ujarnya dengan suara bergetar, hampir seperti berbisik. "D-Demi langit... T-tapi bagaimana?"
Eveline, mengingat pesanku, tidak mengangkat dagu atau bersikap sombong. Sebaliknya, dia memberikan anggukan halus dan suaranya terdengar tenang, bahkan sedikit lembut.
"Ya, akulah Eveline," katanya. "Aku mohon, izinkan kami masuk ke dalam kota. Rekan seperjalananku ini," dia menunjuk ke arahku, "adalah partnernya. Kami memiliki urusan di dalam kota."
Prajurit itu masih terlihat syok, tapi dia cepat-cepat membungkuk dalam-dalam. "T-Tentu saja, Yang Mulia putri! Selamat datang kembali!" Dia berbalik dan berteriak pada rekannya, "Buka gerbang! Buat jalan untuk Yang Mulia!"
Dengan suara berderit yang keras, gerbang kayu besar itu terbuka. Para prajurit lainnya berbaris dengan sikap hormat, mata mereka masih dipenuhi rasa heran dan takjub. Jelas, meski telah bertahun-tahun hilang dan dianggap meninggal, aura kekuasaan dan pengakuan terhadap garis keturunan Eveline masih sangat kuat.
Begitu kami melangkah masuk ke dalam tembok kota, sebuah pemandangan sama sekali berbeda dari ekspektasiku menyambut.
Ini... tidak seperti anime sama sekali.
Bukannya jalanan bersih dengan toko-toko cantik, yang kulihat adalah jalanan sempit dan becek, dipenuhi lumpur dan sampah. Bau tidak sedap—campuran keringat, kotoran, dan sesuatu yang membusuk—langsung menusuk hidungku. Para penduduk kota, dengan pakaian lusuh dan wajah lelah, lalu lalang dengan tergesa-gesa. Beberapa anak kecil berlarian dengan kaki telanjang, wajah dan baju mereka kotor.
Bangunan-bangunan kayu berjejal di sepanjang jalan, beberapa terlihat nyaris roboh. Teriakan pedagang yang menawarkan barangnya yang sederhana bersahutan dengan lolongan anjing liar yang berkeliaran. Suasana sesak, kotor, dan... nyata.
Aku terdiam sejenak, mencerna semua ini. Tidak ada kemewahan fantasi di sini. Ini adalah realitas sebuah kota abad pertengahan—keras, kotor, dan penuh perjuangan untuk bertahan hidup.
"Tidak seperti yang kau bayangkan, bukan?" ucap Eveline, seolah bisa membaca pikiranku.
Aku menghela napas, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk. "Tidak," jawabku jujur. "Ini... lebih nyata. Dan lebih berbahaya, kurasa."
Dunia baruku ini ternyata tidak memiliki filter. Ini adalah tempat di mana glamor istana di bukit sama sekali tidak mencerminkan kehidupan sehari-hari rakyatnya. Dan di sinilah aku harus mulai belajar bertahan—bukan dalam dongeng, tapi dalam kenyataan yang keras dan tak kenal ampun.
Begitu kami melangkah lebih dalam ke pusat permukiman, semakin banyak mata yang tertuju pada kami. Bisik-bisik mulai bermunculan dari segala penjuru, seperti desir angin yang semakin kencang.
"Itu... itu Putri Eveline?" bisik seorang wanita paruh baya sambil memegangi keranjangnya erat-erat.
"Dia seharusnya sudah mati! Kata orang dia mati mengenaskan karena penyakit paru-paru..."
"Lihatlah caranya berjalan... seperti hantu yang kembali..."
"Keluarga van der Linden memang terkenal angkuh. Mungkin ini kutukan karena kesombongan mereka."
"Aku dengar dulu dia sangat kejam pada pelayan. Sekarang dia kembali untuk balas dendam?"
Aku mendengarkan semua bisikan itu dengan perasaan campur aduk. Rupanya tidak hanya Eveline yang terkenal sombong, tapi seluruh keluarganya. Ini menjelaskan mengapa warga desa tadi begitu ketakutan, dan mengapa sekarang mereka melihat dengan campuran rasa takut dan tidak suka.
Aku sendiri masih mengenakan baju kasualku—kemeja flanel dan celana jeans yang sudah kusam dan kotor setelah berhari-hari di jalan. Penampilanku yang tidak lazim ini semakin menarik perhatian, tapi sepertinya semua fokus tertuju pada Eveline.
"Jangan hiraukan mereka," bisikku pada Eveline. "Terus berjalan saja."
Eveline mengangguk halus, wajahnya tetap tenang. Dia berhasil menahan diri untuk tidak membalas atau menunjukkan sikap sombong seperti dulu.
Ketika kami akhirnya tiba di gerbang lingkungan istana, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Perbedaan antara luar dan dalam tembok istana begitu ekstrem, seperti dua dunia yang berbeda.
Di luar: jalanan becek, bau, dan kumuh.
Di dalam: jalanan batu yang bersih dan tertata rapi, taman yang terpelihara, dan bangunan-bangunan megah dengan arsitektur yang indah. Bahkan udaranya terasa berbeda—segar dan wangi, seolah kemiskinan dan kotoran tidak diizinkan untuk masuk ke area ini.
"Kau yakin ingin membawaku ke sini?" tanyaku ragu-ragu pada Eveline. "Aku... tidak cocok dengan tempat seperti ini."
Eveline memandangku, lalu melihat ke arah istana. Ekspresi datarnya sedikit berubah, seolah ada konflik di dalam dirinya.
"Aku... belum bisa memutuskan," jawabnya akhirnya. "Tapi kita harus mencoba. Untuk situasi seperti ini..." Dia berhenti sejenak, matanya berkedip. "...aku akan berakting dalam dua mode. Di dalam istana, aku akan menjadi Putri Eveline van der Linden yang dulu—angkuh dan berwibawa. Di luar, aku akan menjadi versi yang lebih rendah hati seperti yang kau inginkan."
Aku terkejut mendengar rencananya. "Kau bisa beralih seperti itu?"
"Dulu, itulah yang selalu kulakukan," jawabnya sederhana. "Bersikap berbeda di depan umum dan di tempat pribadi adalah keterampilan dasar kaum bangsawan."
Aku menghela napas, tapi akhirnya mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Setidaknya kau punya rencana."
Dengan perasaan was-was, kami melangkah melewati gerbang istana. Aku bisa merasakan tatapan para penjaga yang penuh curiga, terutama padaku dengan pakaianku yang tidak pantas. Tapi kehadiran Eveline seolah menjadi tiket masuk kami.
Dunia di dalam ternyata bahkan lebih menakjubkan—dan lebih menakutkan—daripada yang kubayangkan. Dan sekarang, permainan sandiwara kami yang sebenarnya akan segera dimulai.