NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Mulai Kabur

Tiga hari sejak pertemuan di rumah Bu Ima. Tiga hari yang terasa seperti mimpi bagi Rizky. Setiap kali ia memejamkan mata, ia selalu mengingat kembali detil-detil kecil dari sore itu. Cara Ima menggenggam tangannya. Cara jempol Ima mengelus punggung tangannya. Cara Ima berkata, "Kadang hal yang salah itu terasa paling benar."

Sekarang, Rizky duduk di kantin sekolah dengan tatapan kosong. Wira di depannya sudah menghabiskan semangkuk bakso dan sekarang mengaduk-aduk es tehnya dengan sedotan, menatap Rizky dengan pandangan menyelidik.

"Lo tuh udah tiga hari kayak orang kehilangan arwah," Wira membuka suara. "Gue tanya kemarin lo ke mana, lo jawabnya ngelantur. Gue tanya PR matematika, lo malah ngomongin jadwal bola. Ada apa sih, Zky?"

Rizky menggeleng lemah. "Nggak papa, Ra."

"Bohong lo." Wira mencondongkan tubuh. "Ini soal Bu Ima, kan? Gue lihat lo ngeliatin dia tadi pagi. Bukan lihat biasa, tapi lihat... gimana ya... kayak orang ngeliatin pacar."

Rizky tersentak. "Apaan sih, lo."

"Zky." Wira menatapnya tajam. "Gue temen lo dari kelas satu. Lo kira gue nggak kenal ekspresi muka lo kalau lagi suka sama cewek? Waktu lo suka sama Nabila di kelas sepuluh, lo juga kayak gini. Bedanya dulu lo cerita ke gue. Sekarang lo diem."

Rizky menghela napas panjang. Ia membuka mulut, ingin cerita, tapi lagi-lagi ingat pesan Ima. Jaga rahasia kita.

"Nggak bisa cerita, Ra," akhirnya ia berkata pelan. "Pokoknya gue minta lo percaya sama gue. Gue tahu apa yang gue lakuin."

"Justru itu masalahnya." Wira menggeleng. "Lo pikir lo tahu, tapi sebenarnya lo nggak tahu. Lo masih kecil, Zky. Lo masih 17 tahun. Sementara dia guru, udah nikah, umur 30-an. Lo nggak lihat ketimpangan di situ?"

"Gue bukan anak kecil lagi, Ra."

"Secara umur, lo masih anak kecil. Secara pengalaman, lo masih hijau. Dan secara hukum, lo masih di bawah umur. Lo sadar nggak, kalau hubungan kalian ketahuan, lo bisa selamat karena lo dianggap korban. Tapi dia? Hidupnya hancur. Karirnya hancur. Pernikahannya hancur."

Rizky membisu. Kata-kata Wira menusuk, tapi tak cukup kuat untuk menyadarkannya.

"Gue cuma ngingetin, Zky. Jangan sampai lo nyesel nanti." Wira bangkit dari duduknya. "Gue ke kelas dulu. Lo selesaikan mikir lo."

Rizky menatap Wira pergi. Sebenarnya ia tahu temannya itu benar. Tapi bagaimana cara berhenti ketika api sudah terlanjur membakar?

Ponselnya bergetar. Sekilas ia lihat layar, dan jantungnya langsung berdegup kencang.

"Istirahat ke-2 nanti, temui Ima di belakang lab biologi. Ada yang mau Ima kasih."

Rizky membaca pesan itu tiga kali. Belakang lab biologi. Tempat sepi yang hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang bekas. Jauh dari kamera CCTV.

Ia mengetik balasan dengan jari gemetar: "Iya, Ima."

---

Istirahat kedua tiba. Rizky pura-pura ke toilet, lalu memutar lewat belakang kantin, melewati lorong sempit yang memisahkan gedung lama dan baru. Rumput liar tumbuh di sela-sela paving block yang retak. Tak ada siapa pun di sini.

Di belakang lab biologi, Ima sudah berdiri menunggu. Hari itu ia mengenakan seragam batik lengan panjang dengan rok hitam. Hijabnya berwarna senada dengan batik, dihiasi bros sederhana di samping.

"Rizky." Ima tersenyum begitu melihatnya.

Rizky mendekat, jantungnya berdegup kencang. "Ada apa, Ima?"

Ima merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut kado. "Ini buat kamu."

Rizky menerimanya dengan tangan gemetar. Ia membuka kado itu pelan-pelan. Di dalamnya ada sebuah jam tangan pria warna silver dengan tali kulit coklat. Bukan jam murahan. Rizky pernah melihat jam seperti ini di mall, harganya bisa sampai satu juta lebih.

"Ima... ini terlalu mahal."

"Anggap aja hadiah karena kamu udah mau temenin Ima." Ima tersenyum. "Coba pakai."

Rizky memakainya. Jam itu pas di pergelangan tangannya. Ia menatap Ima dengan perasaan campur aduk.

"Ima suka lihat kamu pakai jam," bisik Ima. Tangannya meraih pergelangan tangan Rizky, memutar-mutar jam itu pelan. "Jadi inget suami Ima dulu. Dulu dia juga suka pakai jam."

Sentuhan itu lagi. Rizky merasa dadanya sesak.

"Ima..."

"Hush." Ima meletakkan jari telunjuknya di bibir Rizky. Matanya menatap dalam. "Jangan banyak bicara. Cuma lima menit kita punya. Manfaatin."

Tanpa Rizky sadari, Ima sudah mendekat. Begitu dekat. Wangi parfumnya memenuhi indra penciuman Rizky. Melati. Selalu melati.

"Ima mau cium kamu," bisik Ima hampir tak terdengar. "Boleh?"

Rizky tak bisa menjawab. Lidahnya seperti kelu. Tapi Ima sepertinya menganggap diam sebagai iya.

Perlahan, Ima mendekatkan wajahnya. Rizky bisa melihat bulu matanya yang lentik, pori-pori halus di kulitnya, dan bibirnya yang sedikit terbuka.

Saat bibir Ima menyentuh bibirnya, Rizky seperti tersambar petir.

Ciuman itu lembut pada awalnya. Hanya bibir bertemu bibir. Tapi kemudian Ima menariknya lebih dalam. Tangannya meraih tengkuk Rizky, menariknya lebih dekat. Lidah Ima menyelusup, mencari, dan Rizky membalas dengan canggung.

Rizky belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ciuman dengan Nabila dulu hanya sebatas bibir. Tapi ini berbeda. Ini dewasa. Ini penuh hasrat.

Tangan Ima merayap ke dada Rizky, meraba otot-ototnya yang masih remaja. Rizky menggenggam pinggang Ima, merasakan lekuk tubuhnya yang hangat di balik seragam batik.

Mereka berciuman sampai keduanya kehabisan napas.

Ima melepas ciumannya, tersenyum puas melihat ekspresi Rizky yang masih limbung. "Kamu manis," bisiknya. "Ima suka."

Rizky hanya bisa terpaku. Ia belum sepenuhnya sadar akan apa yang baru saja terjadi.

Ima merapikan hijabnya yang sedikit berantakan. "Ima harus kembali ke kelas. Kamu masuk dulu lima menit lagi. Jangan bareng sama Ima."

Rizky mengangguk kaku.

"Ingat," Ima menatapnya dengan pandangan serius tapi lembut. "Ini rahasia kita berdua. Jangan sampai ada yang tahu."

Ima lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Rizky yang masih berdiri terpaku di belakang lab biologi.

Rizky merasakan bibirnya masih basah. Ia menjilatnya, merasakan sisa rasa Ima di sana.

Astaghfirullah, batinnya. Tapi di saat yang sama, ia ingin mengulanginya lagi.

---

Sepulang sekolah, Rizky tak langsung pulang ke kost. Ia duduk di taman belakang sekolah, memandangi jam tangan barunya. Ia memencet-mencet layar ponsel, menatap foto Ima yang diam-diam ia foto saat beliau menjelaskan di papan tulis.

"Lo nggak papa?"

Rizky menoleh. Wira berdiri di belakangnya dengan dua botol air mineral.

"Gue lihat lo tadi istirahat kedua ilang. Pas jam pelajaran berikutnya lo masuk telat lima menit. Dan muka lo..." Wira menjeda, menatap Rizky lekat. "Muka lo kayak abis molor. Atau abis... sesuatu."

Rizky membuang muka. "Nggak usah banyak mikir, Ra."

Wira duduk di sampingnya. Memberinya satu botol air. "Gue mau mikir apa? Lo bilang sendiri nggak usah mikir. Tapi lo liat gue, gue temen lo. Lo kenapa?"

Rizky diam. Ia memainkan botol air di tangannya.

"Zky, gue tahu lo udah terlalu dalam. Dan gue nggak bisa ngapa-ngapain karena lo nggak mau cerita. Tapi gue minta satu hal." Wira menatapnya serius. "Hati-hati. Jangan sampai lo kecelakaan."

"Kecelakaan gimana?"

"Ya kecelakaan. Hamilin dia. Atau ketahuan suaminya. Atau ketahuan sekolah. Lo tahu sendiri hukum di negara ini, hubungan guru sama murid itu nggak main-main."

Rizky tertawa getir. "Lo kebanyakan nonton sinetron, Ra."

"Gue kebanyakan baca berita." Wira membuka ponselnya, mencari sesuatu, lalu menyodorkannya ke Rizky. "Baca ini."

Rizky membaca artikel itu. Seorang guru di salah satu daerah di Jawa Timur dihakimi massa karena berhubungan dengan muridnya. Rumahnya dirusak. Ia dipecat. Pernikahannya hancur. Murid laki-lakinya dipindahkan ke sekolah lain dan masih harus menjalani terapi psikologis.

Rizky menelan ludah.

"Lo lihat? Yang hancur bukan cuma satu orang. Tapi dua keluarga," Wira berkata pelan. "Gue nggak tahu sejauh mana hubungan lo sama Bu Ima. Tapi kalau udah sampai tahap fisik... tolong, pikir ulang."

Rizky mengembalikan ponsel Wira. "Makasih, Ra. Gue hargai kepedulian lo."

"Tapi?"

Rizky menghela napas. "Tapi gue udah terlalu dalam."

Wira menatapnya dengan pandangan iba. "Ya Allah, Zky."

Mereka duduk diam beberapa saat. Sore mulai turun, matahari meredup di ufuk barat.

"Lo tahu nggak, Ra," Rizky memulai pelan. "Selama ini gue selalu ngerasa biasa aja. Sekolah, pulang, main, tidur. Nggak ada yang berarti. Tapi semenjak ada dia... gue ngerasa hidup. Lo ngerti maksud gue?"

Wira menghela napas. "Gue ngerti. Tapi itu bukan alasan."

"Mungkin bukan alasan. Tapi itu kenyataan."

Ponsel Rizky bergetar. Sekali lagi, dari Ima.

"Pulangnya mampir ke rumah Ima, ya? Ima udah masak. Suami Ima masih di luar kota."

Rizky menatap layar itu. Hatinya berperang antara keinginan dan kesadaran.

"Lo mau ke mana?" tanya Wira melihat ragu di wajah Rizky.

Rizky memasukkan ponsel ke saku. "Nggak ke mana-mana. Pulang."

Dia bohong. Dan dia tahu itu.

---

Satu jam kemudian, Rizky sudah berada di depan rumah Ima lagi. Kali ini ia tak perlu dipanggil. Kakinya sendiri yang membawanya ke sini.

Ima membuka pintu dengan senyum merekah. Ia memakai daster rumah warna hijau army, tipis, dengan lengan pendek. Hijabnya diganti dengan kerudung instan warna senada. Tanpa sadar, Rizky memperhatikan lekuk tubuh Ima yang terlihat jelas di balik daster tipis itu.

"Masuk, Nak." Ima menarik tangannya.

Rizky masuk. Rumah itu sama seperti sebelumnya, rapi dan harum. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Ima memasang wewangian, dan lilin aroma terapi di ruang tamu.

"Duduk. Ima ambil minum dulu."

Rizky duduk di sofa. Ia meletakkan tasnya di samping. Tak lama, Ima kembali dengan dua gelas jus stroberi. Ia duduk di samping Rizky, begitu dekat sehingga paha mereka hampir bersentuhan.

"Gimana harimu?" tanya Ima sambil menyesap jusnya.

"Biasa aja." Rizky menjawab, tapi pikirannya nggak biasa aja.

Ima tersenyum. "Ima senang kamu mau datang."

Rizky memberanikan diri bertanya. "Ima... suami Ima ke mana?"

Ima menghela napas. "Dinas ke Kalimantan. Dua minggu lagi baru pulang." Ia menatap Rizky. "Kenapa tanya?"

"Nggak... cuma kepo aja."

Ima meletakkan gelasnya di meja. Ia bergeser lebih dekat lagi. Kini paha mereka benar-benar bersentuhan. Rizky menegang.

"Rizky," bisik Ima. "Kamu suka sama Ima?"

Rizky menelan ludah. "Saya..."

"Jujur." Ima menatap matanya dalam-dalam. "Nggak usah takut."

Rizky mengangguk pelan. "Suka."

Ima tersenyum. Senyum penuh arti. Lalu tanpa peringatan, ia mendekat dan mencium Rizky lagi.

Kali ini lebih agresif. Lebih dalam. Tangan Ima meraih tangan Rizky dan membimbingnya ke pinggangnya. Rizky merasakan hangatnya tubuh Ima di balik daster tipis itu. Tangannya gemetar.

"Ima..." bisik Rizky di sela ciuman.

"Hush... jangan banyak bicara." Ima menarik Rizky lebih dekat. Kini Rizky bisa merasakan dadanya menempel di dada Ima. Ia bisa merasakan detak jantung Ima yang berdegup kencang.

Ciuman mereka makin panas. Tangan Ima mulai merayap ke dalam seragam Rizky, meraba dadanya yang bidang. Rizky membalas dengan meraba pinggang Ima, naik ke perutnya, lalu...

Ima menangkap tangannya. "Pelankan, Sayang," bisiknya. "Jangan terlalu cepat."

Rizky mengangguk, napasnya memburu. "Maaf... saya..."

"Nggak apa." Ima tersenyum mesra. "Kita pelan-pelan aja. Ima mau kamu nyaman."

Mereka berciuman lagi, lebih lembut sekarang. Tangan Ima mengusap punggung Rizky lembut. Sesekali ia menggigit bibir bawah Rizky pelan.

Rizky seperti di surga. Ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini. Semua panca indranya dipenuhi oleh Ima. Wanginya. Rasanya. Suaranya. Sentuhannya.

Sampai akhirnya Ima melepas ciumannya dan bersandar di dada Rizky.

"Kamu tahu," bisik Ima, "sudah lama Ima nggak ngerasa seperti ini. Diperhatikan. Diinginkan."

Rizky mengusap punggung Ima pelan. "Suami Ima nggak perhatian?"

Ima diam beberapa saat. "Dia sibuk. Kerja terus. Kalau pulang pun capek, langsung tidur. Ima... kesepian."

Rizky merasa iba. Tapi di saat yang sama, ada rasa bangga karena ia bisa menjadi orang yang mengisi kekosongan itu.

"Ima..." Rizky memberanikan diri. "Apa kita... jadian?"

Ima tertawa kecil. Manis. "Kita nggak bisa jadian, Nak. Ima udah punya suami. Tapi kita bisa... dekat. Sangat dekat."

"Seberapa dekat?"

Ima mengangkat wajahnya, menatap Rizky. "Sedekat yang kamu mau."

Jawaban itu membuat Rizky terbakar. Ia mencium Ima lagi, lebih bernafsu kali ini. Tangannya meraba lebih jauh, dan kali ini Ima tak menahan.

Daster tipis itu terasa seperti penghalang. Rizky ingin merasakan kulit Ima langsung.

Tapi Ima kembali menahan. "Tidak di sini," bisiknya. "Di kamar."

Ima bangkit, menarik tangan Rizky. Mereka berjalan menuju kamar utama. Rizky bisa merasakan jantungnya hampir meledak.

Kamar Ima rapi, dengan wewangian lavender. Ranjang ukuran besar dengan sprei warna krem. Ima menutup pintu kamar.

Di dalam kamar, dengan pintu tertutup, dunia seolah hanya milik mereka berdua.

Ima berdiri di hadapan Rizky. Perlahan, ia melepas hijabnya. Rambut hitam panjang terurai hingga sebahu. Rizky menahan napas. Ia belum pernah melihat Ima tanpa hijab.

"Cantik," bisiknya tak sadar.

Ima tersenyum. Lalu ia meraih ujung daster dan menaikkannya, perlahan. Rizky melihat kaki jenjang Ima, lalu paha putih mulus, lalu...

"Berhenti di sini dulu," Ima berkata lembut, membiarkan daster tersangkut di paha. Ia mendekat, meraih tangan Rizky dan meletakkannya di pahanya. "Rasakan."

Kulit Ima halus dan hangat. Rizky merabanya pelan, tak percaya ia bisa menyentuh guru yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

Ima menghela napas, memejamkan mata. "Lanjutkan," bisiknya.

Rizky menarik Ima ke ranjang. Mereka jatuh bersama, berciuman lagi. Kini tak ada lagi penghalang. Tangan Rizky bebas menjelajah, dan Ima membiarkannya.

Tapi saat keadaan mulai memanas, Rizky tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?" tanya Ima, napasnya memburu.

Rizky menatap Ima dengan pandangan rumit. "Ini... ini benar-benar terjadi?"

Ima tersenyum. Ia mengusap wajah Rizky lembut. "Iya, Sayang. Ini benar-benar terjadi."

"Tapi... dosa."

Ima menghela napas. "Ima tahu. Tapi kadang, dosa itu terasa manis, Nak."

Rizky bergeming. Pikirannya berperang antara hasrat dan kesadaran.

Ima menatapnya. "Kamu mau berhenti?"

Rizky menatap Ima. Cantik. Menggoda. Dan ada di hadapannya.

"Aku..." Rizky menelan ludah. "Aku nggak tahu."

Ima tersenyum lembut. Mengerti. "Kalau kamu ragu, kita nggak usah lanjut. Ima nggak mau maksa kamu."

Rizky menghela napas lega. Tapi juga kecewa. Perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.

Mereka berbaring di ranjang, berpelukan. Ima mengusap dada Rizky lembut.

"Terima kasih udah jujur," bisik Ima. "Kamu anak baik."

Rizky mengecup puncak kepala Ima. "Maaf."

"Nggak perlu minta maaf. Kita punya waktu."

Malam itu, Rizky tak pulang sampai jam sembilan. Ia berbaring di samping Ima, mengobrol tentang banyak hal. Tentang mimpi-mimpinya. Tentang kesepian Ima. Tentang dunia yang tak adil.

Saat akhirnya ia pamit, Ima menciumnya sekali lagi di pintu.

"Hati-hati di jalan. Ima tunggu kabar kamu."

Rizky mengangguk. Ia melaju ke kost dengan perasaan melayang.

Di kamar kost, ia membuka ponsel dan menemukan pesan dari Wira.

"Lo di mana, Zky? Gue tungguin di kost lo jam 7, lo nggak ada. Jangan bilang lo ke rumahnya lagi."

Rizky membalas singkat: "Gue udah pulang. Capek. Besok ngobrol."

Ia mematikan ponsel dan merebahkan diri di kasur. Bibirnya masih terasa. Tangannya masih mengingat tekstur kulit Ima. Hidungnya masih dipenuhi wangi melati.

Astaghfirullahal'adzim.

Tapi meski berulang kali mengucap istigfar, Rizky tahu—ia sudah terlalu dalam untuk berbalik.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!