NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kemurkaan sang raja yang terluka

Pagi itu, embun masih memeluk Lembah Aethelgard dengan dingin yang menenangkan. Irfan dan Cika telah kembali ke dimensi bawah sejak semalam, meninggalkan keheningan yang biasa dirasakan oleh Ferdi dan Vani. Ferdi, dengan celana kain kasar yang digulung hingga lutut, sedang berlutut di pinggir sawah, membersihkan saluran air yang tersumbat oleh sisa-sisa perkelahian dengan babi kemarin.

Namun, bulu kuduk Ferdi tiba-tiba berdiri. Bukan karena dingin, melainkan karena sebuah aura yang sangat ia kenal—aura yang sudah berabad-abad tidak ia rasakan.

"Keluar," desis Ferdi tanpa menoleh. Tangannya tetap sibuk membersihkan lumpur, namun otot-otot lengannya menegang.

Di balik pepohonan rimbun, sesosok bayangan bergerak. Itu adalah Kaelen, mantan panglima tertinggi pasukan Kegelapan yang dulu paling setia kepada Ferdi. Kaelen menatap punggung mantan tuannya dengan tatapan penuh kebencian dan ambisi.

"Lama tidak bertemu, Baginda... atau haruskah kupanggil 'Petani'?" suara Kaelen terdengar seperti gesekan logam yang berkarat.

Ferdi berdiri perlahan, membalikkan badannya. Matanya tajam menembus bayangan. "Kau tidak seharusnya ada di sini, Kaelen. Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaranku."

Kaelen tertawa sinis, lalu menghilang dalam sekejap mata menjadi kabut hitam. Ferdi segera mengejar, melompati semak dan pepohonan dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Namun, Kaelen sengaja memancingnya menjauh dari gubuk. Begitu sampai di sebuah tebing, Kaelen menghilang sepenuhnya.

Ferdi terdiam, firasat buruk menghantam jantungnya. "Sial! Vani!"

Kaelen tidak bekerja sendiri. Ia telah melakukan pengkhianatan terbesar dengan menghubungi Panglima Seraphim, pemimpin ksatria suci dari Kerajaan Cahaya milik Vani. Mereka telah bersepakat bahwa keberadaan Ferdi dan Vani adalah aib yang harus dihapuskan.

"Mereka ada di desa kecil itu," lapor Kaelen kepada Seraphim di titik pertemuan rahasia. "Raja Kegelapan sekarang hanyalah pria lemah yang memegang cangkul, dan Ratu kalian sedang sibuk menanam sayur. Ini saatnya."

Seraphim mengangguk, matanya berkilat dengan fanatisme buta. "Pengkhianat Cahaya harus dihukum. Kita akan membawa Ratu kembali untuk diadili, dan Raja Kegelapan akan kita habisi di tempat."

Ferdi berlari kembali ke gubuk dengan kecepatan penuh. Namun, saat ia sampai di halaman, pemandangan mengerikan menyambutnya. Ratusan ksatria cahaya dan prajurit kegelapan pemberontak telah mengepung rumah kecil mereka.

"VANI!" teriak Ferdi.

Vani keluar dari pintu, wajahnya pucat. "Ferdi! Apa yang terjadi?!"

"Masuk ke dalam, Vani! Sekarang!" Ferdi menghunus pedang tuanya yang berkarat, bersiap bertarung tanpa sihir seperti yang ia janjikan.

Namun, musuhnya tidak bermain adil. Saat Ferdi mulai menebas ksatria yang mendekat, sebuah peluru sihir jarak jauh yang mengandung racun pelemah dewa melesat dari arah hutan.

Jleb!

Peluru itu menghantam punggung Ferdi. Tubuhnya seketika kaku. Belum sempat ia berbalik, sepuluh panah cahaya beracun lainnya menghujam tubuhnya. Ferdi terjatuh, darah segar merembes ke tanah lumpur yang ia cintai.

"TIDAK! FERDI!" Vani mencoba berlari menuju suaminya, namun Seraphim menahannya dengan rantai suci yang mengikat tangan dan lehernya.

"Baginda Ratu Vani, Anda telah mengkhianati takhta suci demi iblis ini," ujar Seraphim dingin. "Anda akan dibawa kembali ke Istana Cahaya untuk menerima hukuman mati di penjara bawah tanah terdalam."

"Lepaskan dia! Dia tidak bersalah!" Vani meronta, matanya menatap tubuh Ferdi yang tak bergerak. "Ferdi... tolong bangun..."

Para prajurit itu menendang tubuh Ferdi ke parit air yang berlumpur. "Raja Kegelapan sudah mati. Buang bangkainya!"

Vani diseret masuk ke dalam portal cahaya, tangisannya bergema di seluruh lembah sebelum akhirnya portal itu tertutup rapat, meninggalkan kesunyian yang mencekam.

Hujan mulai turun, membasahi wajah Ferdi yang terkubur lumpur. Di dalam kegelapan kesadarannya, Ferdi mendengar suara detak jantungnya sendiri yang melambat. Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa marah yang membakar jiwanya saat melihat istrinya diseret pergi.

“Kau ingin hidup damai?” sebuah suara purba berbisik di dalam benaknya. “Lihat hasilnya. Kedamaianmu hanyalah ilusi. Tanpa kekuatan, kau tidak bisa melindungi apa pun.”

Mata Ferdi terbuka. Bukan warna hitam seperti biasanya, melainkan warna merah darah yang memancarkan aura kehancuran. Tanah di sekitarnya mulai bergetar. Air di parit mendidih secara instan.

Ferdi berdiri perlahan. Panah-panah yang menancap di tubuhnya hancur menjadi debu saat energi raksasa meledak dari dalam pori-porinya. Segel yang ia pasang pada dirinya sendiri selama berabad-abad hancur berkeping-keping.

"Kalian... telah melakukan kesalahan terbesar," desis Ferdi. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara guntur yang mengguncang langit.

Langit di atas Lembah Aethelgard terbelah.

Setengah langit tertutup kegelapan abadi yang pekat, dan setengahnya lagi membara oleh api merah yang menantang cahaya. Ferdi tidak lagi mengenakan baju petani. Tubuhnya kini dibungkus oleh Zirah Akhir Zaman, hitam legam dengan ukiran rune kuno yang bercahaya merah darah.

Ia mengangkat tangannya, dan pedang Chaos Bringer yang asli muncul dari udara kosong, memancarkan aura yang bisa membuat dewa sekalipun berlutut.

Menantang Sembilan Alam

Ferdi tidak lagi berjalan. Ia melesat menembus dimensi, menuju perbatasan sembilan alam di mana Medan Perang Abadi berada. Di sana, jutaan pasukan dari Sembilan Alam—mulai dari Alam Elf, Alam Raksasa, hingga Alam Dewa—telah berkumpul untuk menghadangnya. Mereka semua tahu bahwa Raja Kegelapan telah bangkit kembali dalam bentuk yang paling mengerikan.

Ferdi mendarat di tengah medan perang sendirian. Di depannya berdiri sembilan panglima tertinggi dari masing-masing alam.

"Ferdi! Berhenti di sana!" teriak Panglima Alam Dewa. "Kau melanggar hukum alam semesta dengan membangkitkan kekuatan terlarang ini! Kembali ke pengasinganmu atau Sembilan Alam akan membinasakanmu!"

Ferdi menatap mereka semua dengan tatapan kosong. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Vani yang sedang menderita di penjara cahaya.

"Aku pernah menyerahkan segalanya demi kedamaian," ujar Ferdi, suaranya terdengar di seluruh penjuru sembilan alam. "Aku melepaskan takhta, aku melepaskan pedang, dan aku mencangkul tanah seperti manusia rendahan hanya agar dia bisa tersenyum. Tapi kalian... kalian menghancurkan satu-satunya alasan kenapa aku tetap menjadi orang baik."

Ferdi mengangkat pedangnya ke langit. Awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa.

"Jika Cahaya menginginkan dia menderita, maka aku akan memadamkan Cahaya. Jika Kegelapan menginginkan pengkhianatan, maka aku akan menghancurkan Kegelapan. Hari ini, aku tidak memihak pada siapa pun. Aku menantang Sembilan Alam sendirian!"

Panglima Elf: "Kau sudah gila, Ferdi! Kau akan menghancurkan keseimbangan alam semesta demi satu orang wanita?!"

Ferdi: "Alam semesta ini tidak ada artinya jika dia tidak ada di dalamnya. Keseimbangan? Aku adalah keseimbangan itu sendiri. Dan hari ini, aku memutuskan untuk menjatuhkan timbangannya."

Kaelen (Mantan Panglimanya yang muncul di barisan musuh): "Lihat dirimu, Tuanku. Akhirnya kau kembali ke jati dirimu yang asli. Tapi kau terlambat, Vani sedang disiksa di menara cahaya!"

Ferdi menoleh ke arah Kaelen. Hanya dengan satu tatapan, tubuh Kaelen meledak menjadi abu hitam tanpa sempat berteriak.

Ferdi: "Jangan berani menyebut namanya dengan mulut kotor itu."

Penyerbuan Sendirian

Dengan satu ayunan pedang, Ferdi menciptakan gelombang energi yang membelah pasukan depan Sembilan Alam menjadi dua. Jutaan prajurit terlempar seperti daun kering tertiup badai. Ia bergerak seperti kilat hitam, setiap langkahnya menghancurkan tanah di bawahnya.

Para dewa mencoba menjatuhkan petir suci, namun Ferdi hanya menangkisnya dengan tangan kosong. Ia adalah perwujudan kemurkaan murni.

"VANI! TUNGGU AKU!" teriak Ferdi, suaranya meruntuhkan menara-menara penjaga di kejauhan.

Ia tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus ia ambil. Jika dunia ingin memisahkan mereka, maka dunia itulah yang harus ia ratakan. Ferdi terus maju, menembus jutaan pasukan, berdiri tegak melawan sembilan alam demi cinta yang dikhianati oleh takdir.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!