Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hening, suasana di dalam ruangan ini mendadak sunyi yang menekan. Radit berdiri dengan napas tersengal, matanya merah, rahangnya mengeras begitu kuat sampai terlihat bergetar.
“Saya tidak akan pergi, Saya tidak akan menerima ini semua.” katanya tiba-tiba yang membuat direktur rumah sakit itu berdiri dari kursinya.
“Dokter Radit, Saya minta anda keluar dari ruangan ini sekarang juga.” pinta direktur rumah sakit itu dengan suara dingin dan tegas. Membuat Radit menatapnya dengan mata yang menyala oleh amarah.
“Saya tidak akan ke mana-mana,” kata Radit dengan keras. “Saya mohon pak, tolong batalkan pemecatan ini.”
“Keluar,” ulang direktur itu.
“Tidak!” bentak Radit dengan tidak tahu malu dan membuat direktur itu menekan tombol di meja kerjanya.
“Petugas keamanan—”
“Jangan!” potong Radit cepat. Ia maju satu langkah lagi. “Pak, saya mohon. Kita bisa bicarakan ini baik baik. Saya akan melakukan apa saja, asal bapak jangan memecat saya dari rumah sakit ini.”
Direktur itu berhenti. Menatap Radit cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu.
“Melakukan apa saja?” tanyanya pelan yang membuat Radit mengangguk cepat.
“Apa pun.”
Direktur itu menghela napas panjang dan kemudian berkata,
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “ada satu cara yang bisa kau lakukan supaya bisa tetap bekerja di rumah sakit ini.”
Kedua mata Radit berbinar sedikit. Harapan kecil itu muncul kembali.
“Apa itu, Pak?” tanyanya cepat dan membuat direktur itu menatapnya lurus, tanpa ragu.
“Jika kau ingin dipertimbangkan kembali untuk bekerja di rumah sakit ini,” ucapnya pelan tapi jelas, “Kau harus meminta maaf kepada Arsy.”
Radit membeku.
“Apa?” suaranya nyaris tidak terdengar. Direktur itu melanjutkan perkataannya, tanpa peduli pada keterkejutan di wajah Radit.
“Karena mulai hari ini,” katanya, “Arsy adalah pemilik sekaligus direktur di rumah sakit ini.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu dan menghantam jantung Radit dengan keras. Radit mundur setengah langkah dengan goyah sementara wajahnya terlihat pucat pasi.
“Itu tidak mungkin, bagaimana mungkin Arsy bisa menjadi direktur rumah sakit dalam waktu sesingkat itu, dan memutuskan apakah aku layak bekerja di rumah sakit ini atau tidak?!” gumam Radit yang tak percaya namun direktur itu hanya menatapnya dengan dingin.
"Kau harus tahu dokter Radit, kalau di dunia, tidak ada yang tidak mungkin. Lebih baik kau pergi menemui Arsy dan meminta maaf padanya, atau jika tidak, maka karirmu sebagai dokter akan berhenti sampai disini saja." Pinta direktur rumah sakit yang membuat Radit terpaksa pergi untuk menemui Arsy yang saat ini masih menjaga kondisi ayahnya di rumah sakit lain.
Langkah Radit terasa berat. Lorong rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu putih di langit-langit seolah menyilaukan matanya, sementara setiap pasang mata yang berpapasan dengannya terasa seperti sedang menghakimi. Ia berjalan cepat. Terlalu cepat. Seakan jika ia melambat sedikit saja, semua kenyataan ini akan mengejarnya dan menelan dirinya habis habis.
Arsy.
Nama itu kembali terngiang di kepala Radit dan membuatnya tertawa kecil saat tiba di parkiran, tawa yang terlihat hampa dan tidak ada lucunya sama sekali. Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil. Begitu duduk di balik kemudi, Radit menghantam setir mobilnya keras-keras.
“Brengsek,” gumamnya penuh amarah.
Mesin mobil menyala dan Radit melajukan kendaraannya keluar dari area rumah sakit dengan kecepatan yang tak seharusnya. Jalanan pagi itu cukup ramai, suara klakson bersahutan, tapi semua suara itu tenggelam di balik riuh pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin Arsy yang dulu selalu ia anggap lemah, terlalu baik, terlalu mudah percaya dan mencintainya kini berdiri di atasnya?
Radit menggeleng keras, seolah ingin menepis bayangan itu dari kepalanya. Tidak. Ini tidak masuk akal. Arsy bukan siapa-siapa. Setidaknya, bukan siapa-siapa tanpa dirinya. Radit mencengkeram setir mobilnya lebih erat. Ia merasa marah kepada Arsy karena sudah membuat kehidupannya hancur dalam sekejap.
“Jadi ini caramu membalas dendam padaku, Arsy?” gumam Radit dengan sinis. “Bermain-main dengan karierku dan menghancurkannya sesuka hatimu?”
Dada Radit naik turun. Amarah yang tadinya tertahan kini perlahan berubah menjadi kebencian yang pekat. Ia teringat wajah Arsy terakhir kali. Wajah perempuan itu yang terlihat hancur saat mengetahui perselingkuhannya dengan Nadira. Matanya yang sembab karena menangis. Tubuhnya yang terlihat rapuh saat ayahnya terbaring di tanah karena serangan jantung yang dialaminya setelah mengetahui pembatalan pernikahan putrinya. Saat itu, Radit mengira ia sudah menang. Mengira Arsy akan hancur. Mengira perempuan itu tidak akan bangkit lagi.
Tapi ternyata dugaannya salah. Atau mungkin Arsy sengaja menyembunyikannya. Radit tertawa lagi, kali ini lebih keras. Ada kepahitan yang ia rasakan di sana.
“Ternyata kamu licik juga, Arsy” kata Radit pada dirinya sendiri. “Pura-pura jadi korban, tapi diam-diam menusuk ku dari belakang.”
Ia menekan pedal gas lebih dalam. Bayangan Arsy kini berubah di kepalanya. Bukan lagi perempuan yang pernah mencintainya dengan tulus, melainkan sosok dingin yang sengaja merancang semua ini. Arsy tahu betul rumah sakit itu segalanya baginya. Arsy tahu betul bahwa karier adalah harga diri paling berharga bagi Radit. Dan Arsy memilih menghancurkannya.
“Baik,” gumam Radit dengan rahang mengeras. “Kalau itu yang kamu mau.” Mata Radit menyipit tajam. “Aku bersumpah,” katanya pelan namun penuh racun, “aku akan menghancurkan hidupmu, Arsy. Seperti yang kamu lakukan padaku.”
Janji itu Radit ucapkan tanpa ragu dan penyesalan. Di kepalanya, Radit sudah membayangkan berbagai cara. Ia tidak tahu bagaimana. Ia tidak tahu kapan. Tapi satu hal yang pasti bahwa ia tidak akan membiarkan Arsy menang begitu saja. Tidak setelah semua yang terjadi. Tidak setelah kariernya dipermainkan seperti ini.
Sementara itu, di rumah sakit lain yang suasananya jauh lebih damai, Syakil melangkah masuk dengan langkah mantap meski jelas terlihat kelelahan di wajahnya. Kemeja yang ia kenakan masih rapi, tapi bayangan gelap di bawah matanya tak bisa disembunyikan. Di belakangnya, Omar mengikuti dengan langkah lebih pelan. Di tangannya, sebuah kantong plastik sedang berisi beberapa kotak makanan dan minuman hangat, sarapan yang ia beli dengan terburu-buru sebelum mereka menuju ke sini.
Kemarin malam terasa seperti mimpi yang terlalu panjang. Waktu demi waktu berlalu tanpa jeda. Tanda tangan. Dokumen. Percakapan serius yang nyaris tanpa emosi, dilakukan Syakil dalam satu malam. Semua demi satu tujuan: memastikan rumah sakit tempat Radit bekerja kini resmi berada atas nama Arsy.
Bukan atas nama Syakil. Bukan atas nama siapa pun selain perempuan itu. Syakil menghentikan langkahnya sejenak di depan lift dan menarik napas dalam-dalam. Kepalanya masih terasa berat, bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga karena semua beban yang ia pikul tanpa pernah benar-benar ia keluhkan.
Omar berdiri di sampingnya, menatap majikannya dengan cemas yang tak bisa ia sembunyikan.
“Tuan…” panggil Omar pelan nyaris ragu dan membuat Syakil menoleh sedikit.
“Ya?”
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit