---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Us
---
Usia kehamilan Jane memasuki bulan ketujuh. Perutnya semakin besar, gerakannya semakin terbatas, dan yang paling terasa: rasa cemas mulai sering datang.
Malam-malam sering dihabiskan dengan terjaga, memikirkan proses persalinan yang akan datang. Jane membaca banyak artikel, menonton video-video melahirkan di YouTube, bahkan bergabung dengan forum ibu hamil online. Tapi semakin banyak ia tahu, semakin cemas rasanya.
"Mas, aku takut," bisiknya suatu malam pada Mario.
Mario yang sudah setengah tidur langsung terjaga. "Takut apa, Sayang?"
"Takut melahirkan. Katanya sakit banget. Terus takut kenapa-napa."
Mario memeluknya erat. "Sayang, kita lewati bareng-bareng. Aku akan di samping kamu terus."
"Iya, tapi kamu nggak bisa ngerasain sakitnya."
Mario terdiam. Ia tidak bisa membantah itu.
"Besok, kamu ngobrol sama Mba Jisoo aja," usul Mario. "Dia kan udah pernah. Mungkin bisa ngasih penjelasan yang bikin kamu tenang."
Jane berpikir sejenak. "Iya, ya. Kakakku pasti ngerti."
---
Keesokan harinya, sepulang kerja, Jane berjalan pelan-pelan ke rumah nomor 3. Jisoo baru saja selesai memasak dan sedang menemani Amora menggambar di ruang tamu.
"Kakak, sibuk?" tanya Jane dari pintu.
Jisoo menoleh, tersenyum. "Masuk, Jan. Lagi pada gambar."
Amora berlari menyambut Jane. "Tante Jane! Lihat! Amora gambar pemandangan!"
Jane melihat gambar Amora: gunung, matahari, dan beberapa garis hijau yang katanya rumput. "Wah, bagus banget, Sayang."
"Duduk, Jan." Jisoo membersihkan tempat di sampingnya. "Kamu kelihatan lemas. Sakit?"
"Nggak, cuma... aku mau ngomong sesuatu." Jane menatap Amora. "Amo, main sebentar di kamar, ya? Tante mau ngobrol sama Mama."
Amora mengangguk patuh. "Iya, Tante. Amora mau gambar di kamar aja."
Setelah Amora masuk, Jane duduk dengan berat di sofa. Jisoo mengamatinya dengan pandangan tajam—pandangan kakak yang tahu ada sesuatu.
"Cerita," kata Jisoo singkat.
Jane menarik napas panjang. "Kak, aku takut."
"Takut apa?"
"Takut melahirkan." Jane menunduk. "Aku baca di mana-mana, katanya sakitnya luar biasa. Ada yang sampe nggak kuat. Aku takut... takut aku nggak sanggup."
Jisoo diam sejenak, lalu meraih tangan Jane. "Jan, dengar. Semua ibu hamil pasti takut. Aku dulu juga takut."
"Kakak takut? Kakak kan pemberani."
Jisoo tertawa kecil. "Pemberani apanya. Waktu hamil Amora, aku juga nangis-nangis tiap malem mikirin melahirkan."
Jane menatap kakaknya dengan rasa ingin tahu. "Terus gimana Kakak bisa lewati?"
"Karena aku punya Dika." Jisoo tersenyum getir. "Dia yang selalu tenangin aku. Bilang, 'Sayang, kamu kuat. Kamu bisa.'"
Jane merasakan sakit di hatinya. Membayangkan Jisoo harus melalui semua itu tanpa Dika di sisinya.
"Kak, maaf... aku jadi ingetin..."
"Nggak apa-apa, Jan. Aku senang cerita tentang Dika." Jisoo mengelus tangan Jane. "Dia bagian dari hidupku. Aku nggak mau lupain dia."
Mereka diam sejenak, menghormati kenangan itu.
---
"Jadi, Kakak mau cerita pengalaman melahirkannya?" tanya Jane pelan.
"Tentu. Kamu mau denger yang detail atau yang umum aja?"
"Yang detail aja, Kak. Biar aku siap mental."
Jisoo mengangguk. "Oke. Tapi inget, setiap orang beda. Pengalamanku belum tentu sama dengan kamu."
"Iya, Kak."
Jisoo menarik napas, memulai ceritanya. "Waktu itu, aku hamil Amora cukup bulan. Dika nemenin ke mana-mana. Tapi pas hari H, semuanya terjadi cepat banget."
"Gimana ceritanya?"
"Aku bangun jam 3 pagi karena perut mules. Kirain mau BAB, tapi setelah beberapa kali ke kamar mandi, mulesnya nggak hilang. Malah makin sering." Jisoo tersenyum mengingatnya. "Dika panik setengah mati. Dia lari-lari bawa tas yang udah disiapin, bolak-balik nanyain, 'Ini udah mau lahir? Aku harus ngapain?'"
Jane tertawa membayangkan kepanikan Dika. Mario juga pasti akan seperti itu.
"Terus?"
"Terus kita ke rumah sakit. Pas diperiksa, udah bukaan 4. Dika deg-degan, tapi dia tetep pegang tanganku terus." Mata Jisoo berkaca-kaca. "Dia bilang, 'Jis, kamu kuat. Aku di sini.'"
Jane merasakan hangat di dadanya. Cinta Dika pada Jisoo begitu nyata, meski kini ia sudah tiada.
"Proses melahirkannya gimana, Kak?"
"Sakit." Jisoo menjawab jujur. "Sakit banget. Kayak... ada yang narik-narik perut dari dalam. Tapi anehnya, di sela-sela sakit itu, ada semacam... kekuatan."
"Kekuatan?"
"Iya. Setiap kali kontraksi datang, aku inget, ini demi Amora. Demi anak yang udah aku kandung sembilan bulan. Dan rasanya, sakit itu jadi tertahankan."
Jane merenung. "Aku harap aku bisa sekuat Kakak."
"Kamu lebih kuat dari yang kamu kira, Jan." Jisoo menatap adiknya tajam. "Semua ibu punya kekuatan itu. Alam udah ngasih. Kamu tinggal percaya aja."
---
"Kak, waktu melahirkan, Kakak ngerasa... diapain aja?" tanya Jane malu-malu.
Jisoo tertawa. "Pertanyaan bagus. Oke, aku cerita detail, ya."
Jane mengangguk semangat.
"Pas di ruang bersalin, aku dikasih infus, dipasang monitor detak jantung janin, sama alat buat ukur kontraksi. Dika duduk di sampingku, pegang tanganku. Dokter dan bidan sibuk di depanku."
"Mata kak?"
"Nggak. Aku milih normal. Tapi karena sakitnya minta ampun, aku minta epidural."
"Epidural?"
"Iya, biar rasa sakitnya berkurang. Disuntik di punggung. Pas disuntik, agak serem, tapi setelah itu enakan." Jisoo tersenyum. "Tapi efeknya, kaki jadi kesemutan dan agak susah gerak."
"Terus pas lahirnya gimana?"
"Pas udah bukaan lengkap, dokter suruh ngeden. Nah, ini yang susah. Karena efek epidural, aku agak susah ngerasain kontraksi. Jadinya harus dikasih tahu sama bidan kapan harus ngeden."
Jane membayangkan proses itu, ngeri tapi penasaran.
"Ngedennya gimana, Kak?"
"Kayak mau BAB, tapi lebih keras. Kamu harus dorong dari perut. Dika bantuin pegangin kepala aku, terus nyemangatin." Jisoo tersenyum. "Dia bilang, 'Ayo, Sayang! Bentar lagi! Aku lihat rambutnya!'"
"Waktu itu Kakak nggak marah? Biasanya suami suka dicuekin pas istrinya melahirkan."
Jisoo tertawa. "Iya, katanya gitu. Tapi pas kejadian, aku malah seneng Dika di sampingku. Dia bikin aku tenang."
---
Jane diam sejenak, mencerna semua cerita itu. Lalu bertanya pelan, "Kak, pas Amora lahir, rasanya gimana?"
Jisoo tersenyum lembut. "Itu... momen terbaik dalam hidupku."
"Cerita, Kak."
"Aku inget persis. Jam 3 sore, tanggal 14 Februari. Amora lahir dengan tangisan keras. Begitu diletakkan di dadaku, dia langsung berhenti nangis. Dia buka mata, dan... dan dia lihat aku." Air mata Jisoo jatuh. "Saat itu, aku tahu, hidupku nggak akan pernah sama lagi. Aku rela melakukan apa aja buat dia."
Jane ikut menangis. "Kak..."
"Maaf, bikin kamu nangis." Jisoo mengusap air matanya. "Tapi aku mau kamu tahu, Jan, saat kamu lihat anakmu pertama kali, semua sakit itu hilang. Lupa. Yang ada cuma rasa syukur."
Jane mengangguk, berusaha membayangkan momen itu.
"Dika juga nangis," sambung Jisoo. "Dia nggak bisa berhenti bilang, 'Dia cantik, Jis. Dia cantik banget.' Padahal bayi baru lahir biasanya merah dan keriput." Jisoo tertawa. "Tapi buat Dika, Amora itu bayi tercantik di dunia."
"Itu karena cinta, Kak."
"Iya. Cinta bikin kita lihat yang terbaik dari orang yang kita sayang."
---
Jane meraih tangan Jisoo. "Kak, maaf, ya, aku nanya-nanya terus."
"Nggak apa-apa, Jan. Seneng malah bisa berbagi." Jisoo membalikkan tangan, menggenggam jemari Jane. "Kamu takut?"
"Iya, Kak. Takut banget."
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarin takut ngalahin kamu. Kamu lebih kuat dari rasa takut itu."
"Kak, gimana caranya?"
Jisoo berpikir sejenak. "Inget, setiap kali kontraksi datang, itu berarti kamu selangkah lebih dekat sama anakmu. Fokus ke tujuan akhir: bertemu bayi mungil yang udah kamu tunggu selama ini."
Jane mengangguk.
"Terus, jangan ragu minta tolong. Minta tolong dokter, minta tolong suami, minta tolong Allah. Kamu nggak sendiri."
"Kak, aku bersyukur banget punya kakak kayak kamu."
Jisoo tersenyum, matanya berkaca-kaca lagi. "Aku juga bersyukur punya adik kayak kamu, Jan."
Mereka berpelukan lama, dua kakak beradik yang saling menguatkan.
---
Dari dalam kamar, Amora keluar membawa gambarnya. "Ma, Tante Jane, liat! Amora udah selesai!"
Mereka melepas pelukan, mengusap air mata. Amora memandang mereka dengan heran.
"Mama nangis? Tante Jane juga?"
"Kita nggak nangis, Sayang." Jisoo menggendong Amora. "Kita cuma... bahagia."
"Bahagia kok nangis?"
"Kadang orang nangis karena terlalu bahagia." Jane mengelus kepala Amora. "Coba lihat gambar Amora."
Amora menunjukkan gambarnya. Kali ini ada tambahan: tiga figur digambar dengan tangan terbuka.
"Ini Mama, ini Tante Jane, ini adik bayi." Amora menunjuk satu per satu. "Mereka berpelukan."
Jisoo dan Jane saling pandang, terharu.
"Ini gambar terindah yang pernah Amora buat," ucap Jisoo.
"Iya, ini masterpiecenya Amora." Jane mencium pipi Amora. "Makasih, Sayang."
Amora tersenyum bangga. Pelukannya menghangatkan hati mereka yang masih basah oleh air mata.
---
Sore itu, Jane pulang dengan perasaan yang berbeda. Beban di hatinya terasa lebih ringan. Bukan karena semua ketakutannya hilang, tapi karena ia tahu, ia tidak sendiri. Ada Jisoo yang sudah melewati semua ini. Ada Mario yang akan selalu di sampingnya. Ada sahabat-sahabat yang siap membantu.
Mario menyambutnya di pintu. "Gimana, Sayang? Ngobrolnya?"
Jane memeluk suaminya erat. "Kakakku luar biasa, Mas."
Mario membalas pelukan, bingung tapi ikut terharu. "Iya, dia emang luar biasa."
"Mas, aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Aku siap. Siap melahirkan. Siap jadi ibu." Jane menatap mata suaminya. "Masih takut, tapi aku tahu aku bisa lewati."
Mario tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Iya, Sayang. Kamu bisa. Kita bisa."
Malam itu, mereka berbaring bersebelahan, tangan Mario di perut Jane. Bayi di dalam bergerak aktif, seperti ikut merasakan kebahagiaan orang tuanya.
"Mas, doain aku ya."
"Setiap hari, Sayang. Setiap detik."
Di luar, bulan bersinar terang. Di rumah nomor 3, Jisoo menatap foto pernikahannya dengan Dika, tersenyum. Di rumah nomor 9, Irene memeluk Rafa yang tertidur. Di rumah nomor 11, Soo Young dan Endy minum teh di teras. Di rumah nomor 5, Chaeyoung video call dengan Leon.
Griya Asri tenang di malam hari. Tapi di balik tembok-tembok itu, ada hati-hati yang saling terhubung. Ada cinta yang mengalir tanpa henti. Ada keluarga pilihan yang selalu siap menguatkan.
Jane memejamkan mata, tangannya di perut, merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam. Ia tersenyum.
"Nak, Bunda siap. Bunda siap bertemu kamu."
---