Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Elena baru keluar dari lift ketika sekretarisnya sudah berdiri menunggunya di depan pintu ruangan, bukan di mejanya seperti biasa, dengan ekspresi orang yang tidak nyaman dengan kabar yang ia bawa.
Elena memperlambat langkahnya.
"Ada apa?"
"Bu Elena, maaf." Sekretarisnya menurunkan suaranya. "Ada yang masuk ke ruangan Ibu tadi. Saya sudah coba cegah tapi dia bilang dia suami Ibu dan punya hak untuk...."
"Adrian."
Sekretarisnya mengangguk dengan wajah yang meminta maaf. "Saya sudah hubungi security tapi Pak Adrian bilang kalau security dipanggil ia akan buat masalah di depan semua orang. Saya tidak tahu harus bagaimana."
"Tidak apa-apa." Elena memotong pelan. Ia menatap pintu ruangannya sebentar, pintu yang tertutup, yang di baliknya ada seseorang yang tidak ia undang dan tidak ia inginkan. "Kamu kembali ke mejamu."
"Baik, Bu."
Elena menarik napas satu kali. Lalu ia membuka pintu ruangannya dan masuk.
Adrian berdiri di depan jendela ruangan Elena dengan tangan di saku celananya dan punggung menghadap pintu, menatap kota di bawah dengan cara yang terlihat seperti ia punya hak untuk berdiri di sana.
Ia menoleh saat Elena masuk.
"El." Ia menyapa dengan nada yang hangat, nada yang terasa sangat salah di situasi ini. "Aku tunggu kamu dari tadi. Kamu lama sekali. Darimana saja kamu?"
Elena menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan ke mejanya. Meletakkan tasnya. Duduk di kursinya.
Tidak mengajak Adrian duduk. Tidak menjawab pertanyaannya. Tidak menunjukkan apapun di wajahnya.
"Sekertarismu mempersulit saat aku akan masuk ke ruanganmu." Adrian berjalan ke arah kursi depan meja Elena dan duduk tanpa dipersilakan.
"Sekertarisku sudah melakukan tugasnya dengan baik." Elena membuka laptopnya.
"Elena." Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kita perlu bicara."
"Aku sibuk."
"Ini penting."
"Untukmu mungkin." Elena masih tidak mendongak. "Tidak untukku."
Adrian diam sebentar. Mengambil napas. Mengeluarkannya pelan, napas orang yang sedang menyiapkan kata-kata yang sudah ia latih sebelumnya.
"Kamu sudah baca beritanya." Ia berkata.
Elena tidak menjawab.
"Semua orang sudah baca." Adrian melanjutkan. "Nama keluargamu ada di sana. Nama Leon Raffael ada di sana. Ini sudah terlalu jauh, El. Kita perlu hentikan ini sebelum semakin meluas."
Elena akhirnya mendongak. Menatap Adrian.
"Kamu yang memberikan pernyataan ke portal itu."
Adrian tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di wajahnya yang bergerak bukan rasa bersalah, lebih seperti orang yang sedang mempertimbangkan apakah perlu mengakui atau tidak.
"Aku hanya bilang yang sebenarnya." Ia menjawab akhirnya.
"Yang sebenarnya." Elena mengulang dua kata itu pelan.
"Iya." Adrian menatapnya langsung. "Bahwa aku mencintaimu. Bahwa aku mau keluarga kita kembali. Bahwa semua ini bisa diselesaikan kalau kamu mau duduk dan bicara baik-baik." Ia mengangkat bahunya. "Itu bukan kebohongan, El. Itu yang aku rasakan."
"Dan kamu pikir menyebarkan itu ke portal berita adalah cara yang tepat untuk mengatakannya?"
"Aku tidak menyebarkan apapun, Elena."
"Adrian." Elena memotong. "Jangan berbuat terlalu jauh."
Adrian menutup mulutnya. Ruangan itu hening sebentar.
"Dengarkan aku." Adrian akhirnya berkata dengan nada yang berubah, lebih pelan, lebih seperti orang yang memohon. "Berita itu sudah terlanjur keluar. Kita tidak bisa tarik kembali. Tapi kita bisa kendalikan semuanya sekarang." Ia mendekatkan kursinya ke meja. "Kalau kita muncul bersama, kalau orang-orang melihat kita baik-baik saja, bahwa tidak ada drama, bahwa rumah tangga kita tidak seperti yang diberitakan, berita itu akan mati sendiri."
Elena menatapnya.
"Kamu mau aku pura-pura." Ia berkata.
"Bukan pura-pura." Adrian menggeleng cepat. "Aku serius, El. Aku mau kita kembali. Sungguh. Berita itu bisa jadi titik balik kita, bisa jadi awal dari sesuatu yang baru kalau kita mau mencobanya."
"Adrian."
"Kita bisa mulai pelan-pelan. Tidak harus langsung seperti dulu. Evan butuh orang tua yang lengkap."
"Adrian." Elena mengulang namanya lebih keras.
Ia berhenti.
Elena berdiri dari kursinya. Berjalan ke jendela dan berdiri di sana sebentar, menatap kota di bawah dengan punggung menghadap Adrian.
Dari sini kota terlihat sama seperti setiap hari. Gedung-gedung yang tinggi, jalan-jalan yang ramai, kehidupan yang terus bergerak tidak peduli ada perempuan di lantai ini yang sedang berdiri dengan punggung yang sangat lelah.
"Kamu tahu apa yang lucu?" Elena berkata pelan, masih membelakangi Adrian. "Dulu aku pernah berdiri di jendela yang berbeda. Di rumah kita yang kecil itu. Menunggu pesanku dibalas. Menunggu kamu pulang. Menunggu apapun yang menunjukkan bahwa kamu masih ingat aku ada." Ia berhenti sebentar. "Aku menunggu sangat lama, Adrian."
"Elena."
"Dan sekarang kamu duduk di sana dan minta aku kembali." Elena berbalik. Menatap Adrian dengan mata yang kering dan sangat lelah. "Bukan karena kamu menyesal. Bukan karena kamu berubah. Tapi karena kamu punya niat lain."
"Bukan begitu...."
"Kalau begitu apa?" Elena berjalan kembali ke mejanya. Berdiri di baliknya, berdiri, dengan meja di antara mereka berdua. "Katakan dengan jujur, Adrian. Kalau aku bukan anak dari Hendra Wirawan. Kalau nama keluargaku bukan pemilik perusahaan properti terbesar di kota ini. Apakah kamu masih akan duduk di kursi itu dan minta aku kembali?"
Adrian membuka mulutnya.Tapi tdak ada yang keluar.
"Itu benarkan." Elena mengangguk pelan. "Seperti yang aku kira."
"Elena kamu tidak adil," Adrian berdiri, suaranya naik, "aku sudah berusaha. Aku sudah datang ke rumah keluargamu. Aku sudah coba bicara baik-baik. Tapi kamu yang selalu...."
"Kamu datang malam-malam tanpa pemberitahuan dan menggunakan nama anak kita sebagai alasan." Elena memotong dengan nada yang tidak meninggi satu nada pun. "Itu bukan usaha. Itu manipulasi."
"Aku tidak memanipulasi, Elena."
"Kamu selalu memanipulasi." Elena berkata pelan. "Kamu hanya tidak pernah sadar bahwa itu yang kamu lakukan."
Adrian menatapnya dengan rahang yang mengeras.
Lalu sesuatu di wajahnya berubah, amarah yang tadi mendidih tiba-tiba turun, digantikan oleh sesuatu yang berbeda. Ekspresi yang Elena kenal, ekspresi Adrian saat ia memutuskan untuk berganti strategi.
Ia berjalan ke sisi meja Elena.
"El." Suaranya turun menjadi sangat pelan. Ia berdiri terlalu dekat. "Kamu masih marah. Aku mengerti. Kamu berhak marah." Tangannya bergerak ke arah bahu Elena. "Tapi di balik semua kemarahan itu masih ada kita. Aku tahu itu. Kamu juga pasti masih mencintaiku."
"Jangan sentuh aku."
Adrian tidak berhenti. Tangannya mendarat di bahu Elena dan dalam satu gerakan ia menarik Elena ke arahnya, mencoba memeluknya, wajahnya condong ke arah wajah Elena. Adrian mencoba mencium Elena.
Elena langsung mendorongnya dengan keras.
Adrian mundur dua langkah hampir kehilangan keseimbangannya.
"Aku bilang jangan sentuh aku." Suara Elena keluar sangat pelan tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat Adrian tidak bergerak.
Sedetik itu, satu detik saat tangan Adrian menyentuh bahunya dan menariknya, Elena merasakan sesuatu yang tidak ia antisipasi.
Bukan lagi karena kemarahan. Hanya jijik yang sangat dalam , perasaan jijik yang bukan karena benci tapi karena tidak ada lagi apapun yang tersisa. Seperti seseorang yang mencoba menyalakan lilin yang sudah lama habis tidak ada sumbu, tidak ada apapun yang bisa menyala lagi.
Semua cinta yang pernah ada untuk lelaki ini, cinta yang dulu membuatnya rela meninggalkan segalanya, cinta yang membuatnya bertahan satu tahun lebih sendirian, cinta yang bahkan saat Ara pergi masih tersisa dalam bentuk harapan yang kecil, tapi sekarang semuanya sudah pergi.
Sudah lama pergi. Dan baru sekarang ia tahu dengan pasti.
"Pergi!" Elena berkata.
"Elena...."
"Pergi dari ruangan ini." Suaranya tidak bergetar. "Sekarang!"
Adrian menatapnya. Wajahnya bergerak-gerak, marah, malu, frustasi, semuanya bercampur menjadi sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.
Lalu tangannya mengepal di sisinya.
"Baik." Ia berkata dengan suara yang rendah dan dingin, suara yang Elena belum pernah dengar sebelumnya dari lelaki ini. "Kalau kamu masih seperti ini, kalau kamu tetap mau cerai dan tidak mau dengarkan aku," ia berhenti sebentar, menatap Elena langsung, "aku akan ajukan hak asuh Evan. Secara hukum."
Ruangan itu hening. Elena menatap Adrian.
"Hak asuh Evan." Elena mengulang kata-kata itu pelan.
"Iya." Adrian tidak mundur. "Aku ayahnya. Aku punya hak. Dan pengadilan akan melihat bahwa aku yang selama ini ingin mempertahankan keluarga ini sementara kamu yang memilih untuk tidak mau kembali."
"Kamu tidak menafkahi Evan satu rupiah pun selama satu tahun lebih." Elena memotong dengan suara yang sangat tenang. "Kamu tidak hadir saat ia sakit. Kamu tidak ada saat adiknya meninggal." Ia menatap Adrian langsung. "Dan kamu pikir pengadilan akan memberikan hak asuh kepada ayah seperti itu?"
"Pengacara yang baik bisa membuat banyak hal terlihat berbeda."
"Silakan." Elena berkata.
Adrian berkedip. "Apa?"
"Silakan ajukan." Elena mengangguk pelan. "Aku tidak akan menghalangimu. Ajukan saja." Ia menatap Adrian dengan cara yang membuat lelaki itu tidak bisa memalingkan pandangannya. "Tapi saat kamu duduk di depan hakim itu, pastikan kamu sudah siap menjelaskan di mana kamu selama satu tahun lebih saat istri dan anak-anakmu tidak punya uang untuk makan. Pastikan kamu siap menjelaskan kenapa kamu tidak membalas pesan istrimu yang minta tolong untuk beli obat anak yang sedang sakit." Suaranya tidak meninggi. Tidak bergetar. "Pastikan kamu siap menjelaskan semua itu di depan hakim, di depan pengacaramu, di depan semua orang."
Adrian berdiri diam. Wajahnya sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi.
"Sekarang pergi." Elena berkata untuk terakhir kalinya. "Atau aku yang telepon security."
Adrian menatapnya satu kali lagi menatap dengan mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang tidak bisa ia ucapkan dan tidak akan pernah cukup kalau ia ucapkan lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu.
Tangannya menyentuh gagang pintu. Lalu berhenti.
"Aku masih mencintaimu, Elena." Ia berkata tanpa berbalik. Suaranya berbeda dari tadi, tidak marah, tidak mengancam, hanya berat dengan cara yang terasa seperti satu-satunya hal jujur yang ia ucapkan sejak masuk ke ruangan ini. "Itu yang selalu aku katakan dengan jujur."
Elena tidak menjawab. Pintu terbuka. Dan tertutup.
Ia lalu duduk di kursinya. Seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang sangat berat dan baru sekarang merasakan beratnya.
Tangannya di atas meja, tangan yang tadi mendorong Adrian, tangan yang tidak bergetar satu kali pun selama semua itu terjadi. Tapi sekarang tangannya sedikit gemetar.
Karena tubuh akhirnya jujur setelah pikiran sudah selesai berjuang.
Elena menatap tangannya sebentar. Lalu ia menarik napas panjang, satu napas yang panjang dan dalam dan menghembuskannya pelan.