Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE SEPULUH
"Tuan, tuan besar berpesan meminta anda untuk datang ke mansion". Ucap Darian saat kedua nya kini sudah berada didalam mobil dan perjalanan pulang ke rumah pribadi Bastian.
Mendengar itu, Bastian yang duduk dikursi belakang menghembuskan kasar nafasnya seraya bersandar disandaran kursi.
Ia sudah tau maksud dan tujuan tuan besar yang tak lain adalah kakeknya itu meminta nya untuk datang ke mansion pasti akan membahas perihal rencana penobatannya sebagai ketua mafia.
Sejujurnya, kepimpinan klan mafia Blood Stone harus dipimpin turun temurun oleh keturunan Grayson, sementara dirinya tidak ada ikatan darah dengan keluarga Grayson. Hanya nama belakangnya saja memakai nama marga itu.
Tapi, daddy angkatnya yang tak lain adalah Harvey Grayson tidak berminat berkecimpung di dunia kegelapan dan lebih memilih mengabdikan dirinya menjadi seorang dokter dan pebisnis. Dan, juga anak semata wayangnya saja perempuan.
Jadi, tidak mungkin untuk meneruskan kepemimpinan klan mafia.
.
.
Flashback on~
Lima belas tahun yang lalu, di kota Brooklyn.
Hujan turun deras mengguyur jalanan kumuh di sudut kota. Lampu-lampu jalan berpendar redup, memantulkan bayangan seorang remaja kurus dengan pakaian lusuh yang sudah terlalu besar di tubuhnya.
Ia berdiri di tepi jalan menunggu kendaraan yang berlalu- lalang sambil memegangi perutnya yang perih karena dua hari tidak makan. Rambutnya terlihat basah menempel di kening, sepatu tuanya sudah hampir terlepas solnya.
Saat hendak menyebrang, langkahnya goyah. Pandangannya sedikit berkunang-kunang akibat perut kosong dan dingin yang menusuk tulang.
Sorot lampu mobil tiba-tiba menyilaukan penglihatannya.
TIINNNN!!!!
Klakson berbunyi panjang.
CITTT!!!
Rem berdecit keras membelah derasnya hujan.
Brakkk!!!
Tubuh remaja itu terpental ke samping, jatuh menghantam aspal yang licin. Dunia terasa berputar sebelum semuanya menjadi samar.
Pengemudi itu segera pintu mobilnya dan bergegas turun. Seorang pria dengan raut wajah tegas bercampur panik.
Segera ia menghampiri remaja yang ia tabrak itu. Jas panjang yang ia kenakan langsung basah diterpa hujan, tapi tak dipedulikannya.
Ia berlutut di samping tubuh yang tergeletak itu.
“Dengar saya… Tolong tetaplah sadar,” ucapnya tegas namun tenang.
Tangannya dengan sigap langsung memeriksa denyut nadi, memeriksa pupil, memastikan tidak ada pendarahan besar.
Remaja itu membuka matanya sedikit. Bibirnya pecah-pecah.
“Ja… jangan polisi…” suaranya hampir tak terdengar.
“Aku bukan polisi,” jawab pria itu. “Aku dokter.”
Pria itu adalah Harvey Grayson, dokter relawan yang malam itu baru saja pulang dari klinik sosial di pinggiran kota.
Tanpa membuang waktu, Harvey segera mengangkat tubuh kurus itu ke kursi belakang mobilnya.
Setelah itu, bergegas ia mengemudikan mobil nya membawa remaja itu menuju rumah sakit terdekat.
Sepuluh menit kemudian, mobil hitam yang dikemudikan Harvey itu berhenti dihalaman rumah sakit. Ia memarkirkan asal mobil nya. Kemudian, Harvey segera menggendong remaja itu.
"Dokter... Tolong ada pasien kecelakaan!". Teriak Harvey pada tenaga medis yang tengah berjaga.
Mendengar suara teriakan Harvey, beberapa perawatan yang tengah jaga diruang resepsionis bergegas berlari mendekat seraya mendorong brankar.
Tanpa menunggu perintah, Harvey langsung membaringkan remaja itu diatas brankar, setelah itu perawat tersebut segera mendorongnya masuk ke IGD.
“Tabrak lari?” tanya seorang dokter yang tiba-tiba entah muncul dari mana.
“Tidak. Saya yang menabraknya,” jawab Harvey jujur, suara nya terdengar tenang namun didalam hatinya dipenuhi kecemasan.
“Tangani dulu. Biayanya saya yang tanggung.” Sambungnya
Mendengar itu, dokter tersebut mengangguk dan bergegas masuk kedalam ruang IGD. Sembari menunggu remaja itu ditangani, Harvey memilih untuk duduk dikursi besi panjang yang ada didepan ruangan tersebut lalu ia segera merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel nya.
Jari jemarinya dengan lincah menggulir layar benda pipih itu mencari nomor telepon Delta, istrinya. Ia mengabari jika akan pulang terlambat karena ada sesuatu penting yang harus ia urus.
.
Tiga puluh menit kemudian, pintu ruang IGD terbuka. Harvey yang melihat itu segera bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat.
"Bagaimana kondisinya ?" tanya Harvey
“Pasien baik-baik saja. Hanya saja dia kekurangan nutrisi cukup parah. Ada sedikit memar di bagian bahu dan lutut, tapi tidak ada cedera serius,” jelas dokter jaga.
Mendengar iru, Harvey mengembuskan napas lega yang sejak tadi ia tahan.
“Dia sudah sadar?” tanyanya lagi.
“Sudah. Tapi masih lemah, setelah ini kami akan memindahkan nya diruang rawat inap". Jawab dokter itu
Harvey mengangguk, "Baiklah. Terimakasih dok".
"Sama-sama, tuan".
Tak berselang lama pintu ruang IGD kembali terbuka, tiga orang perawat mendorong brankar itu keluar.
Diatasnya, remaja laki-laki itu terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap ditangan kirinya. Selimut tipis juga menutupi tubuh kurus nya, remaja itu membuka sedikit matanya menatap Harvey sekilas dengan tatapan waspada namun samar.
Harvey segera mengikutinya dari belakang. Kemudian, ketiga perawat itu membelokkan brankarnya masuk kedalam ruang rawat yang cukup nyaman.
"Tuan, jika butuh bantuan segera tekan tombol ini". Ucap Salah satu perawat itu seraya menunjuk sebuah tombol yang ada diatas headboard ranjang.
"Hmm, saya mengerti". Sahut Harvey sambil mengangguk kecil
Setelah itu, ketiga perawat itu langsung pamit undur diri. Disana tinggallah remaja laki-laki yang ditabrak Harvey dan juga dirinya.
Harvey membenarkan selimut yang menutupi tubub mungil dan kurus itu hingga sebatas dada. Kemudian, ia menarik kursi disamping ranjang lalu duduk.
Namun, saat baru saja pantatnya menyentuh kursi kedua mata remaja itu langsung terbuka lebar dan menoleh menatap kearah Harvey.
"Kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?" tanya Harvey lembut
Remaja itu menggeleng tanpa bersuara.
"Siapa nama mu.? Aku akan bertanggungjawab". Ujar Harvey
"Bastian". Jawab remaja itu singkat
Harvey tersenyum tipis, "Bastian. Aku Harvey, kau bisa memanggilku paman Harvey".
Bastian hanya mengangguk paham tanpa bersuara, tapi jelas tatapan matanya masih terus menatap kearah Harvey dengan tatapan dingin juga waspada.
"Bastian, boleh paman tau siapa nama orang tua mu dan dimana tempat tinggal mu? Paman akan memberi kabar ke mereka". Kata Harvey
"Tidak ada".
Jawaban itu keluar cepat dari bibir Bastian, datar dan tanpa ragu.
Harvey yang mendengar itu sedikit mengernyitkan dahinya, namun suaranya tetap tenang.
“Maksudmu mereka tidak ada di kota ini?”
Bastian menggeleng pelan. Tatapannya tidak lagi menatap Harvey, melainkan lurus ke depan.
“Ayah?” tanya Harvey hati-hati.
Tidak ada jawaban.
“Ibu?”
Sunyi.
Beberapa detik kemudian, Bastian akhirnya bersuara lagi.
“Tidak ada yang perlu diberi kabar.”
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ... Like, vote dan komen... Terimakasih♥️🫶🏻
Next bab masih lanjutannya flashback yaa
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut