NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Jamuan beracun.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Nana. Bukan dari Aska, bukan pula dari Gani. Pesan itu datang dari Vanya. Sebuah undangan singkat namun tak bisa ditolak untuk bertemu di sebuah kafe privat di pusat kota, tempat yang biasanya hanya dikunjungi oleh para sosialita dan pengacara papan atas untuk membicarakan kontrak bernilai miliaran.

Nana datang tepat waktu. Ia mengenakan blazer terbaiknya, mencoba menutupi rasa gugup yang terus menggerogoti dadanya. Di pojok ruangan yang tenang, Vanya sudah duduk dengan anggun, menyesap teh earl grey dari cangkir porselen yang tipis. Penampilannya sempurna, seolah setiap helai rambutnya telah diatur oleh tim ahli.

"Nana, terima kasih sudah datang. Duduklah," ujar Vanya dengan senyum ramah yang tidak mencapai matanya.

Nana duduk di hadapannya. "Ada apa Kak Vanya ingin bertemu? Apa ada masalah dengan kontrak distribusi filmnya?"

Vanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting kristal. "Oh, tidak. Secara profesional, kerjamu sangat luar biasa. Richard sangat terkesan. Tapi, aku ingin bicara sebagai sesama wanita yang ... katakanlah, memiliki kepentingan pada pria yang sama."

Nana terdiam. Ia bisa merasakan atmosfer di sekitar mereka mendadak mendingin.

"Kau tahu, Nana," Vanya meletakkan cangkirnya dengan gerakan sangat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. "Aska itu pria yang sangat sederhana jika kau mengerti 'bahasa'-nya. Dia tidak butuh cinta yang meledak-ledak. Dia butuh keamanan. Sesuatu yang pernah hilang darinya saat dia menikah dulu."

Nana menatap Vanya lekat-lekat. Ia memang tahu Aska pernah menikah, namun ia tak pernah tahu detailnya secara mendalam.

"Namanya Clarissa," lanjut Vanya, suaranya mengalun seperti sedang membacakan puisi, namun isinya adalah racun. "Dia wanita yang cantik, ceria, dan sangat 'manusiawi' menurut definisimu. Tapi Clarissa tidak memiliki martabat. Saat Aska sedang berjuang membangun firman hukumnya, Clarissa merasa kesepian. Dia butuh 'sandaran', kata yang kau gunakan kemarin untuk naskahmu. Dan tebak apa yang terjadi? Dia berselingkuh. Dia hamil anak pria lain saat masih menjadi istri sah Aska."

Nana merasa jantungnya seperti diremas. Bayangan Aska yang dikhianati sedalam itu, seorang pria yang begitu menjunjung tinggi harga diri, pasti merasa dunianya hancur berkeping-keping.

"Sejak saat itu," Vanya menyandarkan punggungnya, menatap Nana dengan pandangan superior. "Aska membangun dinding. Dia tidak akan pernah lagi membiarkan wanita yang 'hanya punya perasaan' masuk ke hidupnya. Dia memuja kesetaraan intelektual. Itulah sebabnya kami sering menghabiskan malam berdua hanya untuk membahas kasus korporasi atau sejarah hukum. Kami berbagi dunia yang tidak bisa kau masuki, Nana. Karena bagi Aska, aku adalah jaminan bahwa sejarah Clarissa tidak akan pernah terulang."

Vanya memamerkan keakrabannya dengan Aska secara rapi. Ia menceritakan bagaimana Aska selalu meminta pendapatnya sebelum mengambil keputusan besar, bagaimana mereka memiliki impian untuk menggabungkan dua firma hukum terbesar di Indonesia, dan bagaimana orang tua mereka sudah menyiapkan segalanya.

"Kau hanyalah sebuah pengecualian kecil karena rasa bersalahnya pada Tris," pungkas Vanya dengan nada lembut namun menghujam. "Kau adalah variabel yang tidak pasti. Sedangkan aku ... aku adalah garis finish yang sudah ditentukan untuknya."

Nana merasa telinganya berdenging. Rasa sesak mulai naik ke tenggorokan. Ia melihat Vanya bukan sebagai musuh yang kasar seperti Elli, melainkan sebagai predator yang cerdas. Vanya sedang mencoba meruntuhkan pendirian Nana dengan cara menunjukkan betapa jauhnya jarak antara "gadis komik" dan "pengacara internasional".

Tiba-tiba, ponsel Nana bergetar di atas meja. Itu Gani. Nana tahu ini adalah kesempatan terbaiknya untuk melarikan diri sebelum pertahanannya benar-benar hancur di depan Vanya.

"Maaf, Kak Vanya," Nana berdiri dengan gerakan yang agak terburu-buru, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. "Gani menelepon dari kantor. Ada masalah teknis dengan naskah revisi yang harus segera saya tangani. Saya harus pergi sekarang."

Vanya hanya mengangguk anggun, sama sekali tidak merasa terganggu. "Tentu, pekerjaan adalah prioritas. Sampai jumpa di lokasi syuting besok, Nana."

Nana melangkah keluar dari kafe itu secepat yang ia bisa. Begitu sampai di trotoar, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak perlu mendengar sisa cerita Vanya untuk tahu bahwa wanita itu menganggapnya sebagai ancaman nyata. Jika tidak, Vanya tidak akan repot-repot menyusun "jamuan beracun" ini hanya untuk menjatuhkan mentalnya.

"Clarissa..." bisik Nana. Nama itu kini menjadi beban baru. Ia menyadari bahwa Aska bukan hanya dingin karena sifatnya, tapi karena ia memiliki luka yang berkerak. Dan Vanya sedang menggunakan luka itu untuk mengusir Nana.

Sore harinya, Nana kembali ke kantor Stellar Komik dengan wajah pucat. Gani yang menyadari perubahan itu langsung menghampirinya.

"Na? Ada apa? Tadi aku meneleponmu karena Pak Aska menanyakan draf, suaramu terdengar aneh di telepon," tanya Gani cemas.

"Tidak apa-apa, Gan. Hanya kurang tidur," jawab Nana pendek. Ia segera masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.

Ia menatap tablet grafisnya. Kata-kata Vanya tentang "kesetaraan intelektual" terus bergema. Nana menyadari bahwa ia tidak bisa bersaing dengan Vanya dalam hal latar belakang keluarga atau gelar Harvard. Satu-satunya cara adalah dengan membuktikan bahwa ia bisa menjadi "mitra" bagi Aska lewat karya dan integritasnya.

Namun, tanpa sepengetahuan Nana, di luar kantor, sebuah mobil hitam terparkir. Bukan mobil Aska, melainkan mobil Tris. Adik Aska itu sedang memperhatikan jendela ruangan Nana dengan tatapan penuh kebencian.

Tris baru saja menerima telepon dari Vanya beberapa menit yang lalu.

"Tris, naskah itu. Ambil draf aslinya malam ini sebelum Nana mendaftarkannya ke HAKI internasional. Jika naskah itu hilang atau bocor karena 'kecerobohan' Nana, Aska akan melihatnya sebagai kegagalan total. Dan kau tahu kan bagaimana Aska menghukum orang yang ceroboh?"

Sekitar pukul sebelas malam, Siska, asisten Aska, menelepon Nana.

​"Halo, Nona Nana. Pak Aska meminta saya memastikan apakah draf fisik dan digital untuk syuting minggu depan sudah siap diserahkan besok pagi?" tanya Siska dengan nada profesional.

​"Sudah, Kak Siska. Semuanya sudah saya rapikan di meja," jawab Nana.

​"Baik, Nona. Pak Aska juga berpesan agar Nona tidak pulang sendirian. Pak Supri sudah menunggu di lobi," tambah Siska.

​Nana tersenyum tipis. Perhatian Aska, lewat Siska, adalah kekuatannya saat ini. Nana kemudian pergi ke toilet untuk mencuci muka.

​Di luar, Tris bergerak dalam bayang-bayang. Ia tidak tahu kode akses kantor, tapi ia tahu kebiasaan petugas keamanan Stellar Komik yang sering merokok di area parkir belakang saat tengah malam. Menggunakan sisa uang dari Vanya, Tris dengan mudah menyuap salah satu kurir ekspedisi yang kebetulan sedang mengantar paket larut malam ke gedung tersebut, membiarkannya "ikut masuk" melalui pintu lift barang.

​Tris menyelinap ke lantai ruangan Nana. Ia melihat pintu ruangan Nana sedikit terbuka. Dengan cepat, Tris masuk, mengambil flashdisk cadangan dan bundel draf fisik di atas meja. Ia menatap meja itu dengan benci. "Kau ingin bersinar, Na? Mari kita lihat bagaimana kau menjelaskan ini pada si monster Aska."

​Tris segera menghilang melalui tangga darurat sebelum Nana kembali dari toilet.

​Saat Nana kembali, ia hanya melihat tumpukan kertas yang tampak masih sama secara sepintas. Ia tidak menyadari bahwa jantung dari seluruh proyek filmnya telah raib. Ia membereskan tasnya, mematikan lampu, dan berjalan menuju lobi dengan perasaan lega.

​Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!