Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24. Ketika perasaan menuntut keputusan
Malam turun perlahan, menyelimuti apartemen dengan kesunyian yang terasa lebih berat dari biasanya. Sakira duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan gemerlap kota. Lampu-lampu gedung tampak seperti bintang palsu—indah dari kejauhan, namun tak pernah bisa digenggam.
Sejak bab terakhir berlalu, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah. Bukan lagi sekadar kebingungan, melainkan ketakutan yang nyata.
Ketakutan karena ia sadar…
kontrak bukan lagi alasan utama ia bertahan.
Tangannya meraih ponsel di atas meja kecil. Nama Rafael masih berada di urutan teratas panggilan terakhir, tanpa balasan lanjutan. Tak ada pesan, tak ada kabar. Hening yang tercipta di antara mereka terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran.
“Kalau ini cuma kontrak, seharusnya nggak sesakit ini,” bisiknya lirih.
Sakira memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Namun ingatannya justru melayang pada cara Rafael menatapnya kemarin—tatapan yang bukan milik seorang CEO dingin, melainkan seorang pria yang kehilangan pegangan.
Di kantor pusat perusahaan, Rafael berdiri di balik dinding kaca ruang kerjanya. Dari lantai atas, ia bisa melihat aktivitas karyawan yang berjalan seperti biasa. Dunia terus berputar, seolah hidupnya tidak sedang kacau.
Namun di dalam dirinya, semuanya berantakan.
Rafael melepas jam tangannya, meletakkannya di meja dengan gerakan keras. Sudah berjam-jam ia mencoba fokus pada laporan keuangan, namun pikirannya terus kembali pada satu nama.
Sakira.
Ia menertawakan dirinya sendiri dengan getir.
Pria yang mampu mengendalikan perusahaan bernilai triliunan, justru kalah oleh perasaannya sendiri.
“Sejak kapan aku jadi selemah ini?” gumamnya.
Pintu diketuk pelan. Asistennya masuk dengan ekspresi hati-hati.
“Pak Rafael, media meminta konfirmasi soal isu perceraian kontrak Anda.”
Rafael menegang. “Isu dari mana?”
“Mereka melihat Ibu Sakira sudah tidak mendampingi Anda di beberapa acara.”
Rafael menghela napas panjang. Inilah konsekuensi hidup yang sejak awal ia pilih—publik, sorotan, dan spekulasi.
“Tidak ada perceraian,” jawabnya tegas. “Dan tidak ada kontrak yang perlu mereka bahas.”
Asistennya terdiam sejenak. “Apakah perlu saya buatkan pernyataan resmi?”
Rafael menatap lurus ke depan.
“Belum. Aku yang akan bicara… saat waktunya tiba.”
Saat asisten itu pergi, Rafael kembali duduk. Tangannya mengepal.
Ia sadar, cepat atau lambat, ia harus memilih.
Antara mempertahankan citra…
atau mempertahankan Sakira.
Sakira akhirnya memutuskan keluar apartemen sore itu. Ia berjalan tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti langkah kakinya sendiri. Udara sore terasa lembap, sisa hujan semalam masih menempel di jalanan.
Tanpa sadar, ia berhenti di depan sebuah toko buku kecil.
Tempat yang dulu sering ia kunjungi sebelum hidupnya berubah.
Di dalam, aroma kertas dan kopi menyambutnya. Sakira menarik satu novel dari rak, membacanya sekilas, lalu tersenyum pahit.
“Cerita cinta selalu terlihat sederhana di buku,” gumamnya.
Padahal kenyataan tidak pernah sesederhana itu.
Saat ia hendak meletakkan buku kembali, sebuah suara familiar membuat tubuhnya menegang.
“Kamu masih suka tempat seperti ini?”
Sakira menoleh.
Rafael berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan kemeja gelap tanpa jas. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya tetap tajam—dan penuh emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
“Kamu ngikutin aku?” tanya Sakira pelan.
“Tidak,” jawab Rafael jujur. “Aku ke sini untuk menenangkan diri. Dan aku tidak menyangka bertemu kamu.”
Kebohongan kecil itu tak perlu dibongkar. Mereka sama-sama tahu, pertemuan ini bukan kebetulan.
Mereka duduk berhadapan di sudut toko. Hening kembali hadir, namun kali ini tidak canggung—melainkan penuh beban.
Aku nggak datang buat ribut,” ucap Rafael lebih dulu. “Aku cuma mau jujur.”
Sakira mengangkat wajahnya. “Tentang apa?”
“Perasaanku.”
Jantung Sakira berdegup kencang.
“Kontrak kita hampir selesai,” lanjut Rafael. “Dan aku sadar… aku tidak siap mengakhirinya dengan cara biasa.”
Sakira menggenggam jemarinya sendiri. “Rafael, kita dari awal sepakat—”
Aku tahu,” potongnya lembut. “Tapi aku melanggar kesepakatan itu.”
Ia menatap Sakira tanpa ragu. “Aku mencintaimu.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Sakira menunduk, napasnya tersengal Inilah yang ia takutkan. Inilah yang sejak awal ingin ia hindari.
“Kamu tahu risikonya?” suaranya bergetar. “Kalau kita lanjut tanpa kontrak… aku bisa hancur.”
Rafael mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku lebih takut melihatmu pergi seolah aku tidak pernah berarti.”
Sakira menahan air mata. “Aku bukan perempuan kuat seperti yang kamu kira.”
Rafael meraih tangannya di atas meja, menggenggamnya erat. “Dan aku bukan CEO sempurna yang selalu tahu jawaban.”
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
Namun justru di titik inilah, kenyataan kembali menampar.
Ponsel Rafael bergetar. Nama salah satu komisaris muncul di layar.
Rafael menatapnya, lalu kembali ke wajah Sakira.
“Inilah dunia yang harus aku hadapi,” katanya lirih. “Dan aku tidak akan menyeretmu ke dalamnya… kecuali kamu mau.”
Sakira menarik tangannya perlahan. “Aku butuh waktu.”
Rafael mengangguk. “Aku akan menunggu.”
Malam itu, Sakira kembali ke apartemen dengan langkah berat. Ia duduk di depan meja, membuka map kontrak untuk terakhir kalinya.
Bukan untuk membaca isinya.
Melainkan untuk menyadari satu hal penting.
Kontrak itu pernah melindunginya
Namun kini, kontrak itu justru menjadi tembok.
Ia menutup map tersebut dan mendorongnya ke sudut meja.
Untuk pertama kalinya, Sakira tidak ingin berlindung di balik tanda tangan.
Ia ingin memilih… meski harus terluka.
Di tempat lain, Rafael berdiri di balkon rumahnya, menatap langit malam. Angin dingin menerpa wajahnya, namun dadanya terasa panas.
Ia tahu, keputusan Sakira bisa saja menghancurkannya.
Namun ia siap.
Karena cinta bukan lagi soal kontrak.
Melainkan keberanian untuk kehilangan.
Dan kali ini, ia tidak akan lari.
Malam semakin larut ketika Sakira berdiri di depan jendela apartemen. Kota sudah lebih tenang, suara kendaraan berkurang, namun pikirannya justru semakin riuh. Ia menyandarkan dahi ke kaca yang dingin, mencoba menahan gelombang emosi yang terus menekan dadanya.
Ia teringat genggaman tangan Rafael di toko buku tadi.
Tidak memaksa.
Tidak menahan.
Hanya ada kejujuran yang telanjang dan menyakitkan.
“Apa aku pengecut kalau mundur?” bisiknya pada pantulan wajahnya sendiri.
Selama ini, Sakira selalu berusaha bertahan. Bertahan hidup, bertahan dari masa lalu, bertahan dari luka. Kontrak dengan Rafael awalnya hanya cara lain untuk bertahan—tanpa perlu mempertaruhkan hati. Tapi kini, justru hatinya yang paling terancam.
Ia melangkah ke meja, membuka laci paling bawah. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop putih. Amplop yang sejak lama ia simpan, berisi hasil pemeriksaan kesehatan terakhir yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Termasuk Rafael.
Tangannya gemetar saat membuka kembali kertas itu. Kalimat-kalimat medis terasa dingin dan tidak berperasaan. Ia menghela napas panjang, menutupnya lagi dengan cepat seolah bisa menghapus kenyataan hanya dengan menyingkirkannya.
“Kalau aku jujur… apa dia masih mau bertahan?” gumamnya.
Pertanyaan itu menakutkan.
Karena Sakira tahu, cinta bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang kesiapan menghadapi kenyataan yang tidak indah.
Di waktu yang hampir bersamaan, Rafael menerima panggilan yang sudah ia duga sejak sore.
“Kamu terlalu emosional,” suara salah satu komisaris terdengar tegas dari seberang. “Hubungan pribadi tidak boleh mengganggu stabilitas perusahaan.”
“Aku tidak mencampurkan urusan pribadi dengan bisnis,” jawab Rafael dingin.
“Kamu baru saja menolak kerja sama strategis karena alasan yang tidak bisa kamu jelaskan secara profesional.”
Rafael terdiam sesaat. “Kalau perusahaan hanya bisa berdiri dengan mengorbankan orang yang aku cintai, maka ada yang salah dengan cara kita membangunnya.”
Keheningan menyambut pernyataannya.
“Kamu sadar apa konsekuensinya?” tanya suara itu lagi.
“Sangat sadar,” jawab Rafael mantap. “Dan aku siap menanggungnya.”
Panggilan berakhir.
Rafael menutup ponselnya perlahan, lalu menghembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi CEO, ia memilih jalan yang tidak aman.
Namun anehnya… ia merasa lebih hidup.
Kembali ke apartemen, Sakira duduk di tepi ranjang dengan mata sembab. Ia membuka ponsel, menatap nama Rafael di layar cukup lama. Jarum jam terus bergerak, seolah mendorongnya untuk mengambil keputusan.
Akhirnya, ia mengetik satu pesan singkat.
Rafael, aku belum bisa memberi jawaban. Tapi aku juga tidak ingin lari. Tolong beri aku sedikit waktu.
Pesan terkirim.
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
Aku akan menunggu. Selama apa pun itu.
Air mata Sakira jatuh tanpa bisa ia cegah.
Bukan karena sedih sepenuhnya, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian menghadapi ketakutannya.
Ia mematikan lampu kamar dan berbaring, memeluk bantal erat-erat.
Di luar, langit benar-benar cerah setelah hujan panjang.
Namun Sakira tahu, badai sesungguhnya belum datang.
Dan ketika hari itu tiba, tidak ada lagi kontrak yang bisa melindungi siapa pun.
Bersambung...