Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 24 - PERTEMPURAN DI PEGUNUNGAN
Ksatria LightOrder melesat dengan kecepatan yang membuat Ash nyaris tidak bisa mengikuti gerakannya. Pedang bercahaya emas itu menyambar ke arah Razen dengan kekuatan yang membuat udara berdesir.
CLANG!
Razen menangkis dengan pedangnya, api merah bertemu dengan cahaya emas dalam ledakan percikan. Tanah di bawah kaki mereka retak karena tekanan.
"Tak buruk, Razen!" teriak ksatria itu sambil menekan pedangnya lebih dalam. "Tapi kau sudah kehilangan blessing! Kau hanya manusia biasa sekarang!"
"Manusia biasa sudah cukup untuk mengalahkanmu!" Razen mendorong balik, api di pedangnya menyala lebih terang.
Ksatria kedua langsung bergerak ke arah Lyra, tapi Eveline muncul dari bayangan dan menghadangnya dengan dua belati bersilang.
"Lawanmu aku," ucapnya dingin.
Delapan infantri langsung menyerang ke arah Ash dan Morgana.
Morgana menguap. "Membosankan~. Nivraeth tidak ikut campur kalau cuma segini."
Dia melangkah mundur dan duduk di atas batu besar, menonton dengan santai.
"MORGANA!" protes Ash.
"Kau bilang mau jadi lebih kuat kan~? Ini kesempatanmu~!" Morgana melambai. "Tunjukkan pada Nivraeth hasil latihan selama ini!"
Ash mengutuk dalam hati. Delapan infantri sudah mengelilinginya, pedang dan tombak teracung.
Salah satunya menyerang duluan, tombaknya menusuk ke arah perut Ash.
Ash menghindar ke samping, tangannya terangkat secara refleks. Cahaya biru muncul di telapaknya, dia dorong ke depan.
WHOOSH!
Semburan angin keluar, mendorong infantri itu mundur beberapa langkah.
Tapi tujuh lainnya tidak memberi waktu. Mereka menyerang dari segala arah.
Ash menarik mana lagi, kali ini membentuknya jadi dinding tanah yang muncul dari tanah di sekelilingnya, melindunginya dari tiga serangan sekaligus.
Pedang-pedang itu menghantam dinding tanah, tidak tembus tapi membuat retakan.
Ash tahu dinding itu tidak akan bertahan lama. Dia harus menyerang balik.
Dia membayangkan api. Panas. Ledakan kecil.
Cahaya di tangannya berubah jadi oranye kemerahan.
Dia menghantamkan tangannya ke tanah.
BOOM!
Ledakan api kecil meledak dari tanah di sekitar dinding tanah, memaksa infantri infantri itu mundur untuk menghindari kobaran api.
Ash melompat keluar dari dinding yang sudah mulai runtuh, berlari ke arah sisi yang lebih terbuka.
Tiga infantri mengejarnya.
Ash berbalik, tangan terangkat lagi. Kali ini dia mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang diajarkan Violet kemarin.
Kombinasi elemen.
Dia menarik mana, membayangkan air dan angin bersamaan.
Cahaya di tangannya berubah jadi biru pucat dengan kilatan putih.
Dia ayunkan tangannya.
Semburan es tajam seperti jarum keluar, menusuk kaki ketiga infantri itu. Bukan luka fatal, tapi cukup untuk membuat mereka jatuh dan kesulitan berdiri.
"Aku... aku melakukannya!" Ash nyaris berteriak senang.
Tapi lima infantri lainnya masih datang.
Dan Ash mulai merasakan mana di tubuhnya menipis. Cahaya di tangannya berkedip tidak stabil.
Sial. Terlalu banyak sihir dalam waktu singkat.
Salah satu infantri dengan kapak besar menyerang dari samping. Ash mencoba menghindar tapi terlambat.
Kapak itu menghantam bahunya.
CRACK!
Rasa sakit meledak. Ash terjatuh, memegangi bahunya yang berdarah.
Infantri itu mengangkat kapaknya lagi untuk serangan kedua.
Tapi sebelum kapak itu turun, sebatang es raksasa muncul dari tanah dan menghantam infantri itu dari bawah, melemparnya ke udara.
Ash menoleh. Lyra berdiri agak jauh dengan tongkat terangkat, mata bersinar biru.
"Fokus!" teriaknya. "Jangan lengah!"
Ash mengangguk, mencoba berdiri meski bahunya sakit luar biasa. Regenerasinya mulai bekerja, tapi lebih lambat dari biasanya karena energinya terkuras.
Empat infantri tersisa langsung menyerangnya lagi.
Ash tidak punya pilihan.
Dia menutup mata sebentar, merasakan dua titik di dadanya.
Titik kecil mana alami sudah hampir kosong.
Tapi titik emas masih penuh. Berdenyut. Menunggu.
*Jangan,* bisik pikirannya. *Jangan gunakan itu. Kau bisa kehilangan kontrol lagi.*
Tapi empat pedang sudah menyambar ke arahnya.
Tidak ada waktu.
Ash menyentuh titik emas itu. Hanya sedikit. Hanya secuil.
WHOOOM!
Panas meledak di dadanya. Mata Ash berkilat emas sebentar.
Tubuhnya bergerak sendiri, jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Dia menghindar dari keempat pedang itu dengan gerakan yang bahkan dia sendiri tidak tahu bisa dilakukannya.
Tangannya mencengkeram pergelangan salah satu infantri, memelintirnya.
CRACK!
Tulang patah. Infantri itu berteriak kesakitan.
Ash melemparnya ke dua infantri lainnya, membuat mereka terjatuh bersamaan.
Infantri terakhir mencoba menikamnya dari belakang.
Ash berbalik, menangkap pedang itu dengan tangan kosong.
Darahnya mengalir di bilah pedang, tapi dia tidak merasakan sakit. Dia menarik pedang itu, menarik infantri itu ke depan, lalu meninju wajahnya.
Infantri itu terlempar ke belakang dan tidak bangun lagi.
Ash berdiri di sana, napas berat, tangan berdarah, mata masih berkilat emas samar.
Lalu cahaya emas itu memudar.
Kakinya lemas. Dia hampir jatuh tapi menahan diri dengan menancapkan kaki di tanah.
Semua infantri sudah tergeletak. Tidak mati, tapi tidak sadarkan diri atau terlalu terluka untuk lanjut bertarung.
Di sisi lain, Eveline berdiri dengan ksatria LightOrder kedua yang sudah berlutut, tangan memegang lehernya yang berdarah dari goresan belati. Tidak fatal, tapi cukup untuk melumpuhkannya.
Dan Razen masih bertarung dengan ksatria pertama.
Mereka berdua terlihat lelah, tapi tidak ada yang mau mundur.
"Kau sudah tua, Razen!" teriak ksatria itu sambil menyerang dengan kombinasi cepat. "Kau sudah melemah!"
"Mungkin," jawab Razen sambil menangkis satu per satu. "Tapi aku masih bisa mengalahkanmu!"
Dia mengubah pola serangannya, dari defensif jadi ofensif. Api di pedangnya menyala lebih terang, hampir putih.
Ksatria itu terkejut dengan perubahan mendadak itu. Pertahanannya terlambat.
Razen menebasnya ke sisi, mengenai armor di pinggang. Armor itu retak, dan ksatria itu terpental ke samping.
Sebelum dia bisa bangkit, Razen sudah menancapkan pedangnya ke tanah tepat di samping leher ksatria itu.
"Menyerah," ucap Razen dingin. "Atau pedang berikutnya tidak akan meleset."
Ksatria itu menatapnya dari balik helm, lalu menjatuhkan pedangnya. "Aku menyerah."
Razen menarik pedangnya dan mundur, napas terengah.
Lyra langsung bergerak, mengikat semua infantri dan dua ksatria dengan tali yang diperkuat sihir. Mereka tidak akan bisa lepas.
Morgana melompat turun dari batunya sambil bertepuk tangan. "Bagus~! Kalian menang tanpa ada yang mati~! Nivraeth bangga~!"
"Kau... kau tidak bantu sama sekali," ucap Ash dengan napas berat.
"Nivraeth bilang Nivraeth cuma akan bantu kalau kalian hampir mati~. Dan tidak ada yang hampir mati." Morgana berjalan mendekat dan menyentuh bahu Ash yang terluka. Cahaya hangat keluar dari tangannya, dan luka di bahu Ash mulai menutup dengan cepat. "Tapi Nivraeth baik hati, jadi Nivraeth sembuhkan~."
Setelah semua luka Ash sembuh, Morgana berjalan ke Razen dan Eveline, menyembuhkan luka-luka mereka juga.
"Terima kasih," ucap Razen.
"Sama sama~. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan dengan mereka~?" Morgana menunjuk sepuluh tawanan yang sudah terikat.
Lyra menatap mereka dengan ekspresi serius. "Kita bawa ke Fort Silvergate. Mereka adalah bukti bahwa Varnhold menyerang kereta diplomatik Lunaria tanpa provokasi. Ini bisa jadi keuntungan politik."
"Tapi itu akan memperlambat perjalanan kita," protes Eveline.
"Tidak banyak. Satu atau dua jam." Lyra menoleh ke kusir yang sudah dibebaskan ikatannya. "Bisakah kereta menampung sepuluh orang tambahan?"
Kusir mengangguk. "Bisa, tapi akan sesak."
"Tidak masalah. Ikat mereka di luar kalau perlu." Lyra berbalik ke Ash, Eveline, dan Razen. "Bagus. Pertempuran pertama kalian dan tidak ada korban di pihak kita. Itu prestasi."
Ash tidak merasa seperti prestasi. Dia masih merasakan sisa-sisa panas emas di dadanya. Sisa dari kekuatan Uroboros yang dia sentuh.
Dia menatap tangannya yang masih gemetar sedikit.
*Aku hampir kehilangan kontrol lagi.*
Tapi dia tidak. Dia hanya menyentuh secuil. Dan dia berhasil menarik diri sebelum terlambat.
Itu kemajuan.
Tapi juga pengingat betapa tipisnya garis antara menggunakan kekuatan itu dan dikuasai olehnya.
---
Mereka melanjutkan perjalanan dengan sepuluh tawanan yang diikat di bagian belakang kereta. Dua ksatria LightOrder diikat terpisah dan dijaga lebih ketat.
Di dalam kereta, suasananya lebih tegang dari sebelumnya.
"Mereka tahu kita ada di jalur ini," ucap Razen sambil menatap keluar jendela. "Itu artinya ada kebocoran informasi lagi. Atau..."
"Atau mereka sudah memasang patroli di semua jalur menuju Fort Silvergate," lanjut Lyra. "Mengantisipasi reinforcement dari Lunaria."
"Kalau begitu, kita akan bertemu lebih banyak patroli sebelum sampai?" tanya Ash.
"Kemungkinan besar." Lyra membuka peta. "Tapi kita sudah lewat titik paling berbahaya. Dari sini, jalurnya lebih dekat ke wilayah Lunaria. Seharusnya lebih aman."
"Seharusnya," ulang Eveline dengan nada skeptis.
Malam berlanjut tanpa insiden lagi. Mereka berhenti di shelter pegunungan yang sudah disiapkan Lunaria, sebuah bangunan batu kecil dengan perapian dan beberapa kasur sederhana.
Tawanan diikat di luar dengan barrier sihir mengelilingi mereka. Lyra dan kusir bergiliran jaga.
Ash, Eveline, dan Razen berbagi ruangan kecil dengan tiga kasur.
"Tidur," ucap Razen sambil berbaring. "Besok sore kita sudah sampai di Fort Silvergate. Dan begitu sampai di sana, tidak akan ada banyak waktu untuk istirahat."
Ash berbaring di kasurnya, menatap langit langit kayu. Tubuhnya lelah tapi pikirannya tidak bisa diam.
Dia memikirkan pertempuran tadi. Bagaimana dia hampir kalah. Bagaimana dia terpaksa menyentuh kekuatan Uroboros.
Bagaimana mudahnya kekuatan itu datang saat dia memanggilnya.
*Apakah suatu hari aku tidak bisa menolak lagi?*
Dari kasur sebelah, suara Eveline terdengar pelan. "Ash. Kau belum tidur?"
"Belum. Kau juga?"
"Tidak bisa tidur." Hening sebentar. "Tadi kau pakai kekuatan itu lagi. Emas itu."
Ash tidak menjawab langsung. "Hanya sedikit. Aku... aku tidak punya pilihan."
"Aku tahu. Aku tidak menyalahkanmu." Eveline bergeser di kasurnya. "Tapi kau harus lebih hati-hati. Setiap kali kau pakai itu, matamu jadi lebih dingin. Bahkan jika hanya sebentar."
"Aku tahu." Ash menutup matanya. "Aku takut suatu hari aku tidak bisa kembali."
"Maka seperti biasa aku akan menamparmu sampai kau kembali."
Ash tertawa kecil. "Itu rencanamu? Tampar aku sampai sadar?"
"Berhasil sebelumnya."
"Benar juga."
Keheningan kembali, tapi kali ini lebih nyaman.
"Eveline?"
"Ya?"
"Terima kasih. Karena selalu mengingatkanku siapa aku."
"Tidak masalah."
Ash tersenyum dan akhirnya tertidur.
Di kasur paling pojok, Razen membuka matanya yang sebenarnya tidak tidur. Dia mendengar percakapan mereka.
Dia menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk.
*Anak anak ini... mereka mengingatkanku pada diriku yang dulu. Sebelum semuanya jadi kelam.*
Dia berharap mereka tidak akan mengalami hal yang sama seperti dirinya.
Berharap mereka bisa tetap memiliki cahaya di tengah kegelapan yang akan datang.
Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu.
Perang akan mengubah semuanya.
Dan tidak semua orang akan keluar dari perang itu masih utuh.
Dia hanya berharap bukan Ash atau Eveline yang hancur.
Karena mereka masih punya masa depan.
Tidak seperti dirinya.
---
Pagi datang dengan kabut tebal. Mereka melanjutkan perjalanan setelah sarapan sederhana.
Sore hari, saat matahari mulai condong ke barat, mereka akhirnya melihatnya.
Fort Silvergate.
Benteng batu raksasa yang berdiri megah di celah pegunungan, tembok setinggi sepuluh meter dengan menara pengawas di setiap sudut. Bendera biru Lunaria berkibar di puncak menara tertinggi.
Tapi ada sesuatu yang salah.
Asap hitam mengepul dari beberapa bagian benteng.
Dan bahkan dari jarak ini, mereka bisa mendengar suara teriakan dan denting logam.
Pertempuran sudah dimulai.
Varnhold sudah menyerang.
Dan mereka terlambat.