NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 10 — Rumah untuk Kael

Langit sore berwarna jingga pucat ketika Elizabeth berdiri di depan bangunan dua lantai bercat putih, dengan gerbang berwarna hitam yang cukup tinggi dan halamannya luas. Ada pohon rindang di samping rumah itu. 

Rumah itu tampak sederhana dari luar, namun dibandingkan kamar sempit dan lembab yang selama ini mereka tinggali, tempat itu terasa seperti istana kecil bagi Kael.

Bagi Elizabeth, rumah itu bukanlah apa-apa dengan semua rumah mewahnya. Lalu, ia menoleh pada Kael yang berdiri di sampingnya dengan mata membulat.

“Ini rumah siapa, Kak?” tanyanya pelan sambil memandangi rumah itu dengan tatapan takjub.

Elizabeth tak menyahut, ia memilih memasukkan kunci ke dalam pintu dan memutarnya tanpa banyak kata. Pintu kayu itu terbuka dengan bunyi klik ringan.

“Tentu saja, rumah kita.”

Kael terdiam selama beberapa detik, menatap Elijah yang tersenyum tipis, anak laki-laki itu lalu berlari masuk tanpa bisa menahan diri. Suaranya bergema kecil di ruang tamu yang kosong. 

Elizabeth berjalan di belakangnya dengan sambil memperhatikan Kael. 

“Kita punya rumah!” serunya, wajahnya bersinar. Kael bahkan memutari ruang tamu itu dengan senang.

Elizabeth memperhatikan anak itu berputar-putar di tengah ruangan, menyentuh dinding, membuka pintu kamar, bahkan mengintip dapur kecil yang meski sederhana tetap terasa hangat. 

Rumah itu tidak begitu luas. Hanya ada tiga kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, dan ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan. Tetapi lantainya kering, atapnya tidak bocor dan yang terpenting, tidak ada suara tikus berlari di langit-langit seperti yang sering dirasakannya di tempat tinggal lamanya. 

Keputusan untuk pindah bukan hal mudah. Bibi mereka menjerit dan memaki ketika Elizabeth menyatakan akan membawa Kael pergi. Perempuan itu menuduhnya tidak tahu diri, tidak berterima kasih, bahkan menyebut Kael sebagai beban yang tak akan pernah berguna.

Elizabeth tak membalas dengan teriakan. Tatapannya saja sudah cukup membuat sang bibi mundur setengah langkah.

“Aku tidak meminta izin,” katanya tenang saat itu. “Aku hanya memberitahu bahwa kami akan pergi dari rumah menyesakkan ini.”

Pertengkaran itu berakhir dengan pintu dibanting dan sumpah serapah yang masih terdengar hingga mereka berjalan menjauh. Namun Elizabeth tak menoleh lagi. Ia tak akan membiarkan Kael tumbuh di lingkungan yang menggerogoti harga dirinya setiap hari.

Kini, melihat Kael tersenyum selebar itu, semua perdebatan terasa sepadan baginya. Awalnya ia tak tahu mengapa ia harus melakukan hal-hal seperti ini, tetapi mungkin, keinginan Elijah yang tertinggal membuat Elizabeth juga merasa harus mewujudkan keinginan itu.

“Kak, ini benar-benar rumah kita?” tanya Kael lagi, kali ini lebih pelan. Tatapannya yang polos itu seolah masih tak percaya. 

Elizabeth mengangguk singkat. “Iya, Kael. Kau menyukainya tidak? Mulai sekarang, kita tidak perlu khawatir akan diusir ataupun dihukum oleh bibi kejam itu.”

Anak itu menggigit bibirnya, seolah menahan sesuatu. Lalu ia memeluk Elizabeth tiba-tiba, erat sekali. Tubuh kecil itu gemetar halus.

“Terima kasih, Kak.”

Untuk sesaat, Elizabeth tak tahu harus berbuat apa. Dalam hidupnya yang dulu, pelukan bukanlah sesuatu yang biasa. Sentuhan berarti ancaman. Kedekatan berarti kelemahan.

Namun tangan Elizabeth akhirnya terangkat dan membalas pelukan itu, meski gerakannya terasa kaku.

“Ayo,” katanya pelan. “Kita belum selesai.”

Hari itu mereka pergi ke pusat perbelanjaan kecil di dekat terminal. Kael tampak canggung ketika Elizabeth menyuruhnya memilih pakaian baru. Ia terus melihat label harga sebelum berani menyentuh apa pun.

“Kak, ini mahal,” bisiknya.

“Kael, ambil saja jika kau menyukainya. Jangan mengkhawatirkan apapun,,” jawab Elizabeth singkat.

Ia memilihkan beberapa kemeja sederhana, celana yang pas, dan sepatu baru. Kael memandang bayangannya di cermin dengan ekspresi tak percaya, seolah anak di dalam pantulan itu bukan dirinya.

Setelah itu, mereka membeli bahan makanan berupa beras, telur, sayur, daging, bahkan camilan kecil yang biasanya hanya bisa Kael lihat dari jauh.

Namun yang membuat Kael benar-benar terdiam adalah ketika Elizabeth berhenti di depan toko perlengkapan sekolah.

“Kita ke sini untuk apa?” tanyanya hati-hati.

“Kau akan kembali sekolah.”

Kael langsung menggeleng cepat. “Tidak perlu, Kak. Aku bisa kerja bantu-bantu. Aku tidak mau jadi bebanmu.”

Elizabeth menatapnya lama. Ada sesuatu yang menusuk dalam kalimat itu, kata beban yang keluar begitu mudah dari mulut anak sekecil itu.

Ia berjongkok agar sejajar dengan tinggi Kael. “Kau bukan beban,” ucapnya pelan tapi tegas. “Dan kau tidak akan pernah jadi beban, bagiku.”

“Tapi uangnya—”

“Aku akan memberikan yang terbaik untukmu,” potong Elizabeth, suaranya melembut. “Selama aku masih hidup, kau tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu.”

Kael menatapnya, matanya berkaca-kaca. Akhirnya ia mengangguk pelan. 

Mereka keluar dari toko dengan tas berisi buku tulis, pulpen, tas sekolah baru, dan seragam yang masih terbungkus plastik rapi.

Langkah Kael terasa lebih ringan. Anak laki-laki itu bahkan bersenandung ringan layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan eskrim.  Dan anehnya, hati Elizabeth merasa ada suatu perasaan yang meledak-ledak dalam dirinya.

Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memikirkan masa depan seseorang. Hidupnya hanya berisi target, perintah, dan darah yang harus dibersihkan. Ia tak pernah memiliki alasan untuk berjuang selain menyelesaikan tugas.

Namun kini, melihat Kael duduk di lantai ruang tamu rumah baru mereka, sibuk menyusun buku-buku sekolahnya dengan wajah serius dan bahagia, sesuatu di dalam dirinya terasa berbeda.

Ia mendapati dirinya tersenyum tipis ketika Kael berteriak girang karena menemukan tempat yang cocok untuk meletakkan tas barunya. “Perasaan macam apa ini?” gumamnya menekan dadanya sendiri.

Perasaan itu terasa asing baginya, tapi tidak menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Elizabeth merasa bahwa ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia tidak sekadar hidup kembali untuk membalas dendam, tetapi juga membuat kehidupan yang lebih baik bagi seseorang.

Setelah memastikan Kael nyaman dengan kamarnya, Elizabeth pergi ke kamarnya sendiri. Ia mulai mengeluarkan ponsel, laptop dan juga kamera yang berhasil ia ambil dari kamar Jean.

Ia mulai memeriksa isinya. Dan benar saja, Elizabeth menemukan banyak sekali video tak senonoh Elijah di sana. Ia melihatnya satu persatu dengan teliti, bahkan tak melewatkan detail sekecil apapun itu.

“Mereka bahkan tidak pantas disebut manusia,” geram Elizabeth merasa kesal sekaligus jijik saat melihat perbuatan para pelaku itu. 

Lalu, Elizabeth mulai menyalin semuanya sebagai bukti dan menghapus semua media yang ada di ponsel, laptop maupun kamera milik Jean. 

Ia menggenggam ponselnya sendiri dengan erat. “Aku pasti akan memburu kalian semua. Kalian pasti akan merasakan apa itu yang namanya neraka,” gumam Elizabeth merasakan api amarah mulai membakar dirinya. 

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!