NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

⚠️MC NON MANUSIAWI‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Tamu

Di perbatasan antara wilayah pinggiran dan wilayah tengah Hutan Kabut Kematian, hukum fisika bekerja sedikit berbeda. Di sini, kelembapan udara begitu padat hingga kau bisa merasakannya menempel di kulit seperti lapisan minyak tipis. Kabut bukan lagi sekadar uap air; ia adalah tirai hidup yang menyerap suara dan membelokkan cahaya.

Lu Daimeng berdiri di dahan pohon raksasa, pedang baja kultivator di tangan kanannya.

Dia tidak bergerak. Dia tidak bernapas. Dia sedang mendengarkan angin.

Bagi seorang kultivator ortodoks, pedang adalah perpanjangan dari Qi yang mengalir di dalam meridian. Mereka memompa energi dari Dantian, mengalirkannya ke lengan, dan memancarkannya keluar melalui ujung bilah. Itu adalah proses Internal ke Eksternal.

Lu Daimeng tidak memiliki kemewahan itu. Dantian-nya tidak pernah ada.

Maka, dia membalikkan konsep itu dia merubah hukum bagi dirinya sendiri.

Dia berpikir untuk mengakali Qi pada dunia yang tidak menyukainya, dia berpikir untuk mencari celah/bug pada dunia busuk ini, berpikir untuk menipu hukum dao dunia.

Dia ingin membuktikan bahwa makhluk Fana tanpa dantian juga bisa menjadi dewa.

Dia mengangkat pedangnya perlahan. Otot-otot lengan dan punggungnya, yang kini sekeras akar pohon tua, menegang.

"Angin tidak diciptakan," batinnya, matanya yang memiliki tiga pupil berputar fokus pada partikel debu di udara. "Angin adalah hasil dari perbedaan tekanan."

Dia menghentakkan kakinya ke dahan pohon.

DUM.

Dahan raksasa itu bergetar. Getaran itu merambat ke pinggang, ke bahu, lalu meledak di pergelangan tangan.

Lu Daimeng menebas.

SWOOOSH!

Pedang itu bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas wajar otot manusia. Bilahnya membelah udara begitu cepat hingga menciptakan jalur vakum sesaat.

Dan di sanalah keajaibannya terjadi.

Alam membenci sesuatu yang kosong. Qi alam yang melayang bebas di hutan—partikel-partikel energi liar yang tidak bertuan—terhisap secara paksa masuk ke dalam jalur vakum yang diciptakan oleh tebasan Lu Daimeng. Mereka tidak masuk ke tubuhnya. Mereka menempel di bilah pedangnya, ditarik oleh hukum fisik murni.

CRASS!

Sebuah dahan pohon di depannya, yang berjarak tiga meter, terpotong rapi.

Potongannya tidak halus seperti sayatan laser Qi. Potongannya kasar, bergerigi, seolah dahan itu digigit oleh ribuan gigi angin yang lapar.

Dia semakin paham cara menggunakan Qi tanpa harus memilikinya, dia langsung menggunakan Qi dari alam tanpa memperoses melalui tubuhnya.

"Teknik Pedang Delapan Mata Angin: pedang Selatan," gumam Lu Daimeng, menurunkan pedangnya. Napasnya sedikit memburu. "Kasar. Primitif. Tapi efektif."

Dia tidak memurnikan Qi. Dia memaksa atmosfer untuk meminjam kekuatannya.

Lelah berlatih siang dan malam. Dia berlatih lebih keras dari pendekar pedang manapun. Dia menyiksa dirinya sendiri demi jalan yang mustahil didapatkan oleh makhluk yang ditolak takdir.

Lu Daimeng menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang lembap. Dia memejamkan mata, membiarkan kegelapan membawanya pergi sejenak.

Dia kelelahan, dia butuh istirahat.....

Dan Mimpi itu datang lagi.

Selalu mimpi yang sama. Aroma daging gosong. Aroma itu begitu nyata hingga Lu Daimeng bisa merasakannya menyumbat hidungnya di alam mimpi.

Dia kembali ke usia sepuluh tahun.

Dia sedang berlutut di lantai batu dingin di halaman belakang kediaman Cabang Keluarga Lu. Tangannya diikat ke belakang.

Di depannya, berdiri tiga sosok remaja. Kakak-kakaknya. Wajah mereka kabur, tertutup oleh cahaya matahari yang menyilaukan, atau mungkin oleh air mata Lu Daimeng saat itu. Tapi suara mereka jernih.

"Lihat si sampah ini," suara itu penuh tawa. "Ayah bilang dia tidak punya Qi untuk melindungi tubuhnya. Mari kita tes."

"Jangan... Kak... Ampun..." Suara Lu Daimeng kecil bergetar, penuh dengan ketakutan murni seorang anak kecil.

"Ampun?" Salah satu sosok itu berjongkok. Dia memegang penjepit besi yang menjepit sebongkah arang membara. "Sampah tidak punya hak meminta ampun."

"Hahahah, Bajingan kecil, ini pelajaran agar kau tahu tempatmu."

"Dasar anak haram. Ibumu sendiri bahkan mati karena terkejut melahirkan sampah."

"Anak selir, sebaiknya kau mati saja."

"Mati!!"

Bara api itu ditekan ke dada telanjang Lu Daimeng.

Ssssttttt!

Suara kulit yang melepuh. Bau daging terbakar. Rasa sakit yang putih dan menyilaukan.

Lu Daimeng menjerit. Dia memohon. Dia memanggil ayahnya.

Di kejauhan, di beranda, ayahnya berdiri. Sang Patriark hanya menatap, lalu berbalik pergi, seolah suara jeritan anaknya hanyalah gangguan suara latar yang tidak penting.

"Tolong!!"

"Sakit... Panas... Ayah... tolong..."

Lu Daimeng tersentak bangun.

"Sial mimpi itu lagi?"

Matanya terbuka lebar. Tiga pupil di mata kanannya berputar liar, mencari ancaman. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi keningnya.

Refleks pertamanya adalah meraba dadanya.

Tangannya yang kasar menyentuh kulit dadanya yang bidang dan keras.

Halus.

Tidak ada jaringan parut. Tidak ada bekas luka bakar.

Daging monster dan Dantian kultivator yang dia makan selama beberapa bulan ini telah meregenerasi kulitnya dengan sempurna, menghapus jejak penyiksaan masa lalu. Secara fisik, dia telah sembuh.

Lu Daimeng menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Dia menatap tangannya yang gemetar, lalu perlahan mengepalkannya hingga buku-bukunya memutih.

"Mimpi yang membosankan," bisiknya. Suaranya datar, dingin, tanpa emosi. "Kenapa aku masih memimpikan anjing-anjing itu?"

Dia tidak lagi merasa sedih. Dia tidak merasa takut. Rasa sakit di mimpi itu hanya mengingatkannya pada satu hal: Kelemahan adalah dosa.

Tiba-tiba, telinganya berkedut.

Kres... Kres... Kres...

Suara langkah kaki.

Bukan satu. Tiga pasang kaki.

Suara itu datang dari bawah, dari daratan hutan yang tertutup daun busuk. Langkah kaki yang mencoba diringankan, namun tetap terdengar berat karena keragu-raguan.

Lu Daimeng bangkit tanpa suara. Dia merangkak ke ujung dahan, mengintip ke bawah melalui celah dedaunan.

Mata Tiga Pupil-nya aktif.

Dunia menjadi transparan. Kabut tebal yang biasanya menghalangi pandangan kini terlihat seperti lapisan tipis kaca. Dia melihat panas tubuh. Dia melihat aliran Qi.

Tiga sosok pria berjalan hati-hati di bawah sana.

Mereka mengenakan jubah biru laut dengan bordiran awan putih di dada kiri. Murid Sekte Awan Biru (Blue Cloud Sect).

Mereka tidak terbang.

Di perbatasan hutan bagian tengah ini, kabut memiliki sifat mengacaukan persepsi spasial. Terbang dengan pedang di sini sama saja dengan bunuh diri; kau bisa menabrak pohon besi atau terbang langsung ke sarang gagak racun tanpa menyadarinya.

"Sialan, kabut ini tebal sekali," keluh salah satu dari mereka, seorang pemuda kurus yang memegang sebuah kompas giok. "Apakah kau yakin sinyalnya dari sini?"

"Jarum pelacak darah menunjukkan arah ini," jawab pria kedua, yang bertubuh gempal dan membawa kapak besar di punggungnya. "Cincin Kapten Chu ada di sekitar sini. Berhentilah mengeluh."

"Kapten Chu mati di tangan kultivator iblis," kata pria ketiga, yang berjalan paling depan. Auranya paling kuat dan stabil. "Kita harus hati-hati. Musuh mungkin masih ada di sekitar sini."

Mata Lu Daimeng menyipit.

Dia meraba dadanya, di balik bajunya yang terbuat dari kulit gagak. Cincin Kapten Chu tergantung di sana.

"Mereka melacak cincin ini," analisis Lu Daimeng. "Sekte Awan Biru memang merepotkan. Mereka punya alat untuk segalanya."

Dia memindai tingkat kekuatan mereka.

Pria kurus (pemegang kompas): empat pusaran di sekitar dantian menandakan Ranah Pembentukan Qi Tahap 4. Tapi Aliran Qi-nya tidak stabil, mungkin baru naik tingkat.

Pria gempal: Ranah Pembentukan Qi Tahap 4. Fisiknya kuat, aliran Qi terkonsentrasi di lengan.

Pria pemimpin: Ranah Pembentukan Qi Tahap 6. Berbahaya. Aliran Qi-nya padat dan memiliki jejak racun samar di sekitar meridian tangannya.

Tiga lawan satu.

Jika ini pertarungan terbuka di arena, Lu Daimeng akan kalah. Dia tidak punya teknik pertahanan Qi. Satu serangan jarak jauh yang telak bisa membunuhnya.

Tapi ini bukan arena.

Ini adalah Hutan Kabut Kematian. Ini adalah rumahnya sekarang.

Lu Daimeng tersenyum. Senyum itu tidak mencapai matanya. Senyum itu adalah seringai predator yang melihat domba masuk ke kandang macan.

"Kalian tidak terbang," batin Lu Daimeng. "Itu kesalahan pertama. Kalian melihat ke depan, bukan ke atas. Itu kesalahan kedua."

Dia tidak menghunus pedangnya. Suara logam akan mengkhianatinya.

Dia mengambil sebuah senjata buatan tangan.

Sebuah tombak pendek yang terbuat dari tulang paha Kelinci Iblis. Dia telah mengasahnya di batu sungai selama berjam-jam hingga ujungnya setajam jarum. Tulang itu padat, berat, dan menyerap suara.

Dia membidik pria kurus pembawa kompas. Dia yang paling lemah, tapi dia matanya. Jika kompas itu hancur, mereka buta.

Lu Daimeng memperhitungkan segalanya. Kecepatan angin. Gravitasi. Gerakan target. Dan rotasi Qi menggunakan mata tiga pupil miliknya.

Otot lengan kanannya—lengan yang pernah tertusuk tanduk—mengembang. Dia menggunakan fisik murni dari putaran pinggang, pergerakan bahu dan menggunakan energi Qi dari luar yang hukumnya telah dia lihat sepenuhnya.

Mati.

Dia melempar.

SLAASHHH!

Tombak tulang itu membelah kabut. Tidak ada suara ledakan sonik, hanya desisan maut yang senyap. Tombak itu mulai dilapisi oleh Qi alami hutan.

Di bawah, pria kurus itu baru saja hendak melihat kompasnya lagi.

"Sinyalnya semakin—"

CHAK!

Suara basah yang mengerikan terdengar.

Tombak tulang putih itu menembus lehernya dari sisi kanan, keluar dari sisi kiri, dan menancap ke tanah dengan kekuatan yang mengerikan.

Pria itu tidak sempat berteriak. Matanya membelalak, tangan memegang lehernya yang menyemburkan darah. Kompas giok di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping.

"Uhuk... Ghhkk..."

Dia ambruk. Mati seketika.

"SERANGAN MUSUH!" teriak pemimpin kelompok itu.

Dua orang yang tersisa langsung melompat mundur, punggung saling menempel. Senjata mereka terhunus. Qi meledak dari tubuh mereka, menciptakan pendaran cahaya biru yang menerangi kabut.

"Di mana?! Siapa itu?!" Pria gempal itu memutar kapaknya dengan panik. Matanya liar mencari musuh di semak-semak.

Pemimpin kelompok itu lebih tenang, meski wajahnya pucat. Dia melihat sudut tombak yang menancap di leher temannya.

"Dari atas!" teriaknya. "Di atas pohon!"

Dia mengayunkan pedangnya ke atas, melepaskan gelombang Qi berbentuk bulan sabit ke arah dahan tempat Lu Daimeng berada.

BLAAAAR!

Dahan raksasa itu hancur berkeping-keping. Serpihan kayu menghujani mereka.

Tapi tidak ada orang di sana.

Lu Daimeng sudah bergerak.

Seperti primata raksasa, atau hantu hutan, dia bergelantungan di akar gantung (liana). Dia melompat dari satu batang pohon ke batang lainnya dengan keheningan yang menakutkan. Dia tidak terbang. Dia menggunakan momentum ayunan.

"Di hutan ini akulah rajanya," bisik Lu Daimeng dari balik kabut.

"Itu bukan kultivator!" teriak si pemimpin saat melihat bayangan berkelebat tanpa aura Qi. "Itu... binatang buas? Atau manusia primitif?"

"Dia membunuh adik ke empat!" raung si pria gempal. "Aku akan mencincangnya!"

"Jangan terpancing! Dia ingin memisahkan kita!"

Tapi Lu Daimeng tidak memberi mereka waktu untuk berpikir.

Dia mendarat di batang pohon sepuluh meter di depan mereka, lalu meluncur turun. Dia sengaja memperlihatkan diri sejenak.

"Ke sini, babi-babi sekte Awan Biru," ucap Lu Daimeng datar, lalu menghilang lagi ke balik semak berduri.

Itu provokasi murahan. Tapi efektif.

"KEJAR!"

Mereka berlari. Kultivator menggunakan Langkah Angin, melesat cepat di atas tanah.

Inilah momen yang ditunggu Lu Daimeng. Pertarungan kejar-kejaran.

Dia mengenal medan ini. Dia tahu di mana lumpur hisap berada. Dia tahu di mana akar pohon Ironwood mencuat tajam.

Lu Daimeng berlari dengan empat kaki sesekali, menggunakan tangannya untuk melompati rintangan, menjaga jarak tetap lima belas meter di depan mereka.

Dia mengarahkan mereka ke "Zona Merah".

Sebuah area di mana tanaman merambat Blood Vine tumbuh subur. Tanaman ini sensitif terhadap getaran Qi.

"Dia melambat!" teriak pria gempal itu. "Mati kau!"

Pria gempal itu, yang dikuasai amarah, mempercepat langkahnya, meninggalkan pemimpinnya di belakang. Dia melompat tinggi, kapaknya diangkat, siap membelah Lu Daimeng.

"Kapak Pembelah Gunung!"

Qi kuning menyelimuti kapaknya.

Tepat saat dia melayang di udara, Lu Daimeng berhenti mendadak.

Dia berbalik. Dia tidak menghindar.

Dia menendang sebuah pohon kecil di sampingnya.

Pohon itu, yang sebenarnya adalah simpul utama dari Blood Vine yang tertidur, bergetar hebat.

Seketika, puluhan tanaman merambat berwarna merah darah melesat dari tanah dan pepohonan di sekitar, bereaksi terhadap getaran fisik Lu Daimeng dan ledakan Qi dari pria gempal itu.

"Apa—?!"

Tanaman merambat itu melilit kaki dan tangan pria gempal itu di udara. Duri-durinya menembus jubah pelindungnya, menyedot darah dan mengacaukan aliran Qi-nya.

"ARGHHH! TOLONG!"

Pria itu tergantung di udara, menjadi kepompong darah dalam hitungan detik.

Lu Daimeng tidak membuang waktu. Saat pria itu terikat dan panik, Lu Daimeng melompat.

Dia menggunakan bahu pria yang terikat itu sebagai pijakan.

Pedang kultivator di tangan kanannya bergerak.

Teknik Pedang Delapan Mata Angin: Tusukan pedang utara.

JLEB.

Pedang itu masuk tepat di bawah dagu pria gempal itu, menembus otak, dan keluar dari ubun-ubun.

Satu detik. Satu gerakan. Satu nyawa lagi melayang.

Lu Daimeng mencabut pedangnya, darah muncrat membasahi wajahnya yang dingin. Dia mendarat di tanah dengan mulus.

Kini, hanya tinggal satu.

Pemimpin kelompok itu berhenti sepuluh meter darinya. Napasnya tertahan. Matanya menatap horor pada dua mayat rekannya dan sosok mengerikan di depannya.

Seorang pria tinggi besar, berambut liar, mengenakan kulit gagak, berlumuran darah, dengan tiga pupil mata yang berputar gila.

"Kau..." suara pemimpin itu bergetar, meskipun dia berada di Ranah Pembentukan Qi Tahap 6. "Kau bukan manusia liar... Kau pasti iblis..."

Lu Daimeng mengibaskan darah dari pedangnya.

"Analisis yang buruk," kata Lu Daimeng. "Aku bukan iblis aku adalah dewa kematian bagi semua kultivator seperti kalian."

"Mati kau!"

Pemimpin itu tidak bodoh. Dia tahu dia tidak bisa meremehkan lawan ini. Dia mengeluarkan kartu as-nya.

Dia merobek jubahnya, memperlihatkan rompi yang dipenuhi jarum perak.

Dia menghentakkan kakinya, dan puluhan jarum itu melayang di udara, dikendalikan oleh Qi-nya. Ujung jarum itu berwarna hijau. Racun Ular Zamrud.

"Hujan Jarum Seribu Bisa!"

Dia melambaikan tangannya. Puluhan jarum itu melesat seperti hujan peluru ke arah Lu Daimeng. Area serangannya luas, sulit dihindari.

Lu Daimeng melihat lintasan jarum-jarum itu dengan Mata Tiga Pupil-nya. Dia melihat setiap titik hijau yang melesat di udara.

Terlalu banyak. Tidak bisa dihindari semua.

Dia harus mengambil keputusan dalam mikrotik.

Menghindar berarti mundur. Mundur berarti memberi jarak bagi kultivator itu untuk menyerang lagi. Dan dalam perang jarak jauh, Lu Daimeng pasti kalah.

Maju.

Lu Daimeng menerjang masuk ke dalam hujan jarum itu.

Dia menggunakan pedangnya untuk memutar, menciptakan pusaran angin kecil untuk menangkis sebagian jarum yang mengarah ke wajah dan leher.

Ting! Ting! Ting!

Tapi dia membiarkan jarum-jarum lain mengenai tubuhnya.

Jleb. Jleb. Jleb.

Tiga jarum menancap di bahu kirinya. Dua di paha kanan. Satu di perut.

Rasa panas menyengat seketika. Racun itu bekerja cepat, membakar sarafnya, membuat ototnya kejang.

"Kena kau!" teriak pemimpin itu, tersenyum menang. "Itu racun saraf! Kau akan lumpuh dalam tiga napas!"

Lu Daimeng tidak berhenti.

Lumpuh? Tubuhnya yang telah memakan inti gagak racun dan mandi darah kultivator memiliki toleransi yang gila. Rasa sakit itu ada, tapi perasaan hukum amarah memblokir sinyal "berhenti" di otaknya.

Dia menerobos rasa sakit itu seperti badak yang mengamuk.

Jarak mereka kini hanya dua meter.

Pemimpin itu panik. "Kenapa kau tidak jatuh?!"

Dia mencoba menarik pedangnya untuk pertahanan jarak dekat. Terlambat.

Lu Daimeng sudah di sana.

Dia tidak menebas. Dia menabrak.

Bahu Lu Daimeng menghantam dada pemimpin itu.

KRAK!

Pelindung Qi kultivator itu hancur karena kekuatan fisik murni, Tulang rusuknya juga patah. Dia terlempar ke belakang, muntah darah.

Sebelum dia menyentuh tanah, Lu Daimeng menangkap pergelangan kakinya, menariknya kembali, dan membantingnya ke tanah berbatu.

BUKK!

"Uhuk..." Pemimpin itu terbatuk, matanya memutih.

Lu Daimeng menindihnya. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, ujungnya mengarah ke jantung.

Tapi pemimpin itu masih punya satu trik. Dia membuka mulutnya, dan sebuah jarum kecil tersembunyi melesat dari lidahnya.

Pfft!

Jarum itu menancap tepat di leher Lu Daimeng.

Dunia Lu Daimeng berputar. Racun ini berbeda. Ini racun inti. Langsung menyerang otak.

Tapi momentum Lu Daimeng sudah tidak bisa dihentikan.

"Mati bersamaku..." desis pemimpin itu.

"Kau duluan," jawab Lu Daimeng.

Dia menjatuhkan berat badannya ke atas pedang.

JLEB.

Pedang itu menembus jantung pemimpin itu, memaku tubuhnya ke tanah.

Pemimpin itu kejang sekali, lalu mati, matanya masih menatap tak percaya pada monster yang membunuhnya.

Lu Daimeng mencoba berdiri.

Kakinya goyah.

Dunia menjadi hitam di pinggiran penglihatannya. Racun di lehernya menyebar cepat, membuat tenggorokannya bengkak, napasnya sesak. Tiga pupil di matanya berputar kacau, tidak bisa fokus.

"Sial..." umpatnya pelan. "Racun neurotoksin ganda..."

Dia mencabut jarum di lehernya. Darah hitam keluar.

Gelang giok di tangannya bersinar redup, mencoba menyembuhkan, tapi racun ini terlalu kuat untuk artefak tingkat rendah itu.

Lu Daimeng terhuyung. Dia harus mencari tempat aman. Bau darah di sini terlalu kuat.

Dia melangkah tiga kali, lalu jatuh berlutut.

Dia merangkak. Insting bertahan hidupnya mengambil alih saat kesadarannya memudar.

Dia merangkak menuju celah akar pohon besar di dekat sana. Dia menyeret tubuhnya masuk ke dalam lubang yang sempit dan lembap itu.

Pandangannya gelap total.

Hanya satu pikiran yang tersisa sebelum dia pingsan: Jika aku bangun nanti... aku akan memakan jantungmu...

Dan Lu Daimeng pun jatuh ke dalam ketidaksadaran yang pekat, di antara lumpur dan akar, sementara racun bertarung melawan darahnya yang telah bermutasi di dalam tubuhnya.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!