NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

APALAGI ?

Deya tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar percakapan itu, ia sama sekali tak menyangka seburuk itu Rico menilainya. Entah itu dulu, atau mungkin juga sampai saat ini.

“Turunkan aku.” Seru Deya tanpa melihat ke arah Rico. Suaranya dingin, pandangannya tajam, cukup membuat Rico menelan ludah.

“Nggak.”

“Turunkan aku.”

“Nggak.”

“Kamu turunkan aku, atau aku akan melompat.” Tantang Deya dan memegang handle pintu mobil.

“Jangan ngaco kamu De.” Larang Rico dan segera mengunci pintu. “Kita bicara in baik-baik De.” Pinta Rico.

“Apa ? ngaco kamu bilang ? Kamu baru tau kalau aku emang sering ngaco ?”

Rico bisa menangkap emosi yang berusaha di redam Deya. Laki-laki itu tak berniat membuka suara kembali.

“Turunkan aku.” Suara Deya lebih dingin dari sebelumnya.

“Nggak, bicara in ini baik-baik.” Pinta Rico kembali.

“Apa yang perlu dibicarakan ? Itu sudah lebih dari cukup.”

“Aku tau kamu marah, paling nggak ijinin aku ngantar kamu sampai kantor mu.” Nada Rico tak kalah dinginnya.

Deya tak lagi berniat membuka suara, ia hanya duduk diam dan membisu, pandangannya lurus ke depan. Tetapi rasanya bisa membuat kaca depan mobil itu pecah.

***

Deya kembali dengan pekerjaannya, meski beberapa suara bising mengisi telinganya. Beberapa di antara rekan kerjanya berbisik-bisik, ada hubungan apa dia dengan salah anak dari nasabah penting tempat mereka bekerja. Deya lagi-lagi tak ingin menanggapi.

Namun, sesekali ia teringat akan obrolan singkat Rico dengan temannya. Wajah kesal menahan marah kembali menyelimuti. Rupanya selama ini Rico hanya berpura-pura mendekatinya karena desakan sang ayah.

Perlahan dia menarik nafas dalam untuk sekedar mengalihkan pikiran dari hal tersebut.

Waktu berlalu bagai desir angin, Deya bersiap untuk pulang, mengemasi barang-barang dan melihat kado yang diberikan oleh Rico. Pandangannya tertuju pada tempat sampah yang berada dipojok ruangan. Hampir saja dia melangkah untuk membuangnya, tapi diurungkan.

“Sayang banget kan kalau di buang. Mending nanti di jual aja lagi. Lumayan kan uangnya buat jajan.” Lirihnya dan bergegas meninggalkan kantor.

Belum sempurna dia mengeluarkan motornya dari parkir khusus karyawan, ponselnya berdering dan bisa di tebak itu adalah panggilan suara dari Rico. Deya bagitu enggan untuk menerima telepon, ia sangat marah. Meski sebenarnya membuat ia cukup senang, karena memiliki alasan untuk membatalkan lamaran.

“Angkat.”

Hanya itu isi pesan singkat.

Deya tak menghiraukannya, ia memilih untuk menaiki motor dan pulang. Belum saja Deya meininggalkan kantor, motornya lebih dulu dicegat oleh motor matik lain yang menghadang jalan.

“Astagfirullah.” Teriaknya.

Pandangan mereka beradu, Deya bisa menebak siapa pemilik motor di depannya. Gadis itu memejamkan mata lemah dan menatap tajam Rico.

“Kenapa sih kamu ?”

“Aku mau kita ngomong sebentar.”

“Aku capek, aku mau pulang.”

“Sebentar saja, dengerin penjelasan aku dulu De. Setelah itu kamu benci aku pun nggak masalah.”

“Penjelasan apalagi ? Bukannya teman mu itu sudah lebih dari cukup menjelaskan semuanya ? Kamu terpaksa deketin aku karena ayah mu yang nyuruh kan.”

“Nggak gitu De. Tolong dengerin penjelasan aku dulu.”

Deya tertawa sinis, gadis itu mencebikkan bibirnya dan memandang Rico sekilas. “Kamu harus tau ya, aku bahkan senang sekali karena kamu mendekati ku atas dasar suruhan ayahmu. Jadi aku tak perlu repot-repot berberat hati menolak lamaran itu kembali.”

“Dee.” Lirih Rico.

“Iya, aku senang karena hal itu. Namun aku juga marah.”

“Marah kenapa ?”

“Karena, kamu menilai ku dengan sesuka pikiranmu padahal kamu belum lama mengenalku.”

Terdengar helaan nafas berat dari Rico, laki-laki itu merasa kini dihempaskan ke dasar jurang yang paling dalam. Semua ini karena omongan temannya yang bahkan tak pernah di ucapkan.

“Minggir.”

Deya pergi meninggalkan Rico yang masih mematung, rasanya seperti sudah tak ada lagi harapan untuk mendekati apalagi memiliki Deya. Perlahan dia membawa dirinya kembali ke rumah di tengah kekacauan dan kekalutan pikiran

***

Malam itu, Rico benar-benar membawa motor seperti orang kesetanan, dia sudah tak lagi memperdulikan keselamatannya, yang diinginkan sekarang hanya meluapkan emosi dalam dirinya. Rasa yang tak pernah di alaminya, perempuan yang hampir dia miliki kini benar-benar sudah kembali pada dirinya seperti awal.

Sesamainya di rumah, Rico langsung membawa dirinya menuju kamar, tanpa mempedulikan orang-orang sekitarnya.

“Abang.” Panggil Ani dari arah meja makan.

Rico hanya menoleh dan memilih untuk menuju kamarnya.

Melihat sang putra tak bersemangat, membuat Ani terheran-heran. Padahal baru saja tadi pagi anak itu merasa semangat sekali.

Handoko hanya menatap Rico dengan pandangan yang tak bisa di artikan. “Dasar anak muda, baru saja tadi pagi semangat sekali, sekarang sudah seperti harus menerima kekalahan telak.”

“Ayah, abang kenapa ?” Tanya Ani di sela menyiapkan makan malam mereka.

“Mana ayah tau.”

“Baru saja kembali dari pekerjaannya, bukan senang bertemu dengan kita lagi. Tetapi malah begini.”

“Mulai drama.” Gerutu Handoko yang kini memakan tempe goreng. “Abaaaang, ayo makan. Ayah lapar ini.” Teriaknya kembali pada sang putra.

Tidak ada sahutan dari pemilik kamar depan itu, dia sedang membersihkan diri. Tak berapa lama, suara tangga semakin jelas terdengar. Laki-laki itu lebih segar ditambah dengan sarung yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

Handoko hanya menatap bangga dan merangkul bahu sulungnya. Rico bingung dengan perlakuan sang ayah, hingga menyergitkan dahi.

“Sebentar lagi ayah akan mantu. Huhu senangnya.”

Hembusan nafas kasar terdengar dari Rico, dia memilih untuk tak berkata apa-apa.

“Wiih, berat banget rasanya tuh nafas kayak ada yang nindih aja tu dada.”

“Ayah, makan dulu” Seru Ani dan memberikan piring yang berisi nasi dan lauk pauk pada sang suami.

“Kamu ada masalah ?” Ani bertanya dengan lembut.

“Tidak ada, abang hanya sedikit capek. Mungkin karena baru nyampe tadi dan nggak sempat istirahat.”

Ani dan Handoko menyadari ada yang salah dengan sang putra. Namun memilih untuk tak bertanya lebih jauh lagi. Mereka hanya mengangguk serempak dan makan dalam sunyi.

***

Dengan lungai Rico membawa drinya ke kamar, padahal laki-laki itu baru saja menyelesaikan makan malamnya.

“Dek, Sudah tidur ?” Ia mengirim pesan singkat pada sang adik.

Tak berapa lama setelah pesan itu terkirim, terdengar suara notif balasan dari Diana.

“Belum, kenapa ? Ada yang pengen abang bahas ?”

“Abang, butuh teman cerita.”

“Tentang apa ? Tentang anak dari teman ayah itu ?”

“Iyaaa.”

“Kenapa memangnya ? Mbak itu Sudah punya calon ?”

“Tidak, tapi abang yang salah disini.”

“Salah kenapa ? Yang jelas coba ngomongnya, jangan setengah-setengah. Heran deh.”

“Teman abang mengatainya cerewet, judes, sombong dan beberapa label yang buruk lagi, dan dia dengar ucapan itu dari telepon. Sekarang dia sedang kecewa sama abang. Teman abang juga bilang alasan abang dekati dia karena ayah yang menyuruh, padahal itu kan nggak semuanya benar.”

“Abang sudah coba buat jelasin ?”

“Sudah, tapi dia benar-benar nggak mau dengar penjelasan abang.”

“Kasih dia waktu abang. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri dulu. Coba kasih jeda tiga atau empat hari dulu. Abang tunggu dia tenang dulu. Abang jangan panik dulu.” Diana mencoba untuk menjadi pakar cinta untuk kakaknya yang amatiran itu.

“Tapi nanti dia mau ketemuan dan dengar penjelasan abang kan.”

“Nggak tau sih, tapi paling nggak kan abang coba dulu nanti. Ya kalau dia udah nggak mau, nanti Ana kenalin abang sama perempuan lain. Wkwk”

“Nggak asik kamu dek. Tidur gih udah malam.”

Tak ada lagi balasan pesan dari Diana, kini di ruang yang hanya diterangi oleh lampu tidur itu, Rico memikirkan cara untuk bisa bertemu Deya seperti biasa. Namun, dia teringat lagi ucapan sang adik untuk memberi waktu pada gadis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!