"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya kembali
"Maaf kalau membuatmu menunggu," sapa Elang mengerutkan alis, sinar mentari membuat matanya terasa silau.
Dia berdiri memandang bawahannya yang terlihat siap menyiapkan sebuah kacamata hitam dan tongkat di tangan.
"Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, aku kehilangan hak waris perusahaan Wijaya dan semua bisnis dialihkan kepada pamanku,"
"Pelaku kecelakaan itu juga masih berkeliaran bebas. Jadi aku harus berpura-pura buta untuk mengelabui mereka," tegas Elang bersungguh-sungguh,
Diraihnya kacamata tadi lalu menggantungkan ke samping telinga, tak lupa dia juga meraih tongkat panjang guna meyakinkan penyamarannya.
Herman yang telah memahami rencana tuannya tentu saja tak segan membantu, ikut ke dalam sandiwara tersebut.
Dia bersikap selayaknya pengawal, berjalan menuntun Elang ke dalam mobil.
Peristiwa 10 tahun yang lalu terjadi saat Elang tengah menikmati liburan bersama keluarga kecilnya.
Saat itu Elang masih berusia 15 tahun, dia juga memiliki adik berusia 5 tahun. Kedua orang tuanya berencana mengajak mereka bercuti ke luar negeri,
Namun siapa sangka saat perjalanan menuju bandara, mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan. Rem mobil tidak bisa dikendalikan hingga menabrak sebuah motor sebelum akhirnya berguling,
Kerangka mobil nyaris hancur, membuat pecahan kaca mengenai tubuh Elang. Tragisnya, hanya dia lah yang berhasil selamat.
Paman Elang adalah satu-satunya orang yang paling dicurigai sebagai tersangka atas kecelakaan tersebut. Polisi yang menyelidiki kasus mengungkapkan bahwa kecelakaan terjadi karena adanya oli bocor dan juga keadaan mobil yang terlambat di servis,
Bukankah aneh jika mobil mewah milik keluarga kaya yang seharusnya terjamin perawatannya bisa mengalami kerusakan?
Elang yakin pasti semua ini ada campur tangan orang terdekat yang menyabotase mobil mereka. Dan orang yang paling diuntungkan atas peristiwa itu adalah pamannya,
Karena berhasil menggulingkan posisi ayah Elang yang dulu dipilih sebagai pemimpin perusahaan.
Bahkan setelah kecelakaan, mengetahui kondisi mata Elang yang divonis mengalami kebutaan, dia tega mengirim Elang jauh dari rumah dengan dalih demi memberikan pengobatan terbaik. Padahal saat itu dia hanyalah bocah remaja,
Elang yang tidak habis akal hanya bisa menuruti sembari membangun kekuatannya sendiri. Diam-diam mengumpulkan bukti untuk mengungkap kebenaran tentang kecelakaan itu,
"Apa kamu sudah menemukan identitas pendonor yang memberikan korneanya kepadaku?" lugas Elang melirik pria yang tengah menyetir,
"Belum Pak, tapi saya sudah menambah tim penyidik untuk mencari informasi tentang si pendonor."
"Pihak rumah sakit mengkonfirmasi kalau kornea yang Pak Elang terima adalah milik seorang pria." Menyahuti tanpa menoleh, terus menatap jalanan yang sedang dilewati.
"Cepat temukan, mungkin saja dia memiliki seorang istri dan anak. Aku harus memberikan imbalan kepada keluarganya, sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan hidupku."
"Baik, Pak." jawab Herman memutar bundaran setir, sembari melirik waktu yang ada di layar mobil.
Segera menoleh nyaris saja melupakan kabar penting yang ingin disampaikan. "Oh, ya. Hari ini adik sepupu anda menikah, resepsinya diadakan di hotel Wijaya,"
"Apakah anda ingin kesana?" tanya Herman penasaran,
"Tentu saja, aku harus datang. Mana mungkin aku melewatkannya, lagi pula aku sudah lama tidak melihat mereka." menyeringai,
"Aku juga harus menyapa Kakek,"
"Dari semua orang, kakek lah yang masih memihakku. Hanya saja dia sudah semakin tua dan tidak berdaya melawan paman,"
1 jam berlalu,
Alunan musik terdengar diiringi tawa riang para tamu, sungguh suasana meriah mengisi sebuah aula megah.
Pemandangan bunga warna-warni menghiasi ruangan. Tercium aroma lezat dari berbagai makanan yang telah tersaji pada meja prasmanan,
Di pojok ruang terdapat panggung tak terlalu tinggi berhias mewah berpadu dalam kursi panjang. Tampak sepasang pengantin berbalut busana putih berdiri menghadap para tamu,
Mereka melambai menyapa sambil melempar senyuman ke semua orang.
"Baiklah para tamu, kita akan memasuki acara inti. Kedua mempelai akan saling betukar cincin.." ujar MC pria berpidato di hadapan semua orang, bertugas mengatur jalannya acara.
"Tunggu!" seru Elang yang baru saja datang, sontak mencuri perhatian.
Dengan tongkat di tangan serta dua pengawal yang menuntun, dia melewati pintu masuk. Berjalan pada atas karpet merah yang membentang di tengah ruang.
Kedatangan Elang berhasil mengejutkan keluarga, sebab tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui tentang kepulangannya.
"Kenapa kalian tidak menungguku? Apa aku ga diundang?" sapa Elang tersenyum ramah,
"Tentu saja, kehadiranmu selalu dinanti. Cuma kami tidak ingin melewatkan jam acara yang sudah ditentukan." jawab pria paruh baya yang bergegas melangkah mendekat,
Lembang Wijaya, pengusahawan tersohor yang mengambil alih WijayaGroup setelah kematian kakaknya. Paman sekaligus tuan rumah dari acara tersebut,
"Kemarilah, berkumpul dengan yang lain." gumamnya menuntun Elang dengan senyum canggung.
Seketika suasana menjadi hening, seluruh pandangan mengarah ke satu sisi berkat kehadiran pria buta yang belum mereka kenali identitasnya.
"Siapa itu?" bisik para tamu,
Lembang menyadari keributan yang mulai terjadi, bergegas melambaikan tangan sebagai isyarat. "Silahkan, lanjutkan acaranya.."
"Sial, untuk apa dia kembali? Seharusnya diam saja di luar negeri." menggerutu dalam hati,
"Tapi, kenapa dia bisa tahu kalau ada pesta disini? Apa ada yang memberitahunya?!" Lembang terbelalak, mulai menerka bajingan mana yang telah lancang membawa kabar tersebut pada Elang.
"Akhirnya kamu pulang," sapa pria tua yang berdiri di samping mereka.
Lembang mendengus kesal melihat ayahnya terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan cucu kesayangannya.
"Cih, udah buta masih bisa cari muka."